sophiesibatita

Mini Me is 19 Months Old

Beberapa waktu yang lalu kami ke mall. Saya memanggil Sophie dan menunjukkan CD Barney yang ada di etalase. Sophie langsung lari, gak melihat kaca dan dahinya kejedot kaca. Dia cuma meringis sambil memegang dahinya, sambil bilang, “Maaaa…..”

Asli, rasanya ngilu tapi pengen ngakak melihatnya seperti itu. Just like me yang sering kejedot ini itu dan memar dimana-mana. Hahaha.

Oh iya, mulai mandiri. Mandi sendiri. Beneran ini, Sophie sudah tidak mau saya mandikan. Setelah masuk ember, sebelum saya membantunya mandi, Sophie sudah menepis tangan saya sambil menunjuk ke luar kamar mandi. Menyuruh saya menunggunya di luar. Karena belum bisa sabunan secara bener dan membilas dengan baik, biasanya saya turun tangan di akhir, membereskan ritual mandinya, hihihi….

Love you, Sophie kecil.

Advertisements
sophiesibatita, tan

Love This Girl

Ceritanya, Sabtu kemarin kami ke Gramedia. Pas lewat rak VCD-DVD Sophie terpaku menatap layar kaca. Beneran bengong menyimak film yang tertayang disana. Backyardigans, ternyata. Dan Sophie beneran gak mau geser dari depan monitor itu sampai filmnya habis.

Yo wis lah, kami memutuskan untuk membeli satu VCD Backyardigans buat Sophie. Kami memilih episode Catch the Butterfly – the Giant Problems. Sesuai prediksi, Sophie suka sekali menontonnya. Terutama, pas Uniqua dan Tyrone memanjat tebing, lalu meluncur turun sambil bilang “O ooo”. Hahaha, kocak deh liat Sophie yang kegirangan menonton adegan itu. Sophie juga suka bagian nari-narinya. Ikutan nari tentunya. Muter-muter badan, tekuk-tekuk tangan dan miringin badannya ke kiri dan ke kanan. Rasanya gak percaya Sophie sudah besar dan bisa melakukan sesuatu yang mamanya jelas gak bisa, hahaha….

Nah, klo Sophie suka yang adventurous di Catch the Butterfly, saya sukaaaa sekali sama si Tasha. Aaah, hippo girl ini lucu sekali. Imut. Sikapnya yang centil, ramah dan ceria, juga nyanyian dan narinya hillarious deh. Saya baru nonton satu episode Backyardigans yang ada Tasha-nya, tapi saya beneran sudah jatuh cinta sama dia. Hihihi, love this hippo girl.

PS: gambar ambil dari google ya, tentu saja

sophiesibatita

Just Like Me

Papa sering sekali berkomentar kalau Sophie itu mirip banget sama saya. Kalo saya wadul Sophie begini Sophie begitu, seringnya Papa menimpali, “Kaya Mama, persis”

Nah, habit Sophie yang sekarang membuat saya ketar-ketir setiap pagi adalah tidurnya yang nyebelin. Sophie sekarang mulai tidur jam 9-10 malam. Sebelumnya, dia sibuk nonton film favoritnya, sambil jumpalitan di kasur *dooh,belajar dari mana sih salto-salto bgitu Nak*, mengoleskan minyak telon dan menaburkan bedak di perut saya. Bangun paling cepat jam 7. Nah, ini yang membuat senewen. Saya harus sudah di kampus jam 8. Jadi ya dalam 60 menit itu saya harus memandikan dan menyiapkan plus mengantarkannya ke TPA. In rush!

Saya sudah berusaha untuk membuat Sophie tidur lebih awal. Mematikan lampu, memasang lagu yang meninabobokkan nadanya, ngeloni, tapi tetep saja tidurnya malam. Dia lebih suka bermain-main, baru menyerah setelah benar-benar ngantuk. Pernah lho, Sophie tertidur pas lagi duduk di depan laptop nonton Winnie the Pooh!

Ternyata yaaa, kelakuan saya yang suka menunda-nunda tidur karena lagi seru melakukan sesuatu terus gak bisa melek keesokan harinya itu menyebalkan buat orang lain ya! Maaf, Papa….

bercocoktanamjamur, sophiesibatita, tpa

Bulan Kedelapanbelas Sophie

Sudah satu setengah tahun saja ya ternyata. Time fly fast. Tahu-tahu anak saya sudah besar.

Siang tadi kami nonton video kegiatan PAUD/TPA Sinar Mentari tahun kemarin. Melihat beberapa scene Sophie yang masih ndut. Sophie si bulettt yang sekarang jadi si kuruss. Eh, berat badan Sophie ya? yaaa, tergantung dari timbangan mana yang digunakan. Antara 8,2-8,6 kg saja. I am not a big fan of fatty toddler. Jadinya saya gak panik melihat perkembangan BB Sophie yang sepertinya stuck di angka 8 ini sejak 11 bulan yang lalu. Khawatir ada sih, tapi saya melihat Sophie sehat, pola makannya tidak terlalu buruk. Berpikir positif saja energinya dikerahkan untuk meniru kelinci yang lari kesana-kemari saja.

Sophie is being in love with Piglet. Suka ketawa geli setiap kali melihat Piglet. Betaaah banget klo lagi nonton Winnie the Pooh. Dua minggu terakhir ini Sophie memang jadi penikmat DVD banget. Lha bagaimana tidak akrab sama DVD, lha wong selama 2 minggu gak masuk TPA. Di rumah melulu, akhirnya ya DVD lagi DVD lagi.

Dua minggu yang lalu TPA Sophie diliburkan selama seminggu karena ada kasus varicella. Eh, dasar rejekinya Sophie buat di rumah ya, minggu depannya pas mulai masuk Sophie malah sakit mata. Ya jelas ditolak masuk sama pengelola TPAnya ya. Gak tanggung-tanggung, harus sampai sembuh baru boleh masuk. Yang ada ya saya panik menghadapi kondisi darurat tersebut. Awal Maret kemarin saya mulai masuk lab, yang waktunya gak bisa dinego dan setiap perubahan akan berefek untuk jangka panjang. Tapi yah, apa mau dikata. Saya harus merelakan beberapa jamur saya kadaluarsa, menunda penanaman jamur baru, wis lah, pokoke mundur semua. Buat Sophie, gak apa-apa 🙂 Untungnya ada Papa yang hebat banget bisa menyempatkan diri momong Sophie diantara semua pekerjaannya, bolak-balik Jakarta-Purwokerto-Surabaya. Love you Papa :*

Tumbuh sehat dan ceria Sayang yaaaaaa

sophiepapa, sophiesibatita

A Story of A Weekend Papa

Jadi, interaksi antara Sophie dan Papa baru bisa dibilang lumayan akhir-akhir ini. Sophie lahir ditunggui Papa sampai sebulan, lalu ditinggak ke Bangkok dan baru ketemu lagi setelah berumur 6 bulan. Setelah itu ketemu lagi di usia 9 dan 12 bulan. Sejak Sophie 14 bulan mulai rutin, paling tidak setiap akhir pekan Sophie menikmati keberadaan papa di dekatnya.

Duluuu banget di umur 6 bulan, Sophie belum begitu ngeh dengan keberadaan orang baru. Jadi dia nyaman-nyaman saja dan mau langsung diajak papanya. Nah, di umur 9 dan 12 bulan Sophie mulai notice keberadaan orang baru. Dia awalnya ramah sama papanya, mau senyum, salim dan seterusnya. Tapi, dua jam kemudian Sophie mulai terganggu dengan keberadaan papanya, mungkin dia berpikir -kok orang ini tidak kunjung pergi sih, mengganggu mama dan Sophie saja-. Dan, mulailah episode gak mau sama papa. Nangis setiap kali mau digendong papa. Stress lah si Papa. Dan, papa tambah stress karena Sophie juga nangis setiap kali papa menyentuh mama. Lengkap ya penderitaan papa, gak bisa menyentuh anak dan istrinya sendiri! Untung kondisi ini cuma bertahan selama 2 hari saja.

Setelah rutin ketemuan, semakin lama masa penolakan Sophie semakin berkurang. Klo pendekatannya tepat Sophie mau langsung ikut Papanya. Sekarang sih kayanya sudah gak ada masalah penolakan di awal ketemu ya. Legalah si Papa, anak gadisnya sudah mau sukarela mencium-cium pipinya setiap kali datang.

Nah, derita Papa yang baru dimulai minggu kemarin. Siang itu saya menjemput Sophie, dia pas pamit sama Bu Atik, pengasuhnya di TPA, dengan cara yang amat heboh. Salim, cium pipi Bu Atik, lalu dada-dada dan kiss bye. Semuanya dengan senyum lebarnya. Sambil berjalan pulang saya mengobrol dengan Sophie. Menanyakan harinya di TPA. Standar sih.

“Tadi makannya pinter tidak?” Sophie mengangguk.

“Minum susunya banyak ya?” Sophie mengangguk lagi.

“Tidur siangnya lama?” Sophie merengut sambil pasang tampang mau nangis. “Ooooh, tadi Sophie tidak mau tidur siang ya. Sekarang ngantuk?” Dia mengangguk kecil.

“Eh, tadi main seru sama Mbak Nanda dan Bu Atik ya?” Sophie mengangguk. “Sophie suka main sama Bu Atik?” Mangangguk lagi. “Hmmm, Sophie sayang sama Bu Atik?” Sambil tersenyum, Sophie mengangguk. Yakin sekali jawabannya.

“Mama bangga sama Sophie, Sophie tadi pinter di TPA ya” Sophie tersenyum, mengangguk lalu mendongak untuk mencium pipi saya.

“Terima kasih Sayang, mama juga sayang sekali sama Sophie”. And I kissed her.

I love her, a lot 🙂

“Sayang, besok Papa datang lho, Sophie senang papa datang?” Sophie mengangguk. “Nanti kita main bertiga yaaa” Diapun tersenyum.

“Sophie sayang Papa Nak?” Sophie pasang wajah merengut. Tidak mengangguk. Dhoeeng…

Tentu saja, Papa patah hati pas saya ceritakan percakapan ini. Papa tidak terima anak gadisnya bilang sayang sama pengasuhnya, tapi diam saja waktu ditanya apakah sayang sama beliau, papanya sendiri. Saya cuma bisa nyengir. Lha bagaimana lagi, interaksi Sophie dengan Bu Atik memang lebih intens dibanding interaksi dengan Papa. Senin sampai jumat jam 8 sampai jam 4 vs weekend only. Gak sebanding, Pa.

Efeknya adalah, Papa jadi lebih total berinteraksi dengan Sophie, termasuk secara lesan bilang klo belisu sayang sama Sophie. Ya namanya batita ya, belum paham ungkapan sayang melalui tindakan. Tahunya ya dari bahasa lesan. Nah, weekend kemarin ini Papa tidak bisa datang. Sophie yang ngerasa kehilangan Papa minta telpon Papanya melulu. Dan Sophie tidak mau menelpon orang lain selain Papa. Mulai kangen ini ceritanya ya Nak.

Dan yang melegakan adalah percakapan kami hari sabtu lalu.

“Sophie, minggu ini Papa tidak bisa datang, lagi di Jakarta. Sophie mainnya sama Mama ya” Sophie pasang wajah manyun dan mengangguk.

“Sophie pengennya sama Papa ya? Kangen sama Papa?” Mengangguk lagi

“Sophie sayang sama Papa Nak?” Sophie mengangguk. Dan saya bisa merasakan papa bersorak diujung sana. Dan seperti yang saya bicarakan tadi, sejak itu sesorean Sophie maunya telpon papa melulu. She’s a little bit like me, cenderung posesif klo sudah menyayangi sesuatu, hahaha…

Jadi Papa, dari pada patah hati melulu mending optimalkan kesempatan yang ada buat membangun bonding sama gadis kecil kita, yang makin lama makin besar dan makin mengerti ini lhoooo

PS: Itu foto jaman Sophie belum genap sebulan.