sophiepapa, sophiesibatita

A Story of A Weekend Papa

Jadi, interaksi antara Sophie dan Papa baru bisa dibilang lumayan akhir-akhir ini. Sophie lahir ditunggui Papa sampai sebulan, lalu ditinggak ke Bangkok dan baru ketemu lagi setelah berumur 6 bulan. Setelah itu ketemu lagi di usia 9 dan 12 bulan. Sejak Sophie 14 bulan mulai rutin, paling tidak setiap akhir pekan Sophie menikmati keberadaan papa di dekatnya.

Duluuu banget di umur 6 bulan, Sophie belum begitu ngeh dengan keberadaan orang baru. Jadi dia nyaman-nyaman saja dan mau langsung diajak papanya. Nah, di umur 9 dan 12 bulan Sophie mulai notice keberadaan orang baru. Dia awalnya ramah sama papanya, mau senyum, salim dan seterusnya. Tapi, dua jam kemudian Sophie mulai terganggu dengan keberadaan papanya, mungkin dia berpikir -kok orang ini tidak kunjung pergi sih, mengganggu mama dan Sophie saja-. Dan, mulailah episode gak mau sama papa. Nangis setiap kali mau digendong papa. Stress lah si Papa. Dan, papa tambah stress karena Sophie juga nangis setiap kali papa menyentuh mama. Lengkap ya penderitaan papa, gak bisa menyentuh anak dan istrinya sendiri! Untung kondisi ini cuma bertahan selama 2 hari saja.

Setelah rutin ketemuan, semakin lama masa penolakan Sophie semakin berkurang. Klo pendekatannya tepat Sophie mau langsung ikut Papanya. Sekarang sih kayanya sudah gak ada masalah penolakan di awal ketemu ya. Legalah si Papa, anak gadisnya sudah mau sukarela mencium-cium pipinya setiap kali datang.

Nah, derita Papa yang baru dimulai minggu kemarin. Siang itu saya menjemput Sophie, dia pas pamit sama Bu Atik, pengasuhnya di TPA, dengan cara yang amat heboh. Salim, cium pipi Bu Atik, lalu dada-dada dan kiss bye. Semuanya dengan senyum lebarnya. Sambil berjalan pulang saya mengobrol dengan Sophie. Menanyakan harinya di TPA. Standar sih.

“Tadi makannya pinter tidak?” Sophie mengangguk.

“Minum susunya banyak ya?” Sophie mengangguk lagi.

“Tidur siangnya lama?” Sophie merengut sambil pasang tampang mau nangis. “Ooooh, tadi Sophie tidak mau tidur siang ya. Sekarang ngantuk?” Dia mengangguk kecil.

“Eh, tadi main seru sama Mbak Nanda dan Bu Atik ya?” Sophie mengangguk. “Sophie suka main sama Bu Atik?” Mangangguk lagi. “Hmmm, Sophie sayang sama Bu Atik?” Sambil tersenyum, Sophie mengangguk. Yakin sekali jawabannya.

“Mama bangga sama Sophie, Sophie tadi pinter di TPA ya” Sophie tersenyum, mengangguk lalu mendongak untuk mencium pipi saya.

“Terima kasih Sayang, mama juga sayang sekali sama Sophie”. And I kissed her.

I love her, a lot 🙂

“Sayang, besok Papa datang lho, Sophie senang papa datang?” Sophie mengangguk. “Nanti kita main bertiga yaaa” Diapun tersenyum.

“Sophie sayang Papa Nak?” Sophie pasang wajah merengut. Tidak mengangguk. Dhoeeng…

Tentu saja, Papa patah hati pas saya ceritakan percakapan ini. Papa tidak terima anak gadisnya bilang sayang sama pengasuhnya, tapi diam saja waktu ditanya apakah sayang sama beliau, papanya sendiri. Saya cuma bisa nyengir. Lha bagaimana lagi, interaksi Sophie dengan Bu Atik memang lebih intens dibanding interaksi dengan Papa. Senin sampai jumat jam 8 sampai jam 4 vs weekend only. Gak sebanding, Pa.

Efeknya adalah, Papa jadi lebih total berinteraksi dengan Sophie, termasuk secara lesan bilang klo belisu sayang sama Sophie. Ya namanya batita ya, belum paham ungkapan sayang melalui tindakan. Tahunya ya dari bahasa lesan. Nah, weekend kemarin ini Papa tidak bisa datang. Sophie yang ngerasa kehilangan Papa minta telpon Papanya melulu. Dan Sophie tidak mau menelpon orang lain selain Papa. Mulai kangen ini ceritanya ya Nak.

Dan yang melegakan adalah percakapan kami hari sabtu lalu.

“Sophie, minggu ini Papa tidak bisa datang, lagi di Jakarta. Sophie mainnya sama Mama ya” Sophie pasang wajah manyun dan mengangguk.

“Sophie pengennya sama Papa ya? Kangen sama Papa?” Mengangguk lagi

“Sophie sayang sama Papa Nak?” Sophie mengangguk. Dan saya bisa merasakan papa bersorak diujung sana. Dan seperti yang saya bicarakan tadi, sejak itu sesorean Sophie maunya telpon papa melulu. She’s a little bit like me, cenderung posesif klo sudah menyayangi sesuatu, hahaha…

Jadi Papa, dari pada patah hati melulu mending optimalkan kesempatan yang ada buat membangun bonding sama gadis kecil kita, yang makin lama makin besar dan makin mengerti ini lhoooo

PS: Itu foto jaman Sophie belum genap sebulan.

Advertisements