Uncategorized

Tentang Ini, Tentang Itu

Tentang hasil. Kata wikipedia, result is the final consequence of a sequence of actions or events expressed qualitatively or quantitatively. Dari sudut pandang ini, setelah seseorang melakukan sesuatu, maka apapun yang didapatkannyan bisa disebut hasil. APAPUN. Wikipedia sendiri secara detail menyebutkan bahwa hasil itu bisa berupa advantage, disadvantage, gain, injury, loss, value and victory. Bisa bermacam-macam, tergantung pada sudut pandang dan relevansinya. Tergantung siapa yang melihatnya.

Dan lalu drama babak sekian pun dimulai dari sini. Ketika orang-orang melihat kegiatan yang sama dengan kacamata yang berbeda. Si A menganggap kegiatan tersebut tidak ada hasilnya, karena progress-nya lambat dan belum ada kesimpulan yang bisa diambil dari sana. Si B merasa bahwa kegiatan tersebut lumayan, karena meskipun belum bisa diambil kesimpulan, setidaknya dari kegiatan tersebut sudah diketahui apa-apa yang perlu disiapkan untuk tahap selanjutnya. Lagi pula, keseluruhan prosesnya masih berjalan. Si C tidak peduli dengan apa yang sudah terjadi, berpikir bahwa semua itu adalah esensi dari suatu proses pembelajaran: melakukan, menemukan masalah, mencari solusi, melakukan kembali, ulangi siklus tersebut sampai mendapatkan hasil yang diharapkan. Dan jangan lupakan si D, yang melihat dari kejauhan dengan semua kegemesan khas seorang penonton: merasa sok iye lebih jago dari pelakunya!

Yo wis, lah. Kalau sudah bicara sudut pandang masing-masing, saya bisa apa? Tidak ada yang mutlak benar atau mutlak salah, semuanya bisa benar sekaligus salah. Semua relatif adanya.

Tentang chemist dan biologist. Saya kembali tersangkut di blog Derek Lowe, kali ini dia mengomentari suatu artikel yang dimuat di Science. Artikel tersebut ditulis oleh sejumlah biologist, tentang high throughput screening untuk studi chemogenomic suatu yeast. Derek is a chemist, that’s it and that’s all. Derek berpendapat  bahwa tidak ada chemist yang ikut serta dalam proses penulisan artikel tersebut dan juga proses review tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dua hal tersebut tercermin dari adanya kerancuan struktur senyawa yang disajikan dalam artikel tersebut: baca sendiri, gih, di sini.

Post tersebut menuai 129 komentar. Super, ya. Komentar-komentar tersebut mempertegas isu yang dijadikan judul post ini oleh Derek: biology maybe right, chemistry ridiculously wrong. Banyak yang mendukung premis Derek, banyak juga yang menentangnya. Tergantung siapa yang bicara, lagi-lagi, the chemist or the biologist. Rame.

Membaca semua itu membuat saya berpikir, apa kabar studi multidisipliner?  Kata Amused, “it is amusing how chemists and biologists still hate each other to this day.”

Haha!

Eh, saya ini lebih ke biologi atau lebih ke kimia, ya?

Tentang Sophie si Anak Manis. Weekend kemarin tiba-tiba Sophie meminta saya untuk mengajarinya bagaimana menulis nama saya. Ya sudah, saya menuliskan nama saya (sambil mengucapkan apa yang saya tuliskan tersebut) pada selembar kertas,

Te

A

eN

Te

I

Tan Ti.

Lalu Sophie membawa kertas tersebut.

Btw, selama ini Sophie memang senang menuliskan namanya di mana-mana. Di kertas gambarnya, di majalahnya, juga di buku Iqro-nya, yang dia gunakan untuk menandai halaman-halaman yang sudah dia baca. Tidak hanya di atas kertas, Sophie juga menuliskan namanya di mainan-mainannya, hall of fame di kamarnya, bahkan di tas saya saat dia ngeyel meminjam tas saya tersebut untuk dibawa ke sekolah. Di mana-mana, pokoknya. Semacam kucing yang senang nyakar-nyakar manja untuk menandai wilayahnya.

Belum, Sophie belum bisa membaca dan menulis. Satu-satunya kata yang bisa ditulis dan diejanya dengan benar hanya lah namanya saja.

eS

O

Pe

Ha

I

E

So Fi.

Kadang-kadang, kalau sedang melihat suatu huruf dan dia bisa mengenalinya, dia akan mengasosiasikannya dengan nama teman-temannya. F seperti yang di namanya Filza. Z seperti yang di namanya Ozi.

Sudah, begitu doang.

Nah, kembali ke Sophie yang tadi minta dituliskan nama saya, setelah beberapa saat bersemedi di dalam tendanya, Sophie akhirnya keluar dan menyerahkan kertas uwel-uwel pada saya. Sophie menuliskan nama saya di bagian depan. Di bagian belakang Sophie menuliskan namanya. Kata Sophie itu adalah surat untuk saya. Surat tersebut berisi kertas origami pink yang dibentuk menjadi kipas. Biar saya senang, katanya. Hati saya menghangat seketika.

Dan surat-surat Sophie terus berdatangan hari itu. Isinya macam-macam. Jepit rambut, dinosaurus karet berukuran mini, gambar laut (dan bungan dan kupu-kupu) buatan Sophie, pensil warna, sampai remote TV.

Ah, saya jadi ingin memeluk-meluk gadis kecil kesayangan saya (dan bapaknya juga) itu. Saya berdoa semoga Allah selalu menjaganya, di tengah kehidupan yang semakin tidak ramah anak saat ini. Semoga kekhawatiran dan ketakutan kami, orang dewasa, tidak membuatnya kehilangan esensi masa kecilnya dan menjadikannya berkawan dengan paranoisme sejak dini.

She revisits her love to Angelina Ballerina because of this :)
She revisits her love to Angelina Ballerina because of this 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s