Sophie

Nggaya = Mama

Saya dan suami sedang membicarakan nama-nama bayi yang potensial kami pilih untuk baby #2.

“Tidak mau nama itu, ah, temanku yang namanya itu nggaya banget

Dan Sophie-pun menyahut,

Nggaya itu apa?”

Kakehan polah, Soph”

“Maksudnya apa?”

“Mmmmm, banyak melakukan hal-hal yang tidak perlu, hal-hal yang tidak wajar”

“Oh, aku tahu. Nggaya itu kayak Mama, kan”

Oh, Nak. Masa iya Mama harus jaim di depanmu?

😀

Advertisements
Uncategorized

Oh, Changes!

Alkisah, saya yang mulai berlumut di Purwokerto, sebuah kota yang tidak terlalu besar, yang untuk mencari produk Hada Labo saja sulitnya minta ampun, terdampar di Watsons. Oh, jangan meminta detail kenorakan saya. Yang jelas saya menghabiskan banyak waktu di sana, memelototi lipstick berbagai brand yang biasanya hanya bisa saya lihat via google saja swatch-nya.

Oh, i’ve just realized a new found love to lipsticks and co. Please don’t ask.

Singkat cerita, tahu-tahu saya sudah memegang eye shadow ketika mengantri. Bukan untuk saya, saya mempertimbangkan untuk membelinya untuk Sophie. Sophie sedang suka bereksperimen dengan make up belakangan ini. Semuanya berawal dari sesi bermain, di mana Sophie dan teman-temannya menjajah koleksi make up Mama si teman baru. Sophie paling terkesan dengan eye shadow, menanyakan kenapa saya tidak punya dan berjanji akan mengajari saya bagaimana cara memakainya.

Nah, kembali ke suatu sore di Watsons itu, ketika saya mengantri, saya sudah memegang beberapa lipstick (I have told you) dan ini.

Peripera Tap Tap ElsaCombo banget, memang. Eye shadow dan Elsa. (Iya, demam Frozen masih melanda rumahliliput). Dua hal yang amat Sophie sukai dalam satu produk.

Ketika saya tinggal satu antrian lagi menuju kasir, suatu kesadaran menampar saya. “What am I doing? Am I loose my mind?” Kenapa juga saya menjadikan kesukaan anak sebagai satu-satunya pertimbangan? Bagaimana dengan gambar yg lebih besar?

Saya buru-buru mundur dan mengembalikan trio eye shadow Peripera itu ke counter-nya. Di kepala saya seketika tertayang salah satu episode Jo Frost’ Extreme Parenting, di mana ada gadis kecil yang terobsesi dengan make up dan modelling, yang menghidupi imaji tentang kesempurnaan fisik para model sampul majalah. Poor little girl. Dan sungguh, saya tidak ingin Sophie menjadi gadis seperti itu.

Kejadian ini membuat saya berpikir, dalam memenuhi kebutuhan anak, kita seharusnya melihat dari sisi mana? Sisi anak, sisi orang tua, atau kompromi di antara keduanya?

Jawabannya tentu akan kembali pada masing-masing keluarga. Saya percaya bahwa tidak ada formula tunggal yang bisa diaplikasikan untuk semua kasus. Setiap keluarga mempunyai nilai-nilai tersendiri, yang membuatnya tidak bisa dipaksakan untuk mengikuti satu aturan tunggal.

Saya mengenal beberapa keluarga yang mengijinkan penggunaan kosmetika untuk anak perempuannya sejak balita. Minimalnya punya bedak, lah. Beberapa mengijinkan anaknya mencoba-coba make up dan menampilkannya ke luar rumah. Jalan-jalan dengan tinted lip balm dan pink eye shadow masih OK bagi mereka.

Saya juga mengenal beberapa keluarga yang sangat membatasi penggunaan kosmetika pada anak-anaknya. Sama sekali tidak boleh, kosmetika hanya boleh digunakan ketika anak-anak sudah dewasa, yang dibeli dengan uang  mereka sendiri saat mereka sudah bekerja.

Di rumahliliput, kami mengambil jalan tengah di antara keduanya. Saya tidak ingin anak saya mengacak-acak koleksi kosmetika tetangga, dan saya juga  tidak ingin anak saya menempatkan kosmetika di salah satu keranjang obsesinya. Jadilah saya membeli eye shadow  Viva (sampai di sini saya nyengir, sungguh tipis batas antara peduli anak dengan pelit, ya). Saya katakan pada Sophie bahwa itu adalah milik saya, tapi dia boleh memakainya untuk main-main di rumah. Dandan-dandanan boleh, tapi kalau mau sekolah atau keluar jalan-jalan harus dibersihkan dulu. Saya menunjukkan padanya apa-apa yang boleh dia pakai, dan apa saja yang tidak boleh disentuhnya (lipstick adalah salah satunya, tentu saja).

Sejauh ini, drama-drama kecil masih terjadi. Tapi setidaknya, kami merasakan adanya perbaikan. Saya tidak merasa tertekan, semoga Sophie juga demikian.

Coba, yg dulu-dulu stress lebay bayinya mingkem melulu gak doyan makan, mana suaranya? Ternyata semakin besar anak, semakin kompleks masalah yang dihadapi, ya 🙂

Uncategorized

Jodoh

Semalam, ketika saya sudah memasuki fase setengah melek setengah merem, saya dikejutkan oleh pertanyaan Sophie,

“Mama, nanti aku kalau sudah besar mantenannya sama siapa?”

Hening.

Lah, ini anak 5 tahun tidak punya bahan lain untuk diomongkan, apa?

“Sama jodoh Sophie”

“Jodoh itu apa?”

“Jodoh adalah Mas-mas yang sayang, yang baik, yang cocok sama Sophie”

“Nanti aku ketemu jodohku yang cocok itu di sekolahku, ya, Ma?”

Mana mama tahu, Soph 🙂

Uncategorized

There’s More Important Things in Life than TV

Seharian ini saya berdua bersama Sophie di rumah. Overdosis Disney Junior dan Baby TV. Setelah merayu dengan segala trik, akhirnya Sophie memperbolehkan chanel TV diganti. Star World, Master Chef Junior season 2. Sophie suka Mbak Oona (“aku sedikit takut kalau Mbak Oona masaknya tidak enak”) , dan menanyakan kenapa Mas Josh berambut panjang seperti mbak-mbak tapi suaranya seperti nenek-nenek. Juga kenapa Mas Logan pipinya merah terus. Lah, mana mama tahu, Soph  🙂

Hal yang  harus diwaspadai saat menemani anak nonton TV sesungguhnya adalah iklan. Kita sudah hati-hati memilih acaranya, kita sudah pastikan content-nya aman untuk bocah seusianya, eh, tiba-tiba saja ada iklan acara yang nyelonong dan menimbulkan tanda tanya baginya. Sore tadi, iklan America’s Next Top Model cycle 21 memicu komentar singkat Sophie (dan penjelasan panjang lebar dari saya).

“Ih, baju Mas-masnya malu. Mbak-mbaknya juga. Kok semprotan bisa jadi baju?”

Memang, ya, paling nyaman itu anak disodori tontonan yang sesuai untuk umurnya yang tayang di stasiun TV khusus anak-anak. Nyaman untuk ibunya, maksud saya. Tidak perlu pusing memikirkan penjelasan untuk setiap hal yang menimbulkan pertanyaan bagi anaknya. Etapi puyeng juga, lho, kalau nontonnya acara anak pra-SD melulu 🙂

Saat-saat seperti ini saya jadi teringat Until the Next Life-nya Mansun, yang sepenggal liriknya saya jadikan judul post ini. (Walaupun konteksnya jauh banget, sebenarnya).

Happy weekend 🙂

Uncategorized

An Owl and A Sparkling Heart

Rabid Mama is struggling to finish #November15. Mohon dimaklumi, saudara sekalian.

An owl and a sparkling heart.
An owl and a sparkling heart

The owl is O the Owl from Daniel Tiger’s Neighborhood.  The sparkling heart is the heart of ruby from Jake and the Neverland Pirates. Nasib anak Disney Junior 🙂

Melengkapi per-mamakkelinci-an saya kali ini, berikut versi close up dari kedua obyek gambar Sophie.

O the Owl
O the Owl
the heart of ruby
the heart of ruby