milestone, mrhamad, sophiesibatita, tpa

Sophie di Sana, Mama di Sini

Setelah berhasil melewati 3 minggu dengan adegan drama yang tidak terlalu dominan, akhirnya saya bisa duduk manis menuliskan boyongan Sophie ke Purwokerto. Sama sekali bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan, tetapi for a greater good we do this.
Setelah melalui pemikiran yang panjaaaaang, kami memutuskan Sophie tinggal bersama suami di Purwokerto. Awalnya saya menolak ide itu, tapi setelah mulai masuk lab bulan Maret kemarin, saya mulai berubah pikiran. Saya yang mahasiswa paruh waktu, Senin sampai Jumat jam 08,00 -16.00, dengan tambahan satu tanggung jawab di lab itu sulit untuk bisa mengasuh Sophie dengan optimal. Saya tidak bisa membagi waktu. Harus menjemput Sophie tepat waktu di TPA, menyiapkan makanan dan pakaiannya, menemaninya bermain, sambil menyisipkan jadwal ngelab dan semua persiapannya diantara jadwal kuliah rasanya kok susah sekali. Belum lagi Sophie mengalami pergeseran jam tidur, praktis setelah jam 10 malam saya baru bisa memasak endebre endebre. Intinya adalah, saya tidak bisa me-manage semuanya dengan baik. Saya kekurangan energi.

Satu hal yang saya dan suami sepakati dari awal adalah kami, terutama saya,  tidak boleh merasa bersalah atas pilihan ini. Tidak boleh menyalahkan diri sendiri dan juga menyalahkan kondisi untuk semua hal yang saya lewatkan akibat pilihan ini. Kami memutuskannya dengan sadar, dan harus siap dengan semua konsekuensinya.
Awalnya kami merencanakan untuk boyongan Sophie dua atau tiga bulan lagi, selepas ulang tahunnya yang kedua. Tapi, pas pindahan rumah kemarin itu tiba-tiba sesuatu melintas dalam kepala saya. It’s the time. Tiba-tiba saja saya kepikiran kalau mau pisahan sama Sophie ya sekarang saatnya. Setelah ngobrol sama suami, saya nambah bolos satu minggu, trial (lagi) di TPA lama Sophie dan seterusnya. And here I am now, seorang Ibu  antar-kota-antar-propinsi. Dalam satu minggu, 3,5 hari saya habiskan di Surabaya sebagai anak sekolahan, 1 hari untuk tidur di bis, bolak-balik Purwokerto – Surabaya, dan sisanya untuk bersama keluarga kecil saya di Purwokerto.
Sejak kami sepakat Sophie di Purwokerto, setiap hari saya bicara padanya. Nanti Sophie tinggal di Purwokerto ya. Sophie sama Papa, Mama di Surabaya. Sophie anak pinter minum susu kotak sama air putih kalau Mama di Surabaya. Kalau Mama di Purwokerto Sophie nenen Mama. Sophie bobok sama Papa, mandi ditemani Papa juga. Sophie nanti sekolah di Sinar Mentari lagi, bermain sama Bu Endah dan Bu Hani, sama Mbak Shofa, Mbak Kinta dan Mas Galang…. Berulang-ulang layaknya kaset rusak. Respon Sophie sih baik ya, dia selalu mengangguk. Tapi apakah anggukan itu berkorelasi dengan pemahamannya akan konsep perpisahan, itu yang saya tidak tahu.
Ketika akhirnya waktunya tiba, Sophie menunjukkan hal yang luar biasa. Ketika saya pamit di terminal, Sophie dengan sukarela pindah ke gendongan suami, salim, menyodorkan pipi untuk saya cium dan melambaikan tangannya. Tanpa tangisan sama sekali. Anak hebat, memang. Sayangnya, Papa Mamanya kurang hebat dalam mengelola perpisahan. Yang tua pada sendu dooong, hahaha…. Sampai tadi malam pun, ketika Sophie mengantar saya ke terminal untuk ke empat kalinya, responnya tetap sama. Sejauh ini saya menyimpulkan, Sophie ikhlas dengan apa yang kami jalani saat ini. Semoga.
Yang Ti Sri, kepala sekolah TPA Dr. Sutomo memang memprediksikan Sophie akan lebih mudah beradaptasi dalam proses pisahan ini. Beliau berasumsi, Sophie sudah siap untuk mengalami ujian naik kelas. *Semoga Mamanya juga siap as well*. Hal yang paling saya syukuri adalah fakta bahwa nafsu makan Sophie bisa dibilang bagus banget di masa transisi ini. Dia doyan banget masakan Papanya, rajin minta dibukain kulkas untuk ambil buah atau agar-agar, makannya pun tidak pilih-pilih *kecup Papa si Koki Handal, love you a lot :)* laporan dari TPA juga sama, Sophie makannya pinter. Alhamdulillaah… Saya memang menganggap masalah makan ini adalah hal yang kritis, mengingat dulu pas beradaptasi di Surabaya Sophie mogok makan parah, yang membuat berat badannya turun dan membuatnya lemas tidak mau beraktivitas. Bersyukur sekali episode kali ini gak ada adegan mogok makan lagi.
Progress Sophie dalam menjalani hubungan jarak jauh ini mengikuti gradien yang positif. Minggu pertama dia memanggil-manggil saya. Di TPA kalau tidak dialihkan perhatiannya ya dia akan merapal mantra, Mama, Mama, Mama…. Menjelang tidur juga menyebut-nyebut nama saya. Oleh suami, setiap kali Sophie memanggil saya akan dijawab, Mama di Surabaya. Kalau sedang cranky, suami akan menelpon saya dan membiarkan saya bicara pada Sophie. Minggu kedua Sophie sudah tidak mencari saya lagi. Setiap terbangun malam hari dia akan memanggil suami saya, mengulurkan tangan untuk minta gendong, lalu bilang “tih” kalau pengen minum air putih atau “syusyu” kalau pengen minum susu.  Di TPA, minggu kedua Sophie sudah mau langsung ikut pengasuhnya tanpa rewel, langsung salim dan dadah-dadah sama Papa. Minggu ketiga kemarin, kalau ditanya Mamanya mana, Sophie akan menjawab, Surabaya, sekolah. Huhuhuuuu, mewek saya mendengarnya…
Sophie masih menyusu, tapi terbatas weekend only. Saya sudah tidak memompa ASI lagi sejak Sophie umur 15 bulan, dan setelah saya diskusikan dengan suami kami memutuskan untuk tidak memompa ASI untuk diminumkan ke Sophie selama di Surabaya. Untuk menjaga produksi ASI, saya memeras ASI setidaknya tiga kali sehari. Memang berkurang sih, tapi it’s the option I choosed. Setiap kali menjemput saya, Sophie akan minta nenen. Dan, sepanjang jalan nenen terus. Juga dirumah, mintanya nempel saya melulu. Kalau sudah mati gaya nenen di kamar depan minta pindah nenen ke depan TV. Di depan TV mulai pegel minta pindah ke kamar tengah, dan seterusnya. Tapi bisa juga sih, Sophie 3 jam gak minta nenen sama sekali. Kalau ada saya paling sehari Sophie cuma minum 1-2 kotak UHT 125 mL.
Sekarang, mulai sabtu sore saya akan bicara layaknya kaset rusak lagi. Mama besok berangkat ke Surabaya. Sophie pinter sama Papa ya. Sophie makannya hebat, minum susunya juga banyak. Nanti ke sekolah diantar Papa, pulangnya juga dijemput sama Papa. Nanti insyaaallah Mama pulang hari Sabtu, kalau bisa Jumat ya Jumat Mama pulang. Nanti pas Mama dirumah Sophie nenen Mama, bobok dan main sama Mama dan Papa ya.
Semakin ke sini saya dan suami juga sudah lebih bisa me-manage kondisi baru ini. Hal yang paling menantang dari hubungan jarak jauh seperti yang saya alami adalah menciptakan kondisi dimana Sophie merasakan bahwa dia dicintai, sama seperti sebelumnya. Bahwa tidak ada yang berkurang dan berubah setelah saya tidak bisa lagi didekatnya setiap hari. Itulah kenapa komunikasi amat penting bagi kami ketika saya di Surabaya. Saya selalu menanyakan kegiatannya di TPA, bernyanyi bersamanya, ikut membacakan bukunya -yang saya sudah hapal isinya- dan  menceritakan apa yang saya lakukan hari ini, semuanya via telpon. Walaupun ya, lebih sering Sophie tidak meresponnya, dia lebih suka melakukan hal-hal lain yang lebih menarik daripada ngobrol dengan saya, hahaha…
Suami alhamdulillah sudah siap dan mampu menjalani peran barunya ini. Kami berbagi tentang nilai-nilai dalam pengasuhan anak dan mendiskusikannya bersama, sehingga sebisa mungkin apa yang kami terapkan pada Sophie ketika bersama suami sama seperti yang saya terapkan. Saya bersyukur bahwa suami adalah koki yang lebih baik dibandingkan saya, sehingga untuk urusan makan tidak ada yang perlu saya khawatirkan. Saya cukup memberitahu apa-apa yang boleh dan tidak boleh dimakan Sophie, lalu semuanya beres. Tidak heran kalau berat badan Sophie naik lumayan banyak sejak tinggal dengan suami. Urusan memandikan, bermain, dan lain-lain tetek bengek urusan keseharian batita juga OK dipegang suami, karena jam terbang beliau sudah tinggi. Keponakan suami sudah 12 sebelum kami punya Sophie, jadi ya tidak ada masalah.Satu-satunya hal yang membuat kening saya berkerut adalah tentang cara berpakaian Sophie. Suami orangnya sangat cuek dengan pakaian, matching dan lucu itu buat beliau adalah hal terakhir yang harus dipikirkan. Sering lho ini kejadian, atasan sama bawahan Sophie tabrak lari, atasnya warna apa bawahnya motif apa. Atau yang lebih parah, Sophie memakai dress plus celana piyama. Kata suami sih biar hangat. Ckckck…
As I saw these 21 months, tempat terbaik untuk seorang anak tumbuh adalah bersama kedua orang tuanya. Kami belum bisa memberikan itu untuk Sophie hingga saat ini. But for sure, we’ve prepared the best we can and learned the new things so Sophie can grow best, in this not-so-the-best-condition. We love you, dear Sophie 🙂

Advertisements
milestone, sophiesibatita, tpa

Sophie is 20 Months Old

Memang ya, bayi mungil yang bisa merespon pembicaraan kita dengan anggukan, gelengan dan menunjuk itu lucu banget. Tapi itu tidak sepenuhnya baik. Karena, si bayi jadi tidak terstimulasi untuk bicara. Lah, ngapain juga berusaha ngomong kalo hanya dengan 3 hal itu keinginannya sudah terpenuhi. Itulah yang terjadi pada anak saya. Sophie sudah bisa menggunakan ketiga instrumen itu dengan baik sejak umur 10 bulan. Dan sampai usia 19 bulan kemarin kemampuan bicaranya masih itu-itu saja.  Papa, Mama, nen, Pooh, atuh, udah, emoh (!).

Tapi, sejak 2 minggu yang lalu ada loncatan besar dalam penguasaan kosakata Sophie. Sekarang sudah bisa mengusir Mamanya dari kamar mandi dengan tampang sok galak, mulut dimonyong-monyongkan sambil berkata, -eluaaaaaa-. Sudah bisa memanggil dan menata posisi Papa Mamanya di kasur -Pa/Ma, ciniiiiii-, sambil tangannya menepuk-nepuk tempat yang sudah dia book untuk kami tiduri, hahaha…

Sophie juga lagi suka menirukan materi yang dia lihat di serial yang dia tonton. Teletubbies berpelukan ya dia akan menghampiri saya atau Papanya sambil bilang -hag- . Po melakukan skipping ya dia ikutan skipping ala Sophie juga. Lihat Barney memeluk teman ya dia ikutan memeluk yang ada didekatnya, juga muter-muter badannya mengikuti opening dan closing-nya Backyardigans. Hihihi, mini copy cat.

Sophie sekarang gak suka dipakein dispo. Selama di Pwt 2 minggu kemarin kami memang full pakai  dispo karena popok kain Sophie masih di Sby semua. Sulit banget dirayu untuk mau memakainya, sebelum akhirnya dia minta dilepas ketika pipis. Mungkin ini sign untuk toilet training ya. Tantangan buat kami. Kadang kami membiarkan Sophie memakai celana saja tanpa popok seperti kalau dia di TPA. Ini berarti kami harus ekstra mengawasinya, karena, entah kenapa kok Sophie mewarisi sifat gubrak-gabruk saya *dapat salam dari DNA*. Gampang bener jatuh. Ada cairan sedikit saja di lantai terpleset. Dan frekuensi berkemih anak 20 bulan itu ternyata tinggi sekali. Pegel saya ngepel melulu, hahaha…

Urusan makan, Sophie lagi dalam masa malas makan lagi. Ya ampun, susahnya membuat dia makan yang bener beberapa hari ini. Saya sungguh berharap Sophie tidak masuk dalam lingkaran gelap seperti awal pindah ke Sby dulu. Semoga tidak.

Aaaah, saya kangen si Tadut kecil. This is the first day without her, here in Sby. Meskipun saya selalu bilang saya akan kuat, saya bisa, terpisah dari Sophie, tetap saja saya mewek pas pamitan ke TPA Sophie di Sutomo tadi. Menjelaskan kenapa Sophie sekarang bersama Papanya ternyata cukup menguras emosi saya.

Stay strong. I have to stay strong for her.

bercocoktanamjamur, pwtajah, tpa

Rumah Liliput, Finally.

Awal Maret kemarin saya memulai dua pekerjaan besar menurut ukuran saya. Mulai masuk lab untuk penelitian dan mengerjakan renovasi Rumah Liliput kami. Pekerjaan besar yang pertama masih belum beranjak dari posisinya 3 bulan lalu. Masih juga mengalami kontaminasi, ditambah saya yang belum bisa konsisten mengerjakannya. Ada saja alasan untuk mangkir dari lab *termasuk saat ini, saya di Purwokerto selama 2 minggu menyusul kasus kontaminasi parah yang terjadi pertengahan bulan ini*. Untuk pekerjaan besar yang kedua, alhamdulillah, Rumah Liliput sudah selesai dan kami sudah pindah kesana 🙂

Rumah Liliput ada di Kelurahan Karang Gintung, Kecamatan Sumbang. Jadi kalau saya selama ini bilang Dukuhwaluh adalah kampungnya Purwokerto, Karang Gintung adalah pelosoknya. Jauh dari keramaian. Udaranya dingin menusuk tulang tiap pagi hari dan hampir setiap sore diguyur hujan deras. Itulah sebabnya kalau kami sudah masuk rumah malas keluar lagi. Efek langsungnya adalah, saya jadi masak setiap hari, karena untuk beli makanan jadi jauh amat jalannya, hahaha….

Kami dulu sepakat untuk membelinya saat pertama kali melihat lokasinya yang jauh dari mana-mana itu. Alasan utamanya adalah harga, sebenarnya. Sebelumnya saya sudah jatuh cinta pada cluster bernama Titik-titik Residence yang lokasinya lumayan dekat kota. Sudah niat banget pengen ngerayu suami biar mau ambil rumah disana, walopun konsekuensinya harus makan sama mendoan tiap hari selama 15 tahun, hahaha.. Tapi ketika melihat Griya Mentari, kompleks perumahan dimana Rumah Liliput berada, yang cicilan tiap bulannya hampir separuh dari cicilan Titik-titik Residence, saya langsung lupa sama cluster itu. Bodo amat jauh dari kota, toh bisa motoran kan ke kota kalo lagi butuh. Lagian, Griya Mentari dan Titik-Titik Residence itu sama-sama berlokasi di pinggir Kali Pelus lho, hahaha.

Setelah resmi mulai mengangsur, saya gak punya pikiran untuk segera pindah ke sana. Mengerjakan renovasi sambil momong Sophie kok kayanya sudah berada di luar jangkauan saya ya, gak mampu deh. Jadinya ya sudah, lama rumah itu saya telantarkan. Kadang developernya telpon saya, katanya rumahnya mbok dilihat, mumpung masih dalam masa pemeliharaan mereka, kalau-kalau ada yang harus diperbaiki. Trus, kami pindah ke Surabaya. Semakin lupa ngurus renovasi rumah deh. Ketika suami pulang, beliau juga langsung ada proyek yang mengharuskannya ke Jakarta setiap minggu. Praktis urusan renovasi rumah juga gak ada dalam prioritas beliau, wong setiap minggu sudah sibuk keliling Pulau Jawa (Purwokerto – Jakarta – Surabaya – Purwokerto). Tapi, ketika kontrakan rumah yang suami tempati hampir habis, mau tidak mau memang harus merenovasi rumah dan pindah kesana. Kepepet.

Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami dapat referensi kontraktor untuk mengerjakan renovasi tersebut. TB Valensi namanya, alamatnya kalau tidak salah di Tambak Sogra. Kenapa tidak kami mengerjakan sendiri? Karena kami memang gak sanggup kalau harus ngopeni tukang, berburu material dan seterusnya. Lagian, suami lebih suka kruntelan bertiga di Surabaya setiap ada kesempatan, dari pada mengawasi pekerjaan tukang. Mungkin lebih mahal ya total kerusakan yang dibebankan ke kami, tapi kami lebih happy dibantu kontraktor dalam renovasi ini.

Namanya angka itu memang gak bohong ya. Kecil sekali rumah tipe 36, ya sekotak gitu saja. Setelah browsing sana-sini akhirnya kami memutuskan untuk menghilangkan kamar mandi dan menjebol tembok belakang bangunan lama sehingga bangunan berkesan lega. “Berkesan”lho ya, bukan lega beneran. Lha wong cuma berapa langkah dari satu ujung bgitu sudah tamat ke ujung satunya, hahaha. Praktis Rumah Liliput ini terbuka, tidak ada separasi ruangan selain kamar mandi dan kamar tidur. Jadi dari pintu depan langsung kelihatan dapur. Semoga menstimulasi kami untuk rajin beres-beres ya.

Mengerjakan renovasi tanpa mengawasi prosesnya kadang bikin emosi juga. Saya pengennye begini-begini-begini misalnya. Tapi oleh suami diterjemahkan jadi begini-begini-begitu. Lebih parah lagi, Pak Tukang mengeksekusinya menjadi begini-begitu-begitu. Awalnya saya sepaneng lho, gak ikhlas kalau Rumah Liliput hasilnya gak sesuai dengan bayangan saya. Tapi kemudian saya mengendurkan ekspektasi saya. Saya bilang terserah suami deh detailnya. Gak masalah kalo keramik meja dapur sedikit bercorak, jendela tidak bisa diletakkan diatas kompor, teralis terlalu sepi, endebre endebre, asal tujuan utama saya tercapai. Saya ingin rumah yang lega, terang-benderang oleh sinar matahari dan sirkulasi udaranya bagus.

Alhamdulillah tujuan saya tercapai. Suami membuat plafon dapur menempel pada atap, dan ternyata langkah ini ngefek banget, membuat suasana terasa lega. Juga cermin 2 x1 m yang diletakkan di depan tangga, sama efeknya. Padahal awalnya saya ngedumel lho, ini cermin ngapain gede banget, saya kan pengennya separuhnya saja. *maaf ya Papa, kecup*

Ternyata ya, biaya renovasi rumah itu asoy sekali. Kami sudah merevisi keinginan kami lho. Awalnya pengen yang ideal, yang bagus sekalian, tapi ternyata hasil perhitungan estimasi biaya dari kontraktor sukses membuat kami pingsan barengan. Akhirnya kami reduksi sana sini, hilangkan ini itu, dan versi revisi inipun sudah sukses menguras tabungan kami. Jadinya, Rumah Liliput sekarang penampakannya mirip aula pertemuan kelurahan. Kosong melompong, cuma ada kulkas, rak buku sama TV yang dialasi kardus isi buku. Tinggal digelari tikar sudah siap digunakan untuk rembuk desa ini, hahaha.

Ya begitulah cerita Rumah Liliput kami. Semoga barokah buat kami ya, dan menjadi saksi terjadinya peristiwa-peristiwa hebat dalam keluarga kami di tahun-tahun mendatang. Amin.

Btw, now we are working another big project. Kami sedang mengadaptasikan Sophie untuk tinggal bersama Papa di sini, di Purwokerto. Membawa Sophie ke Surabaya dengan segala keterbatasan yang saya miliki saat ini lebih besar mudhorot dari pada manfaatnya. Sophie sudah latihan di TPA Sinar Mentari lagi beberapa hari ini dan so far so good lah. Nangis-nangis tentu saja, kemarin malah mogok gak mau berangkat, tapi overall saya melihatnya berjalan pada koridor yang benar. Semoga saja. I will write on this subject later 🙂

bercocoktanamjamur, sophiesibatita, tpa

Bulan Kedelapanbelas Sophie

Sudah satu setengah tahun saja ya ternyata. Time fly fast. Tahu-tahu anak saya sudah besar.

Siang tadi kami nonton video kegiatan PAUD/TPA Sinar Mentari tahun kemarin. Melihat beberapa scene Sophie yang masih ndut. Sophie si bulettt yang sekarang jadi si kuruss. Eh, berat badan Sophie ya? yaaa, tergantung dari timbangan mana yang digunakan. Antara 8,2-8,6 kg saja. I am not a big fan of fatty toddler. Jadinya saya gak panik melihat perkembangan BB Sophie yang sepertinya stuck di angka 8 ini sejak 11 bulan yang lalu. Khawatir ada sih, tapi saya melihat Sophie sehat, pola makannya tidak terlalu buruk. Berpikir positif saja energinya dikerahkan untuk meniru kelinci yang lari kesana-kemari saja.

Sophie is being in love with Piglet. Suka ketawa geli setiap kali melihat Piglet. Betaaah banget klo lagi nonton Winnie the Pooh. Dua minggu terakhir ini Sophie memang jadi penikmat DVD banget. Lha bagaimana tidak akrab sama DVD, lha wong selama 2 minggu gak masuk TPA. Di rumah melulu, akhirnya ya DVD lagi DVD lagi.

Dua minggu yang lalu TPA Sophie diliburkan selama seminggu karena ada kasus varicella. Eh, dasar rejekinya Sophie buat di rumah ya, minggu depannya pas mulai masuk Sophie malah sakit mata. Ya jelas ditolak masuk sama pengelola TPAnya ya. Gak tanggung-tanggung, harus sampai sembuh baru boleh masuk. Yang ada ya saya panik menghadapi kondisi darurat tersebut. Awal Maret kemarin saya mulai masuk lab, yang waktunya gak bisa dinego dan setiap perubahan akan berefek untuk jangka panjang. Tapi yah, apa mau dikata. Saya harus merelakan beberapa jamur saya kadaluarsa, menunda penanaman jamur baru, wis lah, pokoke mundur semua. Buat Sophie, gak apa-apa 🙂 Untungnya ada Papa yang hebat banget bisa menyempatkan diri momong Sophie diantara semua pekerjaannya, bolak-balik Jakarta-Purwokerto-Surabaya. Love you Papa :*

Tumbuh sehat dan ceria Sayang yaaaaaa

babysophie, milestone, tpa

Bulan Kesembilan Sophie

Tanggal 4 kemarin Sophie genap berusia 9 bulan. Sudah besar. Sudah memulai babak mingkem melulu pas disuapi. Juga mulai menunjukkan sisi drama queen dalam dirinya. Ah, you really grow my dear Sophie….

Sudah 2 mingguan ini Sophie mingkem melulu kalo disuapi. Terutama, klo saya yang menyuapi. Walaupun sudah ganti menu, sudah sambil gendongan dan mengejar kucing, sudah ganti mangkok, tetep saja. Hari minggu yang notabene kami cuma berdua saja sharian, praktis Sophie makannya sedikit sekali. Hari minggu lalu, Sophie cuma mau sarapan tim roti 3 suapan disambung bubur jagung 3 suapan juga, makan siang rapet mingkemnya liat sendok tapi mau minum jus pear, lalu sore mau disuap beberapa cowelan roti tawar. Tapi, so far saya masih belum terlalu khawatir dengan ilmu baru dalam bidang kunyah mengunyah ini. Sifatnya masih on off. Klo minggu ogah makan ya Senin lumayan lah mau makan. Klo di TPA sama gurunya juga lumayan mau. Dan skarang, andalan saya Mb Nur. Klo Sophie sibuk tolah-toleh sana-sini sampai lupa membuka mulutnya pas sarapan, saya akan mengoper Sophie ke Mb Nur. Gara-gara hal ini, Sophie sekarang ogah duduk pas makan. Mintanya gendong. Dan makan sambil mengejar kucing sepanjang gang. Huhuhuuu, PR banget ini untuk kembali membawa Sophie ke cara makan yang benar.

Semakin kesini semakin terlihat klo selera makan Sophie lebih mirip saya dibanding Papanya. Lebih suka ayam dari pada sapi. Lebih lahap makan wortel daripada kangkung. Dan, Sophie loves spices! Bawang bombai, daun bawang, daun salam dan seledri wajib ada dalam setiap buburnya. Klo sop, Sophie suka sedikit merica dan daun jeruk. Ala pepes, Sophie senang aroma laos dan sereh. Kemangi belum mencoba. Kata suami, kok mirip orang Thailand to suka rempah-rempah kaya bgitu. *Well, kan Sophie made in Thai Pa, hahahaha*. Bulan ini agenda perkenalan makanan barunya adalah ikan air tawar. Tadi saya sudah beli gurameh, tinggal nanti sore ditim dan diliat gimana responnya.

Sudah 5 hari ini Sophie nempel banget sama saya. Susah banget ikut orang lain. Begitu saya mendudukkannya di kasur TPA dan Bu Guru mau mengambil alih, langsung deh tangannya memegang erat kerudung saya. Memeluk saya, menepis tangan gurunya. Klo dipaksa digendong Bu Guru, langsung mewek deh. Mana nangisnya menyayat hati bgitu. So far cuma Bu Endah yang sukses bisa mengambil alih Sophie dari gendongan saya tanpa adegan nangis bombai. Tapi oh tapi, begitu saya gak kelihatan lagi, Sophie lupa deh sama emaknya. Mulai biasa lagi, bermain dan ktawa-tawa lagi. Ckckck, drama quenn banget deh.

Tentang merangkak, sepertinya Sophie mengikuti Papanya. Sampai sekarang gak ada sign sama sekali klo Sophie mau merangkak. Sekarang sukanya malah diberdirikan sambil berpegangan. Duduknya sudah kokoh. Suka sekali tepuk tangan. Melempar barang. Dan tunjuk-tunjuk. Tetapi klo menunjuk jari telunjuknya belum keluar ya, masih menggunakan kepalan atau seluruh jarinya.

Untuk masalah minum, akhirnya saya memensiunkan dini sippy cup Sophie. Sophie sudah ogah minum pakai sippy cup. Botol apa lagi. Sekarang minum air putih langsung dari cangkir, susu disendoki. Di satu sisi saya bahagia, Sophie sudah bisa lepas dari botol dengan mudah. Tapi di sisi lain saya khawatir. Konsumsi susunya seret banget sekarang ini. Paling di TPA maksimal menghabiskan 200 mL. Itu sudah juara banget mau 2 botol. Syukurnya, untuk minum langsung dari dispensernya Sophie masih kuat. Makanya sekarang siang saya nyusul Sophie ke TPA, agar Sophie bisa minum langsung. Malam sih jangan ditanya. Nyusu melulu, bangun tiap 2 jam.

Tidurnya masih tetap sepertibulan kemarin. Well, Mama loves you Dear, a lot…