Uncategorized

On Bullsh*t Prevention Protocol and Why People Believe Things Said in Kampanye Butek

Halo, apa kabar? Lagi eneg sama kampanye capres yang tidak asyik di media sosial anda ? Sudah eneg sama kampanye hitam, atau varian barunya, kampanye butek? (Belum tahu kampanye butek? Ini, lho, contoh-contoh kampanye butek dari si Mbot).

Sama, saya juga sudah terganggu. Saya sudah meng-unfriend beberapa teman di facebook karena saya eneg sama materi-materi yang mereka bagi di dinding mereka. Semoga setelah semua tahapan pemilu ini selesai, mereka-mereka mau menerima permintaan pertemanan kembali dari saya. Kalaupun tidak mau, well, hidup ini jauh lebih besar dari sekedar pertemanan di facebook. Nobody will hurt then, I guess.

Saya ini model orang yang sulit untuk mengabaikan informasi, yah, setidaknya tiga tahun terakhir ini, ketika saya punya waktu yang cukup longgar untuk melakukannya.  Menjadi pribadi yang selo, kalau kata suami saya. Saking selo-nya, ya, gitu, deh, lebih banyak membaca link yang dibagi teman-teman saya di dinding facebook maupun di linimasa twitter dari pada mengabaikannya. Kalau dulu-dulu, aktivitas semacam ini menarik karena saya bisa sok menganalisa betapa beragamnya teman-teman saya, dari bacaan yang mereka bagikan lewat media sosialnya. Nah, dihari-hari menjelang pilpres seperti saat ini kebanyakan orang mengelompokkan dirinya ke dalam tiga golongan besar: yang tidak berpendapat, yang menjadi pendukung dengan menginformasikan hal-hal positif tentang capres pilihannya, dan yang  menjadi hater yang senang bener mengobral keburukan capres yang tidak didukungnya. Nah, anggota golongan ketiga inilah  yang menjadi biang kerok semua ke-eneg-an saya, yang mana sebagian besar sudah saya unfriend untuk sementara.

Iya, saya membaca sebagian besar bacaan yang dibagi teman-teman saya, tapi bukan berarti saya serta merta mempercayainya. Saya membaca, mencerna, menimbang dan membandingkannya sebelum memutuskan apakah saya akan mempercayainya. Ternyata, Michelle Nijhuis sudah menyusun cara yang sistematis untuk menilai kebenaran suatu informasi. Dia menyebutnya sebagai Bullshit Prevention Protocol (BPP). Ini dia ringkasannya:

BPP

Kembali ke masalah kampanye pilpres ini, diawal-awal dulu saya mempraktekkan BPP. Saya baca informasinya, googling untuk mencari tahu kredibilitas sumber informasinya, googling lagi untuk mengecek “gambar lengkap” beritanya seperti apa, dan seterusnya (Oh, I have told you that I am a kind of selo one, right?). Satu hal tentang kampanye butek, selama kita belum masuk ke golongan ekstrim (yang mendukung atau membenci salah satu capres dengan kadar yang di luar rentang wajar, maksud saya), sebenarnya sangat mudah untuk mengenalinya. BPP hanya perlu dipraktekkan satu dua kali. Selebihnya, sudah kelihatan polanya.

Selain efektif untuk menyaring informasi, BPP ini juga efektif untuk menyelamatkan kita dari rasa malu akibat menyebarkan informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Saya tidak sedang membahas mereka-mereka yang memang secara sengaja menyebarkan materi kampanya butek, itu, lho, ya. Kalau golongan ini, mah, memang niat melakukannya, entah demi motivasi apa.

Kadang saya berpikir, kenapa, masih ada saja  orang-orang yang mempercayai informasi yang tidak benar seperti itu. Salah satu jawaban yang terpikirkan oleh saya adalah, bahwa masih ada orang yang percaya dengan informasi tersebut. Lha, bagaimana ceritanya kok orang-orang bisa mempercayai hal-hal yang tidak benar, ketika sebenarnya mudah saja untuk mengecek kebenarannya terlebih dahulu? Nah, beberapa waktu yang lalu saya menemukan artikel yang menjelaskan kenapa orang-orang mempercayai hal-hal yang sesungguhnya tidak benar, yang ditulis dengan amat menarik oleh Maria Konnikova. Beberapa poin menarik yang bisa saya garisbawahi dari artikel tersebut adalah:

  • Attempts to correct false beliefs haven’t had much success.
  • Not all false information goes on to become a false belief—that is, a more lasting state of incorrect knowledge—and not all false beliefs are difficult to correct.
  • If information doesn’t square with someone’s prior beliefs, he discards the beliefs if they’re weak and discards the information if the beliefs are strong

Kalau dihubungkan dengan kampanye pilpres, mungkin ada beberapa orang yang jauh lebih sabar dari saya di luar sana, yang mencoba meluruskan kesalahan informasi yang dialami rekannya. Kalau membaca artikel Maria tersebut, sepertinya usaha untuk mengoreksi keyakinan yang salah itu memiliki tingkat kesuksesan yang rendah. Penyampaian fakta aktual dan bukti-buktinya pun tidak banyak membantu, apa lagi bila percayanya sudah sampai level gak-pake-logika. Jangankan masukan dari kita, ya, informasi langsung dari capres lewat debat di TV pun, misalnya, tidak akan banyak mempengaruhi pikiran awal mereka. Berita baiknya, untuk orang-orang yang belum sampai pada level gak-pake-logika itu, keyakinan yang salah masih bisa dikoreksi.

Lha terus bagaimana menyikapi mereka-mereka yang getol bener menyuarakan kepercayaan mereka yang tidak benar terhadap capres-capres yang ada? Salah satu hal yang disarankan adalah untuk tidak membantahnya. Sudah, biarkan saja (Atau unfriend saja, bila sumbu sabar anda sependek punya saya). Bila memang harus memberikan masukan, artikel tersebut menyarankan: focus on presenting issues in a way keeps broader notions out of it. Cuma, saya tidak tahu apakah cara ini efektif untuk konteks kampanye pilpres, mengingat saran ini ditujukan untuk isu-isu yang tidak terkait politik dan ideologi, sih.

Advertisements