Uncategorized

Tentang Tidur Sendiri

Bagi saya, kalimat terindah saat kami di Malang adalah apa yang diucapkan Sophie menjelang tidur,

“Aku mau belajar tidur sendiri”

Setelahnya, Sophie benar-benar tidur di ranjang yang dipilihnya. Sendiri. Saya dan suami hanya bisa saling pandang melihat Sophie yang tahu-tahu sudah mendengkur lirih. Anak kami sudah besar.

Urusan tidur sendiri ini memang sesuatu yang ribet di keluarga kami. Dulu, saya sok iye mendoktrin suami bahwa Sophie harus sudah tidur sendiri segera setelah dia disapih. Dua tahun harus sudah pisah kamar. Suami saat itu hanya iya-iyain-saja-biar-cepat tanpa merespon ocehan saya. Kenyataan tak selalu seindah keinginan, saat Sophie selesai menyusu, kami malah LDL-an. Sophie akhirnya tidur dikekepin suami (dan saya kalau saya pas pulang). Sampai sekarang.

Belakangan ini kami mulai melemparkan wacana tidur sendiri pada Sophie. Responnya tidak terlalu menggembirakan. Jawaban semacam aku-takut dan sebangsanya adalah default Sophie. Ketika ditanya kapan dia berani untuk tidur sendiri, Sophie memberikan 3 alternatif: kalau sudah punya adik, kalau sudah berumur 7 tahun, atau kalau sudah dibuatkan kamar di lantai atas. Jawaban yang membuat kami tidak berkutik.

Kalau sudah punya adik. Well, kami tidak bisa me-nego yang ini. Tidak juga menyegerakannya. Duh, Soph, Mamamu ini bukan pabrik bayi yang bisa disetel untuk bereproduksi sesuka hati.

Kalau sudah 7 tahun. Artinya kami masih harus menunggu 23 bulan lagi. Poin ini juga sama, tidak bisa dipercepat.

Kalau sudah dibuatkan kamar di lantai atas. Nduk, Papa dan Mama belum punya agenda merenovasi rumah. Belum direncanakan sama-sekali.

Saya tak habis pikir kenapa Sophie bisa memikirkan alternatif yang memungkinkannya untuk berlama-lama tidur dengan kami. Entah meniru siapa.

Setelah kami di rumah, kami memuji-muji kehebatan Sophie yang berani tidur sendiri, dengan harapan dia mau merevisi kapan mau memulai pisah kamar. Tidak berhasil, sayangnya.

“Aku beraninya tidur sendiri di kamar yang sama dengan Mama Papa, kalau ada temboknya aku belum berani”

Well, mungkin kita harus berusaha untuk merealisasikan alternatif nomor 1, suami.

Advertisements