Mama, Papa, Syafiq

Delivering Baby Syafiq

H-3. Saya mendapati penampakan lendir darah untuk pertama kalinya. Tanpa Braxton Hicks sama sekali. Oh, well, kita akan segera bertemu, Syafiq.

H-2. Mulai ada kontraksi, tapi masih jarang sekali. Paling dalam sehari-semalam tidak sampai 10 kali. Lendir darah kembali muncul. Saya mulai melihat kembali tas yang akan dibawa ke RS, mengecek apakah isinya sudah lengkap, sesuai dengan yang saya rencanakan. Mulai deg-degan, teringat drama-drama semasa melahirkan Sophie dulu.

H-1. Saya tidak bisa tidur karena gelisah akibat kontraksi yang sebenarnya belum sering-sering amat. Gelisah membayangkan apa yang akan saya alami beberapa jam (atau beberapa hari) ke depan. Gelisah memikirkan apakah persalinan kali ini akan berbeda atau mirip-mirip dengan apa yang saya alami saat melahirkan Sophie. Gelisah memikirkan akankah saya cepat beradaptasi terhadap peran baru sebagai ibu dari dua anak. Gelisah untuk banyak hal.

Dalam rangka memanfaatkan waktu melek-gelisah tersebut, saya menyelesaikan beberapa pekerjaan. Jam 2 pagi, karena kontraksi mulai teratur walaupun masih setengah jam sekali, saya langsung mengirimkan pekerjaan-pekerjaan tersebut pada pihak-pihak yang bisa mem-follow up-inya. Saya mencoba tidur.  Gagal, tentu saja. Kontraksi terus terjadi dan jaraknya semakin dekat. Saya sama sekali tidak berhasil memejamkan mata malam itu.

Seiring berjalannya waktu, kontraksi yang terjadi semakin dekat satu sama lain. Di pagi hari, kontraksi mulai berjeda waktu sekitar 6-7 menit sekali. Setelah menitipkan Sophie pada Bu Sainah, jam 9 saya dan suami berangkat ke RS. Setelah diperiksa, ternyata saya masih bukaan 1. Melihat sejarah melahirkan Sophie yang lamaa banget bertahan di bukaan 1, bidan jaga menyarankan agar kami pulang dan menunggu di rumah. Kami menurut.

Kami pun pulang ke rumah dan disambut Sophie dengan pertanyaan kok cepet-banget-pulangnya-mana-dedeknya. Kontraksi masih tetap saja, sekitar 5 menitan, tapi durasinya pendek-pendek. Sepagian itu saya di rumah saja bersama Sophie, bergelung di sofa sambil meringis-ringis saat kontraksi tiba, yang mana interval durasinya bertahan di rentang waktu yang sama. Btw, Pak Suami masih sempat berangkat ke kampus sebentar, lho, hari itu.

Siang harinya, dalam rangka mempercepat bukaan (dan eneg melihat saya yang nglimpruk di sofa, mungkin) , suami mengajak saya makan siang di luar. Selesai makan, suami punya ide brilian: berjalan-jalan. Tidak tanggung-tanggung, salah satu jalan-jalannya ke Andang Pangrenan. Coba, deh, dibayangkan. Saya yang masih juga mengalami kontraksi teratur lima menitan ini basah kuyup karena keringat. Suami tega of the year beneran, deh.

Mama Sophie
Wajah-wajah sumringah menjelang detensi di Andang Pangrenan. “Ada yang bisa kami pijet, Pak?”

Singkat cerita, jam 8 malam kami kembali ke RS. Interval kontraksinya masih sama, tapi saya merasa durasinya makin panjang. Pas diperiksa, masih bertahan di bukaan 1 juga. Kata dokter jaganya, “Iya, sih, interval kontraksinya sudah lima menitan. Tapi intensitasnya belum adekuat”

Dan dokter pun menitahkan saya untuk pulang lagi. Kali ini kami tidak menurut. Saya sudah merasa lemas akibat belum tidur sejak sehari sebelumnya Lagi pula, akan sulit berpamitan pada Sophie lagi kalau kami harus pulang dulu. Kami pun buka kamar di Bunda Arif. Menunggu.

Jam setengah 12 malam, saat dicek oleh Bidan, saya menolak untuk periksa dalam. Saya merasa bahwa kontraksi yang saya rasakan masih begitu-begitu saja, maka saya berasumsi persalinan saya masih dalam tahap yang sama dengan sebelumnya, belum nambah apa-apa.

Jam 01.30, saya merasakan dorongan yang kuat untuk mulai mengejan. Oh oh. Saya mengenali sensasi ini. Enam tahun yang lalu, ketika dorongan semacam ini datang, saya buru-buru dibawa masuk ke ruang persalinan. Saya menunggu beberapa saat untuk memastikan. Saat itu interval antara satu kontraksi dengan kontraksi berikutnya di rentang 3-4 menit. OK, memang waktunya telah tiba. Saya lalu membangunkan suami (Iya, suami bisa tidur nyenyak saat itu. Lengkap dengan dengkurannya yang legendaris itu, bahkan) dan memanggil bidan. Cek dicek, sudah masuk bukaan 8. Saatnya ganti pemandangan: kami masuk ke ruang persalinan pada pukul 01.45.

Ternyata kami tidak sendirian. Ruang persalinan sebelah terisi oleh ibu muda yang sedang melahirkan anak pertamanya. Saat pertama mendengar suara-suara dari sebelah, dalam hati saya berkata, “Heboh amat, Bu. Biasa saja, kali”.

Perkataan yang membalik pada diri saya sendiri. Beberapa saat kemudiaan, saya menyumbangkan kehebohan yang tidak jauh berbeda.

Suami sudah lebih pintar dibandingkan saat persalinan pertama dulu. Kali ini, suami menyodorkan badannya untuk saya peluk saat kontraksi datang (Iya, pelukan Gorila, tepatnya. Sama sekali bukan jenis pelukan mesra). Lumayan, trik ini berhasil menyelamatkan tangan suami dari cakaran saya.

Persalinan kami dibantu oleh Bidan yang mana adalah instruktur senam hamil yang baru saya ikuti dua kali saja (Well, salah satu penyebab saya ikutan heboh di ruang bersalin, saya rasa, adalah karena saya kurang terlatih dalam mitigasi rasa sakit saat kontraksi datang. Saya hanya sempat senam hamil dua kali, sehingga sama sekali belum menghayati prinsip pernafasan yang diajarkan. Beda jauh sama jaman hamil Sophie dulu, saya rutin senam hamil sejak usia kandungan 8 bulan). Beruntung, ada suami yang rajin mengingatkan dan mencontohi: tarik nafas dalam, buang nafas pelan, lagi, lagi….

Sesi senam hamil terakhir yang saya ikuti hari Sabtu. Saat itu Selasa dini hari. Jelas Bu Bidan masih ingat dengan saya dan masalah apa yang saya sampaikan di sesi curhat setelah senam berakhir. Kata beliau, “Ayo, Bu, jangan mengulangi kesalahan yang sama. Jangan buang-buang tenaga. Miring dulu saja”.

Ada tiga bidan yang bertugas saat itu. Ketika bayi di ruang sebelah lahir, ketiganya datang untuk membantu di sana. Saya hanya berdua dengan suami. Tiba-tiba saja, saya merasakan dorongan yang luar biasa untuk mengejan. Sekuat mungkin saya menahannya. Tiba-tiba saya merasakan ada sesuatu diantara kedua paha saya. Ketika saya menyadari apa yang terjadi, yang bisa saya lakukan hanya berteriak, “Buuu, sudah lahir…”

Separuh badan Syafiq sudah di luar.

Ada dua bidan yang berlari ke kamar bersalin saya. Refleks saya berganti posisi, dari berbaring miring ke posisi standar melahirkan (Oh, hai, jahitan. Tidak terlalu senang mendapatimu). Syafiq menangis pelan setelah sepenuhnya di luar tubuh saya. Dan momen itu kembali lagi. Momen ketika semua rasa sakit saat kontraksi menghilang, berangsur-angsur bergeser menjadi memori samar.

Alhamdulillah. Pukul 02.27. 47 cm, 2,8 kg. Syafiq Hamad.

Selanjutnya, semua terasa nyaman. Mungkin nyaman bukan diksi yang tepat, tapi kira-kira begitu, lah. Tenang, damai, happy. Senyum mulai kembali ke wajah Pak Suami. Semua berjalan sebagai mana mestinya pasca persalinan: mengeluarkan placenta, IMD (yang seadanya banget, semi abal-abal) sambil menjahit robekan di bawah sana. Selesai. Semua baik-baik saja….

…. Sampai ketika tiba-tiba Bu Bidan mengatakan kalau terjadi pendarahan. Ya, saya merasakannya. Saya menciut. Saya mendapatkan beberapa tindakan untuk menghentikan pendarahan, termasuk Misoprostol. Beberapa saat kemudian, saya semakin ciut saat Bu Bidan mengatakan bahwa sebagian darah menggumpal di rahim dan perlu dibersihkan secara manual. Segera. Oh, I won’t give you the visuals, I won’t write the details. Keseluruhan yang saya alami saat pendarahan tersebut, bagi saya, lebih menakutkan dari pada proses melahirkannya sendiri (dari bukaan awal sampai Syafiq lahir, maksud saya).

Setelah momen menakutkan tersebut selesai, kami ditinggal bertiga di ruang bersalin untuk observasi. Alhamdulillah pemulihan berjalan dengan baik, tidak terjadi pendarahan susulan. Cuma, ya, efek Misoprostol bertahan cukup lama. Saya masih mengalami kontraksi hingga siang harinya. Weird, it was. I hold Syafiq in my arms but my uterus kept contracting for hours. 

Papa Syafiq
Pasca episode pendarahan. It affected him more than me, i think. He got to see the heavy bleeding and everything. *kecupPakSuami*

Jam 6 pagi, kami pindah ke kamar. Beberapa waktu kemudian, kamar perawatan kami bertambah ramai. Pak Suami menjemput Sophie, yang sedemikian exited menyambut kehadiran adiknya. Semuanya terasa nyaman, familiar, dan badan saya mulai tersadar dari eforia ketemu Syafiq: ngantuk luar biasa setelah dua malam tidak tidur sama sekali. Saya tertidur, suami juga. Sophie si kakak siaga menjaga adiknya adiknya ketika kami tertidur. Good sister, she is.

Sophie Syafiq
Sophie dan Syafiq, versi sekarang. Jelas bukan newborn lagi.  Yaa, namanya juga postingan telat, yak.

Saya terbangun dengan kesadaran baru: here I am, a mom of two. Kesadaran yang mbleber kemana-mana, yang membuat hidup saya bergulir ke dimensi baru yang keterlaluan santainya, yang membuat saya keteteran ketika cuti melahirkan habis masanya.