Uncategorized

Batu Secret Zoo Episode 2

Pertama kali saya mengunjungi Batu Secret Zoo dulu, saya merasa amat terpukau. Kece amat, sih, ini Kebun Binatang. Cuaca saat itu mendung, jadi enak untuk melihat ini-itu. Waktu itu kami terburu-buru, hanya punya waktu dari jam 10.00-15.00 untuk mengelilingi BSZ dan Museum Satwa. Makanya, sepulang dari sana saya meniatkan untuk kembali ke BSZ plus menginap di Pohon Inn.

Awal bulan ini akhirnya keinginan saya terwujud. Niat banget, lho, kami berangkat dari Surabaya jam 6 pagi, bermain sampai Jatim Park 2 tutup, menginap di Pohon Inn dan keesokan harinya langsung ke stasiun untuk pulang ke Purwokerto. Ada perubahan rencana, tentu saja. Awalnya kami berniat menginap di rumah Uwik, tapi karena kerempongan khas penghuni rumahliliput, rencana yang sudah fix pun berubah seketika.

Entah karena cuaca yang panas, fisik yang sedang kurang OK atau semata-mata hanya karena pengalaman kedua selalu tidak semengesankan pengalaman pertama, saya merasa BSZ biasa saja kemarin itu. Kecuali Pohon Inn, saya amat menyukainya. Maklum, baru kunjungan pertama ke sana. Etapi saya model orang yang asal ketemu kamar bersih yang dingin ber-AC dengan kasur empuk dan air panas saja sudah senang, lho, ya.

Itu dari sudut pandang saya. Kalau menurut Sophie, sepertinya BSZ masih merupakan destinasi yang menarik. Sophie bersemangat selama berkeliling dari pagi sampai sore menjelang tutup, mencoba playground (yang sarasa play ground pribadi) berkali-kali, dan kesampaian berenang juga akhirnya. Kata Sophie, hewan yang paling menarik baginya adalah flamingo karena pink (iya, warna pink adalah alasan yang kuat untuk menyukai sesuatu bagi anak saya), jerapah karena jalannya anggun dan lidahnya panjang sekali, juga alpaka karena kemampuan eksklusifnya untuk meludah.

Sebenarnya, mulai usia berapa anak bisa menikmati museum, ya? Sophie masih saja takut di Museum, pengennya cepat keluar saja. Kata Sophie, dia takut gelap. Padahal, Museum Satwa itu kece, lho. Tapi tetap saja Sophie ketakutan.

Highlight dari BSZ bagi kami bertiga masih tetap Safari Farm. Kami masih tetap heboh teriak-teriak mengulurkan wortel untuk dimakan alpaka, rusa, onta dan kawan-kawannya, sambil mencoba menghindari endusan mereka (dan ludah alpaka, HAHAHA). Favorit!

IMG_20141103_093000

DSC02795

DSC02763

DSC02776

DSC02806

Advertisements
Uncategorized

Surabaya-nya Mama

Akhir pekan yang lalu saya diapeli suami dan Sophie. Bertukar posisi,  ceritanya 🙂

Salah satu kebahagiaan menjadi anak-anak adalah bisa membuat segala sesuatu menjadi menyenangkan. Dan fun itu menular. Tidur umpel-umpelan di kamar kos, naik becak dan naik lyn di kursi depan samping Pak Sopir yang sedang merokok tidak pernah semenyenangkan itu sebelumnya. Terima kasih, ya, Soph 🙂

Sophie menyimpulkan bahwa Surabaya-nya Mama adalah sesuatu yang amat berbeda dari Karanggintung. Kecuali dalam hal keberadaan Indomaret. Iya, Soph, Indomaret memang ada di mana-mana. Tanyalah Papa apa penyebabnya 🙂

Entah kenapa Sophie menyebut Surabaya dengan Surabaya-nya Mama. Yang jelas, menurut Sophie, Surabaya-nya Mama ini mirip dengan Neighborhood of Make-believe.

“Surabaya-nya Mama ini seperti tempat Daniel. Ceboknya tidak pake air, tapi pake tissue”

😀

Terima kasih sudah datang dan menyenangkan hati Mama, ya, Sayangs.

Uncategorized

Sisa Cerita Minggu Lalu

Minggu lalu, saya, Sophie dan suami ikut program wisata sekolah Sophie ke Cilacap. Walaupun diawali dengan adegan bete-bete sebelum berangkat,  ternyata acara tersebut menyenangkan. Sophie tidak mabok selama perjalanan dan heboh bermain bersama teman-temannya (dan dapat bonus kulit gosong plus gatal-gatal, ceritanya nanti menyusul, ya), suami lumayan mingle dengan pendamping anak-anak lain, dan saya saya, mmm, tidak merasa alien-alien amat, lah 😀

Walaupun sudah sekian tahun bertempat tinggal di Purwokerto, kami bertiga belum pernah mengunjungi ketiga tujuan wisata yang akan kami kunjungi. (Sebelum ada Sophie dulu, saya dan suami pernah melintasi Pantai Teluk Penyu, hanya numpang lewat saja.) Kami naik kapal motor kecil dari Dermaga Sleko lalu menyusuri perairan, melihat Nusa Kambangan dari kejauhan. Vegetasi rapat di sepanjang pantai di seberang  Cilacap Timur terlihat amat menarik di mata saya. Dari sudut pandang yang sempit itu, Nusa Kambangan nampak sebagai ekosistem yang masih terjaga. Saya ingin menyimpan imaji tersebut dalam kepala saya, mengingat Nusa Ksmbangan secara keseluruhan tidak bisa disebut sehat ekosistemnya. Penambangan batu gamping untuk bahan baku semen, pembukaan lahan untuk pertanian, pencurian kayu dan pendangkalan Segara Anakan akibat kiriman sedimen dari sungai-sungai yang bermuara di sana adalah biang kerok kerusakan ekosistem di sana. Melebar ke mana-mana, ya, maaf. Hal yang ingin saya sampaikan adalah bahwa intipan singkat minggu lalu membuat saya mencari informasi sebanyak mungkin tentang Nusa Kambangan dan bertekad suatu hari nanti saya beneran menyeberang ke sana. Bukan sekedar menginjakkan kaki di salah satu pantainya.

 Setelahnya, kami diangkut ke Benteng Pendem untuk mini outbond dan makan siang. Sophie yang sejak dari rumah sudah minta berenang di pantai, begitu selesai makan siang langsung minta mencebur ke air. Jam 1 siang di Pantai Teluk Penyu yang panasnya beda tipis dari Pantai Kenjeran. Ndilalah, suami lupa memasukkan sunblok yang sudah saya siapkan ke dalam tas. Gosong sampai hari ini, dong.

Tujuan kami yang terakhir adalah Museum Soesilo Soedarman di Kroya. Museum nampaknya belum menjadi sesuatu yang menarik bagi Sophie. Blas tidak tertarik anaknya. Sebenarnya hal ini terkait dengan pengalaman kurang menyenangkan yang dialami Sophie ketika mengunjungi Museum Jenderal Soedirman sebulan sebelumnya. Sepulangnya dari Museum JendSoed Sophie bercerita bahwa dia takut ketika di sana, tapi tidak mau bilang takut sama apa. Nah, ketika sampai di Museum SoeSoe, Sophie juga sama sekali tidak semangat, mogok tidak mau masuk pendopo. Setelah dirayu-rayu, akhirnya Sophie mau masuk juga. Tapi tidak lama. Belum juga tiga menit, Sophie mendadak berhenti dan memegang tangan saya erat-erat. Sambil menangis dia minta keluar. Dalam perjalanan keluar pendopo, Sophie beberapa kali melihat ke belakang. Sesampainya di luar, Sophie mengatakan bahwa dia tidak mau masuk lagi dan meminta saya untuk tidak masuk juga. Dan sisa waktu kunjungan di Museum sore itu dihabiskan Sophie dengan memanjat panser amfibi dan torpedo kapal selam yang ada dipelataran museum (yang efektif memindahkan debu dari senjata-senjata tersebut ke kulit Sophie, membuatnya iritasi dan sibuk garuk-garuk sepanjang jalan pulang :D) dan naik kereta kelinci keliling desa.

Kalau kesan Sophie tentang museum adalah menakutkan, lain lagi kesan yang ditangkap oleh suami. Suami menganalogkan Pak SoeSoe dengan Voldemort dalam hal suka mengoleksi benda-benda berharga yang pernah berada dalam sistem yang sama dengan beliau (yang mana pada saat itu belum beliau miliki). Suami mencontohkan pesawat tempur, senjata berat dan tank yang menjadi koleksi Musium SoeSoe. Ck. Hikmah macam apa ini, suami?

Kalau saya sendiri belum terkesan, ya. Lha wong saya tidak sempat menikmati museum dengan jenak. Saya belum melihat semua koleksinya. Setelah adegan-kurang-dari-tiga-menit itu, saya hanya bisa melihat-lihat dokumen di pendopo depan ketika Sophie naik kereta kelinci. Koleksi dokumen yang lengkap sekali, mulai dari ijazah sekolah, foto bulan madu, berbagai piagam penghargaan sampai surat tugas untuk mewakili Presiden Suharto dalam acara kenegaraan negara lain seperti pelantikan kepala negara, misalnya, ada semua. Museum ini mungkin menarik untuk anak SD ke atas, ya. Buat anak pra SD, sepertinya masih terlalu berat. Sebenarnya ada fasilitas playground dan kolam renang yang pastinya bisa membuat kaum balita bahagia, tapi minggu lalu keadaannya tidak layak pakai. Sedih, sih, melihat kolam renang berlumut berisi air hujan kotor dan playground yang mangkrak begitu saja. Saya awam dalam hal pemuseuman, sama halnya seperti Sophie dan suami (Kata orang, peradaban manusia itu diukur dari bagaimana seseorang mengapresiasi museum, kan ya. Jelas kalau kami belum beradab :D), tapi museum tentang satu tokoh saja rasanya terlalu spesifik, ya.Karena terlalu spesifik, hampir semua hal ditampilkan, dan hal ini malah mengurangi nilai wow-nya secara keseluruhan.Ini komentar sok tahu saya saja, lho, ya. Apalagi, kata orang, one’s fart in one’s art. Boleh jadi koleksi Museum SoeSoe ini fantastis bagi anda. Makanya berkunjung, ya 😀 

PS: Menutup posting ini, saya mau berbagi pertanyaan Sophie yang sukses membuat suami pusing saat Sophie pulang dari Museum JendSoed dulu. Waktu itu Sophie ke museum bersama guru-guru dan teman sekolahnya saja, tanpa pendamping orang tua. Saya cuma ngakak saja saat suami cerita tentang pertanyaan-pertanyaan Sophie yang terkait dengan museum yang baru dikunjunginya itu. Kalau mau ikutan menjawab silakan, lho, ya. 

“Papa, kenapa Jenderal Sudirman naik kuda? Berjuang itu apa? Belanda itu siapa? Kenapa Jenderal Sudirman berjuang? Kenapa Jenderal Sudirman jadi patung? Kapan Jenderal Sudirman jadi manusia lagi?”

Uncategorized

Met Baby Aina (and Good Bye to SAF, We are Proud of You!)

Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya libur panjang kemarin kami akhirnya bisa ke Karanganyar, untuk menengok Adik Aina yang sekarang sudah berumur 2 bulan lebih. Aina badannya montok, persis mbak-mbaknya (Mbak Halwa dan Mbak Sophie) pas seumur dia dulu. Adik bayi ini doyan banget tidur dan kalaupun melek anaknya anteng, beda banget dari kedua mbaknya yang hobby berisik itu (Apa? Mau bertanya kapan saya mau hamil anak kedua? Maaf, ya, saya tidak berkompetisi dengan adik sendiri, hahaha!).

image

Di foto itu, Aina tidur nyenyak di pangkuan suami. Dua kali digendong suami, dua kali pula Aina tertidur, coba. Analisis bodoh-bodohan kami, penyebabnya adalah Aina sangat nyaman berada di gendongan suami yang empuk. Yaa, kan orang dewasa yang biasa berinteraksi dengannya tidak ada yang seberbobot suami.

Sophie, di foto itu, memakai baju hadiah dari Buliknya, kembaran sama Halwa. Dia suka sekali dengan baju itu, sampai-sampai dia ngotot mau memakainya pas pulang balik ke Purwokerto, tanpa dicuci tentunya. Sampai sekarang, baju favorit Sophie itu ya yang model-model seperti itu, panjang, mekar, yaa, yang princessy, begitu, deh. Pas saya bertanya kenapa dia mau naik kereta dengan baju itu, jawabannya sukses membuat saya njengkang.

“Biar dilihat sama Mas”

Ya ampun, Nduk….

Oh, Mas di sini maksudnya adalah Mas Romi, teman seperjalanan di kereta Sophie pas berangkat ke rumah Mbah. Karena Sophie mulai bosan dan cranky, suami menghiburnya dengan mempertontonkan Jake and the Neverland Pirates. Nah, Mas Romi tertarik dan ikut menonton bersama Sophie. Mas Romi yang sudah TK ini ternyata juga ngefans berat sama Jake, dan mereka seru nonton berdua sambil membicarakan ceritanya. Gara-gara percakapan itu, Sophie jadi tahu kata JAHAT, yang mengacu pada Captain Hook. Sebelumnya, Sophie cuma tahu kalau Captain Hook itu tidak baik, tidak seperti Jake. Pasca pertemuan dengan Mas Romi, Sophie sering berkomentar,

“Kapten Huk itu jahat sekali, ya, Ma”

Ih, gaya, kamu, Nak!

Tentang perpisahan, sulit dipercaya bahwa apa yang terjadi di Old Trafford masih bisa menggerakkan emosi saya. Saya selalu berpikir bahwa Solskjaer adalah cinta terakhir saya di sana, tapi ternyata saya salah. Ketika isu SAF akan pensiun mulai berhembus, time line saya mulai ramai membicarakannya, tentang apa yang sudah diraihnya dalam 26 tahun ini. Entah bagaimana ceritanya kok sebagian besar akun yang saya follow ternyata fans MU. Tapi, begitulah adanya. Ramainya pembicaraan itu membawa masa lalu, terjebak memori dan akhirnya saya ikutan sendu, dong.

Puncak hiruk-pikuk ini, tentu saja, adalah minggu malam lalu, saat perayaan kemenangan premiere leage dan pidato perpisahan SAF. Saya senyum-senyum ketika melihat foto-foto yang penuh kebahagiaan itu, lalu meneteskan air mata saat mencerna isi pidato pamitan SAF… It’s true, he was a great manager, but he is even a better person. Terima kasih untuk 26 tahun yang hebat, Sir Alex, selamat menikmati masa pensiun yang semoga penuh kedamaian dan kebahagiaan.

Uncategorized

Kebun Binatang Surabaya

Pertengahan minggu lalu, partner-ngider-saya-pas-tidak-mudik-agar-weekend-tidak-berlumut-di-kos menawarkan beberapa alternatif selain nonton untuk mengisi hari minggu kami. Car free day, Kebun Binatang Surabaya (KBS), dan museum kapal selam. Suami mengusulkan bagaimana kalau saya ke KBS saja, hitung-hitung survey untuk melihat apakah tempat itu perlu kami prioritaskan untuk kami kunjungi bila someday Sophie ke Surabaya. Yo wis, saya memilih KBS, tapi ketika Mbak Yani menanyakan apakah saya serius dengan pilihan itu, saya tentu saja menjawab tidak terlalu serius. Lah, pemberitaan tentang KBS kan memang negatif melulu akhir-akhir ini, ya. Mulai dari yang tidak  jelas instansi pemerintah yang menaunginya, kurang terawat, sampai kematian beberapa hewan koleksinya. Saya yang memang kurang sreg dengan konsep pemeliharaan binatang dengan space dan makanan terbatas ini, ya,  jelas setengah hati mengusulkannya.

(Kami akhirnya mengabiskan minggu sore di XXI lagi, btw. Jauh bener, ya, hahaha!)

Tapi entah kenapa rasa penasaran saya akan KBS semakin kuat setelahnya. Saya ingin tahu sebuluk apa kah KBS itu sebenarnya, sehingga hanya ada sedikit sekali review tentangnya. Beda banget dengan Batu Secret Zoo (BSZ) yang kalau kita ketikkan di google akan memunculkan ratusan review dari berbagai sumber. Baiklah, saya meniatkan untuk berkunjung ke sana. Secepatnya.

Kemarin pagi, menjelang berangkat ke KBS saya membaca koran basi dan menemukan berita kematian harimau Sumatra tiga hari yang lalu. Lah, saya jadi ragu untuk berangkat. Apa iya separah itu kondisinya sehingga kematian binatang koleksi KBS terus saja terjadi?

Prolog yang terlalu panjang, ya? Hihihi. Baiklah, singkat cerita saya sudah di depan KBS. Ada banyak orang berjubel di depan loket karcis. Berjubel, lho, ya, bukan antri. Membandingkannya dengan BSZ, drop, deh, banget. Di BSZ seingat saya petugas di loket dan pintu masuk adalah mbak-mbak dan mas-mas yang ramah dan banyak senyum, semantara yang saya temui tadi cenderung ketus dan acuh pada pengunjung. Begitu masuk, saya mendapati  pemandangan yang hijau. Banyak pohon-pohon besar yang rindang, sama seperti yang saya ingat tentang KBS belasan tahun yang lalu. Saya menyukainya.

Kulo nuwun, KBS
Kulo nuwun, KBS

Btw, ini adalah kunjungan kedua saya ke KBS. Pas SMP, tahun 1995, sekolah saya ber-darma wisata ke sana, juga Madura dan Blitar. Ada dua hal yang masih saya ingat tentang KBS dari kunjungan 18 tahun yang lalu itu, yaitu pohon-pohon tinggi yang rimbun dan antrian kamar mandi di dekat masjid yang luar biasa panjangnya.

Bersyukur, saya tidak mencium bebauan tidak sedap dari pintu masuk ini. Setelah berkeliling, di sekitar beberapa  kandang memang berbau, sih, tapi tolerable, lah. Namanya juga makhluk hidup, ya, pasti ada sisa metabolisme yang dibuang. Tempat sampah ada di mana-mana, tapi sayangnya masih ada saja yang membuang sampah sembarangan. Peta lokasi, penunjuk arah, peringatan pada pengunjung, dan informasi atraksi apa saja yang ada di KBS banyak dan jelas. Beberapa disampaikan dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (tapi, ya, gitu, deh. Bahasa Inggris yang #enggres).

tersesat? tidak akan.
tersesat? tidak akan.

Saya yang dasarnya kurang sreg dengan konsep mengandangi binatang non ternak ini jelas nelongso melulu tadi. Sedih, lho, melihat antelop, rusa, banteng dan kawan-kawannya, yang seharusnya berlarian dan makan rumput hijau di savana luas, terkurung di kandang yang tak seberapa luas, yang becek tanpa ada satu pun rumput yang tumbuh di didekatnya. Mungkin saya terlalu terpengaruh berita yang saya baca sebelum berangkat, tapi saya merasa bahwa harimau yang kandangnya paling ujung sedang tidak sehat. Tubuhnya kurus sekali, dan ia sama sekali tidak mau duduk. Mondar-mandir sepanjang waktu sambil sesekali mengaum. Tapi yang paling ngenes-ngenesi itu ya monyet-monyet kecil yang ditempatkan di kandang mungil dengan sedikit mainan itu. Sendirian dan terkungkung.

show me the meaning of being lonely......
show me the meaning of being lonely……

Nah, monyet-monyet yang ini adalah mereka yang beruntung. Mereka mendapatkan kemewahan untuk tinggal bersama sesamanya. Meskipun ini masih jauh dari habitat asli mereka, setidaknya kebutuhan mereka untuk bersosial  terpenuhi.  Sebagai orang yang mudah merasa senang, saya asli kegirangan saat  melihat seekor makaka mengambil kacang rebus yang dilempar pengunjung ke air. Makaka itu pinter ya, dia bisa menggunakan ranting kecil untuk meminggirkan kacang itu, sehingga dia bisa memakannya.

island of the monkeys
island of the monkeys

Sebenarnya, seberapa cepat  rusa dan kerabatnya bereproduksi, ya? Dimana-mana, kok, ya, banyak saja jumlah mereka. Melihat sekelompok besar rusa hidup di sebidang tanah becek berpagar, berkerumun di dekat tempat makan yang nyaris kosong itu pemandangan yang menyedihkan, lho. Ya jelas saja makanan mereka habis, lha wong feeding time-nya adalah sebelum KBS menerima pengunjung. Terus, saya melihat ada dua gajah yang dirantai kakinya. Saya yakin KBS pasti punya alasan tersendiri merantai gajah yang berada di kandang yang sudah terisolasi dengan air, tapi, sedih saja melihatnya. Saya juga sempat sendu saat melihat Giring, orang hutan yang kemarin bertugas di animal show. Dia bertugas melayani foto bersama pengunjung. Ketika tidak ada pengunjung yang ingin berfoto dengannya, Giring akan menepi dan berpegangan pada tiang kecil, gelendotan di sana. Yang membuat saya lega adalah instruktur Giring memperlakukannya dengan baik, berbicara dengan intonasi lembut, menuntun dengan pelan dan mengajaknya berpose dengan cara yang baik. Selain Giring, di arena animal show juga ada seekor burung nuri, tapi kemarin si burung lagi ngambek tidak mau berfoto dan nangkring di atas tembok.

ayo, dong, yang ini dibenahi
ayo, dong, yang ini dibenahi

Bicara tentang fasilitas toilet, ampun deh, nampaknya ini merupakan salah satu poin paling minus di KBS. Sudah keberadaannya jarang, kondisinya pun mengenaskan. Saya kemarin menggunakan toilet yang di dekat masjid, mengerikan kondisinya, banget. Bangunan lama di bawah pepohonan besar dengan penerangan yang minimalis. Ubin dan klosetnya sudah menghitam di sana-sini, kusammm banget, serasa tidak tega menggunakannya. Saya menduga umur bangunan toilet ini sudah setua bapak ibu saya, sih, kalau melihat kondisinya. Horor!

Hal lain yang nyebelin adalah perilaku beberapa pengunjung yang membuang sampah sembarangan dan jahil corat-coret papan informasi. Pengen diselenthik banget, deh, mereka itu.

Di KBS juga ada kolam renang mini, yang mini bener sesuai namanya. Ada playground juga, tapi masih harus membayar lagi kalau mau bermain di sana. Ada juga children zoo yang berisikan hewan piaraan yang ditujukan untuk anak-anak. Ada kucing anggora, hamster, kura-kura, beberapa jenis burung dan unggas, juga ikan. Sayangnya, kemarin kok rasanya Children Zoo ini lebih smelly dibandingkan area lain, entah apa sebabnya.

Sejauh yang saya lihat, kondisi KBS sudah jauh lebih baik dibandingkan yang saya baca di beberapa review tentangnya. Kebanyakan review itu memang ditulis tahun lalu, sih. KBS baru saja mendatangkan 2 spesies koleksi baru dari Afrika, dan akan menyusul 4 satwa lainnya. Informasi dari tiap satwa di kandangnya juga lumayan, kok. Tidak sedetail wikipedia, tentu saja. Tapi sudah cukup untuk menjawab pertanyaan balita penasaran seperti ini-apa-makannya-apa-asalnya-dari-mana dan sejenisnya, lah.

KBS berbenah, for sure. ayo kita dukung
KBS berbenah, for sure. ayo kita dukung

Overall, KBS cukup menarik untuk dikunjungi, kok. Tempatnya teduh (di beberapa tempat berlumut dan becek, jadi sebaiknya membawa baju ganti untuk balita rungsing yang suka berlarian), cukup bersih dan koleksi satwanya lumayan. Saya kemarin tidak masuk ke Aquarium karena waktunya mepet, jadi tidak tahu bagaimana kondisinya. Koleksi burung juga tidak terlalu banyak, sih. Tapi ada, tentu saja.

Penjual makanan? Banyak. Mulai dari bakso-rawon-soto dan snack chiki-chikian yang dijual paketan ada semua. Tapi, ya, makanannya model begitu, deh. Banyak penjual mainan juga, mulai di pintu depan sampai yang ngider ada juga. Ruwet, ya? Memang. Jangan membandingkan KBS dengan BSZ, intinya.

Anak-anak, sih, pasti suka diajak ketempat semacam ini. Untuk tiket seharga 15 ribu, menurut saya ya lumayan banget anak bisa berlarian sambil mengenal macam-macam hewan. Jangan lupa membawa baju ganti (in case anak nyusruk jatuh di kubangan air), handuk dan perlengkapan mandi (besar kemungkinan bocah minta berenang) payung atau jas hujan, juga hand sanitizer. Oh, kalau bisa datangnya di hari kerja juga, secara kalau hari minggu ramainya banget-banget. Dan ya, final verdict untuk survey saya adalah tempat ini harus kami kunjungi bila suatu saat Sophie ke Surabaya.