Uncategorized

Sophie’s Recent Love and Memom’s (Tiny) Brokenheart

Daniel Tiger’s Neighborhood.

we love you... UP SIDE DOWN!
we love you… UP SIDE DOWN! (terima kasih, google, telah membawa saya ke laman PBS Kids)

Salah satu hal yang disukai Sophie dari serial ini adalah lagu-lagu singkat yang digunakan untuk menasehati si tokoh utama. Nadanya sederhana, ejaannya jelas, dan terutama, singkat. Jadi mudah dipahami dan diingat bocah seusia Sophie.  Penokohan dalam serial ini juga realistis. Karakter-karakter yang ada mirip-mirip dengan kelakuan dengan anak-anak kita. Yang kadang mandiri kadang manja, kadang nyenengin kadang ngeselin, kadang gampang diajak negosiasi kadang ngeyelnya kuadrat, dan seterusnya. Tidak jauh berbeda dengan diri Sophie sendiri dan teman-temannya.

Banyak kebiasaan baik yang ditularkan serial ini pada Sophie. Anak saya itu kan model yang prosedural, ya, jadinya dia senang menemukan ada protokol sebelum tidur yang bisa diikutinya. Versi Daniel: mandi, memakai piyama, sikat gigi, membaca buku, menyanyikan lagu dan lalu tidur. Versi Sophie: Ganti daster, sikat gigi, membaca buku, menyanyikan lagu lalu tidur. Nah, urusan membacakan buku dan menyanyikan lagi ini seringkali menjadi sumber konflik. Suami ingin membacakan buku secepat mungkin, tapi Sophie memilih buku sesuka dia, bisa apa saja. Pernah, lho, Sophie minta dibacakan NatGeo sebagai penghantar tidur. Atau ketika buku dari Naning baru datang, ngotot minta dibacakan semua sampai selesai *pukpuk suami*. kalau saya lebih sering bermasalah dengan lagu pengantar tidur. Sophie maunya dinyanyikan lagu dengan nada yang semirip mungkin dengan yang dinyanyikan Mrs.Tiger. Sesuatu yang sulit untuk saya. Setiap saya salah menyanyikannya, Sophie akan melek lagi untuk mengajari saya lagu yang benar versinya. Diulang-ulang. Lah, terus kapan tidurnya?

Bukan hanya Sophie, saya dan suami juga suka serial ini. Kami sering mencontek apa yang dilakukan oleh orang dewasa ketika si anak berada dalam situasi tertentu. Kami meniru cara membujuk yang efektif dan menghibur anak yang sedang sedih, dan itu bisa diterapkan pada Sophie.

Tentang patah hati saya, ini terkait dengan Yuna dan Sophie Ellis-Bextor yang akhir pekan ini tampil di Jakarta. Suami tadi sudah mengijinkan sebenarnya, sekali-kali boleh lah saya jejingkrakan tanpa memikirkan rumah dan semuanya. Mumpung mereka datang sedekat ini, kapan lagi, coba? Tapi setelah saya pikir lagi, rasanya kok kurang fun jejingkrakan seorang diri. Lebih menyenangkan bersama suami dan Sophie di rumah. Minat saya untuk nonton semakin tipis ketika suami bilang saya naik Kerta Jaya saja ke Jakartanya. Antara pengen nangis dan tertawa, sayanya.

Jadi suami, lebih baik siapkan tabunganmu. Tidak apa-apa deh, melewatkan Jeng Sophie dan Jeng Yuna kali ini. Yang jelas, dompet harus siap dirobek ketika Take That atau Stereophonics tampil di area yang berada dalam jangkauan kita. Maaf, tidak menerima negosiasi untuk yang satu ini. Harus setuju. Titik.

Advertisements
Uncategorized

Anak-anak. Kekanak-kanakan

Sophie selalu galak setiap kali saya lupa meniup makanan saat menyuapinya.

“Mulut Mama banyak kumannya, nanti pindah ke makanan”, tegurnya.

Akan tetapi, Sophie meminta saya mengemut makanan pedas agar dia bisa memakannya.

Saya kerap membatin, kalau meniup saja sudah efektif memindahkan kuman dari mulut saya ke makanannya, maka mengemut akan menyelubungi makanan tersebut dengan flora normal mulut saya.

Ah, begitulah Sophie. Tahunya baru sedikit, tapi gayanya sudah selangit. Macam sudah paling tahu saja.

Itu Sophie, si anak umur lima tahun.

Ketika membicarakan hal ini dengan suami, kami tersadar bahwa banyak orang dewasa yang berperilaku seperti anak-anak. Tahunya parsial, tapi menghakimi sesuatu secara general. Persis seperti kelakuan Sophie, tapi dalam skala yang lebih besar.

Contoh ringannya, seorang ibu yang menjadikan MSG penjahat perusak masa depan anaknya. Mendengar orang lain menggunakan MSG komentarnya sepanjang jalan negara. Padahal dia sendirinya masak memakai kaldu non MSG (yang juga akan menghasilkan asam glutamat saat bercampur dengan makanan) dan suka nyemilin kerupuk. Pernah ketemu, atau setidaknya mendengar, model yang seperti ini, kan, ya?

Itu versi ringannya.

Versi kelas berat dari sifat kekanak-kanakan orang dewasa ini muncul dalam bentuk mereka-mereka yang senang benar menyalah-nyalahkan pendapat dan pilihan orang lain. Terlalu sibuk membenarkan pendapat dan pilihannya, sampai lupa bertanya, lha, ini, benar menurut siapa? Apa iya hanya ada satu kebenaran saja? Kalau yang benar memang pendapat dan pilihannya, apakah otomatis pendapat orang lain dan pilihan di luar itu tadi salah adanya?

Saya berkaca ketika menulis post ini, melihat sisi kekanak-kanakan saya dan menertawakannya. Oh, iya. Semua orang punya sisi tersebut. Hanya pemicu dan topiknya saja yang berbeda: hal yang dianggap penting oleh yang bersangkutan 🙂

PS: ternyata sulit sekali untuk mulai aktif menulis di blog, ya. Butuh pemanasan yang lama.

Uncategorized

Welcome Back, Dear

Menjelang lima tahun menjadi Ibu. Sebentar lagi Sophie akan meninggalkan masa balita. Lima tahun yang berlalu dengan segala ceritanya. Lima tahun yang kalau dijadikan sinetron akan saya beri judul kerja keras: berusaha memaksimalkan semua aspek dengan segala keterbatasan yang ada. Sukses kah saya? Atau lebih tepatnya, sukses kah kami bertiga memaksimalkan semua aspek dengan segala keterbatasan yang ada dalam lima tahun ini?

Saya tidak tahu. Dan tidak ingin mencari tahu. Yang jelas, kami bahagia.

Sejak awal saya memilih untuk bahagia. Untuk menghemat energi dengan tidak mengeluhkan keterbatasan yang kami miliki secara berlebihan (ya, nyampah di media sosial masih bisa kami tolerir). Untuk tidak menyalahkan diri sendiri, satu sama lain maupun kondisi untuk setiap ketertinggalan, kegagalan, kesedihan maupun kekecewaan yang kami hadapi. Saya memilih dan berusaha untuk bahagia.

Oh, bahagia yang saya maksud di sini bukan hanya tentang hal-hal yang terkait tawa dan teman-temannya, lho ya. Bahagia yang saya maksudkan termaktub dalam definisi terluas yang bisa mendiskripsikannya.

Banyak terima kasih untuk Sophie dan suami, yang membuat lima tahun kerja keras ini terasa lebih mudah untuk saya jalani. Terima kasih untuk semua hal yang membuat lima tahun ini berarti, kesayangans.

Mengakhiri empat tahun yang panjang. Beberapa teman mendorong saya untuk menuliskan tentang kelulusan saya (AKHIRNYA!). Baiklah, walaupun saya pribadi tidak merasakan excitement apapun, saya akan mencoba menuliskan beberapa hal yang saya dapatkan selama empat tahun ini.

Pertama, be careful with what you wish for, lest it come true. Atau lebih tepatnya, pelajari sesuatu, pertimbangkan dari segala sudut pandang, sebelum memutuskan untuk mengharapkan sesuatu. Allah itu Maha besar. Besar kemungkinan harapan kita terwujud. Tanpa pertimbangan yang matang, atau hanya mendasarkan pada sesuatu yang senada dengan jatuh cinta pada pandangan pertama, boleh jadi ketika harapan tersebut dikabulkan, kita tidak siap dengan prosesnya, terbebani konsekuensinya. Makanya, lihat baik-baik, pertimbangkan segala sesuatunya, untuk mendapatkan gambaran tentang proses dan konsekuensi yang akan kita jalani dan dapatkan nantinya,baru dikencengi doanya.

Dua, know your limit and stand up for it. Kadang kala, ngotot itu perlu, Tanti. Haha. Hahahaha….

Tiga, embrace the backbone you have. Sekali lagi saya bersyukur memiliki keluarga seperti yang saya miliki saat ini. Mungkin ceritanya akan berbeda kalau suami saya tidak sesabar Alwani Hamad atau anak saya demanding tiada habisnya, tidak manis seperti Sophie. Allah Maha adil, menyeimbangkan kacaunya kehidupan bersekolah saya dengan mereka berdua.

Menjelang album ketujuh, bertiga. Hati saya masih pilu setelah seminggu lebih ditinggal Jay. Saya tahu ini lebay, tapi beginilah adanya. I am nothing less than a silly teenager when it comes to Take That. Dan saya tidak sendirian. Gaz, Markie dan Howard pasti lebih berantakan di sana.

you will be sorely missed, Jay
you will be sorely missed, Jay
will remember you this way
will remember you this way