babysophie

Delivering Baby Sophie

Saya terbangun dengan perasaan yang amat berbeda Sabtu (03/10) kmaren. Saya membuka mata dan melihat suami berbaring di samping saya. What a feeling. What a morning. Dan intro seperti inilah yang mengawali petualangan saya memasuki dunia baru yang amat menantang, what so called motherhood.

Hari Sabtu kmaren adalah jadwal saya memeriksakan kandungan saya yang sudah berusia 39m0h. Hasilnya alhamdulillah baik, bayi saya bisa lahir kapan saja. Saya sempat bertemu Bu Daliman, beliau berkata sepertinya sudah tidak lama lagi. Beliau mengatakan seperti itu karena melihat ada ekspresi yang spesifik di mata saya. Ekspresi emak-emak yang menahan kontraksi. Dan benar saja, sejak mengantri sampai selesai diperiksa, perut saya terasa gak nyaman. Kencang-kencang aneh. Dan saya menemukan lendir darah ketika saya di kamar mandi. Hmmm, so the time was drawing near. Kontraksi demi kontraksi terus terjadi, semakin teratur waktunya, sekitar 5 menit skali. Tapi kami tidak langsung ke RS. Kami cari sarapan dulu, baru kemudian pulang mengambil perlengkapan tempur dan check in di RSIA Bunda Arif.

Hasil pemeriksaan, jalan lahir saya mulai mengalami pembukaan. Baru pembukaan 1. Bidan Lisna yang menerima saya memberitahukan kalo portionya masih tebal. Saya tidak tahu apa maknanya dan tidak tertarik untuk mencari tahu. Saya terlalu terlarut dalam euforia akan bertemu dengan bayi saya. Karena di rumah tidak ada orang lain selain kami berdua, saya dan suami memutuskan untuk menunggu pembukaan lengkap di RS saja. Kami officially check in jam 9 pagi.

Kami ditanya, mau melahirkan dengan ditolong Bidan atau dengan dokter. Kami memilih melihat kondisi saja. Maksud saya, dengan bidan dulu. Tapi klo nantinya ada kondisi yang butuh campur tangan dokter, kami akan minta bantuan pada dr. Tommy.

Ba’da dhuhur, kontraksi yang saya rasakan tidak menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Semakin jarang datangnya. Akhirnya saya bosan dengan suasana RS. Kami pulang ba’da maghrib. Kami takjub dengan urusan administratif pas mau pulang. Petugasnya bilang, sudah pulang saja dulu, gak usah bayar apapon dulu. Segala pelayanan yang sudah kami gunakan hari itu akan dimintai jasanya nanti pas saya sudah benar-benar melahirkan. Ibu petugas itu bilang, “Nanti saja, melahirkannya nanti di sini kan?” Terkesan deh kami sama hal ini.

Di rumah kontraksi saya datang setiap 15 menit sekali, kadang-kadang lebih. Menjelang jam 1 malam, intensitas kontraksi yang saya rasakan meningkat lagi. Mulai teratur, lima menit sekali. Jam 3 saya membangunkan suami, dan akhirnya jam 4 kembali ke RS lagi. Ketemu Bidan Lisna lagi. Dan masih pembukaan 1 ternyata.

Jam 6 an suami menjemput Bapak  dan Ibu saya. Kami berempat mulai melewatkan masa-masa menunggu yang menjemukan. Jam 9, status pembukaan masih di angka 1. Empat jam kemudian mulai beranjak ke pembukaan 2. Jam 2 siang, masuk pembukaan 4. Dan satu setengah jam kemudian, saya kesulitan menahan keinginan untuk mengejan. Dorongan untuk mengejan menjadi amat kuat. Kami memutuskan untuk memanggil bidan, dan saya masuk ke ruang bersalin. Setelah dicek, ampun deh, masih pembukaan 5. Karena diperkirakan masih lama, saya ditinggal berdua sama suami saja. Bidan Fitri hanya sesekali mengecek kondisi saya. Bidan Fitri ini adalah salah satu instruktur senam hamil yang saya ikuti, jadinya saya nyaman dengan keberadaannya.

Kontraksi, dalam memori samar-samar saya, adalah sensasi sakit sesaat. Maksudnya, ketika dia datang saya lose control, melupakan semua teori yang telah saya pelajari dan siapkan jauh-jauh hari sambil meluk-meluk suami sambil cakar-cakar mesra. Tapi ketika masanya jeda, saya benar-benar merasa rileks. Hilang semua mules dan nyeri itu tak bersisa. Saya masih amaze akan hal itu sampai sekarang, loh.

Sampai ketika datang masanya kontraksi tanpa jeda, jam 5 lebih kira-kira. Saya tidak lagi diawasi oleh Bidan Fitri. Untungnya, penggantinya adalah Bidan Meinar yang juga instruktur senam saya. Lebih galak dari Bidan Fitri, tapi entah bagaimana caranya mampu menenangkan saya di masa-masa kontraksi tanpa jeda itu. Menjelang adzan maghrib, air ketuban saya dipecah. Dan setelah mengejan 3 kali, lahirlah baby Sophie kami. Tepat jam 18.00 dengan BB 2,85 kg dan panjang 47 cm.

Sesuai request awal saya, kami mencoba IMD. Good baby, setelah beberapa saat menggeliat-geliat di atas perut saya, Sophie menemukan puting kiri saya dan menjilat-jilatnya. Sayangnya, puting kiri saya ini mbelesek ke dalam, yang tertu saja sulit untuk dihisap. Akhirnya Mbak Meinar mengangkat Sophie dan mendekatkan mulutnya ke puting PD kanan saya. Daaan, she sucked it. Alhamdulillaah, senang banget rasanya.

Karena suami mengikuti baby Sophie yang sedang dibersihkan untuk mengadzani-nya, saya hanya berdua dengan Mb Meinar yang mengeluarkan placenta dan jahit-menjahit robekan yang tersisa. Butuh waktu yang lumayan lama untuk menyelesaikan semua itu. Sering teman bertanya, lahir normal spontan dengan brapa jahitan? Saya tidak bisa menjawabnya, karena Mb Meinar tidak mau memberitahu saya. Katanya, pokoknya banyak dan sabar saja menunggu proses menjahitnya selesai, yang pasti luar dalam koyak semua. Iya deh, pokoknya lama mengobrasnya.

Setelah 2 jam dalam inkubator, baby Sophie disusulkan ke kamar. Langsung belajar menyusui deh, dengan dibantu Ibu saya. Alhamdulillah dia bisa nenen dengan posisi saya yang baru boleh miring kiri-kanan itu. Dan setelah itu, dia tidur melulu. Gak bangun-bangun, gak nangis juga. Saya kan jadi agak khawatir, soalnya saya terus mendengar jerit bayi dari kamar bayi sepanjang malam, kok ini Sophie anteng tidur melulu. Tapi saya berusaha tenang, ingat bahwa tanpa minum apapun bayi bisa bertahan sampai 3 hari kok. Lagian tadi kan sudah nenen 2 kali. Menjelang pagi, Sophie gumoh. Saya yang tidak tahu apa yang harus dilakukan memanggil bidan. Dan saya sekalian minta diajari apa-apa yang harus saya lakukan klo bayi gumoh.

Hari Senin, Sophie masih juga tidur terus. Bangun cuma sesekali. Karena saya tidak tahu sama skali bagaimana caranya memandikan bayi, serta Ibu saya sedang pilek berat plus belekan sehingga tidak diperbolehkan memegang-megang baby Sophie, saya mengikuti perawat ke kamar bayi dan minta diajari bagaimana memandikan bayi yang bener. Saya sekalian belajar bagaimana caranya membersihkan pupup dan memasang bedong. Mama yang amatir ini belajar Nak, for sure 🙂

Malam harinya, ujian pertama dimulai. Klo malam sebelumnya Sophie gak mau melek, Senin malam itu Sophie gak mau tidur. Maunya nenen terus. Apa mau dikata, produksi ASI saya blom optimal. Kolostrum yang keluar masih segitu-gitunya. Rewel. Saya bolak-balik memanggil perawat atau bidan malam itu dalam rangka menenangkan Sophie. Memang ya, puting yang masuk itu trouble banget buat Ibu yang baru belajar menyusui. Malam itu saya mendapatkan souvenir berupa spuit injeksi yang dimodifikasi…. untuk menarik keluar puting ^_^.

Selasa pagi, kami pulang dari RS. Dan penghuni Paguyuban 1, D4-27 bertambah satu.

Advertisements
babysophie

Welcome, Baby Sophie

Setelah 39 minggu 1 hari menjalani kehamilan dengan sejuta rasanya, setelah 33 jam menunggu pembukaan lengkap jalan lahir dengan segala cerita serunya, setelah sukses membuat suami tercakar-cakar dan ngedrop mentally *uhuhuhu, maaf ya Sayang, 100% istrimu ini gak sadar ketika melakukannya*….

Alhamdulillah akhirnya saya bertemu dengan bayi kami pada hari Minggu, 4 Oktober 2009 jam 18.00 di RSIA Bunda Arif. And a new world was open for me then. Motherhood.

Illiyina Sophia Hamad adalah nama yang kami pilih untuknya. Baby Sophie lahir dengan BB 2,850 kg dan panjang 47 cm, lebih kecil dari prediksi Pak Daliman sehari sebelumnya yang 2,968 kg.

Kami, Papa Alwani dan Mama Tanti, mengucapkan terima kasih kepada semua kerabat, sahabat dan rekan yang telah memberikan dorongan semangat, dukungan dan doa untuk kehadiran Baby Sophie kami. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang setimpal. Dan semoga Allah mengabulkan doa-doa tersebut.

Welcome, Baby Sophie. Semoga kami mampu menjalankan amanah Allah ini, menjadi orang tua yang baik bagimu nanti. Semoga Allah melimpahkan kebaikan dan memudahkan hidupmu nanti. Mama Papa love you so much.