Uncategorized

Trip to Johor Bahru

Akhir bulan lalu saya ke Johor Bahru, dalam rangka mengikuti ICNP 2015. Alasan utama saya memilih Johor Bahru ketika mencari-cari conference di Conference Alert sebenarnya adalah untuk menyambangi Mbaksis Christy Yani. Tapi oh tapi, kami gagal bertemu karena ternyata yang bersangkutan sedang ber-Hanami ria di Tokyo dan sekitarnya di saat yang sama.

Tinggal di Purwokerto berarti berada pada posisi tanggung kalau harus bepergian dengan pesawat terbang. Empat jam dari Adi Sucipto, atau sembilan jam dari Soekarno Hatta. Sungguh, perjalanan dari Purwokerto ke Bandara ini adalah bagian paling menjemukan dari suatu perjalanan. Tapi akhirnya saya menemukan cara paling nyaman untuk mengatasi hal nanggung tersebut: memilih penerbangan siang dari Jogjakarta. Berangkat pagi dengan naik Logawa sampai ke Stasiun Lempuyangan, terus transfer dengan Pramex atau Sriwedari ke Maguwo. Sudah, sampai, deh, di Bandara Adi Sucipto. Less ribet. Beneran, cara ini amat nyaman kalau jadwal penerbangannya setelah jam 11.00 siang.

Saya kemarin memilih direct flight dari Jogja ke Johor Bahru, dengan Air Asia tentu saja. Selain alasan kepraktisan, biaya juga menjadi pertimbangan saya. Tarif Jogja-Johor Bahru pp saat itu tidak sampai setengah dari Jakarta-Singapura (sama-sama dengan Air Asia, tentunya), fyi. Kebanyakan peserta 2015 ICNP dari Indonesia datang via jalur Jakarta-Singapura, lalu menyeberang ke Johon Bahru. Saya menghindari jalur itu, mengingat perjalanan panjang menuju Bandara Sukarno Hatta sudah pasti akan sangat membosankan.

Sebagai pengguna Air Asia, saya merencanakan untuk menggunakan layanan shuttle Sky Bus dari Bandara menuju  Tune Hotel Danga Bay. Saya awalnya cukup kecewa ketika mengetahui bahwa layanan Sky Bus dari Air Asia dari Bandara Senai ke beberapa hotel di Johor Bahru dihentikan per Maret 2015 lalu. Untungnya, ada alternatif lain yang ternyata lebih murah: Causeway Link Bus. Memang, Causeway Link Bus hanya memiliki satu titik pemberhentian, yaitu di JB Central. Tapi, penumpang Air Asia bisa gratis naik bis ini. Nah, dari JB Central tinggal naik taksi saja ke hotel. Jatuhnya lebih irit dibandingkan naik Sky Bus, lho.

Saya terisolasi selama di Johor Bahru. HP saya mendadak mati saat saya memasukan simcard lokal sesampainya saya di sana. Mati seketika. Laptop saya juga ikutan unjuk rasa, tidak bisa menangkap sinyal wifi sama sekali. Praktis dalam beberapa hari itu saya hanya berkomunikasi dengan rumah saat malam saja, dengan cara menumpang akses kompie di lobby hotel. Merana, tapi hikmah dari terisolasi ini adalah, sepulang dari Johor Bahru saya mendapatkan HP dan laptop baru. Yay!

Tentang conference-nya, tidak banyak yang bisa saya ceritakan. Intinya, saya merasa culun di sana. Penelitian yang saya bawa seadanya banget, dibandingkan dengan apa yang disajikan peserta lain. Secara umum, memang penelitian bahan alam di Indonesia jauh ketinggalan dibandingkan negara lain, termasuk Malaysia dan Mesir (iya, tidak salah baca, kok, Mesir).

Karena penerbangan Johor Bahru-Yogyakarta hanya dilayani 3 kali semingu, saya memiliki waktu ekstra sehari. Saya memutuskan untuk mengikuti Post-Conference Tour yang disediakan oleh panitia. Lumayan, lah, seharian itu kami diajak melihat-lihat Putri Harbour, Legoland, Johor Premium Outlet dan Kampus UTM. Saya menyukai kampus UTM, btw. Semua hal yang bisa saya bayangkan sebagai kampus ideal ada di sana. Highlight dari tour ini adalah Adeena, si dua tahun yang nginthil Bapak Ibunya conference. Orang tua Adeena dari India, tapi mereka berdua mengajar di Universitas di Saudi Arabia. Adeena ini anaknya ceria, dan tidak bisa diam. Dia selalu tertawa dan suka menubruk dan lalu memeluk kaki orang dewasa yang membuatnya merasa nyaman.

Selain Adeena, ada juga Ali, yang berasal dari Irak. Ali sepantaran dengan Sophie, sudah bisa diajak bekerjasama (anteng, maksud saya) ketika mengikuti conference. Ali bisa duduk tenang di samping kedua orang tuanya sambil memainkan gadget di dalam ruang conference. Saya takjub melihat Ali yang bisa anteng ini, mengingat kalau Sophie yang ada di posisinya, tidak mungkin Sophie kuat berdiam diri sambil bermain gadget selama 3 jam. Beda anak beda gaya, memang.

Satu hal yang saya sukai dari Johor Bahru adalah toko bukunya menyediakan banyak buku berbahasa Inggris. Sepertinya di Malaysia menerjemahkan buku ke bahasa lokal bukan lah suatu praktek yang lazim, ya. Saya senang sekali menemukan beberapa buku inceran dalam bahasa Inggris. Lain kali kalau ke Malaysia, saya perlu mengalokasikan dana untuk membeli buku.

Adeena and Ali
Adeena and Ali

DSC03377