Uncategorized

Nagasari

Beberapa waktu yang lalu saya membaca tentang nagasari, tumbuhan yang namanya saja masih asing bagi saya. Terlepas dari ketidakfamiliaran saya, nagasari adalah flora identitas Banyumas. Saya masih familiar dengan sebagian besar flora identitas dari kabupaten lain di Jawa Tengah, makanya saya sempat berpikir apakah nagasari sudah langka keberadaannya. Lha wong namanya saja tidak pernah mendengar.

Informasi di Internet pun tidak banyak membantu. Nama latin nagasari ada dua, Mesua ferrea dan Palaquium rostratum. Klasifikasi dari Mesua dan Palaquium itu jauh berbeda, sejauh Clusiaceae ke Sapotaceae. Bahkan, ada yang memberikan sinonim dewandaru untuk nagasari. Dewandaru, dari familia Gentianaceae. Lah, nagasari itu sebenarnya yang mana?

Setelah memastikan ke sini dan ke sana, yang bisa dipercaya, tentunya, saya yakin bahwa nagasari adalah Mesua ferrea. Melihat deskripsinya, saya baru menyadari bahwa nagasari banyak terdapat di sekitar saya. Di halaman sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintahan. Banyak (iya, namanya juga flora identitas Banyumas). Ketika saya melihat sekitar dengan teliti, ada banyak nagasari di halaman rumah tetangga saya. Dan banyak rumah lainnya. Bahkan, saya menemukan belasan pohon nagasari di salah satu ruas Jl. JendSoed.

Awalnya, saya mengira bahwa hanya ada nagasari berukuran mini setinggi manusia dewasa saja di Purwokerto, berangkat dari fakta bahwa nagasari adalah slow growing tree yang butuh waktu ratusan tahun untuk mencapai ukuran maksimalnya. Ternyata, saya kemudian menemukan nagasari setinggi rumah, bahkan yang lebih tinggi lagi. Di Jl. JendSoed, nagasari tak kalah tinggi dari pohon peneduh jalan yang lain. Bahkan di Taman Satria, ada nagasari yang tumbuh lumayan tinggi dalam postur alaminya, bukan tumbuhan ornamental yang sudah dibentuk sedemikian rupa. Kabarnya, di Situs Batur Agung, Kedung Banteng, ada nagasari yang tumbuh selayaknya nagasari di hutan hujan tropis: menjulang tinggi hingga 30an m.

Hal per-nagasari-an ini mengajarkan dua hal pada saya. Pertama, karena kita tidak tahu tentang suatu hal, bukan berarti hal tersebut tidak ada/penting/benar, Kapasitas pengetahuan kita terbatas untuk mengetahui semua hal yang ada. Ada banyak hal di luar kita yang penting/benar, tapi kita tidak menyadarinya karena ketidaktahuan kita. Kedua, kita bisa mencari tahu lebih banyak dengan membuka diri kita. Dengan menyadari bahwa kita tidak tahu dan mencari tahu, kita akan mendapatkan hal-hal baru yang boleh jadi akan mengejutkan kita.

Advertisements