Syafiq

My Breastfeeding Story (part 2)

Bagian pertama dari kisah ini sudah saya tulis di sini sekitar enam tahun yang lalu, tentang apa yang saya alami bersama Sophie. Saya tergerak menuliskan bagian dua dari cerita ini karena dua alasan. Yang pertama, Syafiq sekarang sudah satu tahun, yang berarti bahwa separuh perjalanan menyusui sudah kami lalui. Bagi saya, hal ini merupakan salah satu milestone yang perlu catatan tersendiri. Yang kedua, nyinyiran dari Pak Suami tentang betapa tidak berimbangnya saya dalam mendokumentasikan masa bayi Sophie dan Syafiq. Kalau jaman Sophie, segala hal ditulis di blog, bahkan sampai hal-hal remeh temeh pun ada. Giliran jaman Syafiq, sepi tanpa dokumentasi. (Yaaa, kalau dicarikan alasan, ya, pasti ada alasannya. Tapi saya tidak mau membahas itu sekarang. Yang ada malah saya batal menuliskan cerita utamanya, nanti).

Kata orang, pengalaman pertama adalah yang paling sulit. Dalam konteks hamil dan menyusui anak-anak saya, saya mengamini hal itu. Alhamdulillah saya dimudahkan dalam menyusui Syafiq. Keseluruhan ceritanya bisa dibilang minim drama. Tidak jauh berbeda dengan saat saya hamil Syafiq dulu, dibandingkan saat hamil Sophie, yang pernah saya tulis di sini.

Iya, dalam menyusui pun demikian. Saya lebih santai menjalaninya, tidak ngoyo lagi.

Sesaat setelah lahir, Syafiq mendapatkan IMD yang tidak standar. Ya, IMD-IMDan, lah. Tapi, ya, tetap saya syukuri. Setidaknya kami sudah mencobanya, bukan? Masalah pertama yang saya temui setelahnya adalah inverted nipple. Masalah yang sudah saya prediksikan. Kami berhasil mengatasinya dengan menggunakan spuit injeksi yang dibalik untuk menarik si nipple keluar.

Alhamdulillah di episode kedua ini saya tidak ketemu kasus sore nipples yang parah dan mastitis. Perlekatan Syafiq alhamdulillah sudah baik sejak awal, tidak seperti kakaknya yang harus diajari untuk membuka mulutnya lebar-lebar setiap kali akan menyusu. (Ya ampun, ternyata si Sophie sudah sok princessy sejak lahir, ya. Mau minum saja sok pake jaim buka mulutnya 🙂 ).

Saya sering mendengar bahwa bayi laki-laki itu minumnya kuat. Ternyata, hal itu tidak berlaku untuk Syafiq. Syafiq itu model anak yang minumnya sedikit-sedikit. Model minum-main-minum-main-minum begitu, deh. Sampai sekarang, pola minum Syafiq masih seperti itu, yang efeknya seringkali memunculkan komentar-komentar tidak penting (yang saya abaikan juga, sih).

Untuk urusan perintilan ASIP, Purwokerto telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Dulu jaman Sophie, saya membeli kebanyakan barang yang saya butuhkan secara online. Sekarang, semua hal, mulai dari pompa ASIP, botol tutup karet, sterilizer, ice bag dengan berbagai rentang harga, sampai kantong plastik ASIP pun bisa saya dapatkan di sini. (Sedang mencari perintilan ASIP di Purwokerto? Saya merekomendasikan Wijaya dan Isabel).

Saya menggunakan pompa Avent Phillip manual. Sejauh ini saya puas dengan performanya. Saya mulai menyimpan ASIP sejak Syafiq berumur tiga minggu, masa di mana produksi ASI sedang jaya-jayanya. Lumayan, saya bisa menabung cukup banyak ASIP.

Stok ASIP aman terkendali sampai ketika Syafiq berumur 7 bulan. Sejak saat itu, saya defisit 3-4 botol setiap minggunya. Kondisi menjadi mengkhawatirkan ketika saya mengalami kecelakaan 1,5 bulan yang lalu. Saya tidak yakin apakah obat anastesi mempengaruhi produksi ASI, yang jelas saya berada pada kondisi produksi minim beberapa hari setelahnya.Tangan kanan saya yang praktis tidak bisa digunakan untuk memompa ASIP membuat saya belajar hanya menggunakan pompa dengan tangan kiri saya. Usaha yang tidak berjalan dengan baik. Saya tidak bisa mengeluarkan ASIP dengan tuntas, yang berefek menurunnya produksi ASI secara perlahan. Sudah enam mingguan ini saya defisit belasan botol susu setiap minggunya. Sekarang, saya sudah memensiunkan freezer 5 rak saya. Stok ASIP yang tinggal seiprit saya simpan di freezer kulkas dua pintu saya. (Btw, adakah yang membutuhkan freezer Sharp 5 pintu? Kondisinya baik, dan baru saya gunakan selama hampir setahun. Kalau berminat, silakan kontak saya).

Sekarang, stok ASIP yang saya miliki minimalis adanya. Tapi, seperti yang sudah saya sampaikan di atas, saya yang sekarang jauh lebih santai dalam menghadapi masalah persusuan ini. Kalau misalnya stok saya benar-benar habis, ya, tinggal beli UHT saja untuk menambal kekurangannya. Saya tidak terlalu memikirkannya.

Eh, tadi saya menyinggung tentang Syafiq yang menyusunya tidak begitu kuat dan komentar-komentar miring yang diakibatkannya, kan, ya. Jadi begini, postur Syafiq itu petite. Kalau di kurva tumbuh kembang bayi, ya, posisinya di bawah, di area kuning menjelang merah. Selain gen dari saya dan selera makannya yang angin-anginan itu, saya menduga konsumsi susu Syafiq yang cimit-cimit itu juga memberikan andil bagi posturnya yang imut itu. Orang lain pun juga memiliki pikiran yang sama, dan mengungkapkannya dengan bahasa yang mengganggu saya, semacam,

Susu Mama Syafiq kurang bagus, ya? Kok Syafiq kurus sekali, tidak seperti Mbak Sophie dulu?

Oh, people.

Menutup post ini, ada foto si anak yang berulangtahun yang ingin saya bagi. Si pipi menul-menul (yang diklaim Mbah Sainah sebagai buah dari ide kreatifnya menyuapi Syafiq dengan nasi yang lebih berkontribusi bagi pembentukan masa pipi dibanding bubur)

img_20161230_085114
our todller!
Mama

Tentang Teladan dan Tiru-meniru Lainnya

Pada suatu masa, saya pernah merasa sedih/marah/kecewa/tertekan/dan-aneka-emosi-negatif-lainnya kepada seseorang di lingkaran dalam kehidupan saya. Serba repot saat itu, saya sedih/marah/kecewa/tertekan/dan-aneka-emosi-negatif-lainnya akibat efek sifat keras beliau terhadap kinerja saya, tapi saya tidak punya pilihan lain. Saya harus menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan dengan beliau, sambil bertahan dengan semua hal itu. Ya, harus tahan, kalau tidak, ya, saya malah harus lebih lama merasakan semuanya. Repot, bukan?

Waktu berlalu, keadaan berganti. Sampailah saya di hari ini, penghujung 2016. Di titik ini, beberapa kali Pak Suami berkomentar bahwa saya mirip sekali dengan beliau yang menyebabkan saya memendam rasa sedih/marah/kecewa/tertekan/dan-aneka-emosi-negatif-lainnya saat itu. Saya pun diam-diam mengakuinya. Belakangan ini, tanpa sadar, level kegalakan saya naik (tidak mau kalah dengan biaya sekolah di SD favorit inceran Mamah-mamah trendy setiap tahunnya!). Saya yang dulu sedih/marah/kecewa/tertekan/dan-aneka-emosi-negatif-lainnya karena kegalakan beliau, sekarang mengadopsi kegalakan tersebut dan (kemungkinan besar) menyebabkan orang lain sedih/marah/kecewa/tertekan/dan-aneka-emosi-negatif-lainnya.

Oh, kisah lama. Masih familiar dengan gething nyanding, sengit ndulit yang dulu pernah saya bicarakan? Lagi-lagi saya membuktikan kebenaran dari buah kebijaksanaan pendahulu-pendahulu kita itu.

Sungguh, saya tidak paham dengan masalah tiru-meniru ini. Salah satu hal yang sama sekali tidak bisa saya pahami adalah bagaimana kita memilih aspek untuk kita teladani, baik secara sadar ataupun tidak sadar. Begini, lho, maksud saya. Dalam kasus saya, beliau yang amat berkesan ini adalah tokoh dengan multi aspek. Sebagai ilustrasi, selain bertabiat keras, beliau juga merupakan sosok yang amat bersahaja. Seseorang dengan kapasitas beliau, kalau mau, memiliki sumber daya yang lebih dari cukup (banget!) untuk menggunakan mobil keluaran terbaru. Nyatanya, beliau memilih tetap menggunakan mobil yang telah beliau gunakan sejak belasan tahun yang lalu.

Nah, saya tidak bisa paham kenapa saya (tanpa sadar) menjadi galak seperti beliau, tapi tidak mampu meniru kebersahajaan beliau. Saya tidak bisa menjelaskan kenapa stok sabar saya untuk beberapa hal spesifik teramat tipis, sementara keinginan saya untuk menimbun lipstik semakin menggila setiap harinya.

Atau, jangan-jangan sebenarnya saya sudah galak dari sononya, ya? Hanya masalah waktu saja, sehingga baru belakangan ini saya menyadarinya? Eh.