babysophie, gubraggabrug

Rambutmu Nak….

 

Baby Sophie adalah bukti nyata bahwa yang dibahas dalam Genetika itu benar adanya. Apa yang ada padamu adalah warisan dari bapak, ibu, kerabat dan nenek moyangmu. Sophie memiliki bentuk kepala papanya, pipi mamanya dan bibir neneknya.

Juga rambutnya.

Mirip siapa rambutnya? Minimalis seperti rambut papa mamanya, lembut banget jatuhnya kaya rambut mamanya, serta cenderung keriting ngikutin rambut papanya. Makanya no wonder, kmaren pas ke RS buat imunisasi saya memandang bayi-bayi berambut lebat dengan pandangan, wah, hebat skali rambut mereka. Mupeng abiss.

Menjelang minggu keduanya, Sophie kena biang keringat. Punggung, leher dan lengannya mruntus-mruntus. Di ketiga lokasi itu biang keringatnya gak bgitu banyak. Yang parah itu di kepalanya. Iya, banyak bintik-bintik merah diantara rambut jarangnya. Terbayang??? Yaaa, seperti itulah.

Karena saya kasihan melihatnya kegatelan *dalam artian sesungguhnya ya*, saya mencoba mengobatinya. Saya menggunakan Caladine Lotion untuk meredakan biang keringat itu. Dan, manjur banget, dalam dua hari kulit kepala bayi saya mulus kembali. Hanya saja saya lupa, klo kulit Sophie masih sensitif. Daaaan, rambut Sophie rontok karenanya. Iya, rambut minimalis Sophie smakin minimalis saja. Ooooh Nak, smoga Mamamu, si Farmasis abal-abal ini, nantinya lebih teliti dalam ber-swamedikasi ya.

Advertisements
gubraggabrug, pwtajah, tan

Lebaran Sepi Saya Tahun Ini

Idul Fitri tahun ini adalah edisi pertama super spesial buat saya. Idul Fitri pertama tanpa keluarga. Idul Fitri pertama yang saya rayakan seorang diri di Purwokerto. How does it feel to be alone on the day supposed to be spent with my family? Tidak terlalu mengerikan, ternyata.

Mungkin karena dari awal saya sudah menyiapkan mental apa ya. Sejak awal saya menyadari klo mudik seorang diri ketika kandungan menginjak usia 37 minggu adalah sesuatu yang berat untuk dijalani. Apalagi, saya berencana untuk melahirkan di Purwokerto. Klo mudiknya sudah berat, baliknya apa lagi. Saya tidak berani mengambil resiko yang ada, alhamdulillah keluarga juga memahami hal ini. Dan bginilah, saya berlebaran sepi tahun ini.

Idul Fitri saya sendiri jauh dari dipersiapkan dengan baik. Karena tidak mau mengulang antri di supermarket, dan pilihan ke belanja Pasar Tradisional menjelang hari raya saya anggap lebih parah dari supermarket, saya dari awal sudah mengandalkan bapak tukang sayur keliling untuk menyediakan stok makanan saya selama libur. Ternyata, di hari terakhir puasa si Bapak dengan cakepnya tidak lewat depan rumah. Halah, bingunglah saya. Status bahan makanan di rumah Sabtu kmaren lagi benar-benar kritis, karena sejak Rabu saya tidak masak. Jadilah saya jam 11 berangkat berbalanja di satu-satunya warung yang mulai bukanya jam 10 pagi. Ternyata di sana antriannya panjang. Banyak ibu-ibu yang malas berbelanja sendiri nitip minta dibelikan ini-itu sama Mbakyu penjualnya *saya blom tahu nama Mbakyu penjualnya, karena saya baru saja tahu keberadaan warung ini minggu kmaren dari Bu Endang*. Nah, pas saya datang ibu-ibu itu sedang mengambil barang titipannya. Mantap deh, saya yang tidak punya titipan ini dipinggirin terus.

Dan kejadian di supermarket beberapa minggu terulang lagi. Keringat dingin, pusing dan akhirnya pandangan yang berkunang-kunang. Untungnya ada ibu yang baik hati yang bisa melihat tanda-tanda gak beres diwajah saya membawa saya ke kursi dan mendudukkan saya disana. Selamatlah saya, gak jadi pingsan ditempat umum, alhamdulillah. Seiring kondisi fisik saya membaik, antrian ibu-ibu mulai berkurang. Dan ktika giliran saya dilayani, stok barangnya sudah tinggal seadanya. Hahahaha, benar-benar idul fitri edisi prihatin lah.

Karena saya bermotor, mau pulang saya juga mikir. Dengan kondisi badan yang gak jelas sperti itu kok saya agak khawatir ya. Tapi, mau minta tolong siapa? Teman-teman saya sudah pada mudik. Yang tersisa di Purwokerto pun bukannya sedang duduk tenang gak ada kerjaan kan? Bahkan teman ABG saya yang biasanya menjadi emergency call saya sedang dikaryakan ibunya. Bismillah, saya nekat saja akhirnya pulang sendiri. Pelan-pelan dan gemetaran. Hahahaha, lucu deh mengingat saat-saat itu.

Sesampainya dirumah saya membatalkan puasa lalu laporan ke suami. Terus terkapar di kasur, wlopun tidak benar-benar bisa tidur. Sore saya baru bisa bangun dan memasak sdikit makanan. Malamnya kondisi saya tidak kunjung membaik. Klo sudah bgini manjanya kumat deh. Akhirnya suami mantengin monitor laptopnya, yang sedang streaming saya tidur gulang-giling gak jelas. Alhamdulillah bangun-bangun kondisi saya sudah jauh lebih baik. Terimakasih Sayang yah ^_^

Paginya, saya berencana sholad ied di kampus. Tapi apa daya, saya bangun ksiangan. Sholat ied di kampus dijadwalkan jam 6, saya baru melek 10 menit sblomnya. Akhirnya saya ikut sholat di kompleks, di Jl. Gatramas yg dimulai jam 6.30. Saya menggigil kedinginan, karena sisa demam semalam ditambah lagi dengan suasana pagi yang berkabut. Huhuhu, gak khusuk deh sholatnya.

Pulang, sendirian. Masak sendiri lalu makan sendiri.

No body come. Saya juga bingung mau silaturahmi ke mana. Baby Asa dan keluarganya langsung cabut setelah sholat ied. Demikian juga Baby Abid. Hanya tersisa keluarga Oya dan Vina yang siangan dikit juga mengunci pagar rumahnya. Officially jadilah saya penunggu sisi selatan Jl. Paguyuban 1. Keluarga teman yang pengen saya kunjungi ternyata juga langsung ke rumah neneknya di Karanglewas untuk berlebaran di sana. Lengkap sudah lebaran sepi saya.

Skarang, H+2, beberapa tetangga sudah mulai balik. Jalanan depan rumah mulai rame dengan teriakan anak-anak. Bahkan tukang mie ayam sudah keliling lagi. Kehidupan telah kembali ke sini, walaupun ujung jalanan masih ditutup. Selama masa libur ini Jl. Paguyuban 1 dan Paguyuban 3 diblok. Satu-satunya akses masuk adalah lewat Jl. Paguyuban 2 yang 24 jam dijaga oleh Bapak-bapak dari kampung sebelah. Ternyata warga disini aware sekali dengan keamanan lingkungan, ya.

Demikian laporan pandangan mata idul fitri sepi dari si pelaku, langsung dari D4-27.

dearbaby, gubraggabrug, ume

Ngidam Suami

Memasuki minggu 35 kehamilan saya, sepertinya ngidam yang dulu gak kesampaian terulang lagi. Saya tahu, ini bukan hal yang biasa adanya. Tapi klo dilihat lebih dalam, ini bukan ngidam deh sepertinya. Ah, suami, istrimu ini merindukan kehadiranmu….

Makanya, hari-hari terakhir ini saya menjadi seorang teroris dengan target aksi suami saya. Pengennya nyambung terus sama suami. Intensitas telepon yang menyaingi pendosisan antibiotik membuat kantong saya kembang kempis. Apalagi di masa ramadhan ini. Perbedaan waktu sholat taraweh efektif memotong jatah pacaran via chat kami. *Sambil mnunggu suami, saya berladang di FarmVille-nya fb. Lumayan menyenangkan untuk membunuh waktu, wlopun efeknya secara keseluruhan adalah menurunkan produktivitas* Kami baru bisa ketemu jam 10 malam, saat mata saya mulai lengket karena ngantuk. Tetapi karena butuh ya akhirnya mata saya menyesuaikan. Bisa tidur malam, tapi ksulitan bangun buat sahur. Hari ini adalah hari kedua saya melewatkan sahur, yang tentunya diikuti dengan membayar fidyah. Bukan prestasi yang membanggakan.

Klo dihitung-hitung, sudah 3 kali saya membatalkan puasa saya tahun ini. Dua karena melewatkan waktu sahur dan satu lagi karena *well, ini memalukan* saya hampir pingsan di supermarket pas mengantri membayar belajaan saya di kasir. Ini terjadi minggu kmaren. Ceritanya, saya berangkat belanja dengan badan capek gak karuan gara-gara dari pagi sampai siang mengerjakan pekerjaan domestik. *Dengan bangga saya katakan bahwa sejak awal ramadhan saya survive tanpa ART. Saya tidak tahan dengan tingkah ART ABG saya shingga memutuskan untuk memulangkannya setelah 3 hari menemani saya. Saya bukan tipe orang sabar yang telaten mengajarkan item demi item yang saya harapkan darinya. Apalagi mengajarkan unggah-ungguh, bukan saya yang harus mengajarinya hal-hal smacam itu. And, good bye. Dan ternyata saya bisa loh. Wlopun capek ya, saya ngerasa nyaman seperti ini. Wlopun kadang kuping panas mendengar kekhawatiran Ibu dan masukan tetangga-tetangga saya yang sepertinya tidak rela melihat emak-emak berbody penguin ini ngepel-ngepel dan cuci-cuci sendiri*

Kembali ke masalah hampir pingsan tadi, seumur-umur saya kan blom pernah pingsan ya. Makanya reaksi saya lambat sekali. Saya cuma mikir, ini kok tiba-tiba keringat saya kok kaya diperas ya. Kok hidung saya berair. Saya baru panik ketika pandangan saya mulai mengabur. Saya mulai berteriak-teriak dalam hati, “Allah, ini mau pingsan apa ya? Tolong ya, jangan pingsan disini, jangan skarang. Jangan”. Lalu sepertinya semuanya berputar. Dan tahu-tahu badan saya sudah ditahan oleh Mbak-mbak yang antri di belakang saya. Bersyukur banget saya tidak sampai jatuh di lantai. Dan juga tidak kehilangan kesadaran saya.

Di luar hampir pingsan skali itu, saya merasa bahwa kondisi saya baik skarang. So much better than first and second trimester. Saya amat bersyukur atas hal ini. Menjadi letoy saat sendiri bukan sesuatu yang menyenngkan, bukan? Hanya masalah berat badan yang masih mentok di 53 kg ini saja yang jadi sorotan Bidan instruktur senam saya. Ini sudah bagus loh, mengingat Sabtu minggu kmaren sempat turun ke angka 52 kg. Bidan saya sudah wanti-wanti agar saya makan banyak-banyak biar bisa mendongkrak berat saya. Tapi, saya tidak khawatir kok. Selama dsog saya berpikir klo kondisi saya baik, maka saya tahu bahwa saya memang dalam kondisi yang baik pula. Insyaallah besok pagi saya ketemu dengan beliau, smoga semuanya baik adanya.

Aaaah, I miss you more and more, suami….

dearbaby, gubraggabrug, tan

Ngomongin Apa, Ma?

  1. Berat badan saya turun lagi. Sabtu kmaren jadi 53 kg lagi. Heran deh, ini badan knapa ya. Tapi saya tidak bgitu mikir tentang ini, karena saya merasa baik-baik saja. Saya fit dan tidak ada keluhan yang berarti, kecuali keluhan rutin emak-emak trimester ketiga. Jadi, bismillah saja deh.
    Saya kehilangan nafsu makan. Mulai dari sahur yang gak bisa menelan apapun kecuali susu dan mual muntah setelah buka. Ini setelah saya berpuasa loh ya, jadi yang 53 kg itu amat mungkin turun lagi minggu ini.
  2. Alhamdulillah, semalam saya bisa mulai makan lagi, wlopun dalam porsi yang minimalis tanpa memuntahkannya lagi. Smoga setelah ini saya bisa makan dengan baik ya.
  3. Alhamdulillah, di saat emaknya bermasalah dengan urusan makan dan berat badan, babyndut menunjukkan pertumbuhan berat badan yang normal. Di umurnya yang 33w0d, beratnya 2,199kg. Normal. Kondisinya secara umum bagus. Terus tumbuh sehat Nak ya.
  4. Alhamdulillah, satu target kehamilan tercapai. Satu hari menjelang ramadhan saya meng-khatamkan Al Quran. Setelah berapa bulan ya? Berbulan-bulan pastinya, atau malah sudah setahun lebih ya, hehehehe. Seneng deh, semoga nanti babyndut suka baca Quran karena exposure ini, dengan tajwid yang lebih baik dari emaknya tentu saja.
  5. Setelah bisa berpuasa di 3 hari pertama ramadhan, hari ini saya membayar fidyah. Gara-garanya semalam tidur terlalu larut shingga saya tidak bisa bangun sahur. Entah apa kabarnya 2 alarm saya, loudspeaker masjid yang berisik tiap 10 menit sekali, sampai rombongan ronda pemukul drum super bising itu. Semalampun minumnya gak bener, jadinya baru jam 7 saya sudah haus luar biasa. Karena sesiangan babyndut tumben-tumbenan jadi anteng bin lemes, ditambah saya yang juga mendadak letoy kmaren, saya tanya gimana enaknya mnurut suami. Dan berbukalah saya jam 8 tadi. Parah ya, anak TK saja bisa sampai jam 11, ini saya menyerah kalah jam 8.
gubraggabrug, tan

Bukan Sembarang Playlist

1. Everything will Flow – Suede
2. Colorful – Verve Pipe
3. I Think God Can Explain – Splender
4. Maybe Tommorow – Stereophonics
5. Gravity – Embrace
6. Trouble – Coldplay
7. Try – Nelly Furtado
8 Mad Season – Matchbox Twenty

What a playlist! Dan itulah playlist saya sharian ini. Where are you going, Tanti??????