bercocoktanamjamur, pwtajah, tpa

Rumah Liliput, Finally.

Awal Maret kemarin saya memulai dua pekerjaan besar menurut ukuran saya. Mulai masuk lab untuk penelitian dan mengerjakan renovasi Rumah Liliput kami. Pekerjaan besar yang pertama masih belum beranjak dari posisinya 3 bulan lalu. Masih juga mengalami kontaminasi, ditambah saya yang belum bisa konsisten mengerjakannya. Ada saja alasan untuk mangkir dari lab *termasuk saat ini, saya di Purwokerto selama 2 minggu menyusul kasus kontaminasi parah yang terjadi pertengahan bulan ini*. Untuk pekerjaan besar yang kedua, alhamdulillah, Rumah Liliput sudah selesai dan kami sudah pindah kesana 🙂

Rumah Liliput ada di Kelurahan Karang Gintung, Kecamatan Sumbang. Jadi kalau saya selama ini bilang Dukuhwaluh adalah kampungnya Purwokerto, Karang Gintung adalah pelosoknya. Jauh dari keramaian. Udaranya dingin menusuk tulang tiap pagi hari dan hampir setiap sore diguyur hujan deras. Itulah sebabnya kalau kami sudah masuk rumah malas keluar lagi. Efek langsungnya adalah, saya jadi masak setiap hari, karena untuk beli makanan jadi jauh amat jalannya, hahaha….

Kami dulu sepakat untuk membelinya saat pertama kali melihat lokasinya yang jauh dari mana-mana itu. Alasan utamanya adalah harga, sebenarnya. Sebelumnya saya sudah jatuh cinta pada cluster bernama Titik-titik Residence yang lokasinya lumayan dekat kota. Sudah niat banget pengen ngerayu suami biar mau ambil rumah disana, walopun konsekuensinya harus makan sama mendoan tiap hari selama 15 tahun, hahaha.. Tapi ketika melihat Griya Mentari, kompleks perumahan dimana Rumah Liliput berada, yang cicilan tiap bulannya hampir separuh dari cicilan Titik-titik Residence, saya langsung lupa sama cluster itu. Bodo amat jauh dari kota, toh bisa motoran kan ke kota kalo lagi butuh. Lagian, Griya Mentari dan Titik-Titik Residence itu sama-sama berlokasi di pinggir Kali Pelus lho, hahaha.

Setelah resmi mulai mengangsur, saya gak punya pikiran untuk segera pindah ke sana. Mengerjakan renovasi sambil momong Sophie kok kayanya sudah berada di luar jangkauan saya ya, gak mampu deh. Jadinya ya sudah, lama rumah itu saya telantarkan. Kadang developernya telpon saya, katanya rumahnya mbok dilihat, mumpung masih dalam masa pemeliharaan mereka, kalau-kalau ada yang harus diperbaiki. Trus, kami pindah ke Surabaya. Semakin lupa ngurus renovasi rumah deh. Ketika suami pulang, beliau juga langsung ada proyek yang mengharuskannya ke Jakarta setiap minggu. Praktis urusan renovasi rumah juga gak ada dalam prioritas beliau, wong setiap minggu sudah sibuk keliling Pulau Jawa (Purwokerto – Jakarta – Surabaya – Purwokerto). Tapi, ketika kontrakan rumah yang suami tempati hampir habis, mau tidak mau memang harus merenovasi rumah dan pindah kesana. Kepepet.

Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami dapat referensi kontraktor untuk mengerjakan renovasi tersebut. TB Valensi namanya, alamatnya kalau tidak salah di Tambak Sogra. Kenapa tidak kami mengerjakan sendiri? Karena kami memang gak sanggup kalau harus ngopeni tukang, berburu material dan seterusnya. Lagian, suami lebih suka kruntelan bertiga di Surabaya setiap ada kesempatan, dari pada mengawasi pekerjaan tukang. Mungkin lebih mahal ya total kerusakan yang dibebankan ke kami, tapi kami lebih happy dibantu kontraktor dalam renovasi ini.

Namanya angka itu memang gak bohong ya. Kecil sekali rumah tipe 36, ya sekotak gitu saja. Setelah browsing sana-sini akhirnya kami memutuskan untuk menghilangkan kamar mandi dan menjebol tembok belakang bangunan lama sehingga bangunan berkesan lega. “Berkesan”lho ya, bukan lega beneran. Lha wong cuma berapa langkah dari satu ujung bgitu sudah tamat ke ujung satunya, hahaha. Praktis Rumah Liliput ini terbuka, tidak ada separasi ruangan selain kamar mandi dan kamar tidur. Jadi dari pintu depan langsung kelihatan dapur. Semoga menstimulasi kami untuk rajin beres-beres ya.

Mengerjakan renovasi tanpa mengawasi prosesnya kadang bikin emosi juga. Saya pengennye begini-begini-begini misalnya. Tapi oleh suami diterjemahkan jadi begini-begini-begitu. Lebih parah lagi, Pak Tukang mengeksekusinya menjadi begini-begitu-begitu. Awalnya saya sepaneng lho, gak ikhlas kalau Rumah Liliput hasilnya gak sesuai dengan bayangan saya. Tapi kemudian saya mengendurkan ekspektasi saya. Saya bilang terserah suami deh detailnya. Gak masalah kalo keramik meja dapur sedikit bercorak, jendela tidak bisa diletakkan diatas kompor, teralis terlalu sepi, endebre endebre, asal tujuan utama saya tercapai. Saya ingin rumah yang lega, terang-benderang oleh sinar matahari dan sirkulasi udaranya bagus.

Alhamdulillah tujuan saya tercapai. Suami membuat plafon dapur menempel pada atap, dan ternyata langkah ini ngefek banget, membuat suasana terasa lega. Juga cermin 2 x1 m yang diletakkan di depan tangga, sama efeknya. Padahal awalnya saya ngedumel lho, ini cermin ngapain gede banget, saya kan pengennya separuhnya saja. *maaf ya Papa, kecup*

Ternyata ya, biaya renovasi rumah itu asoy sekali. Kami sudah merevisi keinginan kami lho. Awalnya pengen yang ideal, yang bagus sekalian, tapi ternyata hasil perhitungan estimasi biaya dari kontraktor sukses membuat kami pingsan barengan. Akhirnya kami reduksi sana sini, hilangkan ini itu, dan versi revisi inipun sudah sukses menguras tabungan kami. Jadinya, Rumah Liliput sekarang penampakannya mirip aula pertemuan kelurahan. Kosong melompong, cuma ada kulkas, rak buku sama TV yang dialasi kardus isi buku. Tinggal digelari tikar sudah siap digunakan untuk rembuk desa ini, hahaha.

Ya begitulah cerita Rumah Liliput kami. Semoga barokah buat kami ya, dan menjadi saksi terjadinya peristiwa-peristiwa hebat dalam keluarga kami di tahun-tahun mendatang. Amin.

Btw, now we are working another big project. Kami sedang mengadaptasikan Sophie untuk tinggal bersama Papa di sini, di Purwokerto. Membawa Sophie ke Surabaya dengan segala keterbatasan yang saya miliki saat ini lebih besar mudhorot dari pada manfaatnya. Sophie sudah latihan di TPA Sinar Mentari lagi beberapa hari ini dan so far so good lah. Nangis-nangis tentu saja, kemarin malah mogok gak mau berangkat, tapi overall saya melihatnya berjalan pada koridor yang benar. Semoga saja. I will write on this subject later 🙂

bercocoktanamjamur, ngalorngidul, tan

I Want This

Just googling and find this beautiful bag. And I simply fall in love, at the first sight.

Dimana bisa dapat versi lokalnya ya?

*Tutup telinga tutup mata ah. Ini hiburan untuk shock akibat Rumah Liliput dan jamur yang kontaminasi melulu itu, Papa :)*

bercocoktanamjamur, sophiesibatita, tpa

Bulan Kedelapanbelas Sophie

Sudah satu setengah tahun saja ya ternyata. Time fly fast. Tahu-tahu anak saya sudah besar.

Siang tadi kami nonton video kegiatan PAUD/TPA Sinar Mentari tahun kemarin. Melihat beberapa scene Sophie yang masih ndut. Sophie si bulettt yang sekarang jadi si kuruss. Eh, berat badan Sophie ya? yaaa, tergantung dari timbangan mana yang digunakan. Antara 8,2-8,6 kg saja. I am not a big fan of fatty toddler. Jadinya saya gak panik melihat perkembangan BB Sophie yang sepertinya stuck di angka 8 ini sejak 11 bulan yang lalu. Khawatir ada sih, tapi saya melihat Sophie sehat, pola makannya tidak terlalu buruk. Berpikir positif saja energinya dikerahkan untuk meniru kelinci yang lari kesana-kemari saja.

Sophie is being in love with Piglet. Suka ketawa geli setiap kali melihat Piglet. Betaaah banget klo lagi nonton Winnie the Pooh. Dua minggu terakhir ini Sophie memang jadi penikmat DVD banget. Lha bagaimana tidak akrab sama DVD, lha wong selama 2 minggu gak masuk TPA. Di rumah melulu, akhirnya ya DVD lagi DVD lagi.

Dua minggu yang lalu TPA Sophie diliburkan selama seminggu karena ada kasus varicella. Eh, dasar rejekinya Sophie buat di rumah ya, minggu depannya pas mulai masuk Sophie malah sakit mata. Ya jelas ditolak masuk sama pengelola TPAnya ya. Gak tanggung-tanggung, harus sampai sembuh baru boleh masuk. Yang ada ya saya panik menghadapi kondisi darurat tersebut. Awal Maret kemarin saya mulai masuk lab, yang waktunya gak bisa dinego dan setiap perubahan akan berefek untuk jangka panjang. Tapi yah, apa mau dikata. Saya harus merelakan beberapa jamur saya kadaluarsa, menunda penanaman jamur baru, wis lah, pokoke mundur semua. Buat Sophie, gak apa-apa 🙂 Untungnya ada Papa yang hebat banget bisa menyempatkan diri momong Sophie diantara semua pekerjaannya, bolak-balik Jakarta-Purwokerto-Surabaya. Love you Papa :*

Tumbuh sehat dan ceria Sayang yaaaaaa