Mama, Sophie

The Right School

Sophie and her classmates visited Sekar, their friend who had been sick for about a week. Sekar’s Mom said that she would  go to school the day after. That night, Sophie made a welcome card for her. She drew flowers and wrote a note on a piece of paper. It said, “Selamat datang, Sekar. Yang semangat, ya”.

I picked up Syafiq earlier yesterday. Syifa, Sophie’s classmate while they were in kindergarten, took a close look at my hand. She asked questions related to my condition. When I said goodbye to her, she wished my hand getting better. “Mamah Sophie, semoga cepat sembuh, ya“.

These two occasions made me truly believe that we had chosen the right school for Sophie.

 

Sophie and her classmates. This pic is courtesy of Bu Mae, their teacher.

 

Advertisements
Mama

Pakai Baju Apa Hari Ini?

Pakai baju apa hari ini?

Oke, pertanyaan ini khusus saya sampaikan pada ibu-ibu bekerja  yang harus berangkat ke kantor setiap hari. Konteksnya adalah, saya sedang mencari contekan. (Sepertinya hidup saya sedang selo sekali, sampai pertanyaan semacam ini tiba-tiba muncul, seakan tidak ada hal lain yang lebih penting saja. Etapi hal remeh-temeh begini tidak berarti tidak penting, kan, ya? Ya, penting tidak penting, begitu, deh).

Dulu saya selalu memakai seragam dari kampus saya. Batik dan safari-like, atas bawah, jilbab segi empat, formal. Begitu pula teman-teman saya. Normalnya memang seperti itu saat itu.

Waktu berjalan, tren berganti. Begitu pula kondisi saya.

Jaman hamil Syafiq, salah satu hal yang menjadi keluhan saya adalah gerah. Gerah berkepanjangan yang kemudian jadi gatal-gatal. Saya dan seragam menjadi dua hal yang tidak bisa berjalan beriringan lagi.Terima kasih pada inner jersey dari Zo*a, yang menyelamatkan saya saat itu. Saya waktu itu memakainya begitu saja, dalaman yang dipaksa menjadi baju luar. Ya maaf, namanya juga lagi hamil, apa saja bisa dicoba untuk sebentuk kenyamanan. Saking cintanya dengan inner Zo*a, saya sampai punya lima buah, untuk digilir pemakaiannya setiap hari sepanjang minggu. Pasca cuti melahirkan, saya masih memakai baju-baju tersebut ke kampus, dengan sedikit modifikasi. Saya menggunakannya sesuai dengan peruntukannya, sebagai dalaman. Untuk luarannya  saya memakai atasan batik atau apa saja yang tersedia. Iya, sebagai pengganti rok. Dari sini, muncul pertanyaan tambahan dari saya.

Apakah jersey pantas dipakai untuk bekerja?

inner-zoya
Saya memakai yang kanan, inner Ummi. Iya, kancing depan yang busui-friendly, makanya tetap saya pakai sampai hari ini. Gambar dipinjam dari sini

 

Selanjutnya, terkait tren gamis syari yang lagi marak belakangan ini. Iya, yang tipikalnya dideskripsikan bakulnya sebagai ‘gamis yang busui dan wudhlu friendly, dengan lebar rok sekian meter’ itu, lho. Bahannya beragam, motifnya juga amat banyak variasinya. Pakaian jenis ini normal dipakai di lingkungan kerja saya saat ini. Yang menjadi pertanyaan saya, bahan seperti apa yang pantas dipakai untuk bekerja? Motif apa yang bisa dianggap office-friendly?

 

sheikha
Is it considered office-friendly? Gambar meminjam dari sini 

 

Di atas semua pertanyaan saya sebelum ini, ada satu pertanyaan besar yang belum juga berhasil saya jawab. Yang menentukan standar bahwa baju kerja bagi mamak-mamak yang memakai gamis itu harus seperti ini atau seperti itu, siapa? Tidak bisakah memakai standar kenormalan lingkungan kerja kita saja? Kalau menurut Budhe Google, gamis untuk bekerja itu tipikalnya monokrom, warna netral, semacam gambar berikut ini.

 

kerja
model ini dan model-model lainnya bisa dilihat di  sini

 

Tapi, kan, itu kata Budhe Google ya. Belum tentu normal menurut beliau normal juga bagi lingkungan kita.

 

PS: Keluar dari rutinitas itu memang bagus untuk kesehatan jiwa. sekian lama berhibernasi, akhirnya blogpost perdana saya muncul saat saya di luar kota. It is good to come back again.