sehat, tan

Untuk Tanti yang Lebih Bugar

Saya lagi terpesona dengan salah satu dosen saya. Terpesona pada kecintaan beliau pada bidang Fitoterapi. Pada penguasaan ilmu yang mengakar sampai filosofisnya. Pada mood beliau yang swing sana-sini dan membuat kami kocar-kacir mengikutinya, haha… Dan, pada kebugaran jasmani beliau.  Jadi di usia beliau yang sudah tidak bisa dibilang muda ini, beliau masih amat bugar. Dan langsing. Ya ampun, lemak perut saya pada minder kalau ketemu beliau. Tidak, saya tidak akan membicarakan profile beliau kok. Saya hanya akan menyampaikan satu quote beliau yang kebetulan klik sama kondisi aktual saya.

Jadi ceritanya, salah seorang dari kami tidak masuk di kelas beliau. Beliau berkomentar, “Umur berapa sih kalian sekarang kok sudah sakit-sakitan? Makanya pola hidupnya yang benar, makannya yang benar. Pokoknya kalian tidak boleh sakit sebelum saya sakit”

Dhueng!!!

Pola hidup. Pola makan. Sehat,

Ya ya ya, tiga hal itu memang lagi trouble banget di saya. Sejak Sophie bersama suami di Purwokerto, praktis latihan angkat berat saban hari saya terhenti. Saya tidak lagi antar-jemput Sophie -sambil menggendongnya, tentu saja- ke TPA. Tidak ada lagi adegan kejar-kejaran di pagi dan sore hari untuk menyuapinya. Tidak pernah jalan -jalan di pagi hari juga. Sebulan ini saya juga kurang tidur kalau pas lagi di Surabaya. Karena kangen anak dan suami, tiap malam melek melulu, ketak-ketik nge-game. Setiap hari saya baru mulai tidur setelah tengah malam terlewati. Pola hidup saya sama sekali gak sehat.

Sebagai anak kos saya malas masak. Makannya ya apa saja yang ada di luar sana. *Jangan salah ya, pilihannya banyak kok di sini*. Namanya juga makan di luar, apa yang ada dalam makanan itu di luar kontrol saya. MSG, gorengan, errrr. Sudah menunya asal, waktu makan juga sesempatnya. Sama sekali tidak sehat.

Bugarkah saya? Tentu saja tidak. Ini adalah minggu ke tiga saya mengalami batpil asoy yang gak kunjung sembuh. Terus, karena serba tidak benar seperti yang saya tulis di atas tadi, tensi saya ikutan rewel. Minggu kemarin sempat ngedrop dan membuat saya kliyengan tidak jelas. Dan tiba-tiba pertanyaan dosen saya itu terlintas di kepala saya. Ya ampun, saya baru 30 tahun dan punya fisik se-tidak-bugar ini! Not good, not good at all.

Saya mulai kepikiran untuk merubah pola hidup dan pola makan saya week end kemarin. Tepatnya saat berjalan-jalan ke Wana Wisata Batu Raden. Saya yang menggendong Sophie di jalan menanjak terengeh-engah dan merasakan pegel yang amat sangat mengganggu di pundak dan pinggang. Saya baru 30 tahun, dan anak saya belum juga 21 bulan. Kalo saya terus-terusan tidak bugar seperti ini, saya akan kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang dengan Sophie. Itu tidak boleh terjadi.

Dan, masalah lemak perut. Heran saya, perasaan baru saja teman-teman di Purwokerto berkomentar kalau saya kurusan. Iya sih, kemarin-kemarin berat badan saya sempat nangkring di angka 43 kg. Efek akumulasi capek dan lain-lain. Tapi semenjak kami pindahan, tubuh saya efektif sekali dalam menimbun lemak. Sekarang berat badan saya 47 kg. Iya, nambah 4 kg dalam waktu kurang dari 2 bulan!

Baiklah, di hari Rabu siang ini saya berjanji untuk memperbaiki kebugaran diri. Beberapa hal yang sudah terpikirkan untuk saya lakukan adalah sebagai berikut:

  1. Ikut suami ke gym tiap week end. Sejak momong Sophie, suami tidak pernah lagi menyambangi fitness center. Padahal, suami juga sepertinya mengalami masalah yang sama dengan saya. Semoga kalo bareng-bareng lebih bersemangat ya.
  2. Mematikan laptop jam 10 malam, tidur.
  3. Mengurangi gorengen, dan harus makan sayur setiap harinya

Saya pernah membaca somewhere, kalau kita punya niat untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan exercise, baiknya disampaikan pada orang lain. Karena, itu bisa jadi motivasi tambahan. Malu kan sudah koar-koar mau memperbaiki pola hidup, eh, baru 2 minggu sudah kembali ke kekacauan lama.

Doakan saya ya 🙂

Advertisements
milestone, mrhamad, sophiesibatita, tpa

Sophie di Sana, Mama di Sini

Setelah berhasil melewati 3 minggu dengan adegan drama yang tidak terlalu dominan, akhirnya saya bisa duduk manis menuliskan boyongan Sophie ke Purwokerto. Sama sekali bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan, tetapi for a greater good we do this.
Setelah melalui pemikiran yang panjaaaaang, kami memutuskan Sophie tinggal bersama suami di Purwokerto. Awalnya saya menolak ide itu, tapi setelah mulai masuk lab bulan Maret kemarin, saya mulai berubah pikiran. Saya yang mahasiswa paruh waktu, Senin sampai Jumat jam 08,00 -16.00, dengan tambahan satu tanggung jawab di lab itu sulit untuk bisa mengasuh Sophie dengan optimal. Saya tidak bisa membagi waktu. Harus menjemput Sophie tepat waktu di TPA, menyiapkan makanan dan pakaiannya, menemaninya bermain, sambil menyisipkan jadwal ngelab dan semua persiapannya diantara jadwal kuliah rasanya kok susah sekali. Belum lagi Sophie mengalami pergeseran jam tidur, praktis setelah jam 10 malam saya baru bisa memasak endebre endebre. Intinya adalah, saya tidak bisa me-manage semuanya dengan baik. Saya kekurangan energi.

Satu hal yang saya dan suami sepakati dari awal adalah kami, terutama saya,  tidak boleh merasa bersalah atas pilihan ini. Tidak boleh menyalahkan diri sendiri dan juga menyalahkan kondisi untuk semua hal yang saya lewatkan akibat pilihan ini. Kami memutuskannya dengan sadar, dan harus siap dengan semua konsekuensinya.
Awalnya kami merencanakan untuk boyongan Sophie dua atau tiga bulan lagi, selepas ulang tahunnya yang kedua. Tapi, pas pindahan rumah kemarin itu tiba-tiba sesuatu melintas dalam kepala saya. It’s the time. Tiba-tiba saja saya kepikiran kalau mau pisahan sama Sophie ya sekarang saatnya. Setelah ngobrol sama suami, saya nambah bolos satu minggu, trial (lagi) di TPA lama Sophie dan seterusnya. And here I am now, seorang Ibu  antar-kota-antar-propinsi. Dalam satu minggu, 3,5 hari saya habiskan di Surabaya sebagai anak sekolahan, 1 hari untuk tidur di bis, bolak-balik Purwokerto – Surabaya, dan sisanya untuk bersama keluarga kecil saya di Purwokerto.
Sejak kami sepakat Sophie di Purwokerto, setiap hari saya bicara padanya. Nanti Sophie tinggal di Purwokerto ya. Sophie sama Papa, Mama di Surabaya. Sophie anak pinter minum susu kotak sama air putih kalau Mama di Surabaya. Kalau Mama di Purwokerto Sophie nenen Mama. Sophie bobok sama Papa, mandi ditemani Papa juga. Sophie nanti sekolah di Sinar Mentari lagi, bermain sama Bu Endah dan Bu Hani, sama Mbak Shofa, Mbak Kinta dan Mas Galang…. Berulang-ulang layaknya kaset rusak. Respon Sophie sih baik ya, dia selalu mengangguk. Tapi apakah anggukan itu berkorelasi dengan pemahamannya akan konsep perpisahan, itu yang saya tidak tahu.
Ketika akhirnya waktunya tiba, Sophie menunjukkan hal yang luar biasa. Ketika saya pamit di terminal, Sophie dengan sukarela pindah ke gendongan suami, salim, menyodorkan pipi untuk saya cium dan melambaikan tangannya. Tanpa tangisan sama sekali. Anak hebat, memang. Sayangnya, Papa Mamanya kurang hebat dalam mengelola perpisahan. Yang tua pada sendu dooong, hahaha…. Sampai tadi malam pun, ketika Sophie mengantar saya ke terminal untuk ke empat kalinya, responnya tetap sama. Sejauh ini saya menyimpulkan, Sophie ikhlas dengan apa yang kami jalani saat ini. Semoga.
Yang Ti Sri, kepala sekolah TPA Dr. Sutomo memang memprediksikan Sophie akan lebih mudah beradaptasi dalam proses pisahan ini. Beliau berasumsi, Sophie sudah siap untuk mengalami ujian naik kelas. *Semoga Mamanya juga siap as well*. Hal yang paling saya syukuri adalah fakta bahwa nafsu makan Sophie bisa dibilang bagus banget di masa transisi ini. Dia doyan banget masakan Papanya, rajin minta dibukain kulkas untuk ambil buah atau agar-agar, makannya pun tidak pilih-pilih *kecup Papa si Koki Handal, love you a lot :)* laporan dari TPA juga sama, Sophie makannya pinter. Alhamdulillaah… Saya memang menganggap masalah makan ini adalah hal yang kritis, mengingat dulu pas beradaptasi di Surabaya Sophie mogok makan parah, yang membuat berat badannya turun dan membuatnya lemas tidak mau beraktivitas. Bersyukur sekali episode kali ini gak ada adegan mogok makan lagi.
Progress Sophie dalam menjalani hubungan jarak jauh ini mengikuti gradien yang positif. Minggu pertama dia memanggil-manggil saya. Di TPA kalau tidak dialihkan perhatiannya ya dia akan merapal mantra, Mama, Mama, Mama…. Menjelang tidur juga menyebut-nyebut nama saya. Oleh suami, setiap kali Sophie memanggil saya akan dijawab, Mama di Surabaya. Kalau sedang cranky, suami akan menelpon saya dan membiarkan saya bicara pada Sophie. Minggu kedua Sophie sudah tidak mencari saya lagi. Setiap terbangun malam hari dia akan memanggil suami saya, mengulurkan tangan untuk minta gendong, lalu bilang “tih” kalau pengen minum air putih atau “syusyu” kalau pengen minum susu.  Di TPA, minggu kedua Sophie sudah mau langsung ikut pengasuhnya tanpa rewel, langsung salim dan dadah-dadah sama Papa. Minggu ketiga kemarin, kalau ditanya Mamanya mana, Sophie akan menjawab, Surabaya, sekolah. Huhuhuuuu, mewek saya mendengarnya…
Sophie masih menyusu, tapi terbatas weekend only. Saya sudah tidak memompa ASI lagi sejak Sophie umur 15 bulan, dan setelah saya diskusikan dengan suami kami memutuskan untuk tidak memompa ASI untuk diminumkan ke Sophie selama di Surabaya. Untuk menjaga produksi ASI, saya memeras ASI setidaknya tiga kali sehari. Memang berkurang sih, tapi it’s the option I choosed. Setiap kali menjemput saya, Sophie akan minta nenen. Dan, sepanjang jalan nenen terus. Juga dirumah, mintanya nempel saya melulu. Kalau sudah mati gaya nenen di kamar depan minta pindah nenen ke depan TV. Di depan TV mulai pegel minta pindah ke kamar tengah, dan seterusnya. Tapi bisa juga sih, Sophie 3 jam gak minta nenen sama sekali. Kalau ada saya paling sehari Sophie cuma minum 1-2 kotak UHT 125 mL.
Sekarang, mulai sabtu sore saya akan bicara layaknya kaset rusak lagi. Mama besok berangkat ke Surabaya. Sophie pinter sama Papa ya. Sophie makannya hebat, minum susunya juga banyak. Nanti ke sekolah diantar Papa, pulangnya juga dijemput sama Papa. Nanti insyaaallah Mama pulang hari Sabtu, kalau bisa Jumat ya Jumat Mama pulang. Nanti pas Mama dirumah Sophie nenen Mama, bobok dan main sama Mama dan Papa ya.
Semakin ke sini saya dan suami juga sudah lebih bisa me-manage kondisi baru ini. Hal yang paling menantang dari hubungan jarak jauh seperti yang saya alami adalah menciptakan kondisi dimana Sophie merasakan bahwa dia dicintai, sama seperti sebelumnya. Bahwa tidak ada yang berkurang dan berubah setelah saya tidak bisa lagi didekatnya setiap hari. Itulah kenapa komunikasi amat penting bagi kami ketika saya di Surabaya. Saya selalu menanyakan kegiatannya di TPA, bernyanyi bersamanya, ikut membacakan bukunya -yang saya sudah hapal isinya- dan  menceritakan apa yang saya lakukan hari ini, semuanya via telpon. Walaupun ya, lebih sering Sophie tidak meresponnya, dia lebih suka melakukan hal-hal lain yang lebih menarik daripada ngobrol dengan saya, hahaha…
Suami alhamdulillah sudah siap dan mampu menjalani peran barunya ini. Kami berbagi tentang nilai-nilai dalam pengasuhan anak dan mendiskusikannya bersama, sehingga sebisa mungkin apa yang kami terapkan pada Sophie ketika bersama suami sama seperti yang saya terapkan. Saya bersyukur bahwa suami adalah koki yang lebih baik dibandingkan saya, sehingga untuk urusan makan tidak ada yang perlu saya khawatirkan. Saya cukup memberitahu apa-apa yang boleh dan tidak boleh dimakan Sophie, lalu semuanya beres. Tidak heran kalau berat badan Sophie naik lumayan banyak sejak tinggal dengan suami. Urusan memandikan, bermain, dan lain-lain tetek bengek urusan keseharian batita juga OK dipegang suami, karena jam terbang beliau sudah tinggi. Keponakan suami sudah 12 sebelum kami punya Sophie, jadi ya tidak ada masalah.Satu-satunya hal yang membuat kening saya berkerut adalah tentang cara berpakaian Sophie. Suami orangnya sangat cuek dengan pakaian, matching dan lucu itu buat beliau adalah hal terakhir yang harus dipikirkan. Sering lho ini kejadian, atasan sama bawahan Sophie tabrak lari, atasnya warna apa bawahnya motif apa. Atau yang lebih parah, Sophie memakai dress plus celana piyama. Kata suami sih biar hangat. Ckckck…
As I saw these 21 months, tempat terbaik untuk seorang anak tumbuh adalah bersama kedua orang tuanya. Kami belum bisa memberikan itu untuk Sophie hingga saat ini. But for sure, we’ve prepared the best we can and learned the new things so Sophie can grow best, in this not-so-the-best-condition. We love you, dear Sophie 🙂

sophiesibatita

Kangen Tengah Malam

Jadi hari-hari ini saya jadi tukang bergadang. Selalu tidur lewat tengah malam. Ketak-ketik, baca-baca, ngegame, apapun untuk melewati malam. Gak enak sendirian di kamar. Kangen diguyel-guyel Sophie. Kangen bau asemnya. Kangen tendangan dan tubrukannya. Kangen rengekannya menolak diajak tidur. Kangen sinar matanya setiap dibacakan buku. Dan celotehnya….

Tidak, saya tidak mengeluh. Setidaknya berusaha untuk tidak mengeluh. Kami sudah berpikir panjang sebelum memutuskan ini. Kangen ini adalah salah satu konsekuensi yang harus saya tanggung.

Mama loves you Sophie, gadis kecil yang 2 hari yang lalu bicaranya lagi mirip Cinta Laura.

“Papa, syusyu”  pas minta susu

“Syusyah, Mama”, pas nenen dengan posisi ajaibnya.

Gak sabar menunggu Jumat 🙂

milestone, sophiesibatita, tpa

Sophie is 20 Months Old

Memang ya, bayi mungil yang bisa merespon pembicaraan kita dengan anggukan, gelengan dan menunjuk itu lucu banget. Tapi itu tidak sepenuhnya baik. Karena, si bayi jadi tidak terstimulasi untuk bicara. Lah, ngapain juga berusaha ngomong kalo hanya dengan 3 hal itu keinginannya sudah terpenuhi. Itulah yang terjadi pada anak saya. Sophie sudah bisa menggunakan ketiga instrumen itu dengan baik sejak umur 10 bulan. Dan sampai usia 19 bulan kemarin kemampuan bicaranya masih itu-itu saja.  Papa, Mama, nen, Pooh, atuh, udah, emoh (!).

Tapi, sejak 2 minggu yang lalu ada loncatan besar dalam penguasaan kosakata Sophie. Sekarang sudah bisa mengusir Mamanya dari kamar mandi dengan tampang sok galak, mulut dimonyong-monyongkan sambil berkata, -eluaaaaaa-. Sudah bisa memanggil dan menata posisi Papa Mamanya di kasur -Pa/Ma, ciniiiiii-, sambil tangannya menepuk-nepuk tempat yang sudah dia book untuk kami tiduri, hahaha…

Sophie juga lagi suka menirukan materi yang dia lihat di serial yang dia tonton. Teletubbies berpelukan ya dia akan menghampiri saya atau Papanya sambil bilang -hag- . Po melakukan skipping ya dia ikutan skipping ala Sophie juga. Lihat Barney memeluk teman ya dia ikutan memeluk yang ada didekatnya, juga muter-muter badannya mengikuti opening dan closing-nya Backyardigans. Hihihi, mini copy cat.

Sophie sekarang gak suka dipakein dispo. Selama di Pwt 2 minggu kemarin kami memang full pakai  dispo karena popok kain Sophie masih di Sby semua. Sulit banget dirayu untuk mau memakainya, sebelum akhirnya dia minta dilepas ketika pipis. Mungkin ini sign untuk toilet training ya. Tantangan buat kami. Kadang kami membiarkan Sophie memakai celana saja tanpa popok seperti kalau dia di TPA. Ini berarti kami harus ekstra mengawasinya, karena, entah kenapa kok Sophie mewarisi sifat gubrak-gabruk saya *dapat salam dari DNA*. Gampang bener jatuh. Ada cairan sedikit saja di lantai terpleset. Dan frekuensi berkemih anak 20 bulan itu ternyata tinggi sekali. Pegel saya ngepel melulu, hahaha…

Urusan makan, Sophie lagi dalam masa malas makan lagi. Ya ampun, susahnya membuat dia makan yang bener beberapa hari ini. Saya sungguh berharap Sophie tidak masuk dalam lingkaran gelap seperti awal pindah ke Sby dulu. Semoga tidak.

Aaaah, saya kangen si Tadut kecil. This is the first day without her, here in Sby. Meskipun saya selalu bilang saya akan kuat, saya bisa, terpisah dari Sophie, tetap saja saya mewek pas pamitan ke TPA Sophie di Sutomo tadi. Menjelaskan kenapa Sophie sekarang bersama Papanya ternyata cukup menguras emosi saya.

Stay strong. I have to stay strong for her.

bahanrenungan, gubraggabrug

Just Saying

Ini edisi nyinyir ya. These things came to my mind and I just want to write it, sebagai pengingat bagi diri sendiri.

  • You are not in the bottom of the universe. Memposisikan diri sebagai pihak yang paling menderita itu kadang ada bagus buat ego, tapi klo keterusan merasa sebagai korban keadaan, itu beneran gak asyik buat dilihat dan didengar. Bersyukur. Kuncinya ya itu saja ya, syukuri apa yang ada, yang kita miliki, trus gak usah membanding-bandingkan. You are special on your own.
  • You are not also at the top of the universe. Sebaliknya, ngerasa paling bener, paling baik dan paling struggle itu juga sama efeknya.
  • Sebelum memilih, cari informasi sebanyak-banyaknya. Dari semua sisi. Dan setelah memilih, jangan mengeluh lagi. itu namanya konsekuensi.
  • Kalau mau sesuatu, bilang. Punya ide, sampaikan. Gak semua orang punya kemampuan supranatural. Mereka gak bisa membaca pikiran kita.

Just saying 🙂