Uncategorized

Current Love: Our Beautiful, Fragile World

Saya menyukai hal-hal yang terkait dengan National Geographic, entah sejak kapan. Salah satu hal yang saya suka tentang NatGeo adalah foto-fotonya (tentu saja!). Saat ini, John Stanmeyer, David Guttenfelder, Alison Wright, Nick Nichols dan Robert Clark adalah  fotografer NatGeo favorit saya. Belakangan, daftar tersebut bertambah panjang, setelah saya membaca Our Beautiful, Fragile World-nya Peter Essick.

Foto-foto yang ditampilkan di buku ini sebagian besar adalah hasil dari penugasan Peter Essick untuk NatGeo sejak awal 90an hingga era 2010an.  Tema lingkungan yang diusung oleh buku kumpulan foto ini diterjemahkan dengan indah oleh Peter. Indah, jujur, tapi juga getir, menyedihkan dan menggerakkan pada waktu yang sama.

Image

Peter tentu saja menyadari tentang kekuatan fotonya. “The environmental pictures throughout this book may be depressing.”, katanya.

Buku ini menggambarkan dengan jelas tentang (sebagian kecil) bumi tempat tinggal kita, dengan atau tanpa campur tangan manusia. Sebagian besar isi buku ini adalah perubahan yang dialami bumi akibat campur tangan manusia. Dan seringkali, kata perubahan itu mengacu pada kondisi yang lebih buruk. Bagian tersedihnya, kita (manusia) harus menyaksikan bahwa pada akhirnya, efek dari perubahan negatif bumi tersebut akhirnya kembali pada kita.

Mungkin quote dari Back to the Future III yang saya comot dari komentar artikel di wired.com ini bisa menggambarkan situasi tersebut. When we fight nature, nature nature fights back. And nature always wins in the end.

Seperti yang saya sampaikan di awal tadi, buku ini menggerakkan. Foto-foto yang tersaji didalamnya (dan juga narasinya) efektif membuat saya untuk mulai berpikir untuk membatasi penggunaan plastik, menghemat penggunaan air, meneruskan kebiasaan berbelanja sayuran di pasar Tambak Sogra, lebih teliti dalam memilih sabun, sampo, hand lotion dan kawan-kawannya. Jauh lebih efektif dibandingkan membaca artikel-ribuan-kata di sciencedirect, saya rasa.

Peter Essick's most beautiful place: Torres del Paine National Park in Chile
Peter Essick’s most beautiful place: Torres del Paine National Park in Chile

 

Cara terbaik untuk menikmati buku ini adalah dengan menyelami foto terlebih dahulu. Biarkan pikiran kita bermain dengan asumsi dan persepsi. Semenit, dua menit, atau bahkan lima menit, tidak perlu tergesa-gesa. Setelahnya, silakan baca narasi foto yang Peter sampaikan. Lalu, lihat kembali foto untuk kedua kalinya. Narasi yang Peter sampaikan akan memperkaya foto-foto tersebut.

Kecuali Eyeless Child. Air mata saya seketika merembes saat pertama kali menatap foto balita berbaju orange-putih itu. Saya tidak sanggup berlama-lama memandangnya, saya segera beralih ke narasinya. Air mata saya lalu mengalir deras ketika saya membaca penyebab cacatnya si balita, dan bahwa masih ada puluhan anak lain yang seperti dirinya. Saya tidak bisa memandangnya kembali untuk kedua kalinya, tapi foto itu telah terpatri di kepala saya, selamanya saya melihatnya. (Oh, saya mewek lagi mengetik paragraf ini) Look what you’ve done, human. Look what you’ve done.

"Carbon dioxide levels continue to rise  each year by about 3 parts per million."
“Carbon dioxide levels continue to rise
each year by about 3 parts per million.”

Buku ini membuat saya semakin menghargai profesi jurnalis foto. Salut!

Uncategorized

Every Fire is A Lesson Learned: DEHP

Some say that when you are burned, every fire is a lesson learnt. For sure, you never know this until you have been safe from harm.

My safe-from-harm-moment from my recent heartbreak came in this form:

Image
…. an obscure isolation paper, from an obscure Chinese journal…. Hahaha!

And here is the comment he mentioned:

Image
alhamdulillah, i am lucky this way *cium tangan Papi*

That link brought me here:

Image

This article is not a new thing for me. I have read it before. The first time i read it, it’s felt like a breeze, a kind of hope for my dead end work. DEHP is produced by fungi (and plants and algae as well. There are some reports you can find elsewhere). But then that hopes fell into pieces when i read this:

Image
I screen-captured it from the 2nd chapter of Sarker’s Natural Product Isolation.

Couple weeks ago, my adviser forwarded an email from his colleague to me. I started to smile when i read that they were also isolated DEHP. So I am not alone: even a reputable research group from a reputable UK university isolates DEHP! (there is a difference, though. They instantly knew it, i barely had no suspension).

Back to the blog post I shared earlier, I found that people throwing hilarious comment to it. I laughed over and over again when I was reading it. You can have your own laugh too, here they are:

Image
Why, Darwin, why? Hahaha!
Image
DEHP + cortisone. Combo! Poor comrade.
Image
some poor grad student. *ngaca* *ngakak lagi*
Image
nutraceutical, ftw! Hahaha!

You can read the whole blog-post here, In The Pipeline. Yes, please, read it and another post, too. Derek Lowe has a bunch of interesting topic. He’s such a good writer, I enjoy most of his writing.

Mark Nelson write in that post-comment that you never know what nature is going to produce and weirder things have been known to happen. So I clicked the link from the next comment and found this:

Image

It really happens! Oh, what do you say now, my friends? And what will I say to my advisor?

I’ve got my lesson, I say, with a generous bonus 🙂

Uncategorized

Merusak Lagu

Sore tadi Sophie mengajarkan sebuah lagu yang sukses membuat kening saya berkerut (dan perut saya kemudian kenceng-kenceng gara-gara menahan tawa karenanya). Liriknya menurut Sophie seperti ini,

“Aku anak soleh, taat selalu pada ayah, ibu, juga guruku. Kusayangi teman, aku bedakan. Sujud pada Allah, aku tinggalkan”

Kan??

Ada yang tidak pas, kan?

“Sophie diajari siapa lagu ini?”

“Bu Romy yang mengajari aku”

“Kusayangi teman, tak ku bedakan, gitu, kali”

“Salah itu, Ma. Yang benar, aku bedakan, gitu”

“Kalau yang sujud pada Allah itu, lanjutannya aku tegakkan, ya?”

“Yang ditegakkan itu sholat, Ma”

“Kalau sujud pada Allah itu ditinggalkan?”

“Iya”

“Aku jalankan, kali?”

“Bukan jalankan. Tapi, tinggalkan”

“Ya sudah, hari Senin nanti tanyakan pada Bu Romy yang benar seperti apa, ya?”

“Yang benar seperti yang aku nyanyikan tadi, lho, Ma”

Baiklah, saya menyerah. Kalau ada yang tahu lirik yang benar seperti apa dan ingin mengajarkannya pada Sophie, silakan, lho