bahanrenungan, gubraggabrug

Just Saying

Ini edisi nyinyir ya. These things came to my mind and I just want to write it, sebagai pengingat bagi diri sendiri.

  • You are not in the bottom of the universe. Memposisikan diri sebagai pihak yang paling menderita itu kadang ada bagus buat ego, tapi klo keterusan merasa sebagai korban keadaan, itu beneran gak asyik buat dilihat dan didengar. Bersyukur. Kuncinya ya itu saja ya, syukuri apa yang ada, yang kita miliki, trus gak usah membanding-bandingkan. You are special on your own.
  • You are not also at the top of the universe. Sebaliknya, ngerasa paling bener, paling baik dan paling struggle itu juga sama efeknya.
  • Sebelum memilih, cari informasi sebanyak-banyaknya. Dari semua sisi. Dan setelah memilih, jangan mengeluh lagi. itu namanya konsekuensi.
  • Kalau mau sesuatu, bilang. Punya ide, sampaikan. Gak semua orang punya kemampuan supranatural. Mereka gak bisa membaca pikiran kita.

Just saying 🙂

Advertisements
bahanrenungan

Hope This Year will be Better than the Last

 
Selamat tahun baru….

Semalam adalah malam pergantian tahun pertama yang saya lewatkan bersama suami. Di Purwokerto dong. Yup, happy happy happy. Agendanya? Suami tidur sejak sore dan saya ngancil sampai jam setengah 3 nonton Piretes of Carribean di TV. Sama sekali tidak romantis ya.

Saya tidak memiliki resolusi awal tahun kemarin. Ada sih keinginan-keinginan tertentu di kepala saya, tapi gak sempat menuliskannya ataupun mengucapkannya. Saya kan saat itu sedang belajar menjalani peran sebagai temporary single mother bersama baby Sophie. Rasanya saat itu life for today banget. Gak melihat dan merencanakan masa depan.

Tapi memang sih, saya tidak terbiasa punya resolusi setiap tahunnya. Hahahaa….

Jadi baiklah, saya akan mereview saja pencapaian kami (saya dan keluarga kecil saya dong) sepanjang tahun 2010. I just write the possitive things came over me, supaya saya selalu bersyukur. Tapi memang dibanding tahun-sebelumnya tahun kemarin so much better sih. Mungkin karena saya lebih ikhlas menjalani beberapa ketimpangan yang sebelumnya membebani saya. I have been gifted with a great life.

Sebagai seorang Mama, tahun kemarin menyenangkan. Motherhood is learning and more learning, dan semakin banyak belajar saya tahu bahwa masih banyak kekurangan yang ada di diri saya dan apa yang saya usahakan buat Sophie. Tapi, saya yakin gak ada ibu yang sempurna di dunia ini, supermom or anything. Yang ada adalah ibu yang terus berusaha memberikan yang terbaik buat anaknya, apapun interpretasi dari “terbaik” itu. Versi saya adalah memberikan asupan nutrisi, imunisasi, interaksi dan lingkungan yang baik. Untuk nutrisi, saya percaya pada kekuatan ASI. Bersyukur sekali kami berhasil menerapkan ASIX dan sampai saat ini Sophie masih minum ASI, dengan tambahan UHT. Dan sekali lagi saya saya bersyukur bahwa saya diberi kemudahan untuk itu. Untuk MPASI, sebisa mungkin saya mengikuti panduan dan rekomendasi dari wholesomebabyfood.com. Saya bersyukur bahwa tahun kemarin hal ini juga bisa kami laksanakan, walaupun ada adegan mogok makan dan sekarang anak saya jadi Miss Sophiesaurus. Dua item terakhir dari versi “terbaik” saya itu adalah alasan saya membawa Sophie bersama saya ke Surabaya, selain ASI tentunya. Interaksi adalah poin yang bagaimanapun juga sulit untuk saya buat ideal. Sebagai keluarga yang anggotanya berceceran dimana-mana, interaksi jelas adalah kemewahan tak terkira. Intensitas pertemuan yang jarang antaraSophie dan papanya sulit untuk dijembatani sepenuhnya. Tapi saya masih bersyukur bahwa teknologi telah begitu maju saat ini, sehingga setidaknya Sophie bisa merasakan “keberadaan” papanya setiap hari, meskipun hanya dalam bentuk suara saja.

Setelah sekian waktu tertunda, akhirnya saya kemarin sekolah juga. Sekolah lagi setelah 5 tahun ternyata sensasinya beda ya. Motivasinya lebih kuat, sehingga sekarang saya lebih rajin dan serius menjalani semua prosesnya. Ngantuk? Klo itu mah tetep ya, ngantuk sampai ketiduran di kelas, hahahaa… Yaa, saya ogah jauhan lebih lama sama suami. Pengennye cepet lulus, cepet ngumpul. Amiin…*topik tesis saja blom jelas sampai detik ini kok pengen lulus cepet ya. Ah, aminin saja deh* So far saya enjoy dengan tiga peran yang saya mainkan saat ini, part time student, full time mother and week end lover. Walaupun, kuliahnya “cuma” di Unair. Sombong ya, kesan dari statement saya di kalimat sebelum ini. Maksud saya adalah, kebetulan saya punya perbandingan sistem dan jelas-jelas Farmasi Unair ada di posisi minor. What I learn through those minor things is the matter. Lagipula, ada yang “lebih” dalam “kurang” itu. Somehow, I am happy with what I have.

As a proud wife, seneng banget suami lulus November kemarin. Akhirnya sekarang status kami bergeser dari International call ke SLJJ. Seneng deh bisa ketemu tiap weekend *dan sungguh tidak senang melihat akibat pertemuan tersebut pada dompet kami. Meh*

Happy new year, my friend. I Hope this year will be better than the last.

bahanrenungan, masalalu

Nasehat Bu Han

Saya teringat Bu Han hari ini. Dra. Handayani. Beliau adalah wali kelas saya di III IPA5 dulu, guru matematika yang menyayangi kami dengan gaya yang super galak dan sinis. Yes, she had them all. Kami bisa merasakan kasih sayang beliau, diantara gaya bicara dan diksi yang menusuk jantung, tugas yang seakan gak ada habisnya, dan hukuman yang terlalu sering frekuensinya.

Ada satu nasehat beliau  yang tiba-tiba muncul di kepala saya pagi ini. Nasehat yang saya rasa akan relevan sampai kapanpun juga.

Jangan mendikte Allah, minta saja yang terbaik. Allah paling tahu apa yang terbaik bagimu.

So true. Karena kita, manusia -apalagi yang kurang tahu diri seperti saya ini- adalah makhluk yang superfisial. Boleh jadi keinginan-keinginan kita membuat kita berharap diberi A to Z sama Allah. Padahal, belum tentu kita membutuhkannya. Belum tentu kita bahagia bila semua itu terjadi.

Dan nyanyian panjang lebar nan merdu Bu Han termainkan lagi pagi ini..

“… Gak usah minta lulus dengan NIM mendekati 70. Gak usah merengek minta nilai matematikanya 10. Klo nanti beneran dikasih segitu sama Allah, trus gak lulus UMPTN, apa gak stress kalian? Klo ternyata iya terus nantinya susah dapat pekerjaan, apa kalian gak bakal merana? Minta saja yg terbaik, klo Allah menghendaki sesuatu, apanya yang gak bisa. Sudah, minta saja diberi kemudahan dalam ujian, minta hasil yang terbaik, Apapun versi terbaik itu. Minta saja kehidupan yang terbaik, biarkan Allah mengatur detailnya. Nilai terbaik, kuliah terbaik, pekerjaan terbaik, jodoh terbaik, kehidupan terbaik menurut ukuranmu. Tapi jangan terus gak berusaha ya, bodoh itu namanya kalo gak berusaha.. Masyaallaaaaah, Budi, dari tadi belum selesai juga? Ayo Eko, dibantu biar cepetan, bla…bla… bla….”

I miss her, a lot. Semoga Allah senantiasa memberikan kehidupan terbaik bagi beliau…

bahanrenungan, gubraggabrug

Forbidden Question

Pembicaraan di dinding facebook seorang teman membuat saya menambahkan satu pertanyaan yang sebisa mungkin tidak akan saya tanyakan pada teman saya: Anakmu sudah berapa? Apapun diksinya.

Jadi begini, si teman (R) itu menulis tentang keinginannya makan pizza sbagai statusnya. Trus beberapa teman (T,S,A,U dan saya) menimpali status itu, rame obrolannya, topiknya sampai kemana-mana. Yaah, obrolan teman yang sudah lama tidak berkumpul kan selalu hangat. Tapi oh tapi, obrolan itu jadi beku saat si R mengetik, “Anakmu sudah berapa T?”

Beku. T tidak bisa menjawab klo dia blom punya anak karena dia sudah 3 kali kehilangan janinnya. Beku karena S, A, U dan saya juga tidak bisa menjelaskannya pada R. Akhirnya T berhenti dari obrolan itu. Dan terimakasih pada U yang melemparkan topik baru untuk mengalihkan pembicaraan. Tapi sayangnya R ini tidak peka. Dia mengulangi pertanyaan yang sama, lagi. Amat tidak nyaman bagi kami smua.

Ya mungkin pertanyaan itu wajar ya. T adalah yang pertama menikah diantara kami. Kami belum pernah ketemu secara fisik sejak kelulusan kami. Wajar klo berasumsi T sudah memiliki keturunan. Tapi bagi T, pertanyaan itu sungguh menyakitkan, membawa ketakutan-ketakutan dan kesedihannya kembali.

Pertanyaan yang sebelumnya saya hindari saat berbincang dengan teman yang sudah lama tidak bertemu adalah, -sudah menikah belum?-

Dan eh, sore tadi saya kembali mendapatkan satu pertanyaan yang saya tambahkan pada kedua pertanyaan itu. -ASIX kan?-

Ceritanya juga berawal dari dinding facebook. -Ooooh, apa saya terdengar seperti facebook addicted?- Teman saya dan kontaknya yang tidak saya kenal berantem karena berbeda pikiran, yang diawali dengan pertanyaan itu. Yaa, no offence kan klo ada golongan yang pro ASIX banget, sedemikian pro-nya sampai membabibuta menempatkan ibu-ibu yang tidak bisa memberikan ASIX ke bayinya dalam posisi pesakitan. Seorang teman menamakan golongan itu Nazi ASI. Sementara di sisi lain, ada ibu-ibu yang sebenarnya pengen memberikan ASIX tapi tidak mampu. Ya klo pertanyaan itu keluar pada situasi yang pas. Klo tidak?

Jadi intinya, saya tidak mau terjebak dalam ketidaknyamanan karena pertanyaan-pertanyaan itu.

bahanrenungan, gawe, tan

In the Future Where will I Be?

Saya lagi terngiang-ngiang Talk-nya Coldplay. Dan entah knapa pertanyaan Martin yang saya jadikan judul entry ini membuat saya berpikir.

In the future, where will I be???

Sebenarnya saya tahu knapa saya jadi sok mikir bgini, Jadi, kata -entah knapa- itu tidak pas juga diletakkan di kalimat kedua saya ya, hehehe. Tapi nevermind lah, gak penting ini ya ^_^

Rangkaian kejadian beberapa hari ini membuat saya merasa bahwa apa yang selama ini saya rencanakan untuk hidup saya kok sepertinya sudah tidak relevan lagi untuk direalisasikan. Kesannya berat ya, -untuk hidup saya-, sepertinya. Tapi yang saya maksudkan di sini sebenarnya gak seberat itu. Untuk hidup saya 1-2 tahun ke depan tepatnya.

Saya masih berpikir, sama sekali blom ada pilihan untuk saya ambil. Karena smuanya bukan fungsi tunggal dari keinginan saya yah, ada kepentingan lain juga yang harus diwadahi. Masih harus dibicarakan lagi, dengan banyak pihak. Karena saya ingin bermanfaat nantinya. Saya tidak ingin tidak adil pada suami dan babyndut nantinya. Dan juga tidak dirugikan. Saya berharap semua itu bisa diakomodir.

Hm hm hm, menutup posting penuh tanda tanya ini, saya menyadari bahwa pada akhirnya, saya punya banyak pilihan. Jadi ktika waktunya datang, saya hanya akan tinggal memilihnya, lalu menghidupi pilihan itu. Seperti nasehat Mas Martin yang membuat saya tersenyum saat ini:

You can climb a ladder up to the sun
Or write a song nobody has sung
Or do something that’s never been done
(Talk, Coldplay)