Uncategorized

Halfway There

Alhamdulillah, we are halfway there. It is our 22th week, and we are doing fine this far.

Ada banyak perbedaan antara kehamilan pertama dan kedua saya kali ini. Perbedaan yang paling kelihatan, dulu saya menulis dengan detail setiap hal yang terkait dengan kehamilan saya di blog. Jurnalnya rapi, dari yang memang penting sampai yang remeh temeh tak berarti. Sekarang? Ini adalah catatan pertama tentang kehamilan saya di blog. Yaa, memang tidak dibandingkan, sih, seharusnya. Lha wong kondisinya sudah beda. Hidup saya, seperti hidup panjenengan semua, bergeser setiap waktunya. Yang jelas, frekuensi blog entry tidak berkorelasi dengan perhatian, kasih sayang, dan seterusnya.

Secara keseluruhan, kehamilan kedua saya ini relatif lebih simpel, less drama. Itu dari sudut pandang saya, lho, ya. Banyak hal yang sudah jelas, yang tidak perlu saya pikirkan lagi bagaimana-bagamananya. I am no longer questioning whether this activity/food/anything is safe for my little one. I know what to anticipate in (almost) every stages of this process. Ya, lebih santai saja menjalaninya, saya rasa.

Dari sudut pandang Pak Suami, mungkin kehamilan kali ini penuh drama. Ya, bagaimana lagi? Ibaratnya nonton pertandingan bola, dulu pas hamil Sophie suami menontonnya lewat siaran di TV. Live, sih, live. Tapi, ya, di TV. Sekarang, lebih mirip seperti melihat pertandingan bola di stadion. Lebih nyata, lebih berasa emosinya. Jadi tahu betapa lonjakan hormon bisa menaikkan level kemanjaan  istri sekian derajat, kan, Suami?

Usia tidak pernah dusta. Saya percaya sekali dengan ungkapan ini. Dulu, saya relatif perkasa saat hamil Sophie, Memang, faktor kepepetnya tinggi, sih. Lha, bagaimana tidak menjadi perkasa ketika harus hamil seorang diri, mulai 5 hari sejak konsepsi sampai sehari menjelang melahirkan (di luar colongan 6 minggu ketemu suami, tentu saja)? Gara-gara pengalaman hamil solo tersebut, saya  meniatkan bila diberi kesempatan untuk hamil lagi, maka saya ingin hamil dalam kondisi yang jauh berbeda. Preggo like a lady, yang apa-apa ditemani, dituruti dan dilayani suami. Nampaknya, niat tersebut tertanam di alam bawah sadar saya. Semesta mengamininya. Bener, lho, kejadian. Di trimester pertama saya mual muntah parah yang menyebabkan saya kehilangan berat badan hingga 5 kg dalam waktu sebulan. Memasuki trimester kedua, mual muntah hilang digantikan dengan sakit pinggang. Mual muntah dan sakit pinggang tersebut lumayan membuat suami rempong melakukan ini-itu, yang bersinonim dengan menemani, menuruti dan melayani itu. Nah, ketika kondisi membuat saya berjauhan dari suami, seperti sekarang ini, secara ajaib tubuh saya beradaptasi dengan hebatnya. Saya bisa mengukur aktivitas saya dan membatasinya, sehingga sakit pinggang yang saya rasakan relatif terkendali. Kalu bukan manja, itu namanya apa, coba? 🙂

Yes, baby. The power of “Will you survive? You must survive! 😀

Bagaimana dengan Sophie? Sophie sudah hampir 6 tahun, jadi dia sudah paham tentang apa dan bagaimana mempunyai seorang adik. Dia senang sekali, tentu saja. Heboh woro-woro bahwa dia akan punya adik. Satu hal yang lucu, sejak tiga minggu yang lalu, Sophie ngotot pengen kami panggil dengan, “Kakak Superhero Sophie”

Iya, benar. Kakak Superhero Sophie.

“Pahlawan  dengan kekuatan super dalam membantu mama agar mama nyaman”, katanya.

“Kalau mama nyaman, adik juga ikut nyaman”, lanjutnya.

Ohhh, how i miss you, Kakak Superhero Sophie.

Advertisements