Mama, Sophie

Nama

Saya tidak pernah tahu apa arti nama saya. Selama ini saya sama sekali tidak pernah penasaran dengan doa apa yang dititipkan orang tua saya lewat nama saya. Tahunya, ya, saya anak nomor duanya Pak Panut. Apa arti Hartanti, saya tidak pernah kepikiran untuk mencari tahu apa artinya.

Padahal, saya termasuk golongan yang lumayan cari info pas mencari nama untuk anak-anak saya, lho. Sejak awal kehamilan, saya sudah bersahabat dengan google, mencari nama-nama untuk si janin. Sophia dan Arkananta adalah hasil bertapa saya selama beberapa bulan tersebut. Saya serius mencari apa artinya, dan memberitahukan pada yang bersangkutan saat mereka sudah mulai paham.

Semalam, si Sophie lagi mengartikan dan meminta informasi tambahan tentang namanya. Terus melebar ke nama adik dan papanya. Dan lalu menanyakan tentang arti nama belakang  saya.

“Mama belum tahu, lho, Soph. Coba mama cari dulu”

Lalu saya pun mengetikkan -arti nama Hartanti- di browser HP saya.

“Arti nama Hartanti itu ternyata berhati indah dan terang, Soph”

Dan Sophie-pun refleks menyahut,

“Kok mama sering marah-marah?”

Eeeeeeeeee………..

Jadi begini, ya, Soph. Nama itu adalah doa, harapan orang tua pada si pemilik nama itu. Dan yang namanya doa itu tidak selalu terkabul. Begitu, ya.

*cium*

Mama, Sophie

The Right School

Sophie and her classmates visited Sekar, their friend who had been sick for about a week. Sekar’s Mom said that she would  go to school the day after. That night, Sophie made a welcome card for her. She drew flowers and wrote a note on a piece of paper. It said, “Selamat datang, Sekar. Yang semangat, ya”.

I picked up Syafiq earlier yesterday. Syifa, Sophie’s classmate while they were in kindergarten, took a close look at my hand. She asked questions related to my condition. When I said goodbye to her, she wished my hand getting better. “Mamah Sophie, semoga cepat sembuh, ya“.

These two occasions made me truly believe that we had chosen the right school for Sophie.

 

Sophie and her classmates. This pic is courtesy of Bu Mae, their teacher.

 

Sophie

Nggaya = Mama

Saya dan suami sedang membicarakan nama-nama bayi yang potensial kami pilih untuk baby #2.

“Tidak mau nama itu, ah, temanku yang namanya itu nggaya banget

Dan Sophie-pun menyahut,

Nggaya itu apa?”

Kakehan polah, Soph”

“Maksudnya apa?”

“Mmmmm, banyak melakukan hal-hal yang tidak perlu, hal-hal yang tidak wajar”

“Oh, aku tahu. Nggaya itu kayak Mama, kan”

Oh, Nak. Masa iya Mama harus jaim di depanmu?

😀

Sophie, Uncategorized

Bahasa Gado-gado

Bertahun-tahun yang lalu saya mengerenyitkan dahi saat mendengar sepupu teman saya bicara yang berusia balita dengan menggunakan bahasa indonesia dan bahasa inggris dalam satu kalimat. Saya yang saat itu belum menikah (dan tidak punya bayangan sama sekali tentang perkembangan bahasa balita) membatin, duh Gusti, kalau boleh minta anak saya nanti jangan seperti itu, deh.

Dan sekali lagi, sengit ndulit, saudara-saudara.

Belakangan ini saya mendapati Sophie berbicara dengan mencampur bahasa indonesia dan bahasa inggris. Semoga Allah dan tante teman saya memaafkan saya.

“Wow,ada gambal lebit sama dok

Saya hanya bengong tanpa tahu harus berkomentar apa saat mendengar Sophie mengucapkan kalimat gado-gadonya itu sambil memegang majalah yang sampulnya bergambar kelinci dan anjing. Setelah terdiam beberapa saat, saya mengulang kalimatnya dalam bahasa indonesia. Refleks saja, sih, saya melakukannya. Mungkin itu adalah cerminan alam bawah sadar saya yang menginginkan Sophie berbicara dengan bahasa yang baik, ya. Hahaha!

“Iya, gambar kelinci dan anjingnya bagus, ya”

Tapiii, entah bagaimana mekanismenya, semakin ke sini saya lebih bisa menerima bahasa gado-gado ini dibandingkan di masa lalu. Setelah merasakan kejadian pada anak sendiri, rasanya tidak terlalu mengerikan, kok. Bukan sesuatu yang ideal, memang, tapi namanya juga baru belajar, kan, ya. Mungkin ini yang namanya realistis. Sophie bersekolah di sekolah yang mengajarkan bahasa inggris, menonton acara TV yang sebagian besar dalam bahasa inggris, saya dan suami kadang juga bicara dalam bahasa inggris di rumah, jadi, ya, wajar, lah kalau Sophie ikut-ikutan bicara dalam bahasa inggris. Tidak apa-apa, semoga dengan bertambahnya umur Sophie, kami bisa menata bahasa lesannya dengan lebih baik. Lagi pula, kalimat gado-gado Sophie ini masih jarang-jarang munculnya. Tidak apa-apa.

Efek dari kemampuan Sophie yang baru ini adalah, saya dan suami harus lebih kreatif mencari kode baru. Selama ini, kami berbicara dalam bahasa inggris ketika sedang membicarakan sesuatu yang kami tidak ingin diketahui oleh Sophie.

Let’s take a longer way so Sophie can sleep before we get home“, kata saya pada suami, sambil memeluk Sophie yang sudah kriyep-kriyep di pangkuan saya.

“Aku gak mau bobok!”

Saya dan suami hanya bisa tertawa mendengar teriakan Sophie itu. Dan, ya, Sophie tidak jadi tidur siang, tentu saja.

***  ***

Sophie mengenal bahasa inggris dari dua sumber utama, sekolah dan TV. Di sekolah, karena namanya juga pengenalan, Sophie belajar tentang nama-nama benda dalam bahasa inggris. Jadi tahunya, ya, kata demi kata. Selama ini, Sophie sering mengajari orang-orang disekitarnya (yang berarti suami, saya atau Adik Beryl) tentang kosa kata yang baru didapatnya dari sekolah.

Stal itu bintang. Mun, bulan. Kalau san itu matahali”, semacam itu, lah.

Memang, Sophie memiliki ketertarikan yang besar dalam hal bahasa. Untuk bahasa indonesia, Sophie selalu menanyakan kata-kata baru yang belum diketahuinya, baik saat membaca buku ataupun menonton TV. Sombong, harta karun, beruntung, dan dapat adalah beberapa kata yang ditanyakan artinya oleh Sophie, yang sukses membuat saya dan suami pandang-pandangan menunggu siapa yang mau menjawab. Di momen-momen seperti itu, sungguh saya berharap punya KBBI di rumah. Tinggal dibuka dan dibacakan, bebas pusing.

Tapi, pemegang gelar juara untuk kategori kata-rumit-untuk-dijelaskan adalah jatuh sakit, yang ada dalam kalimat, blah blah blah, lalu putri bungsu jatuh sakit. Susah, bok, menjelaskan pada anak 4 tahun yang ketika kalimat itu saya bacakan langsung nyerocos,

“Jatuh sakit itu apa, Ma? Oh, aku tahu. Puti duyung bungsu jatuh telus sakit, ya? Yang sakit apanya, Ma? Kenapa jatuh? Jatuh di mana?”

Oh….

Akhir pekan lalu, Sophie mulai meminta saya untuk menerjemahkan kata-kata yang yang bisa ditangkapnya saat menonton Hi5. Baru juga sampai lagu pembuka, Sophie sudah melontarkan serentetan kalimat yang membuat saya mau tidak mau ikut menyimak TV jadinya.

“Ma, el o fi i itu altinya apa? Kalau a lov yu en yu lov mi, apa? Dis is ho wi min to bi itu apa?”

Semester ini  sekolah Sophie memiliki program baru, namanya Javanese Day. Ketika Javanese Day berlangsung sebulan sekali, semua penghuni sekolah berpakaian dengan atribut Jawa (batik, kebaya, atau lurik), makan makanan ringan yang khas Jawa dan menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa pengantar di kelas maupun berkomunikasi di luar kelas. Program ini efektif menambahkan beberapa kosakata dalam bahasa Jawa dalam kamus besar Sophie. Setelah berjalan beberapa kali, Sophie familiar dengan kata-kata sampun, dereng, nggih dan mboten. Seminggu setelah Javanese Day, Sophie bisa menggunakan kata-kata tersebut di rumah, meskipun menurut suami, kata-kata itu terdengar kering di mulut Sophie. Aneh, hahaha!

Beberapa hari terakhir ini, Sophie juga menggunakan lombok dan endog untuk menyebut cabe dan telur. Oh, tentu saja dengan penekanan pada huruf k dan g nya. Lombok dan endog.  Anak Karanggintung sejati, hahaha!

Tidak ada yang salah dengan anak jaman sekarang yang sedang belajar. Begitu, bukan?

Mama, Sophie

Allah Maha Baik

Grass is always greener on another side, kata Travis dalam Side.

Rumput bagi saya tergambar di kolase ini. Sungguh saya menginginkan bertiga untuk jangka waktu yang lama, bukan akhir pekan saja.

Sedang ingin mengulang sore yang terik itu, saat Sophie berceloteh tentang telur-telur keong sawahyang berwarna pink, dan mama keong yang sedang mencari makan sementara telur-telurnya dijaga oleh ikan kecil
Sedang ingin mengulang sore yang terik itu, saat Sophie berceloteh tentang telur-telur keong sawah yang berwarna pink, dan mama keong yang sedang mencari makan sementara telur-telurnya dijaga oleh ikan kecil

 

*** *** ***

Sepotong post tersebut di atas sudah ada di draft blog saya sejak dua minggu yang lalu, saat saya lagi kangen-kangennya sama dua orang kesayangan saya itu. WordPress for Android belakangan ini memang tidak bisa diandalkan, gagal melulu setiap kali upload post.

Sepertinya Allah mendengar doa saya. Saya diberi alasan untuk tinggal lebih lama di Purwokerto. Lumayan banget, lho, saya bisa 9 hari di rumah. Meskipun, yaa, alasan untuk tinggal itu menyakitkan. It is painful, as literally written.

Jempol kanan saya terjepit pintu kereta api dalam perjalanan mudik.

Beberapa teman berkomentar,

“Tanti banget sih”

(Oh, apakah ceroboh, gubrag-gabrug dan teman-teman sejenisnya adalah trade mark saya?)

Padahal, saya kejepit itu bukan karena kecerobohan saya, lho. Saya sedang sial saja, saya rasa. Ketika hendak ke kamar mandi, saya refleks berpegangan pada pintu gerbong. Namanya kereta api ekonomi, kan, ya, goyangannya terasa benar. Saat itulah ada dua kakak beradik berusia SD yang dengan semangatnya saling berlomba mendorong daun pintu. Kejadiannya cepat sekali. Mulut  saya belum selesai memperingatkan mereka bahwa aktivitas mereka berbahaya, eh, tahu-tahu saya sudah refleks menarik tangan saya akibat serangan nyeri yang tiba-tiba.

Jempol saya menghitam dengan segera. Ada sedikit darah yang keluar, tapi lebih banyak yang tertahan di bawah kuku. Di Gerbong Makan saya menemukan kotak P3K, tapi isinya hanya perban, plester dan alkohol. Tidak ada analgesik.

Dan posisi saya saat itu sedang di Jombang. Artinya, saya masih 7 jam perjalanan dari Purwokerto.

Oh, welcome to the second longest time of my life. Hanya kontraksi selama 33 jam saat melahirkan Sophie dulu yang bisa mengalahkan sensasi jempol berdenyut nyeri selama 7 jam.

As my husband said, i am the master of playing with what-ifs. Pikiran saya kemana-mana membayangkan ini itu sementara nyeri di ujung jempol saya tak kunjung mereda.Kombinasi kedua hal itu combo efeknya.  It was really the second longest time of my life.

Dari peristiwa ini saya sadar bahwa analgesik adalah salah satu penemuan yang paling bermanfaat dalam peradaban manusia.

Dokter yang memeriksa saya sesampainya di Purwokerto menyarankan agar saya menunggu 3 hari dulu sebelum memutuskan kukunya mau dicabut atau tidak. Beliau memberi harapan bahwa ada kemungkinan leukosit saya bisa mengatasi sisa-sisa peradangan, sehingga tidak perlu cabut kuku segala yang proses penyembuhannya lama. Karena saya model orang yang pasang IUD saja hebohnya bukan main, tentu saja saya berharap saya tidak perlu cabut kuku nantinya.

Tapi harapan tinggal harapan semata. Setelah 2 hari jempol saya semakin bengkak. Area yang berwarna hitam semakin meluas dan saya bisa melihat ada banyak cairan di jempol saya mencari jalan untuk keluar dari kulit yang menahannya. Baiklah, satu-satunya pilihan yang saya punya hanyalah cabut kuku saja. Untungnya kru yang menangani jempol saya di RS DKT jago menenangkan saya, sehingga kehebohan saat pasang IUD tidak terulang (saya berpikir, saya bisa tidak terlalu heboh karena tidak ada suami yang menemani. Coba suami ikut masuk ke kamar operasi, mungkin ada hal memalukan yang terjadi gara-gara saya terlalu aleman kalau bersama beliau).

Ternyata, bengkak di jempol saya ekstensif karena kuku saya patah dan patahannya melukai jaringan otot di bawahnya. Dan tambahan lagi, saya juga mengalami kenaikan ambang anastesi gara-gara terlalu sering menghirup kloroform selama bekerja di lab. Ketika dokter menerangkan prosedur anastesi, beliau menyebutkan bahwa akan ada dua kali injeksi anastesi lokal untuk membuat jempol saya mati rasa. Tapi nyatanya saya membutuhkan empat kali injeksi sebelum akhirnya kuku saya dicabut. Nasib anak lab.

Seperti yang selalu saya inginkan seminggu sebelumnya, berada di rumah dalam jangka waktu yang lama itu amat menyenangkan. Sejak ketemu asam mefenamat nyeri di jempol saya terkendali. Kecuali saat-saat Sophie kumat gubrag-gabrugnya (yang sepertinya dia warisi dari saya), ya. Sehari setelah kuku dicabut, jempol saya sempat berdarah lagi karena diduduki oleh Sophie. Selebihnya semuanya baik-baik saja.

Salah satu hal yang amat saya syukuri tentang Sophie adalah sikapnya yang care. Saya merasa jauh lebih baik ketika baru datang (dengan muka asyem menahan nyeri), Sophie menanyakan kronologis kejepit saya sambil mengusap-usap tangan kanan saya. Dia sering sekali melihat kondisi jempol saya, mengelusnya pelan sambil bertanya bagaimana kondisi jempol saya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setiap kali tidak sengaja membuat jempol saya sakit (which is sering, yang diduduki, lah, dilempar buku, lah, ketindihan tangannya, lah, you name it), Sophie selalu sedih. Sering kali dia menangis heboh karena merasa bersalah. Ah, Nduk, Mama bersyukur dirimu seperti itu, tapi kalau bisa tidak usah memakai tangis, ya.

Dan, ya, Sophie juga sok tua. Sering mengingatkan saya untuk berhati-hati.

“Mama nanti kalau belangkat ke Sulabaya yang hati-hati, ya. Kayak aku belhati-hati, pelan-pelan. Kalau Mama mau ke kamal mandi jangan pegangan pintu. Mama pegangan tembok, apa kulsi, apa kayu, apapun. Tapi jangan pegangan pintu lagi, ya”

😀

Sophie tidak mau berangkat sekolah selama saya di rumah, tentu saja. Kami hanya berhasil membujuknya berangkat sekolah sehari setelah dia menduduki jempol saya, karena kami khawatir akan terulang kembali (tapi yang ada saya malah bingung di rumah tanpa Sophie, dan melarikan diri ke kampus jadinya). Berhari-hari bermain bersama Sophie praktis menambah timbunan lemak di perut saya. Saya menemani Sophie bermain puzzle, membaca, menggambar, menonton TV dan sebagian besar aktivitasnya sambil tiduran di sofa. Peluk-pelukkan pun nyamannya sambil tiduran,kan? Sementara, kalau diingatkan suami untuk jogging banyak benar alasannya, yang hujan, lah, masih ngantuk, lah, jempolnya cedera, lah. Zzzzzz….

Dan, ya, menyenangkan sekali berlama-lama dengan Sophie. Juga saat kruntelan bertiga sore-sore ketika suami baru pulang kerja. Sepertinya kekhawatiran saya tentang pekerjaan saya di Surabaya sudah menguap sirna sejak hari kedua di rumah.  Tak ada yang lebih nyaman dari rumah, memang, ya.

Sekarang saya sudah di Surabaya, jempol saya sudah fungsional kembali. Hikmah yang saya dapatkan adalah, saya jadi tertib memakai sarung tangan saat bekerja.

Dan saya sudah kangen lagi sama Sophie dan suami. Saat saya di kereta api untuk kembali ke Surabaya, percakapan di whatsapp ini menghangatkan hati saya.

"Mama loves you, too, Soph"
“Mama loves you, too, Soph”

 

Dan tadi malam, Sophie berhasil membuat saya dan suami tercekat,

“Aku mau beldoa semoga Mama cepat lulus, bial bisa sama aku telus”

Permisi, saya mau mewek dulu.