babysophie

Sleepy Smelly Sophie

Salah satu hal yang dikangeni si Papa dari Sophie adalah bau badannya pas bangun tidur di pagi hari. Aseem, bercampur dengan bau pesing dari popoknya yang sudah penuh. Khas banget pokoknya, sulit dicari tandingannya, hahaha…. Kadang, malam-malam pas lagi chat Papa bertanya, -Genduk sudah mulai smelly belum?- Lalu sayapun mengendus-endus badan Sophie dan melaporkan hasilnya. “Belum Pa” atau “Sudaaah, wangiiii deh, hahahaha”

Kadang saya mikir, indra penghidu Sophie resisten gak ya terhadap bau. Lah wong setiap hari mencium aroma khas nan enak itu kok. Tapi ternyata saya salah. Hidung Sophie masih peka terhadap bau. Dan dia bisa memilih mana bau yang disukai dan mana yang tidak disukainya.

Semalam, Sophie tidur gasik. Papa iktikaf di Islamic Centre Ramkamhaeng sehingga saya gak punya partner ngobrol malam. Saya pun mengambil lulur, mau mandi enak mumpung ada kesempatan. Dan, saya suka sekali dengan efek lulur itu. Aroma green tea campur bebungaan dan kelembutan kulit yang nyamaaaan rasanya.

Pas saya selesai mandi, Sophie bangun. Seperti biasa dia nagih jatah nenen. Dan, dia menolaknya sesaat setelah nempel. Saya mengira Sophie gak mau nenen karena PD saya masih dingin setelah mandi. Tapi kok setelah beberapa saat Sophie tetap gak mau. Kasihan sekali melihat Sophie, dia mangap-mangap mencari puting, tapi setelah dapat langsung menolaknya dan berbalik badan. Akibatnya Sophie nangis-nangis mutung. Sudah pengen nenen tapi gak suka dengan apa yang ditemukannya.

Saya berusaha menenangkan Sophie dengan elusan di punggung dan tepokan di pantatnya, sambil kipas-kipas mirip tukang sate. Sophie pun mulai liyer-liyer, trus minta digendong. OK, saya pun mulai menggendongnya keliling rumah. Menjelang tidur, Sophie mulai mangap-mangap mencari puting. Mulai lagi deh, disodori lagi, menangis lagi. Lagi dan lagi.

Akhirnya, saya ke kamar mandi lagi. Mencuci PD dan sekitarnya, menyabuninya. Setelah saya keringkan beberapa saat *ya harus kering dan hangat, Sophie anti banget sama nenen dingin* saya tawarkan lagi. Dan ternyata Sophie langsung mau. Ternyata Sophie gak suka sama aroma lulur saya. Terpaksa deh itu lulur saya buang, padahal baru pertama kali dipakai.

Advertisements
babysophie, sehat, vaksinasi

Cerita Imunisasi Sophie

Sudah lama banget pengen nulis tentang imunisasi Sophie, tapi kok gak jadi melulu. Hari ini saya bingung mau melakukan apa, *sindrom mau kabur, nganggur-nganggur gak jelas*, maka saya bulatkan niat untuk menulisnya.

Sesuai kesepakatan dengan suami, kami berencana memberikan imunisasi wajib dan imunisasi yang dianjurkan, kecuali IPD dan flu, kepada Sophie. Kami percaya, imunisasi adalah salah satu bentuk cinta dan tanggungjawab orang tua kepada anaknya. Suami menggarisbawahi klo beliau memiliki imunitas yang kurang baik, maka kami berjaga-jaga kalau-kalau hal itu diturunkan ke Sophie. Apalagi, kami hidup di Dukuhwaluh yang angka kejadian TBC pada anaknya tinggi. ASI dan imunisasi, kami percaya pada kekuatan mereka sepenuhnya.

Untuk pelaksanaannya, Sophie lebih banyak diimunisasi oleh Bidan di RSIA tempat dia dilahirkan. Kadang ke DSA, pas ada hal lain yang ingin saya diskusikan dengan DSAnya atau RS Bunda Arif tidak punya vaksinnya. Kenapa Bidan? Karena bidan punya kompetensi untuk menyuntikkan vaksin yang gak ribet-ribet amat itu. Dan ngirit, tentu saja. Saya memilih imunisasi di RS, bukan karena saya tidak percaya Bidan praktek. Saya tidak percaya pada kualitas vaksin yang mereka miliki. PLN kan beberapa waktu yang lalu *dan sekarangpun masih kadang-kadang* rajin bener memadamkan lampu. Saya tahu, setiap vaksin punya toleransi untuk berada pada suhu ruang dalam waktu tertentu, tapi klo kejadiannya berulang kan ya mengkhawatirkan. Makanya saya cari aman dengan memilih imunisasi di RS yang jelas-jelas punya genset.

Hepatitis B1 diberikan sebelum kami pulang dari RS. Untuk polio, diberikan pada umur 1 minggu, sekalian saya kontrol jahitan. Hepatitis B2 dan BCG juga diberikan tepat waktu, saat Sophie umur 1 bulan. Gak ada cerita seru dari imunisasi-imunisasi tersebut.

Nah, yang agak seru itu adalah imunisasi di bulan kedua Sophie. DTP1, HIB1 dan polio2 di umur 2 bulan. Sejak awal kami ingin mengambil DTaP karena faktor gak mau ambil resiko panas dan wejangan suami yang khawatir anaknya mewarisi gen gampang panas. Walopun katanya imun yang terbentuk gak sebanyak vaksin DTwP, saya percaya Sophie tetap terlindungi, bismillah. Selama di Purwokerto saya belum menemukan DSA yang mau memberikan imunisasi secara simultan, apalagi Bidan. Baiklah, saya memilih vaksin Pediacel. Saya termasuk orang yang lebih suka vaksin kombo daripada bolak-balik ke rumah sakit soalnya. Ternyata, Sophie panas setelah imunisasi. Mana saya gak punya antipiretik dirumah. Bingung jadinya. Malam-malam anak demam tinggi (mencapai 39,5 DC), hujan deras dan hanya berduaan di rumah. Akhirnya saya menelpon teman, minta dibelikan paracetamol sambil menyusui Sophie sesering mungkin. Alhamdulillah, pagi harinya panas Sophie reda. Lesson learnt, selalu sedia parasetamol dirumah, jangan kePDan kaya saya.

Untuk imunisasi DTP2, HIB2 dan polio3 sebenarnya saya ingin beralih ke Infanrix HIB. Setelah membaca sana sini, saya ingin memberikan vaksin polio oral, bukan injeksi. Tapi ternyata Bunda Arif tidak punya vaksin tersebut. Ah, ceroboh sekali saya ini ya. Saya tidak mengecek ketersediaan vaksin dulu sebelum berangkat ke RS. Jadi, untuk bulan ke empat tetep pakai Pediacel. Alhamdulillah, Sophie tidak demam.

Nah, imunisasi Sophie di umur 6 bulan adalah yang paling seru. Belajar dari pengalaman di bulan ke empat, saya menelpon beberapa RS dan ternyata yang punya Infanrix HIB adalah Pak Basalamah, DSA Sophie yang sebenarnya juga praktek di Bunda Arif. Pak Bas ini praktek di Apotek Omnia Farma bersama beberapa dokter spesialis lain. Di Hari H, ternyata Pak Bas ada acara di luar kota sehingga digantikan oleh DSA pengganti. Penggantinya adalah Pak Umam, DSA muda yang sehari-hari praktek di Jogja tapi saya tidak tau dimana tepatnya. Ternyata Pak Umam ini orangnya sangat kooperatif. Enak banget diajak diskusi. Iseng, saya bertanya apakah bisa minta imunisasi simultan, Infanrix, OPV dan Hepatitis B3. Surprisingly, beliau langsung mengiyakan tanpa banyak komentar. Happy. Pak Umam memberikan kedua injeksi tersebut secara simultan, literally. Jadi beliau menginstruksikan perawat untuk menginjeksikan Infanrix di paha kanan Sophie, beliau sendiri menginjeksikan Hepatitis B di paha kiri secara bersamaan untuk meminimalisir kaget dan rasa sakit pada Sophie. Serunya, vaksin siap diinjeksikan, tiba-tiba mati lampu. Whew, untungnya Sophie tidak takut dan setelah disuntikpun tidak heboh nangisnya. Nah, bagian selanjutnya tidak kalah seru. Ternyata uang yang saya bawa kurang! Huhuhu, saya tidak menghitung jumlah uang di dompet sebelum minta simultan. Dan saya tidak memperhitungkan bahwa merk vaksin di Bunda Arif sama di Omnia Farma berbeda. Biasanya kan Hepatitis B sama Bidan cukup 25 ribu saja. Lah ini kok sampe 125 ribu, duuh. Alhamdulillah saya terselamatkan. Melipir ke Apotek, saya melihat beberapa mahasiswa saya lagi magang di sana. It was done, saya meminjam uang pada salah satu dari mereka. Dan, lagi-lagi Sophie tidak demam. Alhamdulillah.

Untuk campak di umur 9 bulan, kebetulan Sophie kena batpil. Sumeng. Bidan Sophie tidak mau memberikan imunisasi campak saat bayi gak fit. Saya telpon DSA Sophie, sama, beliau juga menyuruh saya datang kalo Sophie sudah gak batpil lagi. Saya menelpon 2 DSA lain dan mendapatkan jawaban yang sama. Akhirnya, imunisasi campak Sophie mundur seminggu. Di Bunda Arif dengan Bidan.

Nah, untuk jadwal selanjutnya yang paling dekat kan MMR sama Varicela. Semoga saya nanti nemu RS di Surabaya yang mau simultan ya.

babysophie, milestone

Bulan Kesepuluh Sophie

  1. Ngotot. Kalau sudah punya keinginan hebohnya bukan main. Meraih-raih dan merengek-rengek. Kalau keinginannya ditolak ngambek. Menangis melengking, badannya kayang dan matanya merem. Dududu, niru siapa to Nduk?
  2. Suka niru-niru. Papanya minum mau minum juga. Mamanya pegang HP direbut. Mamanya mukul-mukul tembok ya ikutan. Makanya harus mulai hati-hati, gak boleh sembarangan. Klo lagi niru-niru dilarang, ya ritual no 1 yang ngambek itu dilakukan si Genduk.
  3. Makannya alhamdulillah OK. Setelah kemaren mingkem melulu, sekarang saatnya mengembalikan lemak ke tubuh Sophie. Alhamdulillah gampang. Dari yang full spices sampai yang plain ayo saja. Semoga dirimu selalu lahap ya Sayang, sehingga Mamamu ini bebasdari kritikan nenek-nenekmu yang bilang badanmu kurang montok. Terkait dengan poin no 2, di bulan puasa ini Sophie suka ikutan ngerecokin si Papa dan saya yang lagi buka. Gak bisa dilarang, tentunya. Akibatnya, sudah ngincipin air es, kolak sama opak jadah. Gak papa lah, saya tidak terlalu memusingkannya. Air es, Sophie gak alergi dingin. Kolak, walaupun ada gula garamnya, IA buatan sendiri jadi gak perlu parno. Opak jadah is roasted, not fried.
  4. Rambatan. Masih sedikit-sedikit merambatnya. Akhirnya saya melihat Sophie berpindah lokasi dengan cara selain berguling. Merangkak? Saya sudah patah hati menunggu Sophie merangkak. Spot favoritnya adalah pagar depan rumah sama pintu kamar. Beresiko? Tentu saja. Tapi saya gak melarangnya. Soalnya, klo dilarang adegan kayang-kayang sebagai bentuk protesnya akan lebih berbahaya.

PS: walaupun Papa disebut beberapa kali, sekarang beliau sudah gak di rumah lagi. He’s on his flight to Bangkok now. Si Papa ternyata kangen kronis sama Sophie, sehingga setelah officially diputuskan kami gak bisa ke Bangkok, beliau yang pulang pas ada libur 2 kali berturut-turut di hari Kamis. Tidak direncanakan. Untungnya, ada Jetstar yang harga tiketnya jauh dibawah Airasia, hehehe.

PS2: saya suka sekali quote Mbak Nunuk. “Karena itulah letak kebahagiaan kita. Uang bisa dicari tapi kesempatan kumpul itu jauh lebih berharga”

babysophie, writingcontest

Cerita Diaper Sophie

Sebagai anak TPA sejak umur 2 bulan, popok Sophie merupakan salah satu isu yang cukup penting bagi saya. Popok yang nyaman dan tidak bocor, -sehingga memudahkan pengasuhnya- adalah sesuatu yang saya cari. Awalnya saya menggunakan celana plastik (merk Lus** Bun**) untuk menahan kebocoran pipis. Tidak nyaman, tentu saja. Bayangkan saja, celana pop, penyerap ompol, baru celana plastik di bagian luarnya. Tapi ya bagaimana lagi. Saya sudah mendengar tentang cloth diaper saat itu, yang semuanya masih produk impor dengan harga yang terlalu mahal untuk ukuran kantong saya. Itulah kenapa saya memilih celana plastik. Anti bocor dan murah, walaupun kurang nyaman dan harus selalu ganti celana dan penyerap ompol setiap kali pipis.

Kemudian, saya mendengar ada clodi produksi lokal. Setelah baca review sana-sini, saya memutuskan untuk mencoba 2 merk, Zigie Zag dan Enphilia, dua-duanya adalah one size pocket diaper. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada si ZZ ini. Motifnya lucu-lucu! Tapi, kecintaan saya mulai berkurang setelah saya memakaikannya pada Sophie. Saya mencoba baby terry sebagai bahan insertnya. Hasilnya, bocor setelah pipis pertama. Aaah, apa bedanya dengan celana pop dan celana plastiknya kalau begitu? Mutung, saya bereksperimen dengan mengalihfungsikan pocket ZZ menjadi diaper cover. Saya menggunakan alas ompol (merk Rena**) diatasnya. Voila, saya puas dengan performa ZZ dengan metode ini, dan masih menggunakannya sampai sekarang. Sebagai catatan, cutting ZZ ini kecil, jadi pas untuk Sophie yang setelah 6 bulan semakin langsing saja. Jadi Mom, klo bayi anda ndut atau berpaha besar, sebaiknya memilih merk lain.

Kalau Enphilia, saya berani bilang pocket diaper ini worth it for the money. Clodi paling murah yang pernah saya tahu, tapi kualitasnya bagus banget. Performanya mengikuti insertnya. Kalau baby terry ya paling 2 kali pipis (2-3 jam) tembus. Microfiber terry lebih lama (4-5 jam). Paling OK ya dikombinasikan sama insert bamboo. Rangkap 2 insert bisa tahan semalaman! Cuttingnya juga besar, jadi bisa digunakan sampai bayi kita 2 tahun, juga untuk bayi-bayi montok berpaha besar tentunya. Kelemahan dari Enphilia ada di warnanya. Hanya tersedia warna polos, sama sekali tidak memenuhi selera centil saya. Berita bagusnya, mereka punya edisi spesial seperti schocking tosca dan green neon yang lumayan lah. Kekurangan lain dari Enphilia ini adalah lamaaaa keringnya. Dalam cuaca Purwokerto yang mendung hujan melulu seperti saat ini, 3 hari baru kering. Pengeringan dengan mesin cuci mungkin bisa dipertimbangkan, mengingat Enphilia tidak memiliki lapisan PUL pada outternya.

Ya, begitulah review saya tentang ZZ dan Enphilia. Spesial ditulis untuk Anti, juragan Tokobundahafidh yang sedang menggelar kontes menulis revien diaper