Uncategorized

Ain’t It Funny?

Pertunjukan komedi yang paling seru adalah kehidupan itu sendiri, katanya.

Kejadian paling lucu yang belakangan ini terjadi pada saya adalah, saya menemukan diri saya berada dalam kondisi yang sebelumnya saya ih-kok-gitu-sih-kan. Jadi, Tanti, ingat ini baik-baik. Gething nyanding itu adalah sesuatu yang nyata.

Ouch.

Jadi, begini, lho, kronologisnya. Beberapa waktu yang lalu saya sibuk berkomentar (dalam mode wajah nyureng saya) atas beberapa hal yang rasanya amat tidak pada tempatnya bagi saya. Saya tidak bisa memahaminya (dan menghakiminya). Fenomena penonton yang sok iye, maafkan saya.

“Ih, kok ngeluh melulu, sih?”

“Ih, kok tidak berusaha melakukan sesuatu, sih?”

“Ih, kok kebanyakan alasan, sih?”

“Ih. kok maunya dimaklumi tanpa mau mengerti, sih?”

Dll dsb. Masih panjang daftar ih-kok-gitu-sih yang bisa saya tambahkan ke sini. Sungguh saya takjub dengan kemampuan saya mencurahkan sedemikian banyak energi untuk hal-hal yang sama sekali bukan urusan saya ini.

Ck.

Hidup terus berjalan. Waktu terus berlalu. Tahu-tahu, pada suatu titik, saya mendengarkan suara-suara senada. Sedikit berbeda, tapi sebenarnya sama saja. Esensinya sama. Saya mendengar sedikit perbedaan karena perbedaan posisi semata.

“Ih, kok gini amat, sih?”

“Ih, kok sama sekali tidak kondusif untuk melakukan sesuatu, sih?”

“Ih, ini kan begini-begitu. Masak iya tidak mau ngerti, sih?”

Oh.

Saya mendengarkan suara saya sendiri.

Dulu saya penonton sok iye. Sekarang, saya pelaku yang payah.

Oh.

Gething nyanding, sengit ndulit. Begitulah kata orang bijak sejak dahulu kala. Jadi, kalau menemukan suatu kewaguan yang berada di luar kuasa saya, hal terbaik yang bisa saya lakukan adalah diam (kalau nafsu nyacat tak tertahankan, luapkan pada saluran yang tepat: suami. hahahaha!). Karena boleh jadi suatu saat kewaguan itu akan terjadi pada saya.

Terus, setelah puas menertawakan ke-sok iye-an ini, selanjutnya bagaimana?

Sudah lah, mari kita tidur 🙂