ladieschat, pernikahan

We Don’t Have To Choose One, We Can Have Both or Even More

Entah ini kebetulan atau bukan, pertemuan saya dengan seorang teman hari ini menyegarkan ingatan saya tentang sebuah obrolan bersamanya beberapa waktu yang lalu. Kebetulan saya ketemu dengan dirinya, lalu saya mengkaitkannya dengan current mood saya: in the flowery scent of first anniversary. Ato sebenarnya saya cuma menghubung-hubungkannya saja.

Dulu, pas saya lagi dalam masa recovery dari patah hati tingkat advance akibat cinta masa muda saya, teman saya ini juga lagi dalam kondisi kembali stabil setelah riak-riak kecil dalam rumah tangganya berhasil membuatnya limbung. Ya ya ya, dua orang dalam kondisi seperti itu tentu saja akan mendapati kecocokan satu sama lain. Dari sekian banyak cerita yang kami bagi, saya melihat -dalam bingkai kaca mata saya waktu itu- bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah. Tapi dengan melihat kondisi saya sendiri, menjadi single -terlebih single yg merana- juga tidak bisa dikatakan gampang. Saya agak terpengaruh provokasi si teman ini dulu, saya sempat mikir apakah seperti itu rasanya menikah?

Bagaimana mungkin saya tidak terpengaruh? Teman saya itu merangkum pendapatnya tentang pernikahannya dalam satu kalimat saja. Pernikahan tidak selalu membuat hidup kita bahagia. Tapi pernikahan selalu membuat hidup kita menjadi lebih baik. Nah, yang mempengaruhi saya saat itu adalah tentang bobot bahagia dan lebih baik. Mana yang lebih utama? Be happy or getting better?

Menjelang pernikahan saya, teman saya itu kembali mengulangi statement-nya itu. Dan dia menambahkan satu kalimat yang membuat saya semakin bingung. Bingung, tapi saya sepertinya melihat dia mulai punya pandangan positif pada institusi bernama pernikahan. Tapi bagaimanapun juga menjadi lebih bahagia atau lebih baik itu adalah sebuah pilihan. Dan Tanti bisa memilih keduanya.

Putaran waktu dan semua peristiwa yang terjadi di sela-selanya membuat saya melupakan kebingungan saya akan statement si teman itu. Sampai tadi, ketika saya kembali bertemu dengannya kembali, sedikit bicara karena dia amat tergesa-gesa. Saya jadi sok kontemplatif memandang kembali setahun pernikahan saya. Lalu saya mencocokkannya dengan pendapat teman saya itu tadi. Apakah hidup saya jadi lebih bahagia? Apakah hidup saya jadi lebih baik?

Reflek saya menjawab, iya, saya jauh lebih bahagia setelah saya menikah. Bahkan ketika pukulan terberat dalam hidup saya terjadi, saya masih bisa memandangnya dengan kepala tegak. Saya tahu kekuatan itu sebagian besar datang dari suami saya. *Terimakasih, suami, meskipun saya tahu kata-kata tidak akan pernah cukup untuk mengungkapkannya* Klo tentang lebih baik, saya blom bisa menjawabnya.  Satu hal yang pasti, pernikahan membuat saya lebih tertata. Nah, klo lebih tertata ini bisa dianggap menjadi lebih baik, rasanya saya harus siap berargumen dengan teman saya tadi. Dan berterima kasih padanya.

Tadi, teman saya itu bilang, this is your first year. Lagi enak-enaknya, katanya. Oh, jadi haruskah saya mengharapkan tahun-tahun yang akan datang akan menjadi gelap sesuai prediksinya? Tentu tidak. Saya memilih untuk berusaha lebih bahagia dan lebih baik. Karena setelah menjalaninya, saya percaya pada apa yang dikatakannya menjelang pernikahan saya. Tapi bagaimanapun juga menjadi lebih bahagia atau lebih baik itu adalah sebuah pilihan. Dan Tanti bisa memilih keduanya. Saya percaya, suatu pilihan tidak berhenti hanya pada saat kita memilih itu. Pilihan itu harus diusahakan. Harus dihidupi. Lagi pula, klo ingat niat menikah dulu adalah untuk beribadah maka berusaha menjadikan pernikahan itu lebih berarti adalah keharusan ya.

Jadinya ya, saya mengembalikannya pada apa yang saya percayai saja.

Btw, setelah percakapan singkat tadi siang saya tahu klo hidupnya sekarang memang jauh lebih baik. Karirnya dan anak-anaknya, semua orang bisa melihat bahwa progress itu ada. Progress yang luar biasa. Dan entah kenapa saya merasa bahwa menjadi lebih baik itu adalah kebahagiaan baginya saat ini. Mungkin dari caranya menikmati hidupnya saat ini, saat dia tidak lagi menyesali mimpi-mimpi masa mudanya yang terpaksa dibuangnya karena pernikahannya. Ya ya, 10 tahun usia pernikahannya bukanlah waktu yang singkat. Dalam 10 tahun itu amat mungkin terjadi perubahan sudut pandangnya. Dan saya ikut berbahagia untuk dirinya, apapun yang membuatnya menjadi lebih hidup hari ini. It’s good to talk to you again, Bu.

Advertisements
dearbaby, ladieschat

Botol Susu dan Kosmetika Aneh-aneh

Mencari suatu barang klo kita gak tahu pasti dimana tempatnya adalah suatu pekerjaan yang melelahkan. Gara-gara sesiangan muterin MBK untuk mencari botol susu bebas BPA, dua hari ini fungsi badan saya menurun. Capek banget. Udah bgitu barangnya belom dapet lagi. Huhuhu, anyone, can you tell me where a complete and affordable babyshop in Bangkok, please?? Heran deh, di Purwokerto saja klo di kota kayanya di setiap pengkolan ada deh babyshop kecil-kecilan. Lah ini, sampe jereng mata melihat deretan pertokoan spanjang jalan kok gak nemu juga. *Tapi jalan yang diliatin baru spanjang apartemen sampai Platinum-Pratunam, blom ke ruas jalan yang lain, hehehe. Dasar tukang ngeluh.*

Lagian ya, saya juga yang aneh. Ngapain juga botol susu pengen beli di sini, gak di rumah saja. Wong di Pwt juga ada, wlopun harganya ngajak puasa banget. Klo niat juga beli on line banyak. Saya cuma pengen dibayarin suami. Klo beli di rumah kan harus bayar sendiri. Iya sih, duit suami juga sebenarnya.Tapi stidaknya kan bukan saya yang mengeluarkan duit itu dengan tangan saya sendiri, hehehe.

Kembali ke urusan jalan-jalan yang bikin capek itu tadi, satu hal yang mnarik perhatian saya adalah deretan lapak di MBK yang menjual kosmetika. Klo liat gelagatnya seh kaya kosmetika abal-abal bgitu deh. Saya heran melihat banyaknya orang yang tertarik untuk melihat-lihat barang dan mungkin membelinya. Iya seh, secara fisik lucu-lucu kemasannya. Tapi isinya siapa yang tahu coba?

Tadi iseng-iseng buka ini, ternyata ada kosmetika produk Thai, dari leading brand di Indonesia pula, yang masuk list. Mnurut keterangan BPOM, POND’s Age Miracle Day and Night Cream itu mengandung merkuri, yang klo kontak dengan kulit bisa menimbulkan efek beragam, mulai dari cuma kulit kehitaman sampai kerusakan permanen pada organ tubuh *info lengkap bisa di download dari public warning BPOM juga*. Di list itu juga ada Olay Total White, produk Malaysia. Makanya Mbak-mbak yang cenderung menyukai produk impor, hati-hati deh. Dalam kasus sperti ini mungkin lebih aman menggunakan produk dalam negri yang jelas-jelas punya ijin edar. Lah wong yang punya ijin edar resmi saja kadang-kadang nyuri-nyuri nambahin yang gak-gak kok, apa lagi yang masuknya ilegal. Semakin gak kekontrol apa isinya.

Kosmetika saya? Wah, sejak dulu saya termasuk makhluk yang tidak bisa dandan. Karena tidak bisa dandan ini, saya jarang beli kosmetika, lah wong cara memakainya biar efek yg didapat sesuai harapan saja saya gak tahu. Yang saya miliki cuma tiga serangkai: pelembab, compact powder sama lipcare saja. Apalagi sejak hamil, males banget menyentuh ketiga barang itu. Wajah jadi dekil juga saya gak peduli skarang ini, hehehe.

Apa??? Baby boy??? Jangan mulai lagi yah…

ladieschat

Lamar-melamar dan Pernikahan

Dua hari yang lalu saya mendapatkan kabar dari Karanganyar, adik saya mau lamaran. Hari itu juga. Heh??? Saya sukses terkaget-kaget karenanya. Sesuatu yang amat tiba-tiba.

Dan ternyata adik saya, si artis utama acara tersebut, sama kagetnya dengan saya. Dia baru mendengar hal itu di hari yang sama dengan saya, di pagi harinya. Jadi ceritanya, hari itu Bapak saya kedatangan tamu, teman sesama guru dari SD lain, di sekolah. Teman Bapak tersebut menyampaikan bahwa kalau berkenan, sone nanti (hari itu, maksud saya), beliau akan bertamu ke rumah dengan maksud melamar adik saya untuk keponakannya. Dan Bapak mengiyakannya. Ternyata, si ponakan yang dimaksud teman Bapak tersebut adalah om dari teman adik saya. Tapi adik saya blom pernah mengenal pelamar tersebut. Singkat cerita, diputuskan bahwa adik saya meminta waktu untuk memikirkan pinangan tersebut.

Dan hari ini, adik saya mengabari klo dia menerima lamaran tersebut. Detil pernikahan blom dibicarakan sih, tapi klo melihat prosesnya yang serba kilat dalam dua hari ini, amat mungkin dalam stahun ini Bapak saya mnikahkan 2 orang anaknya. Ck ck ck, saya benar-benar salut sama adik saya. Hebat saja keputusannya.

Adik saya ini belum genap 21 tahun. Sama skali blom mengenal calon suaminya. Dan dia hanya butuh waktu 48 jam saja untuk memutuskan untuk menikah.

Saya menebak bahwa orang yang paling berbahagia untuk peristiwa ini, selain adik saya tentunya, adalah ibu saya. Bayangkan, beliau menunggu 28 tahun untuk melihat saya menikah. Dan tidak sampai satu tahun stelahnya, adik saya menyusul.

Untuk Ari, selamat berpetualang yah. Pekerjaan baru, lingkungan baru *minggu kmaren dia mulai menjalankan tugasnya sesuai SK Pengangkatannya di Sukoharjo, yang mengharuskannya tinggal di kontrakan yang membuatnya homesick gak karuan* dan IA suami baru. Yay!!! Semoga barokah ya….

bahanrenungan, ladieschat

tentang Aborsi, tentang Menanti Bayi.

Pemberitaan tentang digerebeknya klinik yang melayani praktek aborsi di Jakarta Utara mengingatkan saya pada kepergian seseorang yang saya kenal –sysk-. Dia adalah seseorang yang dunianya sesekali bersinggungan dengan dunia saya. Interaksi antara dunia kami tidak pernah manis selama ini. She did something bad and we had to discuss it, to know the reasons and find something to fix it.

Bukan sesuatu yang indah untuk dikenang. Tapi sperti kbanyakan orang, saya juga melihat ke belakang, mencari sesuatu yang menyenangkan untuk dikenang tentang dia saat dia sudah tidak ada. Dia masih muda, belum juga menginjak usia 22 tahun. Dia berbeda, dan perbedaan yang diusungnya itulah yang mempertemukan kami. Si sysk meninggal 2 minggu yang lalu.

Tidak ada yang tahu tentang detil bagaimana dia meninggal. Yang orang-orang katakan pada saya, sysk telah tiada. Itu saja.

Beberapa hari yang lalu seorang teman dokter dari klinik yang sempat merawatnya mengatakan pada saya bagaimana kejadiannya. Jdi sysk datang ke klinik dalam kondisi kritis. Sysk berada dalam sakaratul mautnya. Singkat cerita, klinik tempat teman saya bekerja itu tidak sanggup menangani kondisinya. Sysk dikirim ke Rumah Sakit, dan mninggal dalam perjalanan ke sana.

Teman saya meyakini klo sysk meninggal dalam keadaan hamil. Dan perdarahan hebat yang dialaminya adalah efek dari upaya menggugurkan kandungannya itu.

Dia masih sangat muda, dia sangat bersemangat, tapi dia pergi bgitu saja.

Teman saya yang lain, bukan yang dokter itu, amat terpukul karena hal ini. Kematian tragis seseorang di usianya yang amat muda, tentu saja menjadi menyedihkan bagi kita semua. Tapi teman saya terpukul bukan hanya karena hal itu. Dia amat sedih karena dia melihat ironi yang ada dalam kmatian sysk dan kehidupan pribadinya. Sysk hamil di luar nikah dan mninggal dalam upaya menghilangkan janinnya. Teman saya itu sudah 3 tahun mnikah dan blom ada tanda-tanda akan memiliki keturunan.

Allah jelas punya rencana buat kita semua. Tetapi kita, manusia, seringkali tidak bisa memahami rencana itu. Teman saya yang rutin ‘beribadah’ dengan segala macam atmosfer yang katanya bisa membantu –musik, aromaterapi, posisi tertentu, hitungan tertentu, you name it-, mengkonsumsi segala makanan yang disarankan, menjalani terapi hormon, berdoa siang malam dan amat mengharapkan hadirnya bayi, tetap saja belum diberi kepercayaan untuk hamil. Sementara sysk yang mungkin melakukannya sembunyi-sembunyi, jelas-jelas tidak menginginkan bayi, mendapatkan anugrah itu. 

Seorang teman saya yang lain lagi pernah khilaf di masa mudanya dulu. She did it, she got pregnant and she aborted her fetus. Skarang, saat mnunggu-nunggu hadirnya buah hati dalam pernikahannya, Allah mengujinya. Allah membuatnya mnunggu. Dalam sesalnya, teman saya kadang berucap, “Mungkin ini hukuman buat aku. Dulu aku membuangnya bgitu saja dan skarang aku tidak layak lagi mendapatkannya”

Mengakhiri posting saya –yang ternyata membuat saya mneteskan air mata skarang ini– saya cuma mau bilang, please don’t do it before you have a right to do it. Klopun sudah terlanjur –ya mau bagaimana lagi, namanya juga sudah terlanjur– tolong jangan digugurkan bgitu saja. Pikirkan orang-orang sperti teman saya yang sudah mati-matian mengusahakan tapi tidak juga mendapatkannya. Atau mereka-mereka sperti teman saya yang memutuskan untuk menggugurkan kandungannya saat masih remaja dan ternyata tidak bisa lagi hamil saat dia menginginkannya.

ladieschat

Writing to Reach You

I do.I still remember what My Hubby said once, di antara skian banyak kesedihan yang ada, pasti akan ada kebahagiaan yang mengikuti.

I know it won’t heal the disease that bring us down, tapi stidaknya ini adalah selingan yang cukup menggembirakan. Well, smua orang butuh selingan. Smua orang. Terlebih orang-orang di posisi kita.

Congratulation, again, Sist ^_^