Uncategorized

Where are You, Anyway?

Beberapa waktu yang lalu beredar sebuah meme yang membuat saya bengong. Sekian kali meme itu mampir ke media sosial dan platform chat yang saya punya, sekian kali pula saya bengong.

“Guru dibayar murah untuk perbaiki karakter dan akhlak anak-anak. Sedang artis dibayar mahal untuk merusak akhlak anak-anak”

Errr…..

Orang tua anak-anak itu pada kemana, ya?

Sejak kapan guru dan artis bertanggung jawab akan akhlak dan karakter anak-anak kita?

Kenapa harus dinilai dengan uang?

Errrr ….

*** **** *****

Mungkin dari hal seperti ini lah anak-anak kita belajar tentang menghindari tanggungjawab dan menyalahkan orang lain ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan/diharapkan/membanggakan. Kalau orang tua mereka (orang dewasa di sekitar mereka juga) dengan mudah menyalahkan artis atas kondisi akhlak mereka, kenapa juga mereka tidak menyalahkan orang lain atas kekecewaan dan kegagalan mereka?

Artis merusak akhlak anak? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Yang jelas, pengaruh artis terhadap perkembangan anak bisa diminimalisir ketika orang tuanya memberikan buffer yang memadai. Sudah memberikan, membiasakan dan mencontohkan dasar perilaku yang baik belum? Sudah menyeleksi dan membatasi tontonan/hiburan yang sesuai dengan umur anak belum? Sudah mendampingi anak saat menonton dan mendiskusikan hal-hal yang butuh penjelasan orang tua lebih lanjut belum?

Bila sudah melakukan semua itu, tapi akhlak anak masih kurang baik juga, silakan menudingkan jari pada artis. Tunggu, artis yang mana dulu? Artis yang bagaimana?

Atau, ada alternatif yang lebih bijak. Silakan introspeksi diri. What have I done -or what I haven’t been done- so my child behave this way?

Menudingkan jari atau  bercermin. Dua pilihan yang sederhana, dengan konsekuensi masing-masing. Dua pilihan sederhana yang menjelaskan banyak hal tentang si pengambil keputusan.

Guru memperbaiki akhlak dan karakter anak-anak? Memang. Tapi, apakah perbaikan tersebut efektif ketika dasar yang didapatkan anak dari orang tuanya minimalis adanya? Bukankah seharusnya rumah dan sekolah saling mendukung, berbagi tanggungjawab sehingga domain akhlak dan karakter anak tidak hanya dibebankan pada guru-gurunya?

Mungkin saya sedang sensitif saja, tapi kata memperbaiki ini terdengar slengkring di telinga saya. Memperbaiki bersinonim dengan kata ndandani dalam bahasa Jawa, yang berkorelasi dengan kerusakan. Begitukan default pikiran kita tentang kondisi akhlak dan karakter anak-anak kita? Rusak?

Uncategorized

Welcome, #December8

Saya memasuki bulan Desember dengan beban kegagalan menyelesaikan #November15. Secara kuantitas, saya membuat 14 dari 15 post yang saya rencanakan. Nyaris memenuhi target, sebenarnya. Tadi malam saya sudah membuat draft post ke 15, tapi saya ketiduran saat ngeloni Sophie. (Halah, alasan, ya. Gagal, ya, gagal saja, kali, Tan). Secara kualitas malah lebih mengenaskan. Sebulan terakhir isi post saya kebanyakan hanya menegaskan status saya sebagai rabid mama (and wife, too) saja, minim post yang perlu mikir.

Jauh dari harapan awal saja.

Tapi, walalupun gagal, setidaknya keinginan saya untuk kembali mengakrabi blog kesampaian, lah. Saya familiar lagi dengan wordpress. Dan saya ingin melanjutkan familiaritas ini. Saya ingin terus mengisi blog saya. Lebih realistis, tapi. Saya sadar diri bahwa membuat 15 post dalam waktu sebulan itu luar biasa sulit untuk saya. Jadi, untuk Desember ini saya menargetkan untuk membuat setidaknya 8 post saja. Dan semoga secara isi juga lebih nggenah, ya. Bukan sebatas merayakan euforia mamak (dan istri) kelinci semata.

So, welcome to my #December8, and this is the first post of it.