Uncategorized

Surabaya-nya Mama

Akhir pekan yang lalu saya diapeli suami dan Sophie. Bertukar posisi,  ceritanya 🙂

Salah satu kebahagiaan menjadi anak-anak adalah bisa membuat segala sesuatu menjadi menyenangkan. Dan fun itu menular. Tidur umpel-umpelan di kamar kos, naik becak dan naik lyn di kursi depan samping Pak Sopir yang sedang merokok tidak pernah semenyenangkan itu sebelumnya. Terima kasih, ya, Soph 🙂

Sophie menyimpulkan bahwa Surabaya-nya Mama adalah sesuatu yang amat berbeda dari Karanggintung. Kecuali dalam hal keberadaan Indomaret. Iya, Soph, Indomaret memang ada di mana-mana. Tanyalah Papa apa penyebabnya 🙂

Entah kenapa Sophie menyebut Surabaya dengan Surabaya-nya Mama. Yang jelas, menurut Sophie, Surabaya-nya Mama ini mirip dengan Neighborhood of Make-believe.

“Surabaya-nya Mama ini seperti tempat Daniel. Ceboknya tidak pake air, tapi pake tissue”

😀

Terima kasih sudah datang dan menyenangkan hati Mama, ya, Sayangs.

Advertisements
Uncategorized

Recaps, Updates, Nevermind.

Seminggu ini badan serasa diinjak-injak gajah gara-gara ngebut mengejar ketertinggalan pekerjaan di lab (dan maraton 24 di malam harinya (!)), setelah sebelumnya seminggu di rumah mengurus kesayangan-kesayangan saya yang tumbang akibat meriang. Weekend? Menghabiskan waktu bertiga? Apa itu? Alhamdulillah sekarang Sophie dan suami sudah sehat, sudah cerewet lagi, nafsu makan mereka sudah kembali lagi. —Tolong, ya, sayangs, kalau meriang jangan barengan. Mama  tidak mau makan tiga piring lagi gara-gara kalian berjamaah mogok makannya—

Mendadak jadul bersama Joe Cocker. Aging, what is aging? It’s only what nature do to your body.

Seandainya saya memiliki segala kemewahan yang (saat ini) tidak saya miliki, saya rasa saya amat mungkin akan menjadi Jonathan Eisen KWsekian. Saya yang nyinyir ini akan membuat award untuk mereka-mereka yang overselling hal-hal yang saya pahami. Saya akan meluruskan missleading dengan memberikan penjelasan sederhana dengan referensi yang bisa dipercaya. I will name a name, I won’t hesitate to tell A is wrong, B is overestimate, C says rubbish, and the like. Dan tentu saja saya akan sinis (hahaha!, itu satu-satunya modal yang sudah saya miliki saat ini, sebenarnya). Meanwhile, I am just a student who is struggling with my study, so, no, you won’t see me as Jonathan Eisen KWsekian in near future. —Tapi kalo ternyata iya (dalam hal nyinyir dan sinisnya), jangan sungkan-sungkan, ya, toyor saja saya—

Beberapa waktu yang lalu  saya bertemu orang baru, yang jauh lebih muda dari saya, yang menanyakan kenapa saya berbicara dengan santun padanya. Saya sempat melongo, lho, sebelum menjawabnya. Lha iya, bukankah memang sudah seharusnya kita bicara dengan santun, pada siapa pun (kecuali pada beberapa orang yang sudah benar-benar dekat, sih, hahaha). Akhirnya, saya mengatakan padanya bahwa saya punya balita yang meniru setiap hal yang saya lakukan, setiap kata yang saya ucapkan. Saya berharap anak saya tumbuh menjadi anak yang santun, sehingga saya selalu mengingatkan diri saya untuk bersikap seperti itu juga.

PMS + Fish Tank  + weekend = ngampus dengan mata bengep pagi ini. It just broke my heart again and again watching Mia and her life. The way her Mom raises her and her sister broke my heart. The way she drinks and dances in an abandoned apartment to numb her pain broke my heart. The way Connor takes advantage from her broke my heart. The way she reaches out to connect to  Billy broke my heart, but also brought warmness in the same time. So many broken hearts for a movie, it is. —What do you know about loneliness? Do you familiar with the feeling of being lonely and isolated? Are you a loner? What would you do then? Just embrace it and live your life that way or try to make some connection to escape from it?

Saya sudah menemukan soundtrack untuk anniversary ke 6 saya bersama suami. Yay!

Setelah lebih dari seminggu, saya masih senyum-senyum saat mengingat kembali percakapan saya dengan Sophie di terminal ini, lho.

“Ma, ini bacaannya Aq**, ya?”

“Iya, ini Aq**”

“Kata Bu Guru, aku tidak boleh bawa Aq** ke sekolah”

“Kenapa, Soph?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku besok mau bawa ini ke sekolah, lah

“Lho, katanya tidak boleh?”

“Ini bacaan Aq**-nya sudah aku lepas, Ma. Bu Guru tidak tahu ini Aq** kalau tidak ada bacaannya”, kata Sophie kalem sambil mengulurkan label minuman dalam kemasan yang baru saja dia keletek itu pada saya.

Uncategorized

Tukang Kicau yang Berbahagia

Suami sering bilang bahwa saya ini boros kata-kata. Apa yang seharusnya bisa dinyatakan dengan satu dua kata, kalau saya lagi senewen, ya, keluarnya jadi lima kata sendiri, ibaratnya. Dan, ya, saya ini orangnya mudah senewen, terutama kalau suami menanyakan sesuatu yang sudah ditanyakan sebelumnya.

“Tadi, kan, sudah Mama jawab, Pa. Kenapa,sih,  ditanyakan lagi?’

Padahal, pertanyaan suami bisa saya jawab dengan satu kata saja.

Sudah, misalnya.

Kangkung, contoh lainnya.

Dan entah bagaimana mekanismenya, hal-hal tidak keren semacam ini justru ditiru oleh Sophie. Si nona poni sekarang  juga suka merepet tak habis-habis untuk mengungkapkan hal yang seharusnya bisa disampaikan secara singkat saja.

Weekend lalu suami melanggar lampu merah. Saya bertanya kenapa plus ngomel-ngomel yang (sebenarnya) tidak perlu  dan (jelas) tidak penting. Sophie langsung bertanya kenapa saya cerewet sama suami.  Lah, anaknya langsung ikut ngomel, coba.

“Papa kalau ada lampu melah belhenti, ya. Melah itu altinya stop. Kalau tidak berhenti bahaya, tahu, Pa. Papa jangan sepelti mobil balap yang tidak belhenti kalau ada lampu melah. Mobil balap itu cepet-cepet jalannya, jadi gak bisa belhenti klo ada lampu melah. Dan mobil balap itu bahaya. Besok-besok kalau ada lampu melah Papa belhenti, lho”

Dan tidak cukup sekali, lho, ngomelnya. Ocehan tentang lampu merah, bahaya dan mobil balap (yang sebenarnya kurang pas. Berhubungan, sih, iya. Tapi rasanya kok maksa, ya) itu diulang berkali-kali oleh Sophie.

Belum lagi omelan saya tentang hal remeh temeh lainnya (yang dengan segera dilipatgandakan oleh Sophie).

Resmi sudah, tukang kicau di rumahliliput kini ada dua.

Polusi suara buat suami.

Yang tabah, ya, suami 😀

Btw, kemarin sore tukang kicau#1 (a.k.a saya) berubah jadi manis sekali mulitnya. Bawaannya senyum-senyum melulu, apapun yang dikatakan suami saya iyakan saja. Nurut semua perkataan suami. Tidak merepet. Tidak mengomel. Bila ada pemicu ngomel saya senyumi saja. Kok bisa?

Semua itu karena suami menang undian Dulux Paint.

“Ma, Papa menang lho, dapat voucher 1 juta”

“Wow, alhamdulillah”

Ini pertama kalinya kami menang undian. Seneng banget rasanya.

“Voucher MAP, sih, apaan?”

“Hah, VOUCHER MAP 1 JUTA?”

Hati saya langsung membuncah bahagia berlipat-lipat kalinya gara-gara ini. As happy as a Payless lover (yang sudah berbulan-bulan mengincar sepatu idaman tapi tak kunjung didiskon harganya) could be.

Setelah saya jelaskan apa itu voucher MAP, antusiasme suami hilang sudah. Tentu saja, suami saya berharap 1 juta itu berwujud uang tunai saja, bukannya voucher (yang kemungkinan besar) akan dinikmati sepenuhnya oleh saya.

Alhamdulillah.

Terima kasih, Dulux.

Terima kasih, suami.

😀

Uncategorized

Oh, Sophie….

“Pa, tadi Bu Lomy belpesan apa, hayo?

“Besok Sophie renang”

“Satu?”

“Bawa baju renang”

“Dua?’

“Bawa baju ganti”

“Tiga?”

“Bawa kantong plastik”

“Empat?”

“Bawa air minum”

“Dan boleh bawa jajan. Besok aku bawa jajan apa, dong, Pa?”

Jangan khawatir, Sophie. Alhamdulillah ingatan Papamu masih bagus, kok.  Papa belum lupa semua pesan Ibu Romy tadi siang. Tidak perlu, lah, dites segala macam itu 😀

Image

Uncategorized

Lima Tahun Bersamamu

Bojomu piye, Mbak? Wis persiapan sekolah meneh?”

“Wis nimbang-nimbang, sih. Tapi riil-e yo mengko, yen aku wis lulus”

“LAH, KAPAN BARENGE, MBAK? MOSOK GANTIAN SEKOLAH TERUS

*jleb*

*nangis di pojokan*

Iya, ya. Kalau dirasa-rasa, kok, ya, begini amat pernikahan kami. Lima tahun menikah, tapi suami di mana, istrinya di mana. Belum juga berkumpul, ini sudah ada wacana mencar-mencar lagi. Ck.

Iya, kami sudah bersama sebagai suami istri selama lima tahun per 29 Juli, hari ini.

Lima tahun yang tercecer di antara Purwokerto, Bangkok dan Surabaya. Lima tahun yang membuat saya sedikit mengerti tentang kesabaran dan perjuangan. Lima tahun dalam tempaan jarak  yang membuat kami sering ber-miskomunikasi.

Tapi, ya, tidak begitu-begitu amat, kok, pernikahan kami. Tidak melulu tentang miskomunikasi dan sedih-sedih, sepi-sepi itu. Banyak tawa yang terselip diantaranya. Rasanya masih seperti jaman pacaran yang kangen melulu itu. Kata-kata love you dan sejenisnya masih kami obral setiap harinya. Kami masih merayakan setiap pertemuan dengan keceriaan dan segala euforianya.

Dan, ya, kami belajar dari apa yang telah terjadi. Untuk saya, kalau sedang anyel, ya, jangan telpon dari pada cuma diam dan memancing suami untuk anyel juga.  Kalau sedang tidak mau mendengar yang panjang-lebar dan diulang-ulang, ya, tutup saja telponnya. Kalau sedang marah, ya, ingat-ingat saja betapa sepelenya semua itu.

Long distance love ini bukan sesuatu yang mudah, tapi dengan beberapa pengaturan (dan kelonggaran hati) tetap bisa dinikmati, kok. Tapi, kalau bisa memilih, ya, lebih enak bersama terus kemana-mana, pastinya.

Belakangan ini kami bercermin pada pernikahan kenalan kami yang sedang mengalami masalah. Kami belajar dari apa yang terjadi pada mereka bahwa love alone is not enough, seperti kata Manic Street Preachers. Untuk lebih tepatnya, love we knew when we were younger. Cinta yang meletup-letup, yang muncul dari daya tarik fisik atau kepribadian semata, yang sering dideskripsikan sebagai sensasi butterfly in stomach, you know it. Yes, that kind of love is not enough for a strong marriage, terlebih ketika mulai ada banyak isu baru yang sebelumnya tidak pernah ada yang perlu dipikirkan dalam pernikahan itu. Dari mereka kami mengerti bahwa demi suatu hubungan yang sehat, kedua pihak perlu menyesuaikan diri. Porsi it is me dan it is you-nya perlu diatur. Yang namanya tanggung jawab bersama, ya, dipikul bersama. Di sisi lain, kedua pihak juga harus bertumbuh. Lha, wong, sudah 30+, kok, ya, masa iya mau terus memandang hidup dari kaca mata ABG yang masih pengen having fun dan ignorant tiada batasnya. Ah, pengalaman orang lain memang guru yang berharga. Semoga Allah senantiasa menjauhkan kami dari hal seperti itu.

Melihat kembali lima tahun yang telah kami lewati ini, saya menyadari bahwa yang namanya “cinta” pada pasangan itu tumbuh adanya. Ber-evolusi. Saya tidak tahu apakah diksi yang saya gunakan tepat, tapi begitulah yang saya rasakan. Semakin ke sini, yang ada bukan lagi cinta yang meledak-ledak seperti saat muda dulu. Tapi lebih kepada rasa sayang yang tumbuh bersama respect ketika melihat kesehariannya, dirinya yang sesungguhnya. “Cinta” itu nyata dalam  caranya mengurus Sophie, menenangkan saya ketika saya bergejolak, sikapnya dalam menghadapi masalah, dan juga dorongan dan motivasinya agar saya terus bertumbuh.

Semoga suami juga merasakan “cinta” saya dalam keseharian saya.

Satu hal, saya percaya pada ilmu kebacut. Setelah lima tahun menikah, ada banyak hal dari suami yang dulunya belum nampak, hal-hal kecil, sekarang mulai kelihatan dengan jelas. Kok suami ternyata begini begitu. Dan tidak semuanya cocok dengan preferensi saya. Begitupun adanya saya di mata suami. Kalau sudah begini, saya kembalikan pada ilmu kebacut tadi. Yo wis kebacut dinikahi, ya sudah, lah. Dirombak sedikit-sedikit kalau bisa, kalau tidak, ya, terima saja. Lha, wong, ya, cuma hal-hal sepele seperti itu. Yang penting kepentingan bersama (yang lebih besar dan penting) masih bisa terus terakomodasi.

Selamat, ya, suami, kita lulus babak lima tahun pertama ini. Masih ada tahun-tahun yang akan datang dengan beraneka tantangan untuk kita, semoga kita juga bisa melaluinya dengan baik. Semoga kita selalu ingat bahwa apapun yang kita lakukan akan berefek pada Sophie (nah, lho, berat banget, kan?). Dan karena tahun ini kita mulai sadar tentang pentingnya menjaga kesehatan, please, stay active, eat more fruits-veggies and less gorengans. Kalau Howard Donald saja bisa tetap bugar, sehat dan ganteng di usia yang semakin matang (he’s getting better and better, actually), kamu juga bisa, Sayang 🙂

Image
Suami, ayo kita kembalikan berat badan kita ke timbangan jaman muda ini, yuk.

Kembali tentang masalah sekolah, saya yakin akan ada jalan. Sudahlah, saya tidak mau menambah beban pikiran saya dengan hal ini. Saya tidak mau nyicil pusing duluan.

PS: Soundtrack tahun ini adalah Beautiful World-nya Take That.  And I know that it’s you that’s stopping me from falling, crashing down, losing ground til I see you again. And you know, the sun will shine, and we will see there’s nothing standing in our way. Love will stand and never break, never thought this could be me. Do you feel what I feel? Everytime that you are near it’s a beautiful world.