Uncategorized

Being Normal

Beberapa hari yang lalu, seorang pembaca reguler blog saya menanyakan kenapa saya tidak pernah mengisi blog saya lagi. Saya menanggapinya dengan tersenyum. Ya, senyum saja. Saya hanya bisa tersenyum karena memang begitulah adanya. Saya familiar dengan kondisi tak-melakukan-lagi-hal-hal-yang-dulunya-saya-lakukan. Blog saya bukan satu-satunya yang jarang saya tengok. Lini masa twitter, wall facebook, bioskop, sampai toko sepatu tempat nongkrong favorit saya kini berkawan dengannya.

Welcome to normal life“, kata teman saya.

Maksudnya, setelah sekian tahun menjadi bagian dari keluarga kocar-kacir, akhirnya beberapa bulan terakhir ini penghuni rumahliliput akhirnya bisa bersama. Tinggal di satu atap, lengkap bertiga. Begitulah definisi hidup normal menurut teman saya itu. Lengkap bertiga dengan segala dinamikanya (oh, mamaku ternyata sumbu emosinya pendek sekali. oh, suamiku ternyata joroknya minta ampun. oh, ternyata istriku tingkat rewelnya tergantung pada kondisi perut dan mata. oh, anakku ternyata penuh drama. Tahu, kan, ya?), itulah definisi yang lebih nyata.

Karena saya sudah hijrah ke area hidup normal, maka segala hal yang terkait dengan hidup tidak normal saya sebelumnya juga harus ditinggalkan. Mungkin demikian penjelasan yang masuk akal, kalau saya melihatnya dari sudut pandang teman saya itu.

Being normal. The price of being normal.

Ah, membicarakan tentang normal dan tidak normal ini tidak akan pernah selesai. Selama saya masih menjalani peran sebagai makhluk sosial, rasanya akan selalu ada ukuran yang akan mengkategorikan saya ke golongan normal  atau golongan tidak normal. Dan saya masih lumayan terkejut dengan variatifnya ukuran-ukuran itu saat ini. Hampir semua hal memiliki ukurannya tersendiri.

Jadi, ya, sudah, lah. Mau dicap normal atau tidak normal, ya, terserah saja. Yang jelas, saya mengerti bahwa hidup terus berjalan, terjadi perubahan. Segala hal mengalami perubahan. Hal-hal yang dulunya saya tekuni boleh jadi akan tergeser oleh hal-hal lain. Orang-orang yang dulunya selalu ada di lingkaran saya boleh jadi akan menemukan orang lain yang lebih cocok dengan mereka. Tapi, ya, itu, hidup terus berjalan. Selalu ada hal-hal yang membahagiakan, berhimpitan dengan hal-hal yang kita membuat kita sedih dan kecewa. Tapi, ya, kita bisa apa selain menjalaninya, sambil berusaha membuatnya lebih berarti?

Oh, saya ini sarapan apa, sih, tadi pagi? 🙂

We go out on our own. It’s a big bad world outside. Carrying our dreams and all that they mean, trying to make it all worthwhile. Ini kata dedek-dedek Kodaline, lho, ya. Boleh sepakat, boleh berbeda pendapat. Yang jelas saya kurang suka Coming Up for Air dibandingkan In the Perfect Life. #eh

Advertisements