Mama

Tentang Teladan dan Tiru-meniru Lainnya

Pada suatu masa, saya pernah merasa sedih/marah/kecewa/tertekan/dan-aneka-emosi-negatif-lainnya kepada seseorang di lingkaran dalam kehidupan saya. Serba repot saat itu, saya sedih/marah/kecewa/tertekan/dan-aneka-emosi-negatif-lainnya akibat efek sifat keras beliau terhadap kinerja saya, tapi saya tidak punya pilihan lain. Saya harus menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan dengan beliau, sambil bertahan dengan semua hal itu. Ya, harus tahan, kalau tidak, ya, saya malah harus lebih lama merasakan semuanya. Repot, bukan?

Waktu berlalu, keadaan berganti. Sampailah saya di hari ini, penghujung 2016. Di titik ini, beberapa kali Pak Suami berkomentar bahwa saya mirip sekali dengan beliau yang menyebabkan saya memendam rasa sedih/marah/kecewa/tertekan/dan-aneka-emosi-negatif-lainnya saat itu. Saya pun diam-diam mengakuinya. Belakangan ini, tanpa sadar, level kegalakan saya naik (tidak mau kalah dengan biaya sekolah di SD favorit inceran Mamah-mamah trendy setiap tahunnya!). Saya yang dulu sedih/marah/kecewa/tertekan/dan-aneka-emosi-negatif-lainnya karena kegalakan beliau, sekarang mengadopsi kegalakan tersebut dan (kemungkinan besar) menyebabkan orang lain sedih/marah/kecewa/tertekan/dan-aneka-emosi-negatif-lainnya.

Oh, kisah lama. Masih familiar dengan gething nyanding, sengit ndulit yang dulu pernah saya bicarakan? Lagi-lagi saya membuktikan kebenaran dari buah kebijaksanaan pendahulu-pendahulu kita itu.

Sungguh, saya tidak paham dengan masalah tiru-meniru ini. Salah satu hal yang sama sekali tidak bisa saya pahami adalah bagaimana kita memilih aspek untuk kita teladani, baik secara sadar ataupun tidak sadar. Begini, lho, maksud saya. Dalam kasus saya, beliau yang amat berkesan ini adalah tokoh dengan multi aspek. Sebagai ilustrasi, selain bertabiat keras, beliau juga merupakan sosok yang amat bersahaja. Seseorang dengan kapasitas beliau, kalau mau, memiliki sumber daya yang lebih dari cukup (banget!) untuk menggunakan mobil keluaran terbaru. Nyatanya, beliau memilih tetap menggunakan mobil yang telah beliau gunakan sejak belasan tahun yang lalu.

Nah, saya tidak bisa paham kenapa saya (tanpa sadar) menjadi galak seperti beliau, tapi tidak mampu meniru kebersahajaan beliau. Saya tidak bisa menjelaskan kenapa stok sabar saya untuk beberapa hal spesifik teramat tipis, sementara keinginan saya untuk menimbun lipstik semakin menggila setiap harinya.

Atau, jangan-jangan sebenarnya saya sudah galak dari sononya, ya? Hanya masalah waktu saja, sehingga baru belakangan ini saya menyadarinya? Eh.

Mama, Sophie

The Right School

Sophie and her classmates visited Sekar, their friend who had been sick for about a week. Sekar’s Mom said that she would  go to school the day after. That night, Sophie made a welcome card for her. She drew flowers and wrote a note on a piece of paper. It said, “Selamat datang, Sekar. Yang semangat, ya”.

I picked up Syafiq earlier yesterday. Syifa, Sophie’s classmate while they were in kindergarten, took a close look at my hand. She asked questions related to my condition. When I said goodbye to her, she wished my hand getting better. “Mamah Sophie, semoga cepat sembuh, ya“.

These two occasions made me truly believe that we had chosen the right school for Sophie.

 

Sophie and her classmates. This pic is courtesy of Bu Mae, their teacher.

 

Mama

Pakai Baju Apa Hari Ini?

Pakai baju apa hari ini?

Oke, pertanyaan ini khusus saya sampaikan pada ibu-ibu bekerja  yang harus berangkat ke kantor setiap hari. Konteksnya adalah, saya sedang mencari contekan. (Sepertinya hidup saya sedang selo sekali, sampai pertanyaan semacam ini tiba-tiba muncul, seakan tidak ada hal lain yang lebih penting saja. Etapi hal remeh-temeh begini tidak berarti tidak penting, kan, ya? Ya, penting tidak penting, begitu, deh).

Dulu saya selalu memakai seragam dari kampus saya. Batik dan safari-like, atas bawah, jilbab segi empat, formal. Begitu pula teman-teman saya. Normalnya memang seperti itu saat itu.

Waktu berjalan, tren berganti. Begitu pula kondisi saya.

Jaman hamil Syafiq, salah satu hal yang menjadi keluhan saya adalah gerah. Gerah berkepanjangan yang kemudian jadi gatal-gatal. Saya dan seragam menjadi dua hal yang tidak bisa berjalan beriringan lagi.Terima kasih pada inner jersey dari Zo*a, yang menyelamatkan saya saat itu. Saya waktu itu memakainya begitu saja, dalaman yang dipaksa menjadi baju luar. Ya maaf, namanya juga lagi hamil, apa saja bisa dicoba untuk sebentuk kenyamanan. Saking cintanya dengan inner Zo*a, saya sampai punya lima buah, untuk digilir pemakaiannya setiap hari sepanjang minggu. Pasca cuti melahirkan, saya masih memakai baju-baju tersebut ke kampus, dengan sedikit modifikasi. Saya menggunakannya sesuai dengan peruntukannya, sebagai dalaman. Untuk luarannya  saya memakai atasan batik atau apa saja yang tersedia. Iya, sebagai pengganti rok. Dari sini, muncul pertanyaan tambahan dari saya.

Apakah jersey pantas dipakai untuk bekerja?

inner-zoya
Saya memakai yang kanan, inner Ummi. Iya, kancing depan yang busui-friendly, makanya tetap saya pakai sampai hari ini. Gambar dipinjam dari sini

 

Selanjutnya, terkait tren gamis syari yang lagi marak belakangan ini. Iya, yang tipikalnya dideskripsikan bakulnya sebagai ‘gamis yang busui dan wudhlu friendly, dengan lebar rok sekian meter’ itu, lho. Bahannya beragam, motifnya juga amat banyak variasinya. Pakaian jenis ini normal dipakai di lingkungan kerja saya saat ini. Yang menjadi pertanyaan saya, bahan seperti apa yang pantas dipakai untuk bekerja? Motif apa yang bisa dianggap office-friendly?

 

sheikha
Is it considered office-friendly? Gambar meminjam dari sini 

 

Di atas semua pertanyaan saya sebelum ini, ada satu pertanyaan besar yang belum juga berhasil saya jawab. Yang menentukan standar bahwa baju kerja bagi mamak-mamak yang memakai gamis itu harus seperti ini atau seperti itu, siapa? Tidak bisakah memakai standar kenormalan lingkungan kerja kita saja? Kalau menurut Budhe Google, gamis untuk bekerja itu tipikalnya monokrom, warna netral, semacam gambar berikut ini.

 

kerja
model ini dan model-model lainnya bisa dilihat di  sini

 

Tapi, kan, itu kata Budhe Google ya. Belum tentu normal menurut beliau normal juga bagi lingkungan kita.

 

PS: Keluar dari rutinitas itu memang bagus untuk kesehatan jiwa. sekian lama berhibernasi, akhirnya blogpost perdana saya muncul saat saya di luar kota. It is good to come back again. 

Mama, Papa, Syafiq

Delivering Baby Syafiq

H-3. Saya mendapati penampakan lendir darah untuk pertama kalinya. Tanpa Braxton Hicks sama sekali. Oh, well, kita akan segera bertemu, Syafiq.

H-2. Mulai ada kontraksi, tapi masih jarang sekali. Paling dalam sehari-semalam tidak sampai 10 kali. Lendir darah kembali muncul. Saya mulai melihat kembali tas yang akan dibawa ke RS, mengecek apakah isinya sudah lengkap, sesuai dengan yang saya rencanakan. Mulai deg-degan, teringat drama-drama semasa melahirkan Sophie dulu.

H-1. Saya tidak bisa tidur karena gelisah akibat kontraksi yang sebenarnya belum sering-sering amat. Gelisah membayangkan apa yang akan saya alami beberapa jam (atau beberapa hari) ke depan. Gelisah memikirkan apakah persalinan kali ini akan berbeda atau mirip-mirip dengan apa yang saya alami saat melahirkan Sophie. Gelisah memikirkan akankah saya cepat beradaptasi terhadap peran baru sebagai ibu dari dua anak. Gelisah untuk banyak hal.

Dalam rangka memanfaatkan waktu melek-gelisah tersebut, saya menyelesaikan beberapa pekerjaan. Jam 2 pagi, karena kontraksi mulai teratur walaupun masih setengah jam sekali, saya langsung mengirimkan pekerjaan-pekerjaan tersebut pada pihak-pihak yang bisa mem-follow up-inya. Saya mencoba tidur.  Gagal, tentu saja. Kontraksi terus terjadi dan jaraknya semakin dekat. Saya sama sekali tidak berhasil memejamkan mata malam itu.

Seiring berjalannya waktu, kontraksi yang terjadi semakin dekat satu sama lain. Di pagi hari, kontraksi mulai berjeda waktu sekitar 6-7 menit sekali. Setelah menitipkan Sophie pada Bu Sainah, jam 9 saya dan suami berangkat ke RS. Setelah diperiksa, ternyata saya masih bukaan 1. Melihat sejarah melahirkan Sophie yang lamaa banget bertahan di bukaan 1, bidan jaga menyarankan agar kami pulang dan menunggu di rumah. Kami menurut.

Kami pun pulang ke rumah dan disambut Sophie dengan pertanyaan kok cepet-banget-pulangnya-mana-dedeknya. Kontraksi masih tetap saja, sekitar 5 menitan, tapi durasinya pendek-pendek. Sepagian itu saya di rumah saja bersama Sophie, bergelung di sofa sambil meringis-ringis saat kontraksi tiba, yang mana interval durasinya bertahan di rentang waktu yang sama. Btw, Pak Suami masih sempat berangkat ke kampus sebentar, lho, hari itu.

Siang harinya, dalam rangka mempercepat bukaan (dan eneg melihat saya yang nglimpruk di sofa, mungkin) , suami mengajak saya makan siang di luar. Selesai makan, suami punya ide brilian: berjalan-jalan. Tidak tanggung-tanggung, salah satu jalan-jalannya ke Andang Pangrenan. Coba, deh, dibayangkan. Saya yang masih juga mengalami kontraksi teratur lima menitan ini basah kuyup karena keringat. Suami tega of the year beneran, deh.

Mama Sophie
Wajah-wajah sumringah menjelang detensi di Andang Pangrenan. “Ada yang bisa kami pijet, Pak?”

Singkat cerita, jam 8 malam kami kembali ke RS. Interval kontraksinya masih sama, tapi saya merasa durasinya makin panjang. Pas diperiksa, masih bertahan di bukaan 1 juga. Kata dokter jaganya, “Iya, sih, interval kontraksinya sudah lima menitan. Tapi intensitasnya belum adekuat”

Dan dokter pun menitahkan saya untuk pulang lagi. Kali ini kami tidak menurut. Saya sudah merasa lemas akibat belum tidur sejak sehari sebelumnya Lagi pula, akan sulit berpamitan pada Sophie lagi kalau kami harus pulang dulu. Kami pun buka kamar di Bunda Arif. Menunggu.

Jam setengah 12 malam, saat dicek oleh Bidan, saya menolak untuk periksa dalam. Saya merasa bahwa kontraksi yang saya rasakan masih begitu-begitu saja, maka saya berasumsi persalinan saya masih dalam tahap yang sama dengan sebelumnya, belum nambah apa-apa.

Jam 01.30, saya merasakan dorongan yang kuat untuk mulai mengejan. Oh oh. Saya mengenali sensasi ini. Enam tahun yang lalu, ketika dorongan semacam ini datang, saya buru-buru dibawa masuk ke ruang persalinan. Saya menunggu beberapa saat untuk memastikan. Saat itu interval antara satu kontraksi dengan kontraksi berikutnya di rentang 3-4 menit. OK, memang waktunya telah tiba. Saya lalu membangunkan suami (Iya, suami bisa tidur nyenyak saat itu. Lengkap dengan dengkurannya yang legendaris itu, bahkan) dan memanggil bidan. Cek dicek, sudah masuk bukaan 8. Saatnya ganti pemandangan: kami masuk ke ruang persalinan pada pukul 01.45.

Ternyata kami tidak sendirian. Ruang persalinan sebelah terisi oleh ibu muda yang sedang melahirkan anak pertamanya. Saat pertama mendengar suara-suara dari sebelah, dalam hati saya berkata, “Heboh amat, Bu. Biasa saja, kali”.

Perkataan yang membalik pada diri saya sendiri. Beberapa saat kemudiaan, saya menyumbangkan kehebohan yang tidak jauh berbeda.

Suami sudah lebih pintar dibandingkan saat persalinan pertama dulu. Kali ini, suami menyodorkan badannya untuk saya peluk saat kontraksi datang (Iya, pelukan Gorila, tepatnya. Sama sekali bukan jenis pelukan mesra). Lumayan, trik ini berhasil menyelamatkan tangan suami dari cakaran saya.

Persalinan kami dibantu oleh Bidan yang mana adalah instruktur senam hamil yang baru saya ikuti dua kali saja (Well, salah satu penyebab saya ikutan heboh di ruang bersalin, saya rasa, adalah karena saya kurang terlatih dalam mitigasi rasa sakit saat kontraksi datang. Saya hanya sempat senam hamil dua kali, sehingga sama sekali belum menghayati prinsip pernafasan yang diajarkan. Beda jauh sama jaman hamil Sophie dulu, saya rutin senam hamil sejak usia kandungan 8 bulan). Beruntung, ada suami yang rajin mengingatkan dan mencontohi: tarik nafas dalam, buang nafas pelan, lagi, lagi….

Sesi senam hamil terakhir yang saya ikuti hari Sabtu. Saat itu Selasa dini hari. Jelas Bu Bidan masih ingat dengan saya dan masalah apa yang saya sampaikan di sesi curhat setelah senam berakhir. Kata beliau, “Ayo, Bu, jangan mengulangi kesalahan yang sama. Jangan buang-buang tenaga. Miring dulu saja”.

Ada tiga bidan yang bertugas saat itu. Ketika bayi di ruang sebelah lahir, ketiganya datang untuk membantu di sana. Saya hanya berdua dengan suami. Tiba-tiba saja, saya merasakan dorongan yang luar biasa untuk mengejan. Sekuat mungkin saya menahannya. Tiba-tiba saya merasakan ada sesuatu diantara kedua paha saya. Ketika saya menyadari apa yang terjadi, yang bisa saya lakukan hanya berteriak, “Buuu, sudah lahir…”

Separuh badan Syafiq sudah di luar.

Ada dua bidan yang berlari ke kamar bersalin saya. Refleks saya berganti posisi, dari berbaring miring ke posisi standar melahirkan (Oh, hai, jahitan. Tidak terlalu senang mendapatimu). Syafiq menangis pelan setelah sepenuhnya di luar tubuh saya. Dan momen itu kembali lagi. Momen ketika semua rasa sakit saat kontraksi menghilang, berangsur-angsur bergeser menjadi memori samar.

Alhamdulillah. Pukul 02.27. 47 cm, 2,8 kg. Syafiq Hamad.

Selanjutnya, semua terasa nyaman. Mungkin nyaman bukan diksi yang tepat, tapi kira-kira begitu, lah. Tenang, damai, happy. Senyum mulai kembali ke wajah Pak Suami. Semua berjalan sebagai mana mestinya pasca persalinan: mengeluarkan placenta, IMD (yang seadanya banget, semi abal-abal) sambil menjahit robekan di bawah sana. Selesai. Semua baik-baik saja….

…. Sampai ketika tiba-tiba Bu Bidan mengatakan kalau terjadi pendarahan. Ya, saya merasakannya. Saya menciut. Saya mendapatkan beberapa tindakan untuk menghentikan pendarahan, termasuk Misoprostol. Beberapa saat kemudian, saya semakin ciut saat Bu Bidan mengatakan bahwa sebagian darah menggumpal di rahim dan perlu dibersihkan secara manual. Segera. Oh, I won’t give you the visuals, I won’t write the details. Keseluruhan yang saya alami saat pendarahan tersebut, bagi saya, lebih menakutkan dari pada proses melahirkannya sendiri (dari bukaan awal sampai Syafiq lahir, maksud saya).

Setelah momen menakutkan tersebut selesai, kami ditinggal bertiga di ruang bersalin untuk observasi. Alhamdulillah pemulihan berjalan dengan baik, tidak terjadi pendarahan susulan. Cuma, ya, efek Misoprostol bertahan cukup lama. Saya masih mengalami kontraksi hingga siang harinya. Weird, it was. I hold Syafiq in my arms but my uterus kept contracting for hours. 

Papa Syafiq
Pasca episode pendarahan. It affected him more than me, i think. He got to see the heavy bleeding and everything. *kecupPakSuami*

Jam 6 pagi, kami pindah ke kamar. Beberapa waktu kemudian, kamar perawatan kami bertambah ramai. Pak Suami menjemput Sophie, yang sedemikian exited menyambut kehadiran adiknya. Semuanya terasa nyaman, familiar, dan badan saya mulai tersadar dari eforia ketemu Syafiq: ngantuk luar biasa setelah dua malam tidak tidur sama sekali. Saya tertidur, suami juga. Sophie si kakak siaga menjaga adiknya adiknya ketika kami tertidur. Good sister, she is.

Sophie Syafiq
Sophie dan Syafiq, versi sekarang. Jelas bukan newborn lagi.  Yaa, namanya juga postingan telat, yak.

Saya terbangun dengan kesadaran baru: here I am, a mom of two. Kesadaran yang mbleber kemana-mana, yang membuat hidup saya bergulir ke dimensi baru yang keterlaluan santainya, yang membuat saya keteteran ketika cuti melahirkan habis masanya.

Mama

36w3d

The time is drawing near. All is good, as good as pregnancy at the middle of 30 would be.

What am i feeling? A kind of mixed up, to be honest. It’s not only about  delivering the baby, but also the life after it. About being the mom of two. About having party of four. Listening to my friends who had passed this through, all the abundances are perfectly normal. And so the fears.

Yes, baby, at this stage of life, joys and fears are the two sides of the coin. You can have both at the same time. So i accept them completely. I embrace them.

More or less, this is the proof of the power of sharing. Pak Suami presence help me a lot in coping the situation. I don’t have to think things, for he thinks and plans them for us. Having him near is one of things i am grateful most lately. Watch and learn, dear baby #2, in this case, you can learn from your father a thing or maybe two.

(So in my own shoe, the obsession of preggo-like-a-lady-thingy is checked. Yay!).

(A milestone for me. For the first time ever  i reach 60 kgs. And it’s still counting every single day. Oh.).

Sophie is the best sister-to-be. I believe she will be a caring sister.  Seeing how she interacting with her Dedek Hamad warms our hearts. Sibling rivalry issue? I hope we will cope well. We will try our best to cope it.

Oh, Dedek Hamad is the name she gave to her sibling. She said, while we haven’t found the name, we can call baby #2 with Dedek Hamad 🙂

 

Us
on our 35w0d, about 35 days to go.

I pray the best for the baby, for Sophie, for Pak Suami, for my self. For the four of us in rumahliliput.