gawe, pwtajah

tentang Pilihan

Satu hal yang berubah sejak saya punya Sophie, saya jadi suliit sekali berangkat kerja pagi! Telat melulu. Saya dulu sering membatin teman yang kerap telat. Sekarang ketulah deh. Gething nyanding, I guess.

Memang, Sophie selalu menjadi alasan. Yang tidurnya mbablas lah, yang gak mau disambi lah, banyak alasannya. Seorang teman kemarin bertanya, klo saya memang keteteran seperti ini, kenapa tidak mencari helper yang nginep?

OK lah, ayo kita tengok aktivitas pagi saya.Sophie sekarang pinter, bangunnya jam 4.30 – 5.00. *Senaaang, akhirnya saya bisa puas tidur…*. Setelah subuhan, saya akan membawa Sophie jalan-jalan mencari burung di tepi kali yang dilanjutkan dengan membeli sarapan. Sampai rumah, Sophie tidur lagi. Selagi Sophie tidur saya akan sarapan dan menyiapkan mandinya. Bangun tidur, saya memandikan Sophie, trus mengantarnya ke TPA. Pulang dari TPA saya mandi, pumping lalu berangkat ke kampus. Sophie termasuk anak yang suka keteraturan. Dia bisa uring-uringan klo ada yang terlewat dari jadwal paginya itu.

Nah, dalam pikiran teman saya itu, akan lebih santai klo ada asisten yang nginep di rumah. Jadinya saya bisa ini itu dan ada yang memegang Sophie. Mb Nur, asisten kami saat ini, datang jam 7.15. Biasanya di jam-jam sgitu Sophie sudah selesai mandi dan siap diantar ke TPA. Kelihatannya memang lebih enak klo ada yang bantu dari pagi ya. Tapiii, ada satu hal yang terlewat oleh teman saya. Dia tidak tahu kalo saya tidak nyaman ada orang lain di rumah. Beneran tidak nyaman, dengan kadar yang surprisingly amat tinggi. Dulu pas Sophie masih piyik banget, ada Budhe Rukminah yang sukses membuat saya gak nyaman di rumah sendiri. Makanya dulu saya selalu mempersilakan beliau pulang dulu dan balik menjelang maghrib klo saya sudah pulang dari kampus. Alasan saya sih biar beliau bisa mengurus rumah dan suaminya. Tapi alasan sebenarnya adalah, saya gak tahan bersama beliau seharian.

Makanya, demi alasan kenyamanan ini saya meminta Mb Nur datang jam 07.15 dan pulang setelah selesai pekerjaannya, sekitar jam 12an lah. Win win solution buat kami. Rumah bersih, Sophie gembira di TPA, saya juga nyaman jaya. Sekarang PR saya adalah bagaimana saya menghidupi pilihan saya ini. Saya tidak mau gara-gara mengejar kenyamanan saya, pekerjaan saya terlantar. Saya harus lebih pintar mengelola waktu, memang.

PS: Cita-cita saya, nanti setelah kami ngumpul *errr, 2,5 tahun lagi??* kami bisa mandiri tanpa bantuan asisten. I mean it.

Advertisements
babysophie, gawe

Introducing: Buteki

Saya mendapatkan panggilan baru, Buteki. Ibu Neteki. Bukan Busui yang sudah lazim digunakan. Bu Anis yang pertama kali memanggil saya dengan sebutan itu menjelaskan, itu untuk memotivasi saya terus memberikan ASI buat Sophie. Neteki is breastfeeding in Javanese. Jadi langsung dari pabriknya. Klo menyusui kan bisa dari botol.

Semoga saya beneran termotivasi karena ini ya. Jadi rajin mompa. Kebutuhan Sophie semakin banyak setiap harinya. Gembolannya ke TPA bisa sampai 400 mL sehari. Ya Allah, smoga ASI saya selalu cukup buat Sophie.

TPA??? Iyaa, akhirnya saya menitipkan Sophie di TPA setelah ditinggalkan Budhe 2 minggu yang lalu. So far saya tenang meninggalkan Sophie di TPA Sinar Mentari. Saya mempercayai pengasuh-pengasuhnya. Sophie si bayi rumpi sepertinya juga happy disana. Sejak lahir Sophie memang lebih nyaman berada dikerumunan banyak orang dari pada sunyi sepi sendiri di rumah bersama pengasuhnya.

Smoga keputusan ini baik buat Sophie dan saya ya….

babysophie, gawe

Mumpung Bisa Disambi….

Akhirnya bisa posting lagi. Baby Sophie baru tidur. Tumben-tumbenan mau disambi. Mungkin karena hujan deras ya, jadinya enak buat tidur sehingga dia tidak ngrasa klo saya tidak berbaring di dekatnya.

Iyaaa, anak saya aleman skali. *Nakal??? Tidak lah. Masak anak sendiri dibilang nakal ya. Hehehe*. Sudah sminggu terakhir ini Sophie tidak mau disambi. Harus ada seseorang didekatnya setiap saat. Sophie senang kalo ada yang mengajaknya berbicara sambil menyentuhnya ketika dia melek. Dan tenang tidurnya klo ada yang mengelus-elus perut ndutnya, menepok-nepok bokongnya. Klo tidak ada? Ya nangis tentu saja. Katakanlah saya ke kamar mandi di tengah malam buta, belum juga saya selesai berhajat, Sophie sudah berteriak tidak terima ditinggal.

Makanya saya sempat senewen ya. Kata orang-orang bayi itu akan anteng setelah 40 hari. Tidak rewel. Tidurnya teratur. Lah, Sophie kebalikannya. 40 hari ke sini pinternya tidak karuan. Sempat ada masanya dia menangis ngamuk setiap maghrib, sampai-sampai tetangga yang rumahnya di ujung gang bisa mendengar tangisannya.  Ada waktu dimana Sophie mengajak saya terjaga setengah malam menemaninya *dan menggendongnya, bau tangan oh bau tangan, ampun dah….*. Kadang dari jam 1 sampai subuh. Kadang dari sore sampai jam 1. Kadang dari jam 9 sampai jam 2. Dan skarang adalah masanya Sophie tidak mau sendiri.

Hal pertama yang saya pelajari dari punya anak adalah, MENJADI SABAR.

Oh, saya sudah mulai masuk kerja. Padahal, cuti saya resminya berakhir Januari nanti. Ada kondisi khusus yang mengharuskan saya ngampus skarang ini. Untungnya masuknya belum full ya, jadinya saya masih bisa bolak-balik pulang buat ketemu Sophie. Karena habit tidur Sophie masih blom terpola dengan baik seperti sekarang ini, sering saya datang ke kampus dengan kondisi setengah teler. Bergadang setengah malam dan disambung dengan nyangkul jam 7 pagi adalah kombinasi maut untuk mengawali hari. Jadi mohon dimaklumi kalo terkesan lebih judes dari biasanya ya ^_^

 Nah, saya baru ngrasa klo sesuatu gak disiapkan dengan baik itu bakal nyusahin itu benar ya pada saat ini. Masalah perASIan. Saya dulu kan sama sekali gak prepare ya. Belum belajar cara memeras yang efektif. Belum punya stok. Dan ternyata minumnya Sophie kuat sekali. Ditinggal 3 jam dia butuh 100 mL ASIP. Padahal sehari saya  rata-rata ke kampus 2 kali. Makanya sampai sekarang saya masih kejar tayang stok ASIP banget. Di freezer maksimal ada 4 botol @ 100mL. Skarang, saya sedang dalam upaya menambah stok. Menambah porsi makan buah dan sayur, minum air putih bergelas-gelas. Dan memeras sesering saya bisa, termasuk di waktu-waktu yang sebenarnya sama skali tidak enak buat aktivitas semacam itu.

Hal kedua yang saya dapatkan dari being a Mom adalah, BEKERJA KERAS.

Satu hal yang saya syukuri, saya mendapatkan seorang asisten yang amat membantu. So far Budhe telaten menjaga Sophie pas saya bekerja. Beliau terampil mengurus bayi, bahkan lebih terampil dari saya! Urusan memandikan, misalnya. Beliau expert banget tuh. Beliau juga cukup sabar menggantikan saya menggendong Sophie di tengah malam ketika saya mulai teler kecapekan. Tapi sejak awal sejak awal berkomitmen bahwa beliau adalah asisten, membantu ketika saya repot, bukan menggantikan saya. Jadinya adegan Sophie dimandikan Budhe hanya kejadian pas saya berangkat jam 7 saja. Juga untuk gendong malam-malamnya, hanya klo saya sudah ngrasa kecapekan. *Sadar sih, keegoisan semacam ini kurang baik buat saya. Memangnya saya robot yang gak bisa capek apa ya? Yah, mau bilang apa lagi, euforia memiliki Sophie sepertinya masih belum selesai*

Saatnya tidur menemani Sophie ^_^

gawe

Jadi, Besok Mau Berubah Ya?

Terlalu lama dalam suatu kondisi itu memang berbahaya ya, kita jadi kehilangan obyektivitas atas kondisi itu. Hari ini saya tersadarkan, bahwa saya dan beberapa teman udah kebangetan dalam mentolerir suatu ketimpangan. Yah, katakanlah hal itu sesuatu yang salah. Hanya karena kami terbiasa menghadapinya setiap hari, kami merasa klo itu bukan lagi suatu kesalahan.

Sampai waktunya datang orang baru dan menunjukkan kepada saya klo hal itu salah.

Tapi dasar sinis ya, reaksi pertama saya adalah, “Ampun deh, kaya bgini ajah diurusin, kaya energi banget ya ni Bapak”.

Tapi setelah saya pikirkan lagi, deep down saya paham klo itu memang salah. Harus diluruskan. Dan klo saya mengabaikan satu hal kecil ini, amat mungkin di masa depan saya akan mengabaikan hal yang lebih besar.

Thanks for opening my eyes Pak, matur nuwun.

bahanrenungan, gawe, tan

In the Future Where will I Be?

Saya lagi terngiang-ngiang Talk-nya Coldplay. Dan entah knapa pertanyaan Martin yang saya jadikan judul entry ini membuat saya berpikir.

In the future, where will I be???

Sebenarnya saya tahu knapa saya jadi sok mikir bgini, Jadi, kata -entah knapa- itu tidak pas juga diletakkan di kalimat kedua saya ya, hehehe. Tapi nevermind lah, gak penting ini ya ^_^

Rangkaian kejadian beberapa hari ini membuat saya merasa bahwa apa yang selama ini saya rencanakan untuk hidup saya kok sepertinya sudah tidak relevan lagi untuk direalisasikan. Kesannya berat ya, -untuk hidup saya-, sepertinya. Tapi yang saya maksudkan di sini sebenarnya gak seberat itu. Untuk hidup saya 1-2 tahun ke depan tepatnya.

Saya masih berpikir, sama sekali blom ada pilihan untuk saya ambil. Karena smuanya bukan fungsi tunggal dari keinginan saya yah, ada kepentingan lain juga yang harus diwadahi. Masih harus dibicarakan lagi, dengan banyak pihak. Karena saya ingin bermanfaat nantinya. Saya tidak ingin tidak adil pada suami dan babyndut nantinya. Dan juga tidak dirugikan. Saya berharap semua itu bisa diakomodir.

Hm hm hm, menutup posting penuh tanda tanya ini, saya menyadari bahwa pada akhirnya, saya punya banyak pilihan. Jadi ktika waktunya datang, saya hanya akan tinggal memilihnya, lalu menghidupi pilihan itu. Seperti nasehat Mas Martin yang membuat saya tersenyum saat ini:

You can climb a ladder up to the sun
Or write a song nobody has sung
Or do something that’s never been done
(Talk, Coldplay)