bahanrenungan, gubraggabrug

Just Saying

Ini edisi nyinyir ya. These things came to my mind and I just want to write it, sebagai pengingat bagi diri sendiri.

  • You are not in the bottom of the universe. Memposisikan diri sebagai pihak yang paling menderita itu kadang ada bagus buat ego, tapi klo keterusan merasa sebagai korban keadaan, itu beneran gak asyik buat dilihat dan didengar. Bersyukur. Kuncinya ya itu saja ya, syukuri apa yang ada, yang kita miliki, trus gak usah membanding-bandingkan. You are special on your own.
  • You are not also at the top of the universe. Sebaliknya, ngerasa paling bener, paling baik dan paling struggle itu juga sama efeknya.
  • Sebelum memilih, cari informasi sebanyak-banyaknya. Dari semua sisi. Dan setelah memilih, jangan mengeluh lagi. itu namanya konsekuensi.
  • Kalau mau sesuatu, bilang. Punya ide, sampaikan. Gak semua orang punya kemampuan supranatural. Mereka gak bisa membaca pikiran kita.

Just saying 🙂

Advertisements
gubraggabrug, tan, ume

Saya Bersyukur Suami mau pulang

Saya punya tiga alasan untuk itu.

  1. Saya meninggalkan kunci di TPA Sophie kemarin sore. Jelas ya, mau masuk rumah tidak bisa dan harus balik lagi ke sana. All are on foot, dengan menggendong Sophie dan menenteng gembolannya.
  2. Tadi pagi, blom juga separuh jalan menuju TPA Sophie, rok saya basah dan dingin. Cek di cek, ternyata salah botol ASIP dalam keadaan terbuka dan tinggal separuh isinya. Saya mengutuki kecerobohan saya yang nutup botol saja tidak rapat. Sesampainya dirumah saya  buka kulkas dan menemukan ada satu tutup botol tanpa pasangan tergeletak disana. Haisshhhhh, jadi saya memasukkan botol penuh ASIP tanpa tutup tadi!
  3. Sepulang dari TPA, saya merendam diaper bag korban kedodolan saya itu. 15 menit kemudian saya menemukan Buku Penghubung Sophie halamannya kempel dengan bloboran tinta didalamnya. Huhuhu…

Jadi, kepulanganmu akan jadi obat untuk kedodolan istrimu ini, Pa. Selamatkanlah diriku dari kepikunan tingkat tinggi ini….

gubraggabrug, tan

Duduuuul…..

Tadi pagi saya mampir ke SPBU Arcawinangun sebelum berangkat ke kampus. Sudah ngantri dengan manisnya, mematikan mesin dan membuka jok. Saya kemudian nyengir senyengir-nyengirnya pas Mas Penjaga SPBU menanyakan seberapa banyak saya ingin mengisi premiumnya. Saya yang reflek melihat indikator BBM melihat bahwa jarumnya masih nempel-nempel sama huruf F. Lahhh, sebenarnya mau ngapain ya saya tadi???

Jadi, niat awal saya adalah ke ATM yang ada di kompleks SPBU itu. Tapi refleks saya adalah berbelok ke antrian pengisian BBM. Reflek yang wagu. Huhuhuuu, akhirnya saya nyengir sekali lagi ke si Mas dan membawa diri ke depan booth ATM. Dudulll.

Beberapa malam yang lalu saya sedang memompa ASI ketika Sophie bangun. Saya buru-buru memindahkan ASI dari pompa ke botol UC1000 lalu nyamperin bos kecil yang minta jatah nenen malamnya. Trus, saya lupa begitu saja dengan ASI yang masih nangkring diatas kulkas. Dan baru sadar pagi harinya saat mau mengambil ASIP buat gembolan Sophie ke TPA. Haiiisshhhh…

Ternyata benar kata orang-orang. Setelah melahirkan otak kita tambah error. Tambah pelupa dan disoriented. Saya yang base line-nya sudah dudul jadi makin dudul saja.

bahanrenungan, gubraggabrug

Forbidden Question

Pembicaraan di dinding facebook seorang teman membuat saya menambahkan satu pertanyaan yang sebisa mungkin tidak akan saya tanyakan pada teman saya: Anakmu sudah berapa? Apapun diksinya.

Jadi begini, si teman (R) itu menulis tentang keinginannya makan pizza sbagai statusnya. Trus beberapa teman (T,S,A,U dan saya) menimpali status itu, rame obrolannya, topiknya sampai kemana-mana. Yaah, obrolan teman yang sudah lama tidak berkumpul kan selalu hangat. Tapi oh tapi, obrolan itu jadi beku saat si R mengetik, “Anakmu sudah berapa T?”

Beku. T tidak bisa menjawab klo dia blom punya anak karena dia sudah 3 kali kehilangan janinnya. Beku karena S, A, U dan saya juga tidak bisa menjelaskannya pada R. Akhirnya T berhenti dari obrolan itu. Dan terimakasih pada U yang melemparkan topik baru untuk mengalihkan pembicaraan. Tapi sayangnya R ini tidak peka. Dia mengulangi pertanyaan yang sama, lagi. Amat tidak nyaman bagi kami smua.

Ya mungkin pertanyaan itu wajar ya. T adalah yang pertama menikah diantara kami. Kami belum pernah ketemu secara fisik sejak kelulusan kami. Wajar klo berasumsi T sudah memiliki keturunan. Tapi bagi T, pertanyaan itu sungguh menyakitkan, membawa ketakutan-ketakutan dan kesedihannya kembali.

Pertanyaan yang sebelumnya saya hindari saat berbincang dengan teman yang sudah lama tidak bertemu adalah, -sudah menikah belum?-

Dan eh, sore tadi saya kembali mendapatkan satu pertanyaan yang saya tambahkan pada kedua pertanyaan itu. -ASIX kan?-

Ceritanya juga berawal dari dinding facebook. -Ooooh, apa saya terdengar seperti facebook addicted?- Teman saya dan kontaknya yang tidak saya kenal berantem karena berbeda pikiran, yang diawali dengan pertanyaan itu. Yaa, no offence kan klo ada golongan yang pro ASIX banget, sedemikian pro-nya sampai membabibuta menempatkan ibu-ibu yang tidak bisa memberikan ASIX ke bayinya dalam posisi pesakitan. Seorang teman menamakan golongan itu Nazi ASI. Sementara di sisi lain, ada ibu-ibu yang sebenarnya pengen memberikan ASIX tapi tidak mampu. Ya klo pertanyaan itu keluar pada situasi yang pas. Klo tidak?

Jadi intinya, saya tidak mau terjebak dalam ketidaknyamanan karena pertanyaan-pertanyaan itu.