Uncategorized

Dadah, Beri!

Image
Setahun yang lalu, saat masih mesra sama Beri

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, Sophie sedang suka bermain dengan boneka-bonekanya: Elly, Rabbit, Doggy, dan Pinky, tetapi menganaktirikan Beri si beruang. Menjelang tidur pun,bila Sophie melihat ada Beri di kasur, dia  akan melemparnya ke lantai atau minta pindah tidur ke kamar sebelah.

Dulu, kalau ditanya kenapa Sophie tidak mengajak Beri bermain, jawabannya lugas,

“Aku tidak suka”

Saya dan suami penasaran kenapa Sophie tiba-tiba tidak menyukai bonekanya. Padahal, seingat kami, Sophie paling suka dengan Beri dibandingkan bonekanya yang lain. Beberapa kali kami tanya jawabannya ya datar saja. Aku-tidak-suka. Setelah beberapa lama, setelah kami tanya-tanya melulu kenapa dia tidak suka Beri, akhirnya keluar juga alasannya.

“Beli ada udelnya, aku tidak suka”

Udel, lho. Hanya karena pusar semata.

Pertama kali kami mendengar jawaban Sophie ini saya cuma bisa meringis. Nduk, dari sekian banyak sifat Mama kenapa yang satu ini yang kamu warisi?

(Saya bisa, lho, tanpa angin tanpa hujan tiba-tiba tidak suka dengan sesuatu tanpa tahu alasannya. Yah, sebenarnya tahu, sih, cuma terlalu sepele untuk dijadikan alasan. Dulu, ada teman yang saya omeli melulu, yang saya sebelnya sama dia itu sampai ke ubun-ubun, hanya karena dia punya bok*ng paling trepes sedunia. Bok*ng, saudara-saudara!).

Beberapa waktu yang lalu, saat Sophie sedang mengganti popok Elly yang basah, saya menanyakan kenapa si Beri ada didekat kaki lemari. Jawabannya membuat saya bengong seketika.

“Beli sudah mati. Dia dikubul di situ”

Katanya sambil menunjuk Beri.

(Oh, Nduk, dirimu itu belajarnya cepat sekali, jauh lebih cepat dibanding antisipasi kami. How come you know about death and funeral?)

Sebenarnya, suami yang masih kurang rela kalau Beri harus disingkirkan, mengingat dulu suami yang membelinya di Bangkok. Tapi, ya, anaknya sudah tidak mau, ya, bagaimana lagi *puk-puk suami*

Btw, sebenarnya Beri ini bukan boneka pertama yang tiba-tiba tidak disukai Sophie. Sebelum ini ada si Bernard (yeah, THAT Bernard Bear) yang selalu Sophie lempar ke keranjang mainannya di bawah tangga. Setiap kali Bernard dicuci dan ditata dikasur bersama boneka lain oleh Bu Sainah, Sophie selalu melemparkannya kembali ke bawah tangga. Sophie langsung mengiyakan ketika Bu Sainah nembung Bernard untuk Mbak Lia, cucunya, dulu.

Sekarang, Beri mau dikemanakan, Soph?

Advertisements
Uncategorized

Wicker Park dan Romantisme Jaman Dulu

Wicker Park ini bukan jenis film yang biasanya saya tonton. Saya “menyasarkan diri” menonton film ini gara-gara soundtrack-nya. Saya penasaran film macam apa yang memiliki opening scene diiringi lantunan Maybe Tommorow. Ternyata, saya bisa menimati film ini. Plot-nya yang tidak linear. Twist-nya yang lumayan membuat saya menahan nafas, deg-degan. Josh Hartnett yang selalu  ganteng dengan karakternya yang anteng. Dan terutama music scoring-nya yang juara.  Bagaimana mungkin emosi tidak teraduk-aduk ketika Stereophonics, Jaime Wyatt, Aqualung, Lifehouse dan Snow Patrol numpang lewat, coba?

Dari segi cerita, film ini menarik karena mengingatkan saya pada romantisme masa dimana manusia masih tergantung pada telepon rumah dan surat-menyurat. Masa dimana ponsel dan internet belum dikenal. Ada sebentuk keindahan yang kini sudah langka adanya, sesuatu yang tidak pernah dinikmati anak masa kini.

Coba Matt dan Lisa hidup di hari ini. Mereka tidak perlu merana berkepanjangan hanya karena Alex tidak bisa dititipi amanah. Twitter, email, whatsapp, atau bahkan sekedar ponsel sederhana bisa menyelamatkan mereka. Saat ini, ketika komunikasi adalah sesuatu yang amat mudah dan hampir tak terbatas, kisah seperti yang terjalin diantara mereka bertiga telah mati.

Wahai anak masa kini, sungguh kalian telah kehilangan kesempatan merasakan serunya keterbatasan dalam menyampaikan pesan.Surat berperangko itu romantis, in a way. Email, bagaimanapun juga, tidak bisa mewakili keseruan snail mail. Soul-nya beda.

Ini mengerikan, sungguh. Jelas menunjukkan bahwa saya sudah tua. Hahaha!

Btw, gara-gara Wicker Park yang klasik ini saya jadi teringat masa kecil saya. Kata orang-orang, saya kelas 2 SD sudah membaca koran. Bukan apa-apa, saya membaca koran hanya karena itulah satu-satunya media yang bisa saya akses.Mmm, belakangan muncul Majalah Kuncung juga dhing. Bapak saya membawa Suara Karya (oh, halo, Orde Baru, ada yang masih ingat?) dari sekolah, dan saya membaca, semuanya. Gara-gara Suara Karya ini, saya tahu  daerah-daerah di Jakarta. Priok di Jakarta Utara. Kebayoran di Jakarta Selatan. Dan seterusnya (hanya pembaca Suara Karya yang bisa memahami hal ini, saya rasa. Hahaha!). Sungguh pengetahuan yang tidak berguna bagi saya yang baru menginjakkan kaki di Jakarta  ketika KKL, belasan tahun kemudian.

Gara-gara Suara Karya itu juga, saya hafal nama-nama atlit top pada jamannya dan juga pergeseran peringkat dunia mereka setiap bulannya . Halo, Martina Navratilova! Para menteri, petinggi Golkar? Tentu saja hafal di luar kepala (Sungguh mengerikan ya, isi, kepala saya saat masih piyik dulu). Favorit saya adalah Suara Karya edisi Minggu, dimana di halaman tengahnya ada 2 halaman full color yang membahas tentang dunia hiburan internasional. Saya tahu Cher, bagaimana perjalanan karirnya, tanpa pernah mendengarkan lagunya atau melihat filmnya. Ya bagaimana bisa tahu lagunya Cher seperti apa ketika radio di rumah saya adalah adalah radio AM yang siarannya adalah berita dalam bahasa Jawa, me-relay berita RRI tentang harga sayuran di berbagai pasar induk dan juga cokek gaya Sragenan sebagai menu sehari-hari saya, coba? TV? Ada sih, tapi nontonnya dibatasi banget, karena masih menggunakan tenaga accu, yang mana cepat habis dan untuk mengisi ulang accu yang habis itu butuh perjuangan. Hail to Album Minggu dan Aneka Ria Safari, juga Sambung Rasa dan Dari Desa ke Desa!

Dengan kondisi seperti itu, tidak aneh kalau saya bisa menuntaskan membaca sebagian besar koleksi  buku yang ada di Perpustakaan SD saya dulu. Lah, namanya juga koleksi perpustakaan SDN di pedalaman Kecamatan Kerjo di akhir dekade 80an, ya. Jangan bayangkan perpustakaan sekolah jaman sekarang, jauhhh. Buku yang masih saya ingat dari masa itu adalah tentang Kartubi (masyaallah, namanya sungguh klasik, ya, hahaha!) yang membuat kompos dan Pahit-pahit Manis yang bercerita tentang budidaya manggis.

Ketika saya SMP, ada beberapa peningkatan yang signifikan dalam hidup saya. Mulai ada listrik masuk desa saya, TV swasta dan saya mulai kenal dengan bahasa Inggris. Referensi  jendela pengetahuan saya mulai beragam, dan saya bisa mencerna hal-hal yang sebelumnya saya blas tidak tahu, seperti sebenarnya lagunya Madonna itu bercerita tentang apa. Milestone masa SMP saya adalah standby didepan radio tiap malam Rabu untuk mencatat lirik lagu barat. Rasanya bangga bener ketika bisa mengikuti diktean si penyiar sampai lengkap satu lagu. Still, saya masih bisa membaca sebagian besar koleksi perpustakaan SMP saya. Buku-buku karangan NH Dini, dan I Swasta, Setahun di Bedahulu adalah beberapa buku yang masih berbekas di kepala saya sampai sekarang.

SMA saya terpapar pada media yang lebih canggih, komik, majalah remaja dan terutama MTV yang bisa diakses di ANTV. Selamat tinggal, saya tidak lagi bergaul dengan Perpustakaan saat SMA. Kalah pesonanya dibandingkan  tiga hal tersebut. Jaman kuliah saya mulai berkenalan dengan internet, dan inilah saya saat ini, yang sering diomeli Sophie gara-gara mengintip HP saat bermain dengannya.

Ish, jadi kemana-mana ya ceritanya. Memang post ini bukan review Wicker Park, kok. Lah, untuk apa saya me-review film yang release 8 tahun yang lalu, coba?

Have a nice day, any one.

Uncategorized

Sophie Jadi Mama, Raspberry Jadi Jambu

Sophie dan suami bermain peran. Sutradaranya adalah Sophie. Saya jadi penonton (live via telpon) dan muncul sebagai cameo.

Suami kebagian peran sebagai babysitter. Jadi, ketika saya menelpon, suami sedang menjaga bayi-bayi Sophie (Iya, memang jamak. Semua boneka Sophie, kecuali si Beri, kejatah peran sebagai bayi).

Sophienya kemana, dong?

Kata suami sih sedang bekerja. Di KAMPUS, lho, bekerjanya. HAHAHAHA….

Terus, saya sebagai cameo yang bersekolah di Surabaya. Cuma, kedudukan saya adalah sebagai kakak dari bayi-bayi Sophie. Berarti, saya anak Sophie.

(Permisi, mau ngakak lagi saya…)

***

Btw, ada yang pernah makan raspberry?

“Mama, aku tadi malam panas badannya”

“Sekarang masih panas, Soph?”

“Gak, aku sudah sembuh”

“Ya sudah sembuh dong, tadi malam Sophie sudah pinter mau minum obat kok ya’

“Iya”

“Eh, obatnya rasa apa, Soph?”

“JAMBU”

Fyi, obat penurun panas Sophie adalah Panadol rasa raspberry. Kok bisa jadi jambu, sih, Nak. Penasaran, saya jadi pengen tahu rasa raspberry itu seperti apa. Mungkin, jalan pintasnya adalah ngincip Panadol Sophie, ya.

Uncategorized

Reuni!

Highlight dari weekend saya kemarin adalah bertemu dengan Ika. Ya ampun, ya ampun, ya ampun, hati saya kegirangan ketika menerima telponnya yang mengabarkan kalau dia sedang berada di Purwokerto! Setelah mencocokkan jadwal, kami pun ketemu. Happy tak terkira. Yay!

Di luar dugaan, saya tidak seheboh yang saya bayangkan ketika bertemu. Saya banyak diam sambil senyam-senyum mengingat kembali bagaimana masa muda kami, melihat Ika yang surprisingly sama sekali belum berubah di mata saya. Fisiknya, cara bicaranya, masih sama seperti dalam ingatan saya.

Dan kami pun mengobrol sana sini sambil membuka aib masa muda kami di depan suami. Suami, sih, sudah tahu tentang bagaimana masa muda saya, tapi kan belum tahu detailnya, semacam memanjat pagar kos jam 2 pagi dan kepergok ibu kos. Haha!

Kata Ika, saya sudah tidak seheboh dulu. Lebih keibuan. Ini saya harus sedih atau bahagia, ya, menanggapinya. (Tapi Ka, diriku tampak lebih keibuan kan gara-gara sekarang gendut dan memakai baju batik yang memang ibuk-ibuk PKK banget itu lho, beneran).

Dan, ya, saya sulit untuk mempercayai bahwa sosok Ika yang masih terlihat seperti sekian tahun yang lalu itu sudah punya 3 anak yang lucu-lucu. Iri, saya, iri seiri-irinya. Lah, saya yang baru punya Sophie saja sudah menambah berat badan sebanyak ini, coba.

Sayangnya, saya lupa mengambil foto kami berdua. Tapi tidak apa-apa, sepertinya di masa depan Ika masih akan datang ke Purwokerto lagi. Semoga nanti bisa mampir ke Karanggintung, ya, Ka, tidak terburu-buru seperti kemarin.

Terima kasih sudah datang dan membawa banyak senyum ya, Ika.

Uncategorized

Bahasa Sophie

Bagian terbaik dari pulang dua minggu sekali* adalah terkejut-kejut dengan perkembangan Sophie, terutama dalam berbahasa. Bocah 3 tahun 4 bulan itu ternyata sudah bisa ngeyel, ya. Dan, ya, saya makin percaya bahwa anak itu beneran meniru orang tuanya. Saya yang sering ngeyel kalo lagi ngobrol sama suami ini sekarang gigit jari dieyeli balita ceriwis kesayangan kami itu.

Foto-foto1

Saat makan pagi hari minggu lalu, Sophie menolak makan sayur. Kacang merah dan wortel dia cuthik dari sendok sebelum masuk ke mulutnya.

“Soph, sayurnya dimakan dong”

“Aku mau, kok, makan sayul”

“Kenapa kacang dan wortelnya disingkirkan?”

“Aku mau makan sayul, kok, lihat ini”

Dan Sophie pun menambahkan potongan kecil seledri atau daun bawang ke setiap suapannya.

“Tuh, kan, Ma, aku pintel mau makan sayul”

Errr….

Senewen dengan jawaban Sophie, saya menoleh dan bicara pada Si Meong, kucing yang diklaim Sophie sebagai miliknya.

“Meong, Mama membuat sop yang enak sekali lho. Tapi Sophie tidak mau. Meong mau, ya, makan wortel dan kacang ya, biar badan meong sehat dan kuat”

Dan Sophie ngikik di belakang saya,

“Kok Mama bicala sama meong, meong tidak bisa bicala lho”

Manyun, deh, saya jadinya.

Btw, Si Meong ini suka nimbrung pas kami makan. Yang mepet-mepet kaki lah, yang memandang dengan penuh harap lah, mencari kesempatan mengambil makanan di piring yang tidak terawasi lah. mengganggu  singkatnya. Saya yang keberatan dengan kehadirannya lalu mengusirnya keluar. Sophie yang penyuka kucing pun protes dengan mulut yang masih berisi makanan.

“Kok meongnya diusil?”

“Soph, makanannya dikunyah terus ditelan dulu, baru bicara. Mama tidak suka meong main ke dalam rumah terus, jadi Mama mengusirnya keluar”

Sophie buru-buru mengunyah dan menelan makanannya, lalu memeluk saya.

“Aku tadi tidak bicala, Mama, aku beltanya kok”

Saya cuma bisa diam mendengarnya. Dan diam lebih lama saat mendengar penuturan Sophie selanjutnya,

“Meong suka aku, Ma, jadi suka main ke dalam lumah”

Setelah Sophie selesai makan, saya yang makan. Dan Sophie langsung mengeluarkan serangkaian instruksinya.

“Mama makan yang pintel ya, sayulnya dimakan. Itu woltel dan kacangnya dimakan semua, biar Mama sehat dan kuat, bial mata Mama cling kayak kelinci”

Haha!

Sebagai penutup, ini adalah percakapan kami bertiga di salon ketika menunggu giliran gunting poni. Suami mengeluhkan HPnya yang hang. Seperti biasa, Sophie langsung menyamber dengan segala kesoktahuannya.

“Ha? Mama nge- hang, ya?”

“Bukan, Soph, ini HP Papa yang nge-hang

“Oh, kilain Mama nge-hang LAGI”

Doh, Soph, jadi menurutmu Mama ini sering hang ya? Oh, suami, mari perketat sensor saat ngobrol. Pusing gak tuh lihat Sophie yang menggunakan bahasa-bahasa ajaib kita untuk komunikasi sehari-harinya.

* Itulah bagian yang paling saya syukuri sebagai orang Jawa, selalu melihat sesuatu yang baik dibalik kesulitan dan ketidaknyamanan.