Uncategorized

Five Rules by Atul Gawande

5 rulesMbak Nanny adalah seorang suster pada suatu keluarga, dengan masa kerja lebih dari 10 tahun. Pekerjaan Mbak Nanny bagus (lha, iya, kalau tidak bagus, ya, tidak mungkin bisa bertahan sampai selama itu, bukan?). Ternyata oh ternyata, si Anak yang diasuh Mbak Nanny itu tidak tahu nama asli pengasuhnya itu, yang biasanya dia panggil dengan “suster

Siapa saya itu nggak penting, Miss. Yang penting hasil kerja saya dinilai bagus dan bener!”

(cerita selengkapnya dan juga banyak cerita yang menyetrum hati lainnya bisa dibaca di sini).

Nama mungkin bukan sesuatu yang dianggap penting dalam hubungan antara keluarga tersebut dengan Mbak Nanny. Yang lebih penting adalah apakah Mbak Nanny menguasai pekerjaannya, tahu pasti apa-apa yang harus dia lakukan ketika mendampingi anak asuhnya.

..

Ceritanya, Atul Gawande memberikan sambutan pada Harvard Medical School Commencement Day. Dalam pidato tersebut, ada lima hal yang ditekankan oleh Pak Gawande untuk dilakukan oleh para dokter yang baru diwisuda tersebut ketika nanti akhirnya mereka berpraktek.

  1. Ask an unscripted question. Ours is a job of talking to strangers. Why not learn something about them? ou will find that many respond, however—because they’re polite, or friendly, or perhaps in need of that human contact. When this happens, see if you can keep the conversation going for more than two sentences. Listen. Make note of what you learn.
  2. Don’t whine. Resist it. It’s boring, and it will get you down. I’m not saying you have to be all Julie-Andrews-Mary-Poppins about everything. Just be prepared with something else to talk about.
  3. Count something. No matter what you ultimately do in medicine, a doctor should be a scientist in his or her world. In the simplest terms, this means that we should count something. It doesn’t really matter what you count. You don’t need a research grant. The only requirement is that what you count should be interesting to you. If you count something interesting to you, I tell you: you will find something interesting.
  4. Write something. It makes no difference whether you write a paper for a medical journal, five paragraphs for a website, or a collection of poetry. Try to put your name in print at least once a year. What you write does not need to achieve perfection. It only needs to add some small observation about our world.
  5. Change. People respond to new ideas in one of three ways. A few become early adopters, as the business-types call them. Most become late adopters. And some remain persistent skeptics, who never stop resisting. Make yourself an early adopter. Look for the opportunity to change. I am not saying you should take on every new thing that comes along. But be willing to recognize the inadequacies in what we do and to seek out solutions. As successful as medicine is, it remains replete with uncertainties and failure. This is what makes it human, at times painful, and also so worthwhile.

..

Walaupun aturan-aturan tersebut sama sekali tidak ditujukan pada saya, entah kenapa saya bisa merasa related padanya. Entah bagaimana ceritanya, saya merasa bahwa lima hal tersebut bisa diaplikasikan dalam hidup saya. Dari lima hal tersebut, saya pribadi paling tercubit oleh aturan pertama. (Oh, dapat salam dari si hati-kanebo-kering!).

Secara keseluruhan, kelima hal tersebut adalah satu kesatuan. Kalau mau melakukan ya lima-limanya sekalian, jangan tanggung-tanggung, karena satu hal akan mendukung hal yang lain. Salah satu cara agar tidak mengeluh adalah melalui obrolan yang menarik. Nah, obrolan yang menarik tersebut tercipta ketika kita mencoba keluar dari rutinitas, bukan hanya membicarakan apa-apa yang sudah tertulis sebagai SOP pekerjaan kita. Dari obrolan-obrolan tersebut, boleh jadi kita menemukan sesuatu yang menarik untuk kita teliti. Hasil penelitian tersebut, juga obrolan-obrolan menarik yang terjadi selama proses pengerjaannya adalah bahan tulisan. Perubahan? Tentu saja ada banyak cerita yang bisa dituliskan dari sana.

..

Suatu cambuk itu sahih berfungsi sebagai cambuk ketika ia berhasil merubah arah lari hewan dengan sabetannya. PR saya, ini. Ya, mari kita tunggu beberapa waktu ke depan, ya 🙂

Advertisements
Uncategorized

Nagasari

Beberapa waktu yang lalu saya membaca tentang nagasari, tumbuhan yang namanya saja masih asing bagi saya. Terlepas dari ketidakfamiliaran saya, nagasari adalah flora identitas Banyumas. Saya masih familiar dengan sebagian besar flora identitas dari kabupaten lain di Jawa Tengah, makanya saya sempat berpikir apakah nagasari sudah langka keberadaannya. Lha wong namanya saja tidak pernah mendengar.

Informasi di Internet pun tidak banyak membantu. Nama latin nagasari ada dua, Mesua ferrea dan Palaquium rostratum. Klasifikasi dari Mesua dan Palaquium itu jauh berbeda, sejauh Clusiaceae ke Sapotaceae. Bahkan, ada yang memberikan sinonim dewandaru untuk nagasari. Dewandaru, dari familia Gentianaceae. Lah, nagasari itu sebenarnya yang mana?

Setelah memastikan ke sini dan ke sana, yang bisa dipercaya, tentunya, saya yakin bahwa nagasari adalah Mesua ferrea. Melihat deskripsinya, saya baru menyadari bahwa nagasari banyak terdapat di sekitar saya. Di halaman sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintahan. Banyak (iya, namanya juga flora identitas Banyumas). Ketika saya melihat sekitar dengan teliti, ada banyak nagasari di halaman rumah tetangga saya. Dan banyak rumah lainnya. Bahkan, saya menemukan belasan pohon nagasari di salah satu ruas Jl. JendSoed.

Awalnya, saya mengira bahwa hanya ada nagasari berukuran mini setinggi manusia dewasa saja di Purwokerto, berangkat dari fakta bahwa nagasari adalah slow growing tree yang butuh waktu ratusan tahun untuk mencapai ukuran maksimalnya. Ternyata, saya kemudian menemukan nagasari setinggi rumah, bahkan yang lebih tinggi lagi. Di Jl. JendSoed, nagasari tak kalah tinggi dari pohon peneduh jalan yang lain. Bahkan di Taman Satria, ada nagasari yang tumbuh lumayan tinggi dalam postur alaminya, bukan tumbuhan ornamental yang sudah dibentuk sedemikian rupa. Kabarnya, di Situs Batur Agung, Kedung Banteng, ada nagasari yang tumbuh selayaknya nagasari di hutan hujan tropis: menjulang tinggi hingga 30an m.

Hal per-nagasari-an ini mengajarkan dua hal pada saya. Pertama, karena kita tidak tahu tentang suatu hal, bukan berarti hal tersebut tidak ada/penting/benar, Kapasitas pengetahuan kita terbatas untuk mengetahui semua hal yang ada. Ada banyak hal di luar kita yang penting/benar, tapi kita tidak menyadarinya karena ketidaktahuan kita. Kedua, kita bisa mencari tahu lebih banyak dengan membuka diri kita. Dengan menyadari bahwa kita tidak tahu dan mencari tahu, kita akan mendapatkan hal-hal baru yang boleh jadi akan mengejutkan kita.

Uncategorized

Sophie’s Recent Love and Memom’s (Tiny) Brokenheart

Daniel Tiger’s Neighborhood.

we love you... UP SIDE DOWN!
we love you… UP SIDE DOWN! (terima kasih, google, telah membawa saya ke laman PBS Kids)

Salah satu hal yang disukai Sophie dari serial ini adalah lagu-lagu singkat yang digunakan untuk menasehati si tokoh utama. Nadanya sederhana, ejaannya jelas, dan terutama, singkat. Jadi mudah dipahami dan diingat bocah seusia Sophie.  Penokohan dalam serial ini juga realistis. Karakter-karakter yang ada mirip-mirip dengan kelakuan dengan anak-anak kita. Yang kadang mandiri kadang manja, kadang nyenengin kadang ngeselin, kadang gampang diajak negosiasi kadang ngeyelnya kuadrat, dan seterusnya. Tidak jauh berbeda dengan diri Sophie sendiri dan teman-temannya.

Banyak kebiasaan baik yang ditularkan serial ini pada Sophie. Anak saya itu kan model yang prosedural, ya, jadinya dia senang menemukan ada protokol sebelum tidur yang bisa diikutinya. Versi Daniel: mandi, memakai piyama, sikat gigi, membaca buku, menyanyikan lagu dan lalu tidur. Versi Sophie: Ganti daster, sikat gigi, membaca buku, menyanyikan lagu lalu tidur. Nah, urusan membacakan buku dan menyanyikan lagi ini seringkali menjadi sumber konflik. Suami ingin membacakan buku secepat mungkin, tapi Sophie memilih buku sesuka dia, bisa apa saja. Pernah, lho, Sophie minta dibacakan NatGeo sebagai penghantar tidur. Atau ketika buku dari Naning baru datang, ngotot minta dibacakan semua sampai selesai *pukpuk suami*. kalau saya lebih sering bermasalah dengan lagu pengantar tidur. Sophie maunya dinyanyikan lagu dengan nada yang semirip mungkin dengan yang dinyanyikan Mrs.Tiger. Sesuatu yang sulit untuk saya. Setiap saya salah menyanyikannya, Sophie akan melek lagi untuk mengajari saya lagu yang benar versinya. Diulang-ulang. Lah, terus kapan tidurnya?

Bukan hanya Sophie, saya dan suami juga suka serial ini. Kami sering mencontek apa yang dilakukan oleh orang dewasa ketika si anak berada dalam situasi tertentu. Kami meniru cara membujuk yang efektif dan menghibur anak yang sedang sedih, dan itu bisa diterapkan pada Sophie.

Tentang patah hati saya, ini terkait dengan Yuna dan Sophie Ellis-Bextor yang akhir pekan ini tampil di Jakarta. Suami tadi sudah mengijinkan sebenarnya, sekali-kali boleh lah saya jejingkrakan tanpa memikirkan rumah dan semuanya. Mumpung mereka datang sedekat ini, kapan lagi, coba? Tapi setelah saya pikir lagi, rasanya kok kurang fun jejingkrakan seorang diri. Lebih menyenangkan bersama suami dan Sophie di rumah. Minat saya untuk nonton semakin tipis ketika suami bilang saya naik Kerta Jaya saja ke Jakartanya. Antara pengen nangis dan tertawa, sayanya.

Jadi suami, lebih baik siapkan tabunganmu. Tidak apa-apa deh, melewatkan Jeng Sophie dan Jeng Yuna kali ini. Yang jelas, dompet harus siap dirobek ketika Take That atau Stereophonics tampil di area yang berada dalam jangkauan kita. Maaf, tidak menerima negosiasi untuk yang satu ini. Harus setuju. Titik.

Uncategorized

Wanderlust – Sophie Ellis Bextor

Sebagian alasan kenapa saya menamakan anak perempuan kami dengan Sophie adalah Sophie Ellis-Bextor. Cetek, ya, tapi begitulah adanya. Saya suka Sophie EB sejak awal kemunculannya dulu, untuk alasan-alasan yang sama sekali tidak bisa saya pahami. Saya menyukainya begitu saja, bertentangan dengan fakta bahwa musik yang dia mainkan normalnya bukanlah preferensi saya. Tapi saya menyukai musiknya, dari dulu sampai sekarang. Sejak duetnya dengan Spiller yang sedemikian saktinya, hingga Make A Scene yang bahkan tidak bisa masuk 30 besar UK Official Album Chart.

Awal tahun ini, di usia 34 tahun, setelah 4 album yang grafik penjualannya bergradien negatif dan penampilan cemerlangnya dalam Strickly Come Dancing, Sophie merilis album ke limanya, Wanderlust. Sejauh ini, album ini adalah album favorit saya dari semua album yang pernah dirilisnya. Saya suka sekali bebunyian yang gak-Sophie-banget, juga lirik-lirik yang quirky yang Sophie sajikan di Wanderlust.  Kata Sophie, album ini terispirasi dari perjalanannya ke Eropa Timur, sehingga kental dengan aroma Rusia. Saya, yang tidak tahu sama sekali seperti apa musik Rusia itu, praktis jatuh cinta dengan suara-suara baru yang disajikan Sophie dalam album ini. Jauh dari hingar bingar electro pop yang sebelumnya dia tekuni.

Image

It is simply beautiful.

Wanderlust ini jelas menunjukkan bahwa bertambahnya usia itu akan mengubah banyak hal. Album ini seperti mengilustrasikan sisi reflektif seorang Sophie EB yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Sulit membayangkan Sophie menulis dan menyanyikan lagu-lagu semacam ini ketika dia masih muda dulu.

Terus, kenapa sekarang berubahnya, Jeng Sophie? Kenapa baru sekarang menulis lagu yang bisa mengobrak-abrik hati dan sekaligus membangkitkan semangat emak-emak seumuran saya?

Kata Sophie, kalau memang mau berkarya yang fenomenal, ya, sekaranglah waktunya. Di usia 30an. Soalnya, hidup selama tiga dekade seharusnya sudah cukup untuk membekali seseorang untuk mengerjakan sesuatu yang besar “It’s a great decade for us women to find out what we are really capable of.”

Serasa pengen curcol, deh, jadinya. Tapi lebih baik tidak, ya. Demi kesehatan hati bersama 🙂

Lagu favorit saya adalah Young Blood, The Deer and The Wolf, Birth of An Empire, Wrong Side of The Sun dan When The Storm Has Blown Over . Oh, biarkan lirik lagu saja yang bicara, ya.

The days are ghosts that pass right through us. In my eyes, you’re like an evergreen. Untouched. By the hours that fly around us, my love, is that how you see me? Remember when we were the diamonds in the coal. Lovers know there’s no age upon your soul. Young Blood.

Come away, come away darling. Look at how we are. See ourselves reflected in a river, guess that’s the hardest part. On and on and on my love, agree to disagree. Under the surface it’s role universal: the opposites decree. We’re both in tune when we’re chasing the moon. But under the sun I’m hunted just like you. The Deer and The Wolf.

Something close to love, but more mysterious. I’ll hold you in the shadow of my arms. Always close to love, but more victorious. Can you feel this empire being born? Birth of An Empire.

If i’d been a loner, i would save myself, stay unaware.If i’d been a dreamer, i would float away and not care. But together we wandered through a land we didn’t know. All we wanted for our love was a chance to let it grow. Wrong Side of The Sun.

Don’t be so numb, your time will come. So pick it up from where you left. Carry on. It’s enough to be strong if we both weather the storm. When The Storm Has Blown Over.

Btw, saya mengagumi kehidupan pribadi Sophie yang terlihat  adem ayem saja. Bersuamikan pesohor dan memiliki tiga anak laki-laki tidak menjadikannya ratu drama yang kesehariannya diekspos dimana-mana. Saya suka sekali komentarnya tentang bagaimana ia ingin tampil  dan dilihat, dengan mencontohkan Lady Gaga, Miley Cyrus dan Adele. Ibuk-ibuk banget, lah. Menutup post ini, saya ingin berbagi foto-foto Sophie sebagai bumil dan ibu (dan istri, tentu saja), saya ambil dari mana-mana dengan bantuan google. Lovely pics, these are.

Image
Ada berapa persen bumil yang memiliki penampakan seperti Jeng Sophie ini?

 

Image
Mamak Sophie, Ayah Richard, baby Kit dan Sonny

PS: This is not my current love post. Today is her birthday, so I write this post. For her? No, for my self in order to get rid of Thursday Syndrome. 

Uncategorized

20 Ways to Draw a Tree and 44 Other Nifty Things from Nature

Panjang, ya, judulnya. 

Ceritanya, Sophie sejak beberapa bulan lalu tiba-tiba suka menggambar. Tiba-tiba. Dulu-dulu dia sama sekali tidak tertarik dengan aktivitas ini. Setiap kali kami melihat portofolio hasil karya Sophie ketika progress report di sekolah, kami cuma bisa meringis melihat garis-garis (yang sepertinya) tak berarti (dan jelas tidak diniati) yang ditunjukkan Bu Guru. Kami pikir Sophie itu seperti kami berdua, orang tuanya, yang dalam hal menggambar-gambar sungguh tak tertolong. Tidak minat dan tidak bisa.

Makanya kami terkejut ketika Sophie tiba-tiba suka menggambar. Duduk anteng dan tahu-tahu sudah memenuhi kertas gambarnya dengan banyak gambar, lalu menjelaskan apa yang digambarnya pada kami. Terharu!

Nah, yang menjadi masalah adalah bahwa saya sama sama sekali tidak bisa menggambar tetapi Sophie selalu menganggap saya bisa semuanya (Sophie fans berat mama, alhamdulillah), termasuk menggambar. Yang ada saya puyeng sendiri setiap kali Sophie minta ditemani menggambar. Jangankan menemani di dekatnya, menemani via telpon pun sudah bisa membuat saya puyeng. 

“Ma, kalau menggambar siput itu bagaimana?”

“Mmmm, rumahnya dulu, kali. Atau kepalanya dulu, ya? Sophie suka menggambar apanya dulu?”

“Kepalanya saja. Kepala siput seperti apa, Ma?”

“Mmm, bulat, kali. Atau lonjong. Terserah Sophie sukanya seperti apa”

“Aku sudah membuat bulatan, Ma. Terus apa?”

“Ditambahi antena. Atau mata, sih, yang suka nlolor-nlolor itu?”

“Antena, Ma. Bedanya apa sama antena kupu-kupu”

“Mmmmm, apa, ya. Agak besar, tidak sekecil antena kupu-kupu. Terserah Sophie, lah, sukanya seperti apa”

Dan seterusnya. 

Makanya saya senang sekali ketika menemukan 20 Ways to Draw a Tree and 44 Other Nifty Things from Nature ini. Setiap kali Sophie mulai menanyakan bagaimana cara menggambar sesuatu, saya tinggal bukakan buku ini (atau menyuruhnya melihat di buku kalau saya sedang di Surabaya). 

Image

Image

Image

Image

Image

Image

 

Bagus banget, kan, contoh gambar di buku ini? Cantik.

Awalnya buku ini amat efektif untuk membuat Sophie tidak bertanya pada saya bagaimana cara menggambar sesuatu. Tapi semakin ke sini Sophie lebih suka untuk menggambar hal-hal berdasarkan imajinasinya sendiri, bukan dengan melihat contoh. (Seminggu ini sedang suka menggambar surga, kata suami. SURGA, saudara-saudara). Mungkin akhirnya Sophie paham bahwa saya dan suami tidak pintar dalam segala hal, ya. Hahaha!

Btw lagi, ada satu hal yang menyentil saya ketika saya dan Sophie menggambar dengan melihat contoh dalam buku ini. 

“Kenapa Mama menggambarnya lihat buku?”

“Karena Mama tidak pintar menggambar, jadi Mama melihat contohnya”

“Mama berusaha terus, ya, belajar menggambar terus kayak aku. Nanti Mama akan bisa”

“Eh…”

“Nih, lihat, Ma. Aku menggambar pohon. Aku mau BERUSAHA  biar aku bisa”

Ini siapa Mamanya, siapa anaknya, sih 😀

PS: foto-foto buku ini saya ambil dari sini.