food, sophiesibatita

Yucky but Yummy

Kemarin saya membuat masakan yang gak bisa saya bayangkan rasanya. Pengennya membuat botok dengan bahan yang ada di kulkas. Ternyata modifikasi saya kebangetan, jadinya entah apa namanya. Rasa? saya gak berani ngincip, hahaha…

Ajaibnya, Sophie doyan banget. Gampang banget menyuapinya, hap hap hap melulu. So here is the yucky (for me) but yummy (for Sophie) recipe:

Ingridients:

  • teri basah
  • kol, iris halus
  • daun bawang, iris halus
  • jagung manis, parut
  • bawang merah
  • bawang putih
  • lengkuas
  • daun salam
  • daun jeruk

Instruction:
Campur semua bahan, aduk rata. Tambahkan sedikit air sampai bahan terendam. Masukkan dalam wadah stainless steel lalu kukus sampai matang. Sajikan bersama nasi lembek.

Advertisements
food, pwtajah

Puthut aka Bunga Bawang

Kemarin pas belanja saya melipir ke bagian sayur dan buah untuk membeli beberapa item, special for buying Sophie’s menu. Klo untuk saya mah sepenuhnya percaya sama Mbak Nur, saya tahunya tinggal makan saja, hehehe…. Nah, pas pilih memilih brokoli saya melihat sayuran yang sudah lamaaa banget tidak saya lihat. Terakhir lihat pas masih sering di rumah dulu, di Karanganyar. Di Purwokerto sama sekali belum pernah lihat. Apa sih yang saya lihat? Ya itu, yang gambarnya saya pampangkan di muka tulisan ini.

Saya mengenalnya dengan nama puthut. Keren ya, kaya nama budayawan kondang saja, hahaha. Klo bahasa Indonesianya sepertinya bunga bawang. Ibu saya menggunakannya sebagai campuran bothok. Bothok versi ibu saya berisikan teri, parutan kelapa, mlanding alias lamtoro, daun so dan si puthut ini dengan bumbu spesial tempe semangit. Enaaak pokoknya. *Sedihnya, di Purwokerto ini tidak ada yang kenal bothok. Pernah nemu di Kampung Semarang dekat Rajawali, tapi beda jauh sama versi ibu saya*

Nah, kemarin toko tempat saya belanja melabeli puthut ini dengan nama ESFARIGUS. Heh? Saya sempat bengong mencernanya. Ini apanya asparagus ya? Penasaran saya googling. Hasilnya, Oom Google tidak menemukan satu dokumen pun yang memuat tentang esfarigus. Jadi mikir, nama daerah Banyumas untuk bunga bawang esfiragus ya? Saya tanya beberapa teman yang asli Banyumas, ternyata mereka juga sama gak mengenal kata esfarigus ini. Jadi nama esfarigus ini muncul dari mana dong?

PS: Hasil googling, ada yang menamakan bunga bawang ini dengan chive dalam bahasa Inggris. Ambigu dengan kucai, mereka berbagi nama yang sama tetapi jelas fisiknya berbeda. Trus, sayuran ini enaknya ditumis. BIasanya dengan tahu atau udang. Bunga bawang ini membawa karakter rasa manis bagi tumisan. Maybe I’ll buy some and make a delicious tumisan then. Semoga gak malas yaaa.

food, pwtajah

Pedasnya SS

Beberapa waktu yang lalu saya melihat tempat makan yang sekilas amat familiar buat saya di depan GOR Satria. SS, Spesial Sambal, yang memang outletnya ada beberapa di Jogja. Nah, menemukan SS dengan tampilan yang amat mirip dengan yang di Jogja tentu saja memunculkan kembali kesenduan saya tentang Jogja. Dan bgitulah, siang tadi saya bersama Mb Is, Mb Yayuk dan Ayu menguji ketahanan perut kami disana.

Kami datang pas jam sholat Jumat. Pengunjungnya cukup rame, untuk ukuran waktu yang sharusnya sepi tadi. Dan setelah sholat Jumat selesai, tempatnya langsung terlihat penuh. Tempatnya lega, ada lesehan di sisi kanan pintu masuk dan meja kursi di sisi kiri.

Kami memesan sambal belut, sambal bajak, sambal bawang dan sambal bawang lombok ijo. Untuk lauknya ada tempe (3 porsi), ayam (2 porsi) dan telur dadar gobal-gabul (2 porsi). Kami juga memesan trancam dan cah kangkung. Minuman yang kami pesan adalah jus jambu, jus semangka, es teh dan jeruk anget. Iya, kami memang ibu-ibu gembul, berempat tapi pesennya banyaaak, hehehe…

Pesanan kami datang dengan cepat. Yang agak kurang sreg, makanan datang duluan, baru disusul minuman. Dan sesuai dengan namanya, Spesial Sambal yang identik dengan rasa pedas, semuanya menyengat lidah kami. Sambal belut saya enak, belut yang digoreng kering dicampur dengan sambal terasa renyah-renyah pedas. Sambal bajaknya cenderung manis, sedangkan sambal bawangnya, baik yang lombok ijo maupun yang merah, cenderung asin. Favorit saya adalah sambal belut dan sambal bawang cabe hijau. Trancamnya enak. Irisan timun, kacang panjang dan daun kenikir dicampur dengan bumbu urap yang, mmm, tidak rasa Purwokerto. Bagaimana ya ngomonginnya, selama saya disini saya belum pernah nemu sambal urat yang cocok sama lidah saya. Nah, sambal urapnya SS inilah yang bisa saya terima, mirip dengan sambal urap yang saya makan di rumah. Cah kangkungnya?? Biasa saja. Total yang harus kami bayar, termasuk 4 kerupuk, adalah 54 ribu.

SS tempatnya lumayan nyaman, waiter-waitressnya ramah dan pelayanannya cepat juga. Tentu saja saya akan kembali ke sana nanti. Kapok lombok. Sperti skarang ini, saya mnuliskan entry ini sambil meringis-ringis menikmati perus panas karena sambal yang saya makan tadi siang. Masih juga berniat mengulanginya coba!