Mama, Papa, Sophie, Syafiq

Square One

There’ s a time for anything, i believe. There was time when my world was spinnned around science writing, when Carl Zimmer, Ed Yong, and Atul Gawande occupied my mind (while it wasn’t busy with my primary business, of course). I had so many plans related to this in my mind, somehow none of actions i took then. I am wondering, was i that busy with science writing, or, was i busy imagine it?

After a while i’ve been busy with rumahliliput-hypes only, it finally comes a time when i have a lot of free time to do anything outside that hypes. Those long sleepless nights provided me time to do things useless, of course. Do you know what i do with those times? I stalk. Yes, i stalk in my long sleepless nights. Thank to Instagram (and Twitter, too. Old habit never dies, i guess).

Recently, i found instagram’s account of one i admired for her creativity and struggle to reach her dream. No, i won’t mention her name here.

I catched years since the last time i stalked her in her instagram’s post. She’s just as sweet as she was. She’s just enganged to man with a familiar family name to my ears. And just like that, my stalking journey has officially begun.

I knew that she came from a formal family. Her parents were state officers, and she took a very different path than her parents’. Somehow it’s clear from very beginning that she was raised in a family where education is the first priority. She waited until she was graduated from School of Law before she spreaded her wings, flew away and be who she is known today.

I stalked her family with the help of google. Yes, their formal background would not let his parents possessing instagram account, I guess. Oh, they are retired and her mother run a flower shop.

Sure I was not stop with that. I stalked his fiance, whose big family name. Oh, so he is an aspiring director, a runner, and the our typical of future family man. Lovely.

And so stalked that famous family name. There are television person, actor, restaurateur, philanthropist, and environmentalist there. They love and support each other, i can feel the warmness anytime i look at their pics and read their storiea. They love sports, even the father in his 70s recently participated in a half marathon!

***** **** *** ** *

OK, so, what did you get from this stalking, Tanti?- you may ask.

After did all those stalkings, i realize that family is one’s square one. Yes, FAMILY IS ONE’S SQUARE ONE, i repeat it in capitals. It is the very place where we start, which define our basic color, and eventually where we will come back to, no matter how far we have traveled.

Yes, i know, i am pretty much what my family is. Maybe you see some differences on the surface, but underneath, yep, no need to be discuss further. In my position right now, it doesn’t matter anymore. I accept it, i am good with it.

This rises a question, the essential one. Has i set a family that condusive enough for Sophie and Syafiq to grow to their optimum potency?

Advertisements
Syafiq

My Breastfeeding Story (part 2)

Bagian pertama dari kisah ini sudah saya tulis di sini sekitar enam tahun yang lalu, tentang apa yang saya alami bersama Sophie. Saya tergerak menuliskan bagian dua dari cerita ini karena dua alasan. Yang pertama, Syafiq sekarang sudah satu tahun, yang berarti bahwa separuh perjalanan menyusui sudah kami lalui. Bagi saya, hal ini merupakan salah satu milestone yang perlu catatan tersendiri. Yang kedua, nyinyiran dari Pak Suami tentang betapa tidak berimbangnya saya dalam mendokumentasikan masa bayi Sophie dan Syafiq. Kalau jaman Sophie, segala hal ditulis di blog, bahkan sampai hal-hal remeh temeh pun ada. Giliran jaman Syafiq, sepi tanpa dokumentasi. (Yaaa, kalau dicarikan alasan, ya, pasti ada alasannya. Tapi saya tidak mau membahas itu sekarang. Yang ada malah saya batal menuliskan cerita utamanya, nanti).

Kata orang, pengalaman pertama adalah yang paling sulit. Dalam konteks hamil dan menyusui anak-anak saya, saya mengamini hal itu. Alhamdulillah saya dimudahkan dalam menyusui Syafiq. Keseluruhan ceritanya bisa dibilang minim drama. Tidak jauh berbeda dengan saat saya hamil Syafiq dulu, dibandingkan saat hamil Sophie, yang pernah saya tulis di sini.

Iya, dalam menyusui pun demikian. Saya lebih santai menjalaninya, tidak ngoyo lagi.

Sesaat setelah lahir, Syafiq mendapatkan IMD yang tidak standar. Ya, IMD-IMDan, lah. Tapi, ya, tetap saya syukuri. Setidaknya kami sudah mencobanya, bukan? Masalah pertama yang saya temui setelahnya adalah inverted nipple. Masalah yang sudah saya prediksikan. Kami berhasil mengatasinya dengan menggunakan spuit injeksi yang dibalik untuk menarik si nipple keluar.

Alhamdulillah di episode kedua ini saya tidak ketemu kasus sore nipples yang parah dan mastitis. Perlekatan Syafiq alhamdulillah sudah baik sejak awal, tidak seperti kakaknya yang harus diajari untuk membuka mulutnya lebar-lebar setiap kali akan menyusu. (Ya ampun, ternyata si Sophie sudah sok princessy sejak lahir, ya. Mau minum saja sok pake jaim buka mulutnya 🙂 ).

Saya sering mendengar bahwa bayi laki-laki itu minumnya kuat. Ternyata, hal itu tidak berlaku untuk Syafiq. Syafiq itu model anak yang minumnya sedikit-sedikit. Model minum-main-minum-main-minum begitu, deh. Sampai sekarang, pola minum Syafiq masih seperti itu, yang efeknya seringkali memunculkan komentar-komentar tidak penting (yang saya abaikan juga, sih).

Untuk urusan perintilan ASIP, Purwokerto telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Dulu jaman Sophie, saya membeli kebanyakan barang yang saya butuhkan secara online. Sekarang, semua hal, mulai dari pompa ASIP, botol tutup karet, sterilizer, ice bag dengan berbagai rentang harga, sampai kantong plastik ASIP pun bisa saya dapatkan di sini. (Sedang mencari perintilan ASIP di Purwokerto? Saya merekomendasikan Wijaya dan Isabel).

Saya menggunakan pompa Avent Phillip manual. Sejauh ini saya puas dengan performanya. Saya mulai menyimpan ASIP sejak Syafiq berumur tiga minggu, masa di mana produksi ASI sedang jaya-jayanya. Lumayan, saya bisa menabung cukup banyak ASIP.

Stok ASIP aman terkendali sampai ketika Syafiq berumur 7 bulan. Sejak saat itu, saya defisit 3-4 botol setiap minggunya. Kondisi menjadi mengkhawatirkan ketika saya mengalami kecelakaan 1,5 bulan yang lalu. Saya tidak yakin apakah obat anastesi mempengaruhi produksi ASI, yang jelas saya berada pada kondisi produksi minim beberapa hari setelahnya.Tangan kanan saya yang praktis tidak bisa digunakan untuk memompa ASIP membuat saya belajar hanya menggunakan pompa dengan tangan kiri saya. Usaha yang tidak berjalan dengan baik. Saya tidak bisa mengeluarkan ASIP dengan tuntas, yang berefek menurunnya produksi ASI secara perlahan. Sudah enam mingguan ini saya defisit belasan botol susu setiap minggunya. Sekarang, saya sudah memensiunkan freezer 5 rak saya. Stok ASIP yang tinggal seiprit saya simpan di freezer kulkas dua pintu saya. (Btw, adakah yang membutuhkan freezer Sharp 5 pintu? Kondisinya baik, dan baru saya gunakan selama hampir setahun. Kalau berminat, silakan kontak saya).

Sekarang, stok ASIP yang saya miliki minimalis adanya. Tapi, seperti yang sudah saya sampaikan di atas, saya yang sekarang jauh lebih santai dalam menghadapi masalah persusuan ini. Kalau misalnya stok saya benar-benar habis, ya, tinggal beli UHT saja untuk menambal kekurangannya. Saya tidak terlalu memikirkannya.

Eh, tadi saya menyinggung tentang Syafiq yang menyusunya tidak begitu kuat dan komentar-komentar miring yang diakibatkannya, kan, ya. Jadi begini, postur Syafiq itu petite. Kalau di kurva tumbuh kembang bayi, ya, posisinya di bawah, di area kuning menjelang merah. Selain gen dari saya dan selera makannya yang angin-anginan itu, saya menduga konsumsi susu Syafiq yang cimit-cimit itu juga memberikan andil bagi posturnya yang imut itu. Orang lain pun juga memiliki pikiran yang sama, dan mengungkapkannya dengan bahasa yang mengganggu saya, semacam,

Susu Mama Syafiq kurang bagus, ya? Kok Syafiq kurus sekali, tidak seperti Mbak Sophie dulu?

Oh, people.

Menutup post ini, ada foto si anak yang berulangtahun yang ingin saya bagi. Si pipi menul-menul (yang diklaim Mbah Sainah sebagai buah dari ide kreatifnya menyuapi Syafiq dengan nasi yang lebih berkontribusi bagi pembentukan masa pipi dibanding bubur)

img_20161230_085114
our todller!
Mama, Papa, Syafiq

Delivering Baby Syafiq

H-3. Saya mendapati penampakan lendir darah untuk pertama kalinya. Tanpa Braxton Hicks sama sekali. Oh, well, kita akan segera bertemu, Syafiq.

H-2. Mulai ada kontraksi, tapi masih jarang sekali. Paling dalam sehari-semalam tidak sampai 10 kali. Lendir darah kembali muncul. Saya mulai melihat kembali tas yang akan dibawa ke RS, mengecek apakah isinya sudah lengkap, sesuai dengan yang saya rencanakan. Mulai deg-degan, teringat drama-drama semasa melahirkan Sophie dulu.

H-1. Saya tidak bisa tidur karena gelisah akibat kontraksi yang sebenarnya belum sering-sering amat. Gelisah membayangkan apa yang akan saya alami beberapa jam (atau beberapa hari) ke depan. Gelisah memikirkan apakah persalinan kali ini akan berbeda atau mirip-mirip dengan apa yang saya alami saat melahirkan Sophie. Gelisah memikirkan akankah saya cepat beradaptasi terhadap peran baru sebagai ibu dari dua anak. Gelisah untuk banyak hal.

Dalam rangka memanfaatkan waktu melek-gelisah tersebut, saya menyelesaikan beberapa pekerjaan. Jam 2 pagi, karena kontraksi mulai teratur walaupun masih setengah jam sekali, saya langsung mengirimkan pekerjaan-pekerjaan tersebut pada pihak-pihak yang bisa mem-follow up-inya. Saya mencoba tidur.  Gagal, tentu saja. Kontraksi terus terjadi dan jaraknya semakin dekat. Saya sama sekali tidak berhasil memejamkan mata malam itu.

Seiring berjalannya waktu, kontraksi yang terjadi semakin dekat satu sama lain. Di pagi hari, kontraksi mulai berjeda waktu sekitar 6-7 menit sekali. Setelah menitipkan Sophie pada Bu Sainah, jam 9 saya dan suami berangkat ke RS. Setelah diperiksa, ternyata saya masih bukaan 1. Melihat sejarah melahirkan Sophie yang lamaa banget bertahan di bukaan 1, bidan jaga menyarankan agar kami pulang dan menunggu di rumah. Kami menurut.

Kami pun pulang ke rumah dan disambut Sophie dengan pertanyaan kok cepet-banget-pulangnya-mana-dedeknya. Kontraksi masih tetap saja, sekitar 5 menitan, tapi durasinya pendek-pendek. Sepagian itu saya di rumah saja bersama Sophie, bergelung di sofa sambil meringis-ringis saat kontraksi tiba, yang mana interval durasinya bertahan di rentang waktu yang sama. Btw, Pak Suami masih sempat berangkat ke kampus sebentar, lho, hari itu.

Siang harinya, dalam rangka mempercepat bukaan (dan eneg melihat saya yang nglimpruk di sofa, mungkin) , suami mengajak saya makan siang di luar. Selesai makan, suami punya ide brilian: berjalan-jalan. Tidak tanggung-tanggung, salah satu jalan-jalannya ke Andang Pangrenan. Coba, deh, dibayangkan. Saya yang masih juga mengalami kontraksi teratur lima menitan ini basah kuyup karena keringat. Suami tega of the year beneran, deh.

Mama Sophie
Wajah-wajah sumringah menjelang detensi di Andang Pangrenan. “Ada yang bisa kami pijet, Pak?”

Singkat cerita, jam 8 malam kami kembali ke RS. Interval kontraksinya masih sama, tapi saya merasa durasinya makin panjang. Pas diperiksa, masih bertahan di bukaan 1 juga. Kata dokter jaganya, “Iya, sih, interval kontraksinya sudah lima menitan. Tapi intensitasnya belum adekuat”

Dan dokter pun menitahkan saya untuk pulang lagi. Kali ini kami tidak menurut. Saya sudah merasa lemas akibat belum tidur sejak sehari sebelumnya Lagi pula, akan sulit berpamitan pada Sophie lagi kalau kami harus pulang dulu. Kami pun buka kamar di Bunda Arif. Menunggu.

Jam setengah 12 malam, saat dicek oleh Bidan, saya menolak untuk periksa dalam. Saya merasa bahwa kontraksi yang saya rasakan masih begitu-begitu saja, maka saya berasumsi persalinan saya masih dalam tahap yang sama dengan sebelumnya, belum nambah apa-apa.

Jam 01.30, saya merasakan dorongan yang kuat untuk mulai mengejan. Oh oh. Saya mengenali sensasi ini. Enam tahun yang lalu, ketika dorongan semacam ini datang, saya buru-buru dibawa masuk ke ruang persalinan. Saya menunggu beberapa saat untuk memastikan. Saat itu interval antara satu kontraksi dengan kontraksi berikutnya di rentang 3-4 menit. OK, memang waktunya telah tiba. Saya lalu membangunkan suami (Iya, suami bisa tidur nyenyak saat itu. Lengkap dengan dengkurannya yang legendaris itu, bahkan) dan memanggil bidan. Cek dicek, sudah masuk bukaan 8. Saatnya ganti pemandangan: kami masuk ke ruang persalinan pada pukul 01.45.

Ternyata kami tidak sendirian. Ruang persalinan sebelah terisi oleh ibu muda yang sedang melahirkan anak pertamanya. Saat pertama mendengar suara-suara dari sebelah, dalam hati saya berkata, “Heboh amat, Bu. Biasa saja, kali”.

Perkataan yang membalik pada diri saya sendiri. Beberapa saat kemudiaan, saya menyumbangkan kehebohan yang tidak jauh berbeda.

Suami sudah lebih pintar dibandingkan saat persalinan pertama dulu. Kali ini, suami menyodorkan badannya untuk saya peluk saat kontraksi datang (Iya, pelukan Gorila, tepatnya. Sama sekali bukan jenis pelukan mesra). Lumayan, trik ini berhasil menyelamatkan tangan suami dari cakaran saya.

Persalinan kami dibantu oleh Bidan yang mana adalah instruktur senam hamil yang baru saya ikuti dua kali saja (Well, salah satu penyebab saya ikutan heboh di ruang bersalin, saya rasa, adalah karena saya kurang terlatih dalam mitigasi rasa sakit saat kontraksi datang. Saya hanya sempat senam hamil dua kali, sehingga sama sekali belum menghayati prinsip pernafasan yang diajarkan. Beda jauh sama jaman hamil Sophie dulu, saya rutin senam hamil sejak usia kandungan 8 bulan). Beruntung, ada suami yang rajin mengingatkan dan mencontohi: tarik nafas dalam, buang nafas pelan, lagi, lagi….

Sesi senam hamil terakhir yang saya ikuti hari Sabtu. Saat itu Selasa dini hari. Jelas Bu Bidan masih ingat dengan saya dan masalah apa yang saya sampaikan di sesi curhat setelah senam berakhir. Kata beliau, “Ayo, Bu, jangan mengulangi kesalahan yang sama. Jangan buang-buang tenaga. Miring dulu saja”.

Ada tiga bidan yang bertugas saat itu. Ketika bayi di ruang sebelah lahir, ketiganya datang untuk membantu di sana. Saya hanya berdua dengan suami. Tiba-tiba saja, saya merasakan dorongan yang luar biasa untuk mengejan. Sekuat mungkin saya menahannya. Tiba-tiba saya merasakan ada sesuatu diantara kedua paha saya. Ketika saya menyadari apa yang terjadi, yang bisa saya lakukan hanya berteriak, “Buuu, sudah lahir…”

Separuh badan Syafiq sudah di luar.

Ada dua bidan yang berlari ke kamar bersalin saya. Refleks saya berganti posisi, dari berbaring miring ke posisi standar melahirkan (Oh, hai, jahitan. Tidak terlalu senang mendapatimu). Syafiq menangis pelan setelah sepenuhnya di luar tubuh saya. Dan momen itu kembali lagi. Momen ketika semua rasa sakit saat kontraksi menghilang, berangsur-angsur bergeser menjadi memori samar.

Alhamdulillah. Pukul 02.27. 47 cm, 2,8 kg. Syafiq Hamad.

Selanjutnya, semua terasa nyaman. Mungkin nyaman bukan diksi yang tepat, tapi kira-kira begitu, lah. Tenang, damai, happy. Senyum mulai kembali ke wajah Pak Suami. Semua berjalan sebagai mana mestinya pasca persalinan: mengeluarkan placenta, IMD (yang seadanya banget, semi abal-abal) sambil menjahit robekan di bawah sana. Selesai. Semua baik-baik saja….

…. Sampai ketika tiba-tiba Bu Bidan mengatakan kalau terjadi pendarahan. Ya, saya merasakannya. Saya menciut. Saya mendapatkan beberapa tindakan untuk menghentikan pendarahan, termasuk Misoprostol. Beberapa saat kemudian, saya semakin ciut saat Bu Bidan mengatakan bahwa sebagian darah menggumpal di rahim dan perlu dibersihkan secara manual. Segera. Oh, I won’t give you the visuals, I won’t write the details. Keseluruhan yang saya alami saat pendarahan tersebut, bagi saya, lebih menakutkan dari pada proses melahirkannya sendiri (dari bukaan awal sampai Syafiq lahir, maksud saya).

Setelah momen menakutkan tersebut selesai, kami ditinggal bertiga di ruang bersalin untuk observasi. Alhamdulillah pemulihan berjalan dengan baik, tidak terjadi pendarahan susulan. Cuma, ya, efek Misoprostol bertahan cukup lama. Saya masih mengalami kontraksi hingga siang harinya. Weird, it was. I hold Syafiq in my arms but my uterus kept contracting for hours. 

Papa Syafiq
Pasca episode pendarahan. It affected him more than me, i think. He got to see the heavy bleeding and everything. *kecupPakSuami*

Jam 6 pagi, kami pindah ke kamar. Beberapa waktu kemudian, kamar perawatan kami bertambah ramai. Pak Suami menjemput Sophie, yang sedemikian exited menyambut kehadiran adiknya. Semuanya terasa nyaman, familiar, dan badan saya mulai tersadar dari eforia ketemu Syafiq: ngantuk luar biasa setelah dua malam tidak tidur sama sekali. Saya tertidur, suami juga. Sophie si kakak siaga menjaga adiknya adiknya ketika kami tertidur. Good sister, she is.

Sophie Syafiq
Sophie dan Syafiq, versi sekarang. Jelas bukan newborn lagi.  Yaa, namanya juga postingan telat, yak.

Saya terbangun dengan kesadaran baru: here I am, a mom of two. Kesadaran yang mbleber kemana-mana, yang membuat hidup saya bergulir ke dimensi baru yang keterlaluan santainya, yang membuat saya keteteran ketika cuti melahirkan habis masanya.