jalanjalan, ume

Selamat Bangun, Tanti

 
Kembali ke hidup normal. Kembali pada rutinitas harian.

Si Sophie mogok makan lagi.

Si Mama ketiduran di kelas lagi.

Ah, somethings just never change ya, hahaha…

Btw, I am so thankful for this last 10 days. Good laughs, good foods, good movie, nice traveling time, a very nice togetherness. Assisten handal di rumah buat nyapu nyuci dan ngepel, baby sitter jagoan, teman kencan istimewa. Aaah, you are that great, Hubby.

We love you, a lot..

Fly fast, time. Pengen loncat ke tanggal 2 Desember saja rasanya.

Advertisements
babysophie, surabaya, ume

Welcome, Surabaya

Gadis kecilku,

Ada apa dengan dirimu? Kenapa gak nyaman di TPA? Kenapa nangis melulu? Dimanakah senyum ceriamu? Dimanakah wajah penasaranmu yang lucu itu? Mama ikut menangis melihatmu menangis seperti itu. It looks like I made a bad decision for you. And it really breaks my heart.

Suamiku sayang,

Semoga dirimu selalu sabar mendengarkan keluhanku. Maaf, sepertinya di sini musim mengeluh lebih kenceng dari musim hujannya. Semangat yang sedari awal sudah terkumpul ternyata tidak cukup kuat untuk membuat adaptasi ini menjadi mudah. Manajeman yang parah. Manajemen waktu, semua tanggungan yang harus Mama kerjakan sepertinya tidak bisa selesai dalam 24/7. Call me spoil or something, tapi Mama sepertinya tergantung pada Mbak Nur selama ini. Gak kebayang klo bebersih rumah *yang sekarang cuma seuprit*, masak buat Sophie dan mencuci popok Sophie sambil beraktivitas di kampus dan mengasuh Sophie setelahnya secapek ini rasanya. Belum 2 minggu, badan Mama sudah protes. Capek to the max. Badan yang mulai renta inipun mulai demam dan pegel gak karuan. Terus semua rasa frustasi atas kondisi Sophie serta manajemen waktu yang berantakan tadi sukses membuat stok ASIP menipis. Dalam seminggu defisit 6 botol! Minta doanya Pa, semoga Sophie nanti mudah menerima UHT, in case Mama tak mampu memperbaiki manajemen ASI dan ASIP Mama mencapai kondisi BEP or ever worse, defisit.

ume

Dren, Obrolan Menjelang Tidur

Semalam untuk pertama kalinya sejak Papa balik ke Bangkok kami berhasil chat. Perbedaan waktu sholat yang menjadi penyebab tidak bisa ketemunya kami di malam hari. Biasanya saat suami selesai taraweh saya sudah tidur nyenyak. Ya iyalah, jam 10 an baru sampai apartemen. Ternyata semalam Papa pulang gasik karena gak ikut sholat taraweh berjamaah di masjid KBRI. He went to Cinema. Ck ck ck.

Jadilah kami membicarakan film yang baru saja ditonton Papa. Splice. Saya sempat mengintip di imdb, temanya lumayan menarik bagi saya. Otak-atik DNA yang kebablasan dan akibatnya. Saya pun menanyakan pendapat Papa. Kata beliau, lebay. These are what that lebay for: dua ilmuwan menciptakan hibrida manusia-binatang, membesarkannya dengan ‘mudah’, ilmuwan pria meniduri Dren si hibrida yang cepet banget tumbuhnya, lalu Dren berganti jenis kelamin dan memperkosa ilmuwan wanita, trus Dren dibunuh oleh keduanya.

Saya yang nyinyir inipun gakĀ  tahan untuk gak komentar. DNA dari binatang apa saja yang digabungkan untuk mendapatkan Dren. Papa berpendapat ayam, simply karena kaki Dren mirip ayam. Klo kata saya sih mirip dinosaurus hahaha… Saya bilang pasti ada DNA siput yang menyumbangkan sifat hermaprodit Dren. Ajaibnya, suami dan teman-temannya berpikir bahwa perubahan jenis kelamin tersebut akibat terjadinya sexual intercourse sama ilmuwan pria, whew… Trus, burung karena kata Papa sempat tumbuh sayapnya. Kalajengking juga ya, karena punya sengat beracun yang sakti mandraguna itu. Dan entah kenapa saya berpikir ada gen babi ato kuda di diri Dren, hahaha…

Ngomong-ngomong, saya kurang suka dengan endingnya. Terlalu lazim. Yang menabur benih menuai badai. Dren dibunuh penciptanya sebagai bentuk tanggungjawab. Si ilmuwan pria mati, yang wanita hamil. Biasa. Imajinasi saya mengatakan akan lebih berasa bila endingnya Dren mati by nature saja. Kan diceritakan perkembangannya cepat sekali, so bisa diterima nalar klo matinya juga cepat. DNAnya gak mau direplikasi lagi, bgitu. Ending model itu juga bisa menunjukkan sebatas mana kuasa manusia, any way.

Ah, pengen nonton juga. Kapan ya ketemu DVDnya?

PS: Saya salah konsep tentang hermaprodit, ternyata. Terlalu erat memegang hapalan sejak SMA klo contoh hewan hermaprodit itu ya siput. Padahal, hermaprodit itu ada 2, sekuensial dan simultan. Siput adalah contoh yang simultan, yang mana punya 2 set organ kelamin pada waktu yang bersamaan. Klo yang terjadi pada Dren itu masuknya ke yang sekuensial, yang awalnya cewek terus berubah jadi cowok atau sebaliknya. Klo pada hewan, aktualnya terjadi pada kerang. Baca sendiri gih di sini.

ume

Tahun Kedua Kami

Sore itu, wajah saya memerah. It was the first day I met him. Saya dan seorang teman datang ke kost-nya. Teman saya ada perlu dengannya, saya mau menjahitkan baju pada ibu kost-nya. Sesaat setelah kami duduk di ruang tamu, si teman berbisik pada saya yang sedang bengong melihat kendaraan lalu-lalang di depan. “Tanti gak ngeliat ya barusan? Pak Alwani cuman pake handuk doang. Lucu”. Singkat cerita, akhirnya saya bertemu dengannya. Sepanjang pertemuan itu saya geli sendiri dengan bayangan bagaimanakan bentuknya dalam balutan handuk saja. Dan itulah yang membuat wajah saya memerah. Bukan yang lain.

Time goes by, lalu saya mendapati diri saya terjebak dalam patah hati level advance. The worse brokenheart I ever had. Dia, menurut penuturannya kemudian, mulai notice keberadaan saya saat itu. Saya? Ya jelas gak ada bayangan. Saya yang nangis melulu saat itu jelas bagai memakai kacamata kuda. Hanya bisa melihat ke depan, pada satu obyek, sementara obyek itu semakin gak jelas adanya.

Bulan demi bulan berlalu. Lalu semuanya terjadi begitu saja. Pertanyaan basa-basi tentang keberadaan alat gak penting via friendster, cerita lumayan panjang lewat email, naik kelas ke SMS  dan akhirnya ketemu. I still felt nothing. Masih berpikir he’s not my type. Sampai pada suatu titik di mana teman saya ingin mengenalkan saya pada teman SMAnya yang sedang mencari calon istri. Saya gak berani langsung bilang iya pada teman saya, karena entah bagaimana ceritanya kok saya mendapati si Pak Alwani ini dalam pikiran saya. Saya berpikir kok risky sekali mencoba berkenalan dengan seseorang yang potentially serius sementara saya sedang sering berkomunikasi dengan dirinya. Klo nanti hati saya terbelah bagaimana? Saya kaget juga dengan hal ini, kok tiba-tiba ada hubungan antara dia dengan hati saya. Sejak kapan?

Dan saya ingin semuanya jelas. Saya bertanya padanya, apa yang dia pikirkan tentang saya. Apakah dalam rancangan masa depannya melibatkan saya didalamnya. Jawabannya, iya. Dia sering memikirkan saya. Ingin menikahi saya, nanti. Dia menggarisbawahi kata NANTI itu dengan jelas. Ada satu dan banyak hal yang membuatnya tidak bisa cepat menikah. Hari itu 19 Desember 2007. But still, saya masih bertanya-tanya. Saya tidak tahu apakah cinta itu sudah ada. Saya hanya tahu kalo dia orang yang baik, dan saya percaya padanya.

Tujuh bulan kemudian, 29 Juli 2008, kami menikah. Alhamdulillah ternyata NANTI yang disampaikannya pada saya itu tidak terlalu lama. And there we were. Belajar saling memahami, belajar mengerti. For sure, cinta itu telah ada. Dan ternyata rasanya amat berbeda dari cinta yang pernah menjatuhkan saya ke lubang hitamnya. And it grew every single day. Sampai hari ini. Dan semoga sampai akhir nanti.

Hari ini, saya bersyukur memilikinya, Sophie dan semuanya. 2 tahun ini kami belajar banyak. Kami sudah punya bekal 2 tahun ini, maka saya PD IA akan berhasil menjalani tahun-tahun berikutnya. Jarak bukan sesuatu yang mudah, tapi kami bisa berdamai dengannya.

PS: Happy 2nd anniversary, Sayang. Semoga Allah memudahkan semuanya. I love you

ume

Sindrom Pra Pisahan

Saya, Tanti yang suka rewel, sejak kemarin jadi makin rewel. Cerewet kaya betet. Sedikit-sedikit ngambek. Tanduk dan ekor panah tumbuh memanjang dengan suburnya.

Efeknya ya ke Sophie. Dia ketularan aura gelap si mama. Jadi gak mau tidur, nangis menjerit-jerit. Hadudu, lingkaran setan banget yang satu ini.

Suamii, pengen lebih lama bersamamu. But you really have to go. Klo suami gak berangkat ke Bangkok lagi, lebih banyak mudhorotnya buat kami.

  • Sophie dan saya makin tergantung sama suami. Padahal, kami harus lebih mandiri setelah ini. Semakin mandiri. You know, mencoba hidup baru di Surabaya yang panasnya bak emperan neraka itu.
  • Saya terancam dijutekin orang sekantor karena gak hobby banget berangkat kerja selama suami di rumah. Ah ah ah, saya tahu ini buruk tapi sulit menghentikannya.
  • Klo suami tidak segera memulai lagi apa yang ditinggalkannya di Bangkok, bakalan mundur juga selesainya urusan di sana.

It’s not the first time. I have survived before. So I will make it. Bismillah….