Uncategorized

Writing to Reach You, A Project on Another ‘There’

I have been in my quo status for about 3 years or so. It’s comfort, so comfort that I forget that I need to grow. Growing, you know, through all those uncomforting situations, another ‘there’s.

We, Pak Suami and I, had decided that it’s our time to get out of our comfort zone. Soon, we will life our new chapter. It’s not easy, Allah knows it’s so hard to do. But we need to accomplish it. One way or another, we are gonna get it done. 

On the positive side, there’s a fat chance that my blog will come alive again. This long term hiatus will be ended. I name this hiatus-ending project as ‘Writing to Reach You’. No need to be explained, you know who you are.

Advertisements
Uncategorized

Batu Secret Zoo Episode 2

Pertama kali saya mengunjungi Batu Secret Zoo dulu, saya merasa amat terpukau. Kece amat, sih, ini Kebun Binatang. Cuaca saat itu mendung, jadi enak untuk melihat ini-itu. Waktu itu kami terburu-buru, hanya punya waktu dari jam 10.00-15.00 untuk mengelilingi BSZ dan Museum Satwa. Makanya, sepulang dari sana saya meniatkan untuk kembali ke BSZ plus menginap di Pohon Inn.

Awal bulan ini akhirnya keinginan saya terwujud. Niat banget, lho, kami berangkat dari Surabaya jam 6 pagi, bermain sampai Jatim Park 2 tutup, menginap di Pohon Inn dan keesokan harinya langsung ke stasiun untuk pulang ke Purwokerto. Ada perubahan rencana, tentu saja. Awalnya kami berniat menginap di rumah Uwik, tapi karena kerempongan khas penghuni rumahliliput, rencana yang sudah fix pun berubah seketika.

Entah karena cuaca yang panas, fisik yang sedang kurang OK atau semata-mata hanya karena pengalaman kedua selalu tidak semengesankan pengalaman pertama, saya merasa BSZ biasa saja kemarin itu. Kecuali Pohon Inn, saya amat menyukainya. Maklum, baru kunjungan pertama ke sana. Etapi saya model orang yang asal ketemu kamar bersih yang dingin ber-AC dengan kasur empuk dan air panas saja sudah senang, lho, ya.

Itu dari sudut pandang saya. Kalau menurut Sophie, sepertinya BSZ masih merupakan destinasi yang menarik. Sophie bersemangat selama berkeliling dari pagi sampai sore menjelang tutup, mencoba playground (yang sarasa play ground pribadi) berkali-kali, dan kesampaian berenang juga akhirnya. Kata Sophie, hewan yang paling menarik baginya adalah flamingo karena pink (iya, warna pink adalah alasan yang kuat untuk menyukai sesuatu bagi anak saya), jerapah karena jalannya anggun dan lidahnya panjang sekali, juga alpaka karena kemampuan eksklusifnya untuk meludah.

Sebenarnya, mulai usia berapa anak bisa menikmati museum, ya? Sophie masih saja takut di Museum, pengennya cepat keluar saja. Kata Sophie, dia takut gelap. Padahal, Museum Satwa itu kece, lho. Tapi tetap saja Sophie ketakutan.

Highlight dari BSZ bagi kami bertiga masih tetap Safari Farm. Kami masih tetap heboh teriak-teriak mengulurkan wortel untuk dimakan alpaka, rusa, onta dan kawan-kawannya, sambil mencoba menghindari endusan mereka (dan ludah alpaka, HAHAHA). Favorit!

IMG_20141103_093000

DSC02795

DSC02763

DSC02776

DSC02806

Uncategorized

Tentang Tidur Sendiri

Bagi saya, kalimat terindah saat kami di Malang adalah apa yang diucapkan Sophie menjelang tidur,

“Aku mau belajar tidur sendiri”

Setelahnya, Sophie benar-benar tidur di ranjang yang dipilihnya. Sendiri. Saya dan suami hanya bisa saling pandang melihat Sophie yang tahu-tahu sudah mendengkur lirih. Anak kami sudah besar.

Urusan tidur sendiri ini memang sesuatu yang ribet di keluarga kami. Dulu, saya sok iye mendoktrin suami bahwa Sophie harus sudah tidur sendiri segera setelah dia disapih. Dua tahun harus sudah pisah kamar. Suami saat itu hanya iya-iyain-saja-biar-cepat tanpa merespon ocehan saya. Kenyataan tak selalu seindah keinginan, saat Sophie selesai menyusu, kami malah LDL-an. Sophie akhirnya tidur dikekepin suami (dan saya kalau saya pas pulang). Sampai sekarang.

Belakangan ini kami mulai melemparkan wacana tidur sendiri pada Sophie. Responnya tidak terlalu menggembirakan. Jawaban semacam aku-takut dan sebangsanya adalah default Sophie. Ketika ditanya kapan dia berani untuk tidur sendiri, Sophie memberikan 3 alternatif: kalau sudah punya adik, kalau sudah berumur 7 tahun, atau kalau sudah dibuatkan kamar di lantai atas. Jawaban yang membuat kami tidak berkutik.

Kalau sudah punya adik. Well, kami tidak bisa me-nego yang ini. Tidak juga menyegerakannya. Duh, Soph, Mamamu ini bukan pabrik bayi yang bisa disetel untuk bereproduksi sesuka hati.

Kalau sudah 7 tahun. Artinya kami masih harus menunggu 23 bulan lagi. Poin ini juga sama, tidak bisa dipercepat.

Kalau sudah dibuatkan kamar di lantai atas. Nduk, Papa dan Mama belum punya agenda merenovasi rumah. Belum direncanakan sama-sekali.

Saya tak habis pikir kenapa Sophie bisa memikirkan alternatif yang memungkinkannya untuk berlama-lama tidur dengan kami. Entah meniru siapa.

Setelah kami di rumah, kami memuji-muji kehebatan Sophie yang berani tidur sendiri, dengan harapan dia mau merevisi kapan mau memulai pisah kamar. Tidak berhasil, sayangnya.

“Aku beraninya tidur sendiri di kamar yang sama dengan Mama Papa, kalau ada temboknya aku belum berani”

Well, mungkin kita harus berusaha untuk merealisasikan alternatif nomor 1, suami.