milestone, sophiesibatita

Sophie is 21 Months Old

Salah satu hal yang mencerahkan hidup saya saat ini adalah mendengarkan celoteh Sophie. Eh ya, gen itu memang gak pernah berdusta. Sophie sekarang cerewetnya minta ampun. Ngomong melulu. Bahkan saat terbangun tengah malam sekalipun, di sela-sela minum air putih sambil merem, Sophie masih juga ngomong. Sophie mau minum air putih. Mau digendong. Pengen tidur di sini, bukan di sana. Sophie mau tidur di sini. Mama duduk. Sophie mau selimut. Celananya dilepas. Pampa juga dilepas. Mau selimut. Di sini. Dan karena kemampuan bicaranya masih terbatas, mendengarkan Sophie bicara adalah suatu hiburan sekaligus tantangan. Hiburan karena apa yang keluar dari mulutnya benar-benar lucu dan menggemaskan. Tantangan karena harus decoding dulu celotehnya untuk bisa menangkap apa maunya. 

Jadi, Sophie ngomongnya masih sepotong-sepotong. Biasanya dia mengambil bagian akhir dari kata, meskipun beberapa kata bisa diucapkan lengkap, dengan pronunciation ajaibnya, tentu saja.

“Mama bla bla bla epas uh uh anu mut*tarik-tarik celana sambil berbaring di kasur* terjemahannya adalah, Mama, tolong celana Sophie dilepas. Sophie mau pake selimut saja. Suphie sudah mau tidur. !

“Mama bla bla bla num susu nga huao ngeng ngeng uang” terjemahannya adalah, “Mama, Sophie mau minta susu singa huao, bukan susu beruang“. Hihihi…, maksud lebih jelasnya adalah, Sophie mau susu Ultra Mimi yang kemasannya bergambar singa alias rasa stroberi. Dan huao adalah cara Sophie menirukan auman singa, gara-gara di awal film produksi MGM yang sering ditontonnya selalu ada singa yang mengaum 🙂

Sophie sekarang sudah bisa bicara santun. So far yang sudah digunakan dengan benar adalah terima kasih dan permisi. Kalau lagi menemani Sophie makan jeruk saya bisa cengar-cengir bahagia karena akan ada adegan seperti ini, lebih dari 6 kali 🙂

Asih” Sophie mengambil jeruk yang sudah saya keluarkan bijinya dari tangan saya.

“Sama-sama Nak”

Ma ma” dijawab loh, hahahaha

Asih means terima kasih. Ma ma refers to sama-sama.

Permisi juga sudah bener pemakaiannya. Tolong masih belum jarang-jarang tuh, masih harus lebih banyak dicontohi. Kalau maaf Sophie belum mengenal. Masih banyak waktu untuk belajar ya Sayang 🙂

Setelah kemarin-kemarin suka mengikuti apa yang dia lihat, sekarang Sophie suka bermain peran. So far peran yang suka dia mainkan cuma dua, yaitu berangkat ke sekolah dan jadi Mama yang lagi nyuapi anaknya. Sering ya, dia tiba-tiba menyeret-nyeret tas, minta diambilkan susu lalu dimasukkan ke tasnya. Terus, dia cangklong itu tas di pundaknya. Kalo ditanya Sophie mau ke mana jawabannya selalu SEKOKOLAH. Hahaha, Sophie belum bisa bilang sekolah, kebanyakan KO-nya. Di lain waktu, dia akan minta dibukakan lemari dan mengambil jaket atau leggingnya, trus disampirkan di pundaknya. Dadah-dadah centil terus keluar kamar. Dan, lagi-lagi, kalau ditanya mau kemana ya keluarnya SEKOKOLAH lagi, hahahaha….. Kalau jadi Mama ya sukanya sok mengambil makanan dari suatu tempat, trus bilang A a a a ke Papanya atau saya, untuk meminta kami membuka mulut. Dia akan happy kalau kami ikutan pura-pura mengunyah dan bilang enak 🙂

Sepertinya Sophie mulai siap toilet training. Sejak Sophie fasih mengucapkan huruf S tiga minggu yang lalu, dia suka bilang pipis. Dan lebih banyak benernya dari pada iseng. Artinya, kalau dia bilang pipis ya ketika dituntun ke kamar mandi dia akan pipis beneran. Walaupun kadang itu dijadikan alasan untuk main air. Cuma, kami orang tuanya yang belum siap mengajari toilet training. Kadang klo Sophie bilang pipis, kami malah menjawabnya, “Pipis saja di pampa Nak, kan lagi pakai pampa” instead of menggotongnya ke kamar mandi. Oh Papa, kita harus segera menyingkirkan kemalasan kita dan mendukung niat Sophie untuk jadi anak besar ini.

Tentang makan, sekarang Sophie sudah bisa meminta. Dan yang paling sering dia minta adalah mie. Papanya lagi di depan kompor ya dia request, “mi, Papa”. Lagi sarapan disodori nasi ya bilang mie juga. Lebih parahnya kalau pas lagi lihat TV dan ada iklan mie instan. Sudah deh, heboh minta mie lagi. Sampai sekarang kami masih mengandalkan mie telur, kadang kami ganti dengan bihun atau spagheti untuk variasi. Iyaaa, Sophie belum tahu bedanya makanan-makanan itu. Asal nlolor panjang ya mie saja namanya. Semuanya enak ya Soph, hehe. Selain mie, Sophie juga suka minta kue. Lagi nonton film, tahu-tahu nyeletuk, “Ue, ue, ue” Sama juga, cemilan apapun selain buah ya dia sebut kue 🙂

Urusan tidur, sampai sekarang Sophie masih juga susah diajak tidur gasik. Maunya main ini itu, baru mau tidur setelah benar-benar teler. Dan rejekinya Papa banget, sekarang Sophie kalo mau tidur mintanya pindah-pindah tempat. Sudah diselimuti di puk-puk mesra di kamar depan, minta pindah ke depan TV. Kalo sudah liyer-liyer, minta pindah ke tengah. Pokoknya kalo belum pindah lokasi 5 kali belum afdol adegan menjelang tidurnya. Sudah begitu, kalo terbangun ya mintanya pindah lagi. Untung Papanya sabar ngladenin, angkat sana sini boyongan pindah kamar 🙂

Tumbuh sehat dan ceria Sayang ya, Mama Papa love you, a lot 🙂

milestone, mrhamad, sophiesibatita, tpa

Sophie di Sana, Mama di Sini

Setelah berhasil melewati 3 minggu dengan adegan drama yang tidak terlalu dominan, akhirnya saya bisa duduk manis menuliskan boyongan Sophie ke Purwokerto. Sama sekali bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan, tetapi for a greater good we do this.
Setelah melalui pemikiran yang panjaaaaang, kami memutuskan Sophie tinggal bersama suami di Purwokerto. Awalnya saya menolak ide itu, tapi setelah mulai masuk lab bulan Maret kemarin, saya mulai berubah pikiran. Saya yang mahasiswa paruh waktu, Senin sampai Jumat jam 08,00 -16.00, dengan tambahan satu tanggung jawab di lab itu sulit untuk bisa mengasuh Sophie dengan optimal. Saya tidak bisa membagi waktu. Harus menjemput Sophie tepat waktu di TPA, menyiapkan makanan dan pakaiannya, menemaninya bermain, sambil menyisipkan jadwal ngelab dan semua persiapannya diantara jadwal kuliah rasanya kok susah sekali. Belum lagi Sophie mengalami pergeseran jam tidur, praktis setelah jam 10 malam saya baru bisa memasak endebre endebre. Intinya adalah, saya tidak bisa me-manage semuanya dengan baik. Saya kekurangan energi.

Satu hal yang saya dan suami sepakati dari awal adalah kami, terutama saya,  tidak boleh merasa bersalah atas pilihan ini. Tidak boleh menyalahkan diri sendiri dan juga menyalahkan kondisi untuk semua hal yang saya lewatkan akibat pilihan ini. Kami memutuskannya dengan sadar, dan harus siap dengan semua konsekuensinya.
Awalnya kami merencanakan untuk boyongan Sophie dua atau tiga bulan lagi, selepas ulang tahunnya yang kedua. Tapi, pas pindahan rumah kemarin itu tiba-tiba sesuatu melintas dalam kepala saya. It’s the time. Tiba-tiba saja saya kepikiran kalau mau pisahan sama Sophie ya sekarang saatnya. Setelah ngobrol sama suami, saya nambah bolos satu minggu, trial (lagi) di TPA lama Sophie dan seterusnya. And here I am now, seorang Ibu  antar-kota-antar-propinsi. Dalam satu minggu, 3,5 hari saya habiskan di Surabaya sebagai anak sekolahan, 1 hari untuk tidur di bis, bolak-balik Purwokerto – Surabaya, dan sisanya untuk bersama keluarga kecil saya di Purwokerto.
Sejak kami sepakat Sophie di Purwokerto, setiap hari saya bicara padanya. Nanti Sophie tinggal di Purwokerto ya. Sophie sama Papa, Mama di Surabaya. Sophie anak pinter minum susu kotak sama air putih kalau Mama di Surabaya. Kalau Mama di Purwokerto Sophie nenen Mama. Sophie bobok sama Papa, mandi ditemani Papa juga. Sophie nanti sekolah di Sinar Mentari lagi, bermain sama Bu Endah dan Bu Hani, sama Mbak Shofa, Mbak Kinta dan Mas Galang…. Berulang-ulang layaknya kaset rusak. Respon Sophie sih baik ya, dia selalu mengangguk. Tapi apakah anggukan itu berkorelasi dengan pemahamannya akan konsep perpisahan, itu yang saya tidak tahu.
Ketika akhirnya waktunya tiba, Sophie menunjukkan hal yang luar biasa. Ketika saya pamit di terminal, Sophie dengan sukarela pindah ke gendongan suami, salim, menyodorkan pipi untuk saya cium dan melambaikan tangannya. Tanpa tangisan sama sekali. Anak hebat, memang. Sayangnya, Papa Mamanya kurang hebat dalam mengelola perpisahan. Yang tua pada sendu dooong, hahaha…. Sampai tadi malam pun, ketika Sophie mengantar saya ke terminal untuk ke empat kalinya, responnya tetap sama. Sejauh ini saya menyimpulkan, Sophie ikhlas dengan apa yang kami jalani saat ini. Semoga.
Yang Ti Sri, kepala sekolah TPA Dr. Sutomo memang memprediksikan Sophie akan lebih mudah beradaptasi dalam proses pisahan ini. Beliau berasumsi, Sophie sudah siap untuk mengalami ujian naik kelas. *Semoga Mamanya juga siap as well*. Hal yang paling saya syukuri adalah fakta bahwa nafsu makan Sophie bisa dibilang bagus banget di masa transisi ini. Dia doyan banget masakan Papanya, rajin minta dibukain kulkas untuk ambil buah atau agar-agar, makannya pun tidak pilih-pilih *kecup Papa si Koki Handal, love you a lot :)* laporan dari TPA juga sama, Sophie makannya pinter. Alhamdulillaah… Saya memang menganggap masalah makan ini adalah hal yang kritis, mengingat dulu pas beradaptasi di Surabaya Sophie mogok makan parah, yang membuat berat badannya turun dan membuatnya lemas tidak mau beraktivitas. Bersyukur sekali episode kali ini gak ada adegan mogok makan lagi.
Progress Sophie dalam menjalani hubungan jarak jauh ini mengikuti gradien yang positif. Minggu pertama dia memanggil-manggil saya. Di TPA kalau tidak dialihkan perhatiannya ya dia akan merapal mantra, Mama, Mama, Mama…. Menjelang tidur juga menyebut-nyebut nama saya. Oleh suami, setiap kali Sophie memanggil saya akan dijawab, Mama di Surabaya. Kalau sedang cranky, suami akan menelpon saya dan membiarkan saya bicara pada Sophie. Minggu kedua Sophie sudah tidak mencari saya lagi. Setiap terbangun malam hari dia akan memanggil suami saya, mengulurkan tangan untuk minta gendong, lalu bilang “tih” kalau pengen minum air putih atau “syusyu” kalau pengen minum susu.  Di TPA, minggu kedua Sophie sudah mau langsung ikut pengasuhnya tanpa rewel, langsung salim dan dadah-dadah sama Papa. Minggu ketiga kemarin, kalau ditanya Mamanya mana, Sophie akan menjawab, Surabaya, sekolah. Huhuhuuuu, mewek saya mendengarnya…
Sophie masih menyusu, tapi terbatas weekend only. Saya sudah tidak memompa ASI lagi sejak Sophie umur 15 bulan, dan setelah saya diskusikan dengan suami kami memutuskan untuk tidak memompa ASI untuk diminumkan ke Sophie selama di Surabaya. Untuk menjaga produksi ASI, saya memeras ASI setidaknya tiga kali sehari. Memang berkurang sih, tapi it’s the option I choosed. Setiap kali menjemput saya, Sophie akan minta nenen. Dan, sepanjang jalan nenen terus. Juga dirumah, mintanya nempel saya melulu. Kalau sudah mati gaya nenen di kamar depan minta pindah nenen ke depan TV. Di depan TV mulai pegel minta pindah ke kamar tengah, dan seterusnya. Tapi bisa juga sih, Sophie 3 jam gak minta nenen sama sekali. Kalau ada saya paling sehari Sophie cuma minum 1-2 kotak UHT 125 mL.
Sekarang, mulai sabtu sore saya akan bicara layaknya kaset rusak lagi. Mama besok berangkat ke Surabaya. Sophie pinter sama Papa ya. Sophie makannya hebat, minum susunya juga banyak. Nanti ke sekolah diantar Papa, pulangnya juga dijemput sama Papa. Nanti insyaaallah Mama pulang hari Sabtu, kalau bisa Jumat ya Jumat Mama pulang. Nanti pas Mama dirumah Sophie nenen Mama, bobok dan main sama Mama dan Papa ya.
Semakin ke sini saya dan suami juga sudah lebih bisa me-manage kondisi baru ini. Hal yang paling menantang dari hubungan jarak jauh seperti yang saya alami adalah menciptakan kondisi dimana Sophie merasakan bahwa dia dicintai, sama seperti sebelumnya. Bahwa tidak ada yang berkurang dan berubah setelah saya tidak bisa lagi didekatnya setiap hari. Itulah kenapa komunikasi amat penting bagi kami ketika saya di Surabaya. Saya selalu menanyakan kegiatannya di TPA, bernyanyi bersamanya, ikut membacakan bukunya -yang saya sudah hapal isinya- dan  menceritakan apa yang saya lakukan hari ini, semuanya via telpon. Walaupun ya, lebih sering Sophie tidak meresponnya, dia lebih suka melakukan hal-hal lain yang lebih menarik daripada ngobrol dengan saya, hahaha…
Suami alhamdulillah sudah siap dan mampu menjalani peran barunya ini. Kami berbagi tentang nilai-nilai dalam pengasuhan anak dan mendiskusikannya bersama, sehingga sebisa mungkin apa yang kami terapkan pada Sophie ketika bersama suami sama seperti yang saya terapkan. Saya bersyukur bahwa suami adalah koki yang lebih baik dibandingkan saya, sehingga untuk urusan makan tidak ada yang perlu saya khawatirkan. Saya cukup memberitahu apa-apa yang boleh dan tidak boleh dimakan Sophie, lalu semuanya beres. Tidak heran kalau berat badan Sophie naik lumayan banyak sejak tinggal dengan suami. Urusan memandikan, bermain, dan lain-lain tetek bengek urusan keseharian batita juga OK dipegang suami, karena jam terbang beliau sudah tinggi. Keponakan suami sudah 12 sebelum kami punya Sophie, jadi ya tidak ada masalah.Satu-satunya hal yang membuat kening saya berkerut adalah tentang cara berpakaian Sophie. Suami orangnya sangat cuek dengan pakaian, matching dan lucu itu buat beliau adalah hal terakhir yang harus dipikirkan. Sering lho ini kejadian, atasan sama bawahan Sophie tabrak lari, atasnya warna apa bawahnya motif apa. Atau yang lebih parah, Sophie memakai dress plus celana piyama. Kata suami sih biar hangat. Ckckck…
As I saw these 21 months, tempat terbaik untuk seorang anak tumbuh adalah bersama kedua orang tuanya. Kami belum bisa memberikan itu untuk Sophie hingga saat ini. But for sure, we’ve prepared the best we can and learned the new things so Sophie can grow best, in this not-so-the-best-condition. We love you, dear Sophie 🙂

milestone, sophiesibatita, tpa

Sophie is 20 Months Old

Memang ya, bayi mungil yang bisa merespon pembicaraan kita dengan anggukan, gelengan dan menunjuk itu lucu banget. Tapi itu tidak sepenuhnya baik. Karena, si bayi jadi tidak terstimulasi untuk bicara. Lah, ngapain juga berusaha ngomong kalo hanya dengan 3 hal itu keinginannya sudah terpenuhi. Itulah yang terjadi pada anak saya. Sophie sudah bisa menggunakan ketiga instrumen itu dengan baik sejak umur 10 bulan. Dan sampai usia 19 bulan kemarin kemampuan bicaranya masih itu-itu saja.  Papa, Mama, nen, Pooh, atuh, udah, emoh (!).

Tapi, sejak 2 minggu yang lalu ada loncatan besar dalam penguasaan kosakata Sophie. Sekarang sudah bisa mengusir Mamanya dari kamar mandi dengan tampang sok galak, mulut dimonyong-monyongkan sambil berkata, -eluaaaaaa-. Sudah bisa memanggil dan menata posisi Papa Mamanya di kasur -Pa/Ma, ciniiiiii-, sambil tangannya menepuk-nepuk tempat yang sudah dia book untuk kami tiduri, hahaha…

Sophie juga lagi suka menirukan materi yang dia lihat di serial yang dia tonton. Teletubbies berpelukan ya dia akan menghampiri saya atau Papanya sambil bilang -hag- . Po melakukan skipping ya dia ikutan skipping ala Sophie juga. Lihat Barney memeluk teman ya dia ikutan memeluk yang ada didekatnya, juga muter-muter badannya mengikuti opening dan closing-nya Backyardigans. Hihihi, mini copy cat.

Sophie sekarang gak suka dipakein dispo. Selama di Pwt 2 minggu kemarin kami memang full pakai  dispo karena popok kain Sophie masih di Sby semua. Sulit banget dirayu untuk mau memakainya, sebelum akhirnya dia minta dilepas ketika pipis. Mungkin ini sign untuk toilet training ya. Tantangan buat kami. Kadang kami membiarkan Sophie memakai celana saja tanpa popok seperti kalau dia di TPA. Ini berarti kami harus ekstra mengawasinya, karena, entah kenapa kok Sophie mewarisi sifat gubrak-gabruk saya *dapat salam dari DNA*. Gampang bener jatuh. Ada cairan sedikit saja di lantai terpleset. Dan frekuensi berkemih anak 20 bulan itu ternyata tinggi sekali. Pegel saya ngepel melulu, hahaha…

Urusan makan, Sophie lagi dalam masa malas makan lagi. Ya ampun, susahnya membuat dia makan yang bener beberapa hari ini. Saya sungguh berharap Sophie tidak masuk dalam lingkaran gelap seperti awal pindah ke Sby dulu. Semoga tidak.

Aaaah, saya kangen si Tadut kecil. This is the first day without her, here in Sby. Meskipun saya selalu bilang saya akan kuat, saya bisa, terpisah dari Sophie, tetap saja saya mewek pas pamitan ke TPA Sophie di Sutomo tadi. Menjelaskan kenapa Sophie sekarang bersama Papanya ternyata cukup menguras emosi saya.

Stay strong. I have to stay strong for her.

milestone, sophiesibatita

Bulan Keenambelas Sophie

Tidak panikan, cuek dan tidak tahu itu tipis sekali batasnya. Dan saya tidak tahu saya masuk ke golongan mana.

Minggu lalu Sophie imunisasi varicella. Setelah beberapa waktu menimbang-nimbang mau kemana, akhirnya kami menyatroni DSA dekat rumah saja. Kenapa pilihan akhirnya jatuh ke beliau? Karena saya kaget saja, ini Sophie hampir 16  bulan kok ya belum imunisasi. Dari pada molor lagi, kami memutuskan ke yang paling dekat saja. Penuh drama, tentu saja. Sophie yang lagi gak suka disentuh-sentuh nangis pas diperiksa sama Pak Dokter *ampun Pak, saya beneran lupa nama anda* yang suka bener menempel-nempelkan stateskop ke dada, perut dan punggung Sophie. Nangis heboh sampai muntah. Pas disuntiknya sih biasa. Nangis, nenen terus diam. Tapi pas mau pulang sudah centil lagi. Salaman, senyum-senyum dan kiss bye.

Kembali ke masalah tidak panikan, cuek dan tidak tahu tadi, saya baru saja ngeh klo Sophie punya alergi makanan. DSA yang memberi tahu saya. Ngerasa bersalah, tentu saja. Sejak dulu saya penasaran dengan pilek yang berkepanjangan dan lidah Sophie yang sering luka. Tapi saya tidak mengira klo itu adalah manifestasi dari alergi. Pernah sih sekali waktu membatin pilek Sophie, menghubungkannya dengan kemungkinan alergi. Tapi karena Sophie terlihat baik-baik saja, semuanya wajar, saya melupakannya begitu saja. Doh. Khusus untuk lidah, DSA menyebutnya sebagai allergic tongue atau swollen tongue. Bukan, jangan bayangkan lidah Sophie bengkak serem gitu ya. Lebih seperti terkelupas permukaannya. Huhuhuuu… Maafkan Mama ya Nak…

Berhubung sudah tahu itu alergi, maka kami harus mulai melakukan skrining pemicunya. Apalagi aturan tunggu 4 hari sudah saya tinggalkan sejak kami pindah ke Surabaya. Sementara ini Sophie dan saya dititahkan untuk menghindari telur, kacang tanah dan coklat. Haduuuuh, selamat tinggal pecel Madiun plus dadar dan lontong kupang favorit saya!

Btw, Sophie sudah jalan lho. Sudah lancar cenderung lari sekarang. Awalnya, pas seminggu menjelang berumur 15 bulan, Sophie yang lagi berpegangan pagar tiba-tiba jalan mengejar kucing yang lewat. Setelah itu maunya jalaaan melulu. Sambil terhuyung-huyung, tabrak sana-sini dan jatuh melulu. Jidat memar, bibir jontor, lutut dan telapak tangan lecet, you name it lah. Semuanya sudah pernah dialami Sophie. Anak kuat ya Nak 🙂

Pola tidur Sophie sekarang sudah berubah. Mulai tidur jam setengah delapan malam. Bangun jam setengah 6 pagi. Siang cuma mau tidur satu kali, bisa lama bisa sedikit tergantung lingkungan. Klo di TPA sebentar, soalnya maunya maiiin melulu. Klo dikeloni di rumah ya bisa sampai 3 jam.

Urusan makan, alhamdulillah lebih OK dibanding beberapa waktu yang lalu. Walaupun sampai sekarang masih belum bisa makan protein. Daging, ayam, ikan, tahu sampai tempe dilepeh semua. Tobat deh. Papa Mamanya pemakan segala kok ini anaknya pemilih banget. Karbohidratis sekali. Makaroni, roti, bihun, doyan banget. Haduuh…

Rambut? Masuh segitu-gitunya dan ujungnya semakin keriwel! Gigi juga masih 4, tapi sepertinya gigi kelimanya mau muncul sebentar lagi. Mulai ada putih-putih di gusi atasnya. Dan itu, ilernya juga lagi suka netes.

Sophie sekarang kalo minta sesuatu sudah mulai jelas. Klo minta gendong ya akan menunjuk kerudung Mama sambil membawa gendongan. *Iya, sudah tahu kalo Mama keluar harus berkerudung. Dan sekarang lagi suka gendong jarik. Ampun deh, pegeeel pundak Mama*. Klo minta minum air putih menunjuk kulkas. Klo habis pipis mengangkat bajunya atau melepas velcro popoknya. Yang membingungkan itu klo dia nyodorin HP. Bisa jadi minta telpon Papa, nonton Hippo dan Stan, atau main bubble popper. Biasanya sih saya tanyakan satu-satu. Klo moodnya bagus ya sabar menunggu saja menanyakan satu-satu, lalu mengangguk untuk hal yang dia mau. Klo moodnya buruk ya sudah kejer duluan sebelum saya tanya, hahaha…

Eh, TPA Sophie sekarang pindah lokasi lho. Sekarang di Jl. Karangmenjangan, lebih dekat dengan kos saya. Yaa, masih di lingkungan RSU Dr. Sutomo lah, dekat masjid. So far Sophie terlihat enjoy di sana. Kadang diajak pulang saja gak mau. Ternyata, Sophie betah karena kamarnya pake AC. Ck, seleramu kok tinggi amat sih Nak *towel Papa, pindahin kami ke kos yang ada ACnya dong Pa :D*

Teruslah tumbuh Nak, semoga Mama dan Papa selalu diberikan kemampuan untuk menjaga dan menstimulasimu dengan yang terbaik yang kami mampu.

jalanjalan, milestone, sophiesibatita

Bulan Keempatbelas Sophie

 
Miss Sophiesaurus, si Pemakan segala. Termasuk makanan Mamanya yang beli diluaran. Yang tentu saja bergula garam dan sering ada MSGnya. Apakabar no gula garam? Sudah berakhir masa Sophie mau makan plain kayanya. Gara-garanya kemarin-kemarin Sophie gak mau makan sama sekali. Mana susunya juga gak mau banyak, lengkap sudah. Bener-bener gak mau makan, sampai badannya lemes. Yang semula suka menjelajah kemana-mana di TPA jadi duduk saja. Sampai-sampai Sophie dipaksa makan di TPA  -yang sampai membuatnya trauma sendok- karena pengasuhnya khawatir dengan lemesnya badannya itu. Sampai saya dimarahi dan secara eksplisit disarankan untuk memberikan susu yang katanya bisa menggantikan makanan buat anak itu. Short story, saya yang pusing tujuh keliling menyuapkan sop ayam dari resto fast food dan secara ajaib Sophie mau. Setelah itu Sophie on off makannya. Kadang mau tapi lebih banyak tidaknya. Kalo lagi beruntung ya dia mau mencomot dari piring saya. Makanan saya. Iyaaa, yg berbumbu-bumbu gak jelas itu. Huhuuu.. Akhirnya, saya mengikhlaskannya. Biarlah Sophie makan makanan gak jelas, asal tidak setiap hari. Asal buah dan sayurnya masih jalan. Asal masakan rumahan selalu tersedia untuknya. What is in moderate won’t kill us, begitu apologi saya. Ya yaaa, I know it… Sekarang, saya mulai menggunakan garam, juga butter buat tumis-tumis.

Sophie belum berjalan juga. Biarlah, saya masih sabar menanti momen itu.

Sophie semakin hari semakin centil saja. Kalo liat saya bedakan heboh merebut bedak, pengen ikutan. Sudah bisa minta dijepitin rambutnya. Sudah bisa memilih jepit rambut yang mau dipakainya. Gayanya kata Papa juga centil. Suka sekali dicium, kalo lagi tiduran atau duduk-duduk bertiga sukanya masang pipi, minta dicium. Ckckck, niru siapa Nak?

Nah, klo ini asli niru saya, ekspresif. Sophie klo nyaman ya bakal anteng, nyanyi-nyanyi, joget-joget centil. Tapi klo gak nyaman ya sebaliknya. Perubahan moodnya jelas banget kelihatan. Kemarin pas di rumah mbah Sophie super happy. Eh, giliran pindah ke rumah adik saya, langsung cranky. Boro-boro mau main, maunya gendongan dan merengek melulu.  Selidik punya selidik, kenyamanan Sophie ditentukan oleh 3 hal: orang-orang yang dia kenal, tempat yang lapang dan udara yang sejuk. Ya jelas Sophie nyaman di rumah mbah, disana bisa bebas guling-guling di depan TV dengan udara dingin yang enak banget buat kelonan.

Akhirnya, Sophie resmi menjadi Kakak. Tgl 20 kemarin adik saya melahirkan bayi perempuan cantik, Absyaria Halwa. Berwajah bulat seperti Sophie, tapi rambutnya lebat sekali. Kebalikan dari Sophie, hehehe…

We love you, dear.